@scottyblades: We may get a Good Resident Evil Movie yet.. Full Video in Bio #fypシ #meme #horror #reaction #residentevil #residentevilwelcometoraccooncity #nycc

Scotty Blades
Scotty Blades
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 07 October 2021 21:11:23 GMT
1788
37
2
2

Music

Download

Comments

snails_in_space
Snails_in_space :
I'll be watching it for sure, if it's not good at least they tried lol
2021-10-12 05:48:11
0
To see more videos from user @scottyblades, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

꧁༒༻✞☬
꧁༒༻✞☬ "𝐑𝐄𝐍𝐀𝐍 𝐒𝐀𝐍𝐓𝐎𝐒: '𝐔𝐌 𝐃𝐈𝐀 𝐄𝐔 𝐕𝐎𝐔 𝐏𝐄𝐆𝐀𝐑 𝐕𝐎𝐂Ê. 𝐄 𝐎 𝐃𝐄𝐒𝐓𝐈𝐍𝐎 𝐍Ã𝐎 𝐒𝐄𝐑Á 𝐔𝐌 𝐃𝐄𝐁𝐀𝐓𝐄. 𝐒𝐄𝐑Á 𝐀 𝐂𝐀𝐃𝐄𝐈𝐀'. 𝐀 𝐅𝐑𝐀𝐒𝐄 𝐅𝐎𝐈 𝐃𝐈𝐓𝐀 𝐏𝐄𝐋𝐎 𝐂𝐀𝐍𝐃𝐈𝐃𝐀𝐓𝐎 À 𝐏𝐑𝐄𝐒𝐈𝐃Ê𝐍𝐂𝐈𝐀 𝐃𝐀 𝐑𝐄𝐏Ú𝐁𝐋𝐈𝐂𝐀 𝐑𝐄𝐍𝐀𝐍 𝐒𝐀𝐍𝐓𝐎𝐒 (𝐌𝐈𝐒𝐒Ã𝐎) 𝐄 𝐃𝐈𝐑𝐄𝐂𝐈𝐎𝐍𝐀𝐃𝐀 𝐀𝐎 𝐒𝐄𝐍𝐀𝐃𝐎𝐑 𝐄 𝐓𝐀𝐌𝐁É𝐌 𝐂𝐀𝐍𝐃𝐈𝐃𝐀𝐓𝐎 𝐅𝐋Á𝐕𝐈𝐎 𝐁𝐎𝐋𝐒𝐎𝐍𝐀𝐑𝐎 (𝐏𝐋). 𝐀 𝐃𝐄𝐂𝐋𝐀𝐑𝐀ÇÃ𝐎 𝐅𝐎𝐈 𝐅𝐄𝐈𝐓𝐀 𝐄𝐌 𝟑𝟎 𝐃𝐄 𝐒𝐄𝐓𝐄𝐌𝐁𝐑𝐎 𝐃𝐄 𝟐𝟎𝟐𝟔, 𝐏𝐎𝐑 𝐌𝐄𝐈𝐎 𝐃𝐄 𝐔𝐌𝐀 '𝐂𝐀𝐑𝐓𝐀 𝐀𝐁𝐄𝐑𝐓𝐀' 𝐄𝐌 𝐕Í𝐃𝐄𝐎 𝐏𝐔𝐁𝐋𝐈𝐂𝐀𝐃𝐀 𝐍𝐀𝐒 𝐑𝐄𝐃𝐄𝐒 𝐒𝐎𝐂𝐈𝐀𝐈𝐒 𝐃𝐄 𝐑𝐄𝐍𝐀𝐍. 𝐎 𝐃𝐄𝐒𝐀𝐁𝐀𝐅𝐎 𝐎𝐂𝐎𝐑𝐑𝐄𝐔 𝐀𝐏Ó𝐒 𝐎 𝐂𝐀𝐍𝐃𝐈𝐃𝐀𝐓𝐎 𝐃𝐎 𝐏𝐀𝐑𝐓𝐈𝐃𝐎 𝐌𝐈𝐒𝐒Ã𝐎 𝐒𝐄𝐑 𝐄𝐗𝐂𝐋𝐔Í𝐃𝐎 𝐃𝐎 𝐃𝐄𝐁𝐀𝐓𝐄 𝐏𝐑𝐄𝐒𝐈𝐃𝐄𝐍𝐂𝐈𝐀𝐋 𝐏𝐑𝐎𝐌𝐎𝐕𝐈𝐃𝐎 𝐏𝐄𝐋𝐀 𝐓𝐕 𝐆𝐋𝐎𝐁𝐎." ☬ ✞༺༒꧂ ꧁༒༻✞☬ #𝐊𝐄𝐋𝐌𝐈𝐓𝐎𝐍_𝐍𝐀𝐕𝐀 #𝐉𝐀𝐈𝐑𝐁𝐎𝐋𝐒𝐎𝐍𝐀𝐑𝐎 #𝐅𝐋𝐀𝐕𝐈𝐎𝐁𝐎𝐋𝐒𝐎𝐍𝐀𝐑𝐎 #𝐋𝐔𝐋𝐀 #𝐕𝐈𝐑𝐀𝐋 ☬ ✞༺༒꧂
Kalau memang bahagia yang kau cari adalah menuruti setiap keinginan, dunia tidak akan banyak melarangmu. Pergilah. Kejar apa yang kau mau. Nikmati apa yang mampu kau beli. Puaskan apa yang selama ini membuat nafsumu merasa lapar. Manusia memang diberi ruang untuk memilih. Kau boleh menjadi pandai dengan pilihanmu sendiri, dan boleh pula menjadi bodoh karena pilihanmu sendiri. Tetapi ingatlah satu hal: setiap kebebasan selalu berjalan bersama akibatnya. Kita sering ingin bebas memilih, tetapi tidak selalu siap menerima harga dari pilihan itu. Kita ingin menikmati tanpa kehilangan. Mengikuti keinginan tanpa menanggung akibat. Mengejar dunia tanpa menjadi budaknya. Padahal kehidupan tidak bekerja demikian. Apa yang berulang kali kita lakukan perlahan membentuk siapa diri kita. Apa yang terus kita makan akan memengaruhi tubuh. Apa yang terus kita pikirkan akan membentuk pikiran. Dan apa yang terus kita turuti akan menentukan siapa yang akhirnya berkuasa di dalam diri: akal yang jernih atau nafsu yang tidak pernah kenyang. Sebab nafsu mempunyai satu sifat yang aneh. Ia menjanjikan kepuasan, tetapi setelah mendapatkannya ia meminta lebih banyak. Hari ini sedikit. Besok bertambah. Lusa menjadi kebutuhan. Sampai manusia tidak lagi menikmati keinginannya, melainkan diperbudak olehnya. Karena itu, kenikmatan tidak selalu sama dengan kebahagiaan. Ada sesuatu yang nikmat sesaat tetapi meninggalkan kehampaan bertahun-tahun. Ada sesuatu yang sulit ditahan hari ini, tetapi menyelamatkan kehidupan kita di kemudian hari. Di situlah sehatnya akal menjadi cahaya. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang mampu kita lakukan harus dilakukan. Tidak semua yang kita inginkan harus dimiliki. Dan tidak semua kesempatan harus diambil. Mungkin salah satu rahasia Tuhan dalam kehidupan justru tersembunyi di sana: kebahagiaan bukan ketika manusia mendapatkan seluruh keinginannya, tetapi ketika ia tidak lagi diperbudak oleh keinginannya. Kita boleh bermimpi setinggi langit, tetapi kaki tetap harus berpijak pada kenyataan. Kita boleh menikmati dunia, tetapi jangan sampai lupa bahwa kita hanya sedang melewatinya. Sebab dunia mempunyai banyak api yang terlihat seperti cahaya. Kekuasaan. Harta. Pujian. Kenikmatan. Kesenangan tanpa batas. Telanlah semuanya jika itu yang kauinginkan. Tetapi jangan terkejