@lalubharvad1509: Jay dwarkadish #sparklingmemories #HainTaiyaarHum @shinchanlover496 @sonubharwadna @divya_7772 @dixit8182___1111 @sanjlo_bharwad_3077 @jay_murlidhar..

😍 bharwad 😍
😍 bharwad 😍
Open In TikTok:
Region: IN
Wednesday 10 June 2020 15:49:03 GMT
1014
82
4
0

Music

Download

Comments

dharabharvad411
👑Jay raja ravechi👑 :
ha moj ha
2020-06-10 16:32:59
0
dharabharvad411
👑Jay raja ravechi👑 :
bhale mojjj bhale
2020-06-10 16:33:25
0
jahal_bharwad_official
🙏🏻 માવતર મેલડી 🙏 :
bhale mojjj 😍
2020-06-16 11:22:23
0
mevadavasto
Mevada vasto :
હા લાલા ની મોજ હા
2020-06-23 03:42:16
0
To see more videos from user @lalubharvad1509, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

و الأن 😂 مزرعة منصورية الشط العائلية  عوائل / حفلات /مناسبات 🎈🎁 تعمل بنظام الشفتات📆 الشفت الصباحي: من الساعة 10 صباحاً الى الساعة 6 عصراً  الشفت المسائي: من الساعة 8 مساء الى الساعة 8 صباحاً  استمتع في المناظر الطبيعية وعيش يوم مختلف مع مزرعة المنصورية حيث تحوي عدة أنواع من الورود والأشجار (نخل- تين- عنب- مشمش- كوجه- حمضيات- تفاح- رمان- موز) يتوفر فيها بيت كامل ومؤثث 1-غرفة نوم خاصة  2- غرفة نوم اطفال 3- صالة كبيرة 5- مطبخ مجهز 6- حمامين غربي وشرقيّ جلسات خارجية مطلة على نهر دجلة  حديقة كبيرة (1000 متر) مطلة على نهر دجلة  باربكيو 🔴 يحتوي على مكان خاص للشوي وكامل المستلزمات مسبح 🏊🏻‍♂️للكبار  و  مسبح الصغار  العاب للكبار    / فيشة / منضدة  العاب مختلفة للصغار  كهرباء 24 ساعة ⚡️ كراج داخلي يسع 10 سيارات 🚗 العنوان: ديالى/ منصورية الشط تبعد 20 دقيقة عن بوابة بغداد (الراشدية) للحجز و الاستفسار 📞 0771 191 9439 #لايك #مزرعة_منصورية_الشط #الشعب_الصيني_ماله_حل😂😂 #اكسبلورexplore #explore
و الأن 😂 مزرعة منصورية الشط العائلية عوائل / حفلات /مناسبات 🎈🎁 تعمل بنظام الشفتات📆 الشفت الصباحي: من الساعة 10 صباحاً الى الساعة 6 عصراً الشفت المسائي: من الساعة 8 مساء الى الساعة 8 صباحاً استمتع في المناظر الطبيعية وعيش يوم مختلف مع مزرعة المنصورية حيث تحوي عدة أنواع من الورود والأشجار (نخل- تين- عنب- مشمش- كوجه- حمضيات- تفاح- رمان- موز) يتوفر فيها بيت كامل ومؤثث 1-غرفة نوم خاصة 2- غرفة نوم اطفال 3- صالة كبيرة 5- مطبخ مجهز 6- حمامين غربي وشرقيّ جلسات خارجية مطلة على نهر دجلة حديقة كبيرة (1000 متر) مطلة على نهر دجلة باربكيو 🔴 يحتوي على مكان خاص للشوي وكامل المستلزمات مسبح 🏊🏻‍♂️للكبار و مسبح الصغار العاب للكبار / فيشة / منضدة العاب مختلفة للصغار كهرباء 24 ساعة ⚡️ كراج داخلي يسع 10 سيارات 🚗 العنوان: ديالى/ منصورية الشط تبعد 20 دقيقة عن بوابة بغداد (الراشدية) للحجز و الاستفسار 📞 0771 191 9439 #لايك #مزرعة_منصورية_الشط #الشعب_الصيني_ماله_حل😂😂 #اكسبلورexplore #explore
Kopi Terakhir di Tlogo Nirmolo” Aku baru tiga bulan tinggal di Jogja untuk urusan pekerjaan. Sebagai orang yang suka petualangan, suatu sore aku memutuskan solo touring ke Kaliurang, menuju kawasan wisata lama yang dulu cukup terkenal: Tlogo Nirmolo. Langit mulai berkabut ketika aku sampai di sana. Tempat itu terlihat sepi dan terbengkalai. Bangunan tua tak terawat, papan kayu patah, dan jalan setapak tertutup daun kering. Saat aku berhenti di area lapang, Seorang nenek tua berdiri di balik kabut. Keriput wajahnya dalam, matanya redup, namun ia tersenyum pelan. Ia bertanya dengan suara serak. “Le, badhe tindak pundi?” (Nak, kamu mau pergi ke mana?) Aku menjawab dengan sopan. “Kula namung mlaku-mlaku, Mbah. Kula kesasar dalan.” (Saya hanya jalan-jalan, Mbah. Saya tersesat.) Nenek itu mengangguk pelan. “Panggènan menika sampun dangu tutup, Le. Sampun boten wonten tiyang mriki.” (Tempat ini sudah lama tutup, Nak. Sudah tidak ada orang di sini.) Ia memandangku sebentar, lalu berkata pelan. “Menawi kesel, monggo mampir griya kula. Kula damelaken