@user3672675635416:

nayaz munna
nayaz munna
Open In TikTok:
Region: IN
Sunday 24 May 2020 13:50:15 GMT
61
15
3
0

Music

Download

Comments

arifashid
arif :
heeeeeeeeeeheeeeeeeeeeee
2020-05-30 08:13:21
2
smfshaik
SMF Shaik :
nices
2020-05-26 08:21:39
1
user5054526530708
user5054526530708 :
waw
2020-06-28 06:15:35
0
To see more videos from user @user3672675635416, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Satelit milik NASA menampilkan visualisasi sebaran karbon monoksida (CO) di atmosfer Asia Tenggara, dengan sejumlah wilayah Indonesia tampak berwarna merah dalam peta yang beredar pada pertengahan Oktober 2026. Menurut laporan Nusa Times pada 15 Oktober 2026, visualisasi tersebut menampilkan data pengamatan periode 12–14 Oktober 2026. Data ini dikaitkan dengan instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua milik NASA yang digunakan untuk memantau komposisi atmosfer Bumi. Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini terbentuk ketika bahan yang mengandung karbon mengalami pembakaran tidak sempurna. Sumbernya antara lain emisi kendaraan, aktivitas industri, serta kebakaran hutan dan lahan. NASA sebelumnya juga mendokumentasikan peningkatan konsentrasi karbon monoksida di atmosfer akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, khususnya Sumatra dan Kalimantan, pada 2015. Kebakaran lahan gambut dapat melepaskan gas tersebut ke atmosfer dan membawanya ke wilayah lain melalui pergerakan angin. Namun, warna merah pada peta tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh wilayah Indonesia mengalami pencemaran udara dengan tingkat yang sama. Data atmosfer pada ketinggian tertentu juga tidak langsung menunjukkan kadar karbon monoksida yang dihirup masyarakat di permukaan tanah. Untuk mengetahui risiko paparan terhadap kesehatan, diperlukan pengukuran kualitas udara di permukaan. Karena itu, peta satelit perlu dipahami sebagai gambaran sebaran gas di atmosfer, bukan bukti bahwa Indonesia memiliki konsentrasi karbon monoksida tertinggi di dunia. Sumber: 1. NASA Science — Carbon Monoxide 2. NASA Earth Observatory — Fires Put a Carbon Monoxide Cloud over Indonesia 3. Nusa Times — Peta NASA papar kepekatan karbon monoksida di atmosfera Asia Tenggara, 15 Oktober 2026  #indonesia #karhutla #kebakaran #kalimantan #nasa
Satelit milik NASA menampilkan visualisasi sebaran karbon monoksida (CO) di atmosfer Asia Tenggara, dengan sejumlah wilayah Indonesia tampak berwarna merah dalam peta yang beredar pada pertengahan Oktober 2026. Menurut laporan Nusa Times pada 15 Oktober 2026, visualisasi tersebut menampilkan data pengamatan periode 12–14 Oktober 2026. Data ini dikaitkan dengan instrumen Atmospheric Infrared Sounder (AIRS) pada satelit Aqua milik NASA yang digunakan untuk memantau komposisi atmosfer Bumi. Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini terbentuk ketika bahan yang mengandung karbon mengalami pembakaran tidak sempurna. Sumbernya antara lain emisi kendaraan, aktivitas industri, serta kebakaran hutan dan lahan. NASA sebelumnya juga mendokumentasikan peningkatan konsentrasi karbon monoksida di atmosfer akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, khususnya Sumatra dan Kalimantan, pada 2015. Kebakaran lahan gambut dapat melepaskan gas tersebut ke atmosfer dan membawanya ke wilayah lain melalui pergerakan angin. Namun, warna merah pada peta tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh wilayah Indonesia mengalami pencemaran udara dengan tingkat yang sama. Data atmosfer pada ketinggian tertentu juga tidak langsung menunjukkan kadar karbon monoksida yang dihirup masyarakat di permukaan tanah. Untuk mengetahui risiko paparan terhadap kesehatan, diperlukan pengukuran kualitas udara di permukaan. Karena itu, peta satelit perlu dipahami sebagai gambaran sebaran gas di atmosfer, bukan bukti bahwa Indonesia memiliki konsentrasi karbon monoksida tertinggi di dunia. Sumber: 1. NASA Science — Carbon Monoxide 2. NASA Earth Observatory — Fires Put a Carbon Monoxide Cloud over Indonesia 3. Nusa Times — Peta NASA papar kepekatan karbon monoksida di atmosfera Asia Tenggara, 15 Oktober 2026 #indonesia #karhutla #kebakaran #kalimantan #nasa

About