@poojachand11:

user42363100596
user42363100596
Open In TikTok:
Region: IN
Tuesday 23 June 2020 10:19:15 GMT
220
34
8
0

Music

Download

Comments

sasidarannarayana
Sasidaran Narayanan :
so beautiful ❤️😍💕❤️
2020-06-23 10:34:21
1
jagdish_bhatt20
J@GDISH CH@NDR@ BHAT :
waaa
2020-06-23 10:45:09
0
sanjayleela000
❤️Sanjay Maheshwari :
Itni cutenesses kahan se layi ho Doll?
2020-06-23 13:28:39
0
bobbykarki26
Bõbby Kãrkì :
nice
2020-06-23 16:02:47
0
thakurjagdish44
Jagdish Parihar :
super
2020-06-24 17:43:32
0
santuchand..uk05
Santu Chand@lover :
beautiful
2020-06-25 11:23:08
0
hcpandey
Harish Pandey :
beautiful 👌
2020-06-27 04:30:52
0
prince88600
prince :
ji
2020-06-27 19:56:48
0
To see more videos from user @poojachand11, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ada Yang Mengintip Dari Bilik Tembok  Basement Lawang Sewu Aku menuruni tangga basement Lawang Sewu sendirian. Udara lembap menyelimuti setiap inci kulitku, dinginnya menusuk tulang. Lampu senterku menari-nari, menyorot dinding tua yang retak, cat mengelupas, dan bayangan yang seolah bergerak sendiri. Di ujung lorong, aku merasakan sesuatu. Sesosok tinggi, kurus, dengan rambut panjang tergerai ke belakang, muncul dari balik tembok retak. Wajahnya pucat, matanya menatap lurus ke arahku. Ia mengintip dari balik tembok, sesekali maju sedikit, tapi tetap menempel di dinding. Tubuhnya seperti melayang, langkahnya hening, tapi aku bisa merasakan aura dinginnya menyelimuti seluruh lorong. Aku menelan ludah, mencoba bicara dengan suara gemetar: “Mbah… permisi, mbah…” Hanya keheningan yang menjawab. Lalu terdengar bisikan pelan namun menusuk: “Aja ninggalake aku…” Aku melangkah mundur, tapi sosok itu mengintip lebih dekat. Tiba-tiba, tangan kurusnya muncul dari balik tembok, nyaris menyentuhku. Suara Napas lembapnya terdengar di lorong, seolah di luar logika manusia. Jantungku berdegup kencang. Aku berlari, berbelok, tapi di setiap sudut, bayangan kurus tinggi itu selalu ada. Matanya menatap kosong, wajah pucatnya jelas terlihat, rambut panjangnya jatuh ke belakang tanpa menutupi ekspresinya. Setiap lorong terasa sempit, setiap langkahku diikuti keheningan yang menyesakkan. Saat akhirnya aku sampai di pintu keluar, aku menoleh sekali lagi. Dari retakan tembok basement, sosok itu menatapku, diam, menunggu. Bisikannya terdengar pelan tapi menusuk: “Balik maneh…” Sejak malam itu, aku tak pernah berani masuk ke basement Lawang Sewu lagi. Tapi kadang, saat lampu padam, aku merasa ada yang mengintip dari sudut gelap rumahku… sosok kurus tinggi, rambut panjang, menunggu dengan matanya yang kosong, napas lembapnya menempel di udara.
Ada Yang Mengintip Dari Bilik Tembok Basement Lawang Sewu Aku menuruni tangga basement Lawang Sewu sendirian. Udara lembap menyelimuti setiap inci kulitku, dinginnya menusuk tulang. Lampu senterku menari-nari, menyorot dinding tua yang retak, cat mengelupas, dan bayangan yang seolah bergerak sendiri. Di ujung lorong, aku merasakan sesuatu. Sesosok tinggi, kurus, dengan rambut panjang tergerai ke belakang, muncul dari balik tembok retak. Wajahnya pucat, matanya menatap lurus ke arahku. Ia mengintip dari balik tembok, sesekali maju sedikit, tapi tetap menempel di dinding. Tubuhnya seperti melayang, langkahnya hening, tapi aku bisa merasakan aura dinginnya menyelimuti seluruh lorong. Aku menelan ludah, mencoba bicara dengan suara gemetar: “Mbah… permisi, mbah…” Hanya keheningan yang menjawab. Lalu terdengar bisikan pelan namun menusuk: “Aja ninggalake aku…” Aku melangkah mundur, tapi sosok itu mengintip lebih dekat. Tiba-tiba, tangan kurusnya muncul dari balik tembok, nyaris menyentuhku. Suara Napas lembapnya terdengar di lorong, seolah di luar logika manusia. Jantungku berdegup kencang. Aku berlari, berbelok, tapi di setiap sudut, bayangan kurus tinggi itu selalu ada. Matanya menatap kosong, wajah pucatnya jelas terlihat, rambut panjangnya jatuh ke belakang tanpa menutupi ekspresinya. Setiap lorong terasa sempit, setiap langkahku diikuti keheningan yang menyesakkan. Saat akhirnya aku sampai di pintu keluar, aku menoleh sekali lagi. Dari retakan tembok basement, sosok itu menatapku, diam, menunggu. Bisikannya terdengar pelan tapi menusuk: “Balik maneh…” Sejak malam itu, aku tak pernah berani masuk ke basement Lawang Sewu lagi. Tapi kadang, saat lampu padam, aku merasa ada yang mengintip dari sudut gelap rumahku… sosok kurus tinggi, rambut panjang, menunggu dengan matanya yang kosong, napas lembapnya menempel di udara.

About