@fonowiewideo: #красивоевидео #красиво #эстетика #эстетично #фоновыевидео

фоновые видео
фоновые видео
Open In TikTok:
Region: RU
Wednesday 10 February 2021 11:21:34 GMT
23710
381
4
373

Music

Download

Comments

niel_928
ъ :
даже не верится что это птицы… как красиво.. 🥹
2022-07-08 20:05:06
2
suzanna.shvets
Yori_Ko(!) :
это дименторы?
2026-04-13 14:38:34
0
shi11wudu
𝅄 𝆹𝅥 𝒮𝒽𝒾 𝒲𝓊𝒹𝓊 𝆹𝅥 𝅄 :
это что ??
2022-03-12 18:00:43
0
eyez_zz9
сатана :
ЭТО ПТИЦЫ😳
2022-05-10 18:10:22
0
To see more videos from user @fonowiewideo, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Lampung Selatan – Abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menyelimuti permukiman warga Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Sekretaris Desa Tejang Pulau Sebesi, Riko Iswanto, mengatakan abu vulkanik mulai terasa cukup tebal sejak Senin (26/10/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. “Ya, sekitar jam 2 an gitulah, debu itu sudah mulai sampai sini kemarin itu,” kata Riko saat diwawancarai, Selasa (27/10/2026). Menurut Riko, abu vulkanik terbawa angin dari arah selatan hingga mencapai permukiman warga. Abu tersebut bahkan sempat menumpuk cukup tebal di kendaraan yang terparkir di sekitar rumah. “Waktu kemarin siang itu kayaknya parah benar karena di motor tebal benar. Tapi kalau sekarang ini masih ada, tapi tidak seperti kemarinlah,” ujarnya. Meski abu vulkanik mencapai permukiman, warga tidak mendengar suara gemuruh erupsi. Kondisi perairan di sekitar Pulau Sebesi juga masih terpantau normal. Riko mengatakan aktivitas masyarakat masih berlangsung seperti biasa. Sementara itu, nelayan tidak setiap hari melaut karena hasil tangkapan ikan sedang berkurang. Sebagian warga telah menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Namun, warga masih membutuhkan kacamata transparan untuk melindungi mata dari paparan abu vulkanik. “Kita imbauannya ya untuk pakai masker, pakai kacamata kalaupun memang itu mau bepergian,” katanya. Ia berharap bantuan alat pelindung diri, terutama kacamata transparan, dapat diberikan kepada warga yang harus beraktivitas di luar rumah, termasuk mengantar anak ke sekolah. “Pastinya sih kalau masker ya memang kita butuhlah, dan juga memang kacamata itu sih, kacamata transparan,” ujarnya. Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga berdampak pada pemantauan visual gunung tersebut. Abu vulkanik yang menutupi panel surya menyebabkan pengisian daya peralatan tidak optimal sehingga kamera pengawas (CCTV) di lapangan belum dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten, Deny Mardiono, membenarkan adanya erupsi. Namun, ia mengatakan pemantauan secara visual saat ini mengalami kendala. “Ya, peralatan kami saat ini terkendala untuk memantau secara visual,” kata Deny saat dihubungi Lampung Geh. Menurutnya, abu vulkanik yang menutupi panel surya mengganggu pasokan daya untuk mengoperasikan peralatan pemantauan. “Dikarenakan tertutup abu vulkanik sehingga pengisian catu daya tidak optimal untuk menghidupkan peralatan,” ujarnya. Meski pemantauan visual terganggu, peralatan seismik masih berfungsi untuk merekam aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan laporan pengamatan pada Selasa (27/10/2026) pukul 12.00-18.00 WIB, tercatat satu kali gempa frekuensi rendah, dua kali gempa hybrid, serta tremor menerus dengan amplitudo dominan 5 milimeter. Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat dilarang memasuki dan melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi serta diimbau mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang. (Yul)
Lampung Selatan – Abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menyelimuti permukiman warga Pulau Sebesi, Kecamatan Rajabasa, Kabupaten Lampung Selatan. Sekretaris Desa Tejang Pulau Sebesi, Riko Iswanto, mengatakan abu vulkanik mulai terasa cukup tebal sejak Senin (26/10/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. “Ya, sekitar jam 2 an gitulah, debu itu sudah mulai sampai sini kemarin itu,” kata Riko saat diwawancarai, Selasa (27/10/2026). Menurut Riko, abu vulkanik terbawa angin dari arah selatan hingga mencapai permukiman warga. Abu tersebut bahkan sempat menumpuk cukup tebal di kendaraan yang terparkir di sekitar rumah. “Waktu kemarin siang itu kayaknya parah benar karena di motor tebal benar. Tapi kalau sekarang ini masih ada, tapi tidak seperti kemarinlah,” ujarnya. Meski abu vulkanik mencapai permukiman, warga tidak mendengar suara gemuruh erupsi. Kondisi perairan di sekitar Pulau Sebesi juga masih terpantau normal. Riko mengatakan aktivitas masyarakat masih berlangsung seperti biasa. Sementara itu, nelayan tidak setiap hari melaut karena hasil tangkapan ikan sedang berkurang. Sebagian warga telah menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Namun, warga masih membutuhkan kacamata transparan untuk melindungi mata dari paparan abu vulkanik. “Kita imbauannya ya untuk pakai masker, pakai kacamata kalaupun memang itu mau bepergian,” katanya. Ia berharap bantuan alat pelindung diri, terutama kacamata transparan, dapat diberikan kepada warga yang harus beraktivitas di luar rumah, termasuk mengantar anak ke sekolah. “Pastinya sih kalau masker ya memang kita butuhlah, dan juga memang kacamata itu sih, kacamata transparan,” ujarnya. Di sisi lain, aktivitas Gunung Anak Krakatau juga berdampak pada pemantauan visual gunung tersebut. Abu vulkanik yang menutupi panel surya menyebabkan pengisian daya peralatan tidak optimal sehingga kamera pengawas (CCTV) di lapangan belum dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Banten, Deny Mardiono, membenarkan adanya erupsi. Namun, ia mengatakan pemantauan secara visual saat ini mengalami kendala. “Ya, peralatan kami saat ini terkendala untuk memantau secara visual,” kata Deny saat dihubungi Lampung Geh. Menurutnya, abu vulkanik yang menutupi panel surya mengganggu pasokan daya untuk mengoperasikan peralatan pemantauan. “Dikarenakan tertutup abu vulkanik sehingga pengisian catu daya tidak optimal untuk menghidupkan peralatan,” ujarnya. Meski pemantauan visual terganggu, peralatan seismik masih berfungsi untuk merekam aktivitas kegempaan Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan laporan pengamatan pada Selasa (27/10/2026) pukul 12.00-18.00 WIB, tercatat satu kali gempa frekuensi rendah, dua kali gempa hybrid, serta tremor menerus dengan amplitudo dominan 5 milimeter. Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat dilarang memasuki dan melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi serta diimbau mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang. (Yul)

About