kopi sekedhik kanggé panjenengan.” (Kalau kamu lelah, silakan mampir ke rumah saya. Saya buatkan sedikit kopi untukmu.) Aku yang memang kelelahan akhirnya mengangguk. Aku turun dari motor dan mendorong motorku perlahan, mengikuti langkah nenek yang berjalan pelan dengan tongkatnya. Kami menyusuri jalan setapak yang sepi. Tak lama kemudian, sebuah rumah kayu tua muncul di balik pepohonan. Saat aku masuk ke dalam rumah itu, seorang gadis cantik keluar dari dapur membawa secangkir kopi panas. Matanya lembut, rambutnya panjang hitam. Ia menaruh kopi di depanku dan tersenyum. Nenek itu berkata dengan suara bangga. “Menika putu kula, Ajeng.” (Ini cucu saya, Ajeng.) Lalu nenek melanjutkan dengan nada sedih. “Bapak lan ibunipun Ajeng sampun séda nalika Ajeng yuswa tigang taun amargi kacilakan. Wiwit semanten kula ingkang ngopeni piyambakipun. Saiki gantosan Ajeng ingkang ngrawat kula, awit kula sampun sepuh lan asring gerah.” (Ayah dan ibu Ajeng meninggal ketika dia berusia tiga tahun karena kecelakaan. Sejak saat itu saya yang merawatnya. Sekarang Ajeng yang merawat saya, karena saya sudah tua dan sering sakit.) Ajeng menunduk sedikit, lalu memperkenalkan diri dengan sopan. “Asma kula Ajeng. Kula remen sanget saged kenal kaliyan panjenengan, Mas. Katingalipun panjenengan kesel sanget. Monggo dipun unjuk rumiyin kopinipun.” (Nama saya Ajeng. Senang sekali bisa berkenalan dengan Anda, Mas. Sepertinya Anda sangat lelah. Silakan diminum dulu kopinya.) Kami mulai berbincang sambil sesekali Ajeng membenahi rambutnya dan mengikat rambut panjangnya ke belakang. Sesekali kami tertawa kecil. Suasana di rumah itu terasa hangat dan anehnya romantis. Aku bahkan sempat lupa waktu. Ajeng bercerita tentang hidupnya di desa, tentang merawat neneknya, dan tentang hari-hari sunyi di tempat itu. Namun tiba-tiba aku tersadar. Langit di luar sudah mulai gelap. Sepertinya aku sudah berbincang hampir setengah hari di sana. Aku teringat bahwa besok pagi aku harus meeting dengan para pimpinan direksi perusahaan tempatku bekerja di Jogja. Aku berdiri dan berpamitan. “Mbah, Ajeng… kula kedah kondur rumiyin. Mugi-mugi mbesuk kula saged rawuh malih mriki.” (Mbah, Ajeng… saya harus pulang dulu. Semoga suatu hari saya bisa datang lagi ke sini.) Ajeng tersenyum lembut. “Inggih Mas, mugi-mugi panjenengan tansah pinaringan slamet ing dalan.” (Baik Mas, semoga Anda selalu selamat di perjalanan.) Aku menyalakan motor. Saat aku mulai meninggalkan rumah itu, aku melihat Ajeng berdiri di samping neneknya di depan pintu. Mereka melambaikan tangan. Aku tersenyum sambil melihat mereka lewat kaca spion motorku. Namun ketika aku menoleh lagi dari kejauhan… Rumah yang tadi hangat itu kini berubah menjadi bangunan tua yang runtuh. Dindingnya retak. Atapnya hampir roboh. Semak belukar tumbuh liar di sekelilingnya. Di samping rumah itu berdiri pohon beringin besar yang tua. Dan di depan rumah… Sosok Ajeng dan Nenek itu m!!!!! #ceritahoror #horrormedia #merapi #kaliurang #tlogonirmolo
Kopi Terakhir di Tlogo Nirmolo” Aku baru tiga bulan tinggal di Jogja untuk urusan pekerjaan. Sebagai orang yang suka petualangan, suatu sore aku memutuskan solo touring ke Kaliurang, menuju kawasan wisata lama yang dulu cukup terkenal: Tlogo Nirmolo. Langit mulai berkabut ketika aku sampai di sana. Tempat itu terlihat sepi dan terbengkalai. Bangunan tua tak terawat, papan kayu patah, dan jalan setapak tertutup daun kering. Saat aku berhenti di area lapang, Seorang nenek tua berdiri di balik kabut. Keriput wajahnya dalam, matanya