@athena_kami: #fyp #foryou #FindYourCore #squats

athena🖤
athena🖤
Open In TikTok:
Region: US
Monday 29 March 2021 17:19:35 GMT
128011
10928
67
400

Music

Download

Comments

panthro71
Hightower97 :
Please believe me I’m watching done forgot how many reps I have left😂
2021-03-29 18:12:28
4
h_adams1
H Adams :
can i have
2021-03-29 21:35:06
1
ardayildiz73
Arda Yildiz :
You so gorgeous 😅
2021-03-29 21:46:04
1
juanleon1991
Juan Enrique Leon :
mami🔥🔥
2021-03-29 17:25:21
2
fridi55_
Ha? :
Tiktok is really just a pre lobby to safari
2021-03-29 23:41:36
1
kill.kaiden
. :
Oml
2021-03-29 22:10:07
0
jeblue1235
J :
They do make up for that face 😂
2021-03-29 22:00:53
0
unatwonabenocreaniou
Foreskinbubblequeef :
K
2021-03-29 20:51:22
0
torchdom
user6273144717487 :
Dam!!!
2021-03-31 23:39:08
0
sly7391
larry sly nelson :
🥰🥰🥰 GODDESS 🥰🥰🥰
2021-03-31 01:34:04
0
quill77
Quill :
Hello
2021-03-29 23:23:45
0
bondjames1002
Patricio :
q locura de mujer
2021-04-11 23:12:28
0
nogannibbons
L :
I’d die for you
2021-03-30 10:20:12
0
sirisaiahthe3rd
isaiah©️ :
Nun moved
2021-03-29 22:07:14
0
grtmarco
grtmarco :
HMMMMMM 😂😂😂😂
2021-03-31 01:01:36
0
quku_tu_tjerr_lesh
Noku :
Woooowww🥰🥰🥰🥰 😱😱 sweet ❤️
2021-04-04 06:40:24
0
qurbanawan060
Qurban awan🇮🇹🇮🇹italy :
Hi
2021-04-12 12:11:24
0
_____melo1
_____melo1 :
CLICK THE SOUND 😳😳😳
2021-03-29 21:28:07
0
nbaddawg
dyl :
i’d eat it
2021-03-29 21:17:37
0
teo0oo0
teo :
My phone is on my left hand
2021-03-29 21:33:28
0
emptyone619
Emptyone :
Christ..
2021-08-03 10:14:02
0
hozanyunus
Hozan Yunus :
👍👍👍👍👍👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️😘😘😘😘😘😘😘😋😋😋😋😋😋
2021-04-22 15:05:12
0
quitlurkinstarttwurkin
pherr :
@dababy_12410
2021-04-21 01:40:01
0
raul_flores0
Raul Flores :
😍😍
2021-03-29 20:54:53
0
To see more videos from user @athena_kami, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Ibu belum makan dua hari, Bu.” Bu Rini terkejut. “Kenapa kamu nggak bilang, Nak?” Kalea tersenyum. “Nanti ibu sedih.” Kepa lanya tiba-tiba terasa ringan. Lantai seperti bergeser pelan. “Kalea?” suara Bu Rini terdengar jauh. Ia melangkah satu kali. Dua kali. Lalu semuanya gelap. “Kalea! Kalea!” Bu Rini menepuk-nepuk pipinya panik. “Nak, buka matanya.” Kalea mengerang pelan. Matanya terbuka sedikit. “Bu,” suaranya hampir hilang. “Kotaknya…” “Iya, Ibu pegang kotaknya, Nak ” jawab Bu Rini sambil menahan air mata. “Buat ibu,” bisik Kalea. “Jangan dimakan di sini.” Bu Rini menggenggam tangan kecil itu erat. Tangannya gemetar. Saat tim UKS datang berlari, Bu Rini menoleh ke arah anak-anak yang berdiri terpaku. Di antara mereka, Sinta memegang tas Kalea yang terbuka. “Bu Rini,” Sinta menunjuk ke dalam tas. Bu Rini mendekat. Tangannya ragu-ragu saat membuka resleting tas itu lebih lebar. Di dalamnya hanya ada buku tulis tipis, pensil yang sudah pendek, dan selembar kertas terlipat rapi. Tidak ada bekal. Tidak ada uang jajan. Bu Rini menarik kertas itu. Tulisan tangan Kalea memenuhi setengah halaman. Bu Rini belum sempat membaca seluruhnya ketika Kalea bergerak di atas lantai. “Bu…” suaranya serak. Bu Rini segera berlutut kembali. “Iya, Nak. Ibu di sini.” Kalea membuka mata sedikit. Pandangannya kabur, tapi bi birnya bergerak seolah takut kehilangan waktu untuk bercerita. “Kalau nanti, ibu ke rumahku…” na pasnya tersendat, “tolong, jangan marah dulu ya.” “Marah kenapa, Kalea?” Kalea menggeleng pelan. Tangannya menceng keram ujung ba ju Bu Rini. “Soalnya,” suaranya makin kecil, “ibu mungkin…” “nggak bangun-bangun lagi.” “Apa maksudmu, Nak?” suaranya bergetar. Ia menahan diri agar tidak terdengar panik. Kalea menelan lu dah dengan susah payah. Matanya berair, bukan karena sa kit, tapi karena ta kut. “Ibu batuk terus, semalam da rah keluar dikit,” bisiknya. “Lea takut, tapi Lea nggak mau ibu kepikiran.” Bu Rini menutup mulutnya. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. “Kenapa kamu nggak minta tolong?” tanyanya lirih. “Kalau Lea kuat, ibu bisa tenang,” katanya pelan. “Kalau Lea nggak jajan, ibu bisa makan.” Tangannya yang kecil kini terasa semakin dingin. “Lea janji kok, Bu,” lanjutnya terbata. “Kotak itu, buat ibu. Lea nggak lapar.” Bu Rini menggenggam tangan Kalea dengan kedua tangannya. “Kamu nggak harus sekuat ini, Nak,” isaknya. “Kamu masih a nak-a nak.” Kalea mengerjap pelan. Pandangannya mulai kosong, tapi bibirnya masih berusaha tersenyum. “Lea cuma nggak mau ibu sedih.” Tim UKS akhirnya berhasil mengangkat tu buh Kalea ke atas tandu darurat. A nak-a nak menyingkir, beberapa terisak tanpa suara. Sinta berdiri paling belakang, memeluk tas Kalea erat-erat, seolah takut tas itu ikut hilang. “Bu, suratnya” panggilnya pelan. Bu Rini mengangguk. Tangannya gemetar saat kembali membuka kertas itu. Kali ini ia membaca sampai selesai. Bu Guru, Kalau Lea sering ngantuk dan kelihatan le mas, maaf ya. Lea cuma mau ibu di rumah bisa makan. Kalau suatu hari Lea kenapa-napa, tolong jangan bilang ke ibu kalau Lea pura-pura kuat. Bilang aja Lea baik-baik aja. Soalnya kalau ibu sedih, Lea ikut sedih. Kertas itu terlipat kembali, tapi kata-katanya sudah terlanjur terukir di hati Bu Rini. Sore itu, setelah Kalea dibawa ke puskesmas, Bu Rini tidak langsung pulang. Ia mengikuti alamat yang tertera di data siswa, sebuah rumah kecil di ujung gang sempit. Pintu kayunya tidak terkunci. “Ibu?” panggil Bu Rini perlahan. Tidak ada jawaban. Di dalam, udara pe ngap bercampur bau obat. Seorang perempuan terbaring le mah di atas tikar tipis. Matanya terpejam, napasnya dangkal. Bu Rini berlutut. Tangisnya pe cah tanpa bisa ditahan. Di puskesmas, Kalea terbangun menjelang magrib. Matanya mencari-cari dengan gelisah. “Bu, kotaknya?” tanyanya lirih. Bersambung ... Hanya di KBM app Judul : Puasa Terpanjang Kalea Penulis : Shendy Oktavia
“Ibu belum makan dua hari, Bu.” Bu Rini terkejut. “Kenapa kamu nggak bilang, Nak?” Kalea tersenyum. “Nanti ibu sedih.” Kepa lanya tiba-tiba terasa ringan. Lantai seperti bergeser pelan. “Kalea?” suara Bu Rini terdengar jauh. Ia melangkah satu kali. Dua kali. Lalu semuanya gelap. “Kalea! Kalea!” Bu Rini menepuk-nepuk pipinya panik. “Nak, buka matanya.” Kalea mengerang pelan. Matanya terbuka sedikit. “Bu,” suaranya hampir hilang. “Kotaknya…” “Iya, Ibu pegang kotaknya, Nak ” jawab Bu Rini sambil menahan air mata. “Buat ibu,” bisik Kalea. “Jangan dimakan di sini.” Bu Rini menggenggam tangan kecil itu erat. Tangannya gemetar. Saat tim UKS datang berlari, Bu Rini menoleh ke arah anak-anak yang berdiri terpaku. Di antara mereka, Sinta memegang tas Kalea yang terbuka. “Bu Rini,” Sinta menunjuk ke dalam tas. Bu Rini mendekat. Tangannya ragu-ragu saat membuka resleting tas itu lebih lebar. Di dalamnya hanya ada buku tulis tipis, pensil yang sudah pendek, dan selembar kertas terlipat rapi. Tidak ada bekal. Tidak ada uang jajan. Bu Rini menarik kertas itu. Tulisan tangan Kalea memenuhi setengah halaman. Bu Rini belum sempat membaca seluruhnya ketika Kalea bergerak di atas lantai. “Bu…” suaranya serak. Bu Rini segera berlutut kembali. “Iya, Nak. Ibu di sini.” Kalea membuka mata sedikit. Pandangannya kabur, tapi bi birnya bergerak seolah takut kehilangan waktu untuk bercerita. “Kalau nanti, ibu ke rumahku…” na pasnya tersendat, “tolong, jangan marah dulu ya.” “Marah kenapa, Kalea?” Kalea menggeleng pelan. Tangannya menceng keram ujung ba ju Bu Rini. “Soalnya,” suaranya makin kecil, “ibu mungkin…” “nggak bangun-bangun lagi.” “Apa maksudmu, Nak?” suaranya bergetar. Ia menahan diri agar tidak terdengar panik. Kalea menelan lu dah dengan susah payah. Matanya berair, bukan karena sa kit, tapi karena ta kut. “Ibu batuk terus, semalam da rah keluar dikit,” bisiknya. “Lea takut, tapi Lea nggak mau ibu kepikiran.” Bu Rini menutup mulutnya. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. “Kenapa kamu nggak minta tolong?” tanyanya lirih. “Kalau Lea kuat, ibu bisa tenang,” katanya pelan. “Kalau Lea nggak jajan, ibu bisa makan.” Tangannya yang kecil kini terasa semakin dingin. “Lea janji kok, Bu,” lanjutnya terbata. “Kotak itu, buat ibu. Lea nggak lapar.” Bu Rini menggenggam tangan Kalea dengan kedua tangannya. “Kamu nggak harus sekuat ini, Nak,” isaknya. “Kamu masih a nak-a nak.” Kalea mengerjap pelan. Pandangannya mulai kosong, tapi bibirnya masih berusaha tersenyum. “Lea cuma nggak mau ibu sedih.” Tim UKS akhirnya berhasil mengangkat tu buh Kalea ke atas tandu darurat. A nak-a nak menyingkir, beberapa terisak tanpa suara. Sinta berdiri paling belakang, memeluk tas Kalea erat-erat, seolah takut tas itu ikut hilang. “Bu, suratnya” panggilnya pelan. Bu Rini mengangguk. Tangannya gemetar saat kembali membuka kertas itu. Kali ini ia membaca sampai selesai. Bu Guru, Kalau Lea sering ngantuk dan kelihatan le mas, maaf ya. Lea cuma mau ibu di rumah bisa makan. Kalau suatu hari Lea kenapa-napa, tolong jangan bilang ke ibu kalau Lea pura-pura kuat. Bilang aja Lea baik-baik aja. Soalnya kalau ibu sedih, Lea ikut sedih. Kertas itu terlipat kembali, tapi kata-katanya sudah terlanjur terukir di hati Bu Rini. Sore itu, setelah Kalea dibawa ke puskesmas, Bu Rini tidak langsung pulang. Ia mengikuti alamat yang tertera di data siswa, sebuah rumah kecil di ujung gang sempit. Pintu kayunya tidak terkunci. “Ibu?” panggil Bu Rini perlahan. Tidak ada jawaban. Di dalam, udara pe ngap bercampur bau obat. Seorang perempuan terbaring le mah di atas tikar tipis. Matanya terpejam, napasnya dangkal. Bu Rini berlutut. Tangisnya pe cah tanpa bisa ditahan. Di puskesmas, Kalea terbangun menjelang magrib. Matanya mencari-cari dengan gelisah. “Bu, kotaknya?” tanyanya lirih. Bersambung ... Hanya di KBM app Judul : Puasa Terpanjang Kalea Penulis : Shendy Oktavia

About