redup, namun ia tersenyum pelan. Ia bertanya dengan suara serak. “Le, badhe tindak pundi?” (Nak, kamu mau pergi ke mana?) Aku menjawab dengan sopan. “Kula namung mlaku-mlaku, Mbah. Kula kesasar dalan.” (Saya hanya jalan-jalan, Mbah. Saya tersesat.) Nenek itu mengangguk pelan. “Panggènan menika sampun dangu tutup, Le. Sampun boten wonten tiyang mriki.” (Tempat ini sudah lama tutup, Nak. Sudah tidak ada orang di sini.) Ia memandangku sebentar, lalu berkata pelan. “Menawi kesel, monggo mampir griya kula. Kula damelaken kopi sekedhik kanggé panjenengan.” (Kalau kamu lelah, silakan mampir ke rumah saya. Saya buatkan sedikit kopi untukmu.) Aku yang memang kelelahan akhirnya mengangguk. Aku turun dari motor dan mendorong motorku perlahan, mengikuti langkah nenek yang berjalan pelan dengan tongkatnya. Kami menyusuri jalan setapak yang sepi. Tak lama kemudian, sebuah rumah kayu tua muncul di balik pepohonan. Saat aku masuk ke dalam rumah itu, seorang gadis cantik keluar dari dapur membawa secangkir kopi panas. Matanya lembut, rambutnya panjang hitam. Ia menaruh kopi di depanku dan tersenyum. Nenek itu berkata dengan suara bangga. “Menika putu kula, Ajeng.” (Ini cucu saya, Ajeng.) Lalu nenek melanjutkan dengan nada sedih. “Bapak lan ibunipun Ajeng sampun séda nalika Ajeng yuswa tigang taun amargi kacilakan. Wiwit semanten kula ingkang ngopeni piyambakipun. Saiki gantosan Ajeng ingkang ngrawat kula, awit kula sampun sepuh lan asring gerah.” (Ayah dan ibu Ajeng meninggal ketika dia berusia tiga tahun karena kecelakaan. Sejak saat itu saya yang merawatnya. Sekarang Ajeng yang merawat saya, karena saya sudah tua dan sering sakit.) Ajeng menunduk sedikit, lalu memperkenalkan diri dengan sopan. “Asma kula Ajeng. Kula remen sanget saged kenal kaliyan panjenengan, Mas. Katingalipun panjenengan kesel sanget. Monggo dipun unjuk rumiyin kopinipun.” (Nama saya Ajeng. Senang sekali bisa berkenalan dengan Anda, Mas. Sepertinya Anda sangat lelah. Silakan diminum dulu kopinya.) Kami mulai berbincang sambil sesekali Ajeng membenahi rambutnya dan mengikat rambut panjangnya ke belakang. Sesekali kami tertawa kecil. Suasana di rumah itu terasa hangat dan anehnya romantis. Aku bahkan sempat lupa waktu. Ajeng bercerita tentang hidupnya di desa, tentang merawat neneknya, dan tentang hari-hari sunyi di tempat itu. Namun tiba-tiba aku tersadar. Langit di luar sudah mulai gelap. Sepertinya aku sudah berbincang hampir setengah hari di sana. Aku teringat bahwa besok pagi aku harus meeting dengan para pimpinan direksi perusahaan tempatku bekerja di Jogja. Aku berdiri dan berpamitan. “Mbah, Ajeng… kula kedah kondur rumiyin. Mugi-mugi mbesuk kula saged rawuh malih mriki.” (Mbah, Ajeng… saya harus pulang dulu. Semoga suatu hari saya bisa datang lagi ke sini.) Ajeng tersenyum lembut. “Inggih Mas, mugi-mugi panjenengan tansah pinaringan slamet ing dalan.” (Baik Mas, semoga Anda selalu selamat di perjalanan.) Aku menyalakan motor. Saat aku mulai meninggalkan rumah itu, aku melihat Ajeng berdiri di samping neneknya di depan pintu. Mereka melambaikan tangan. Aku tersenyum sambil melihat mereka lewat kaca spion motorku. Namun ketika aku menoleh lagi dari kejauhan… Rumah yang tadi hangat itu kini berubah menjadi bangunan tua yang runtuh. Dindingnya retak. Atapnya hampir roboh. Semak belukar tumbuh liar di sekelilingnya. Di samping rumah itu berdiri pohon beringin besar yang tua. Dan di depan rumah… Sosok Ajeng dan Nenek itu m!!!!! #ceritahoror #horrormedia #merapi #kaliurang #tlogonirmolo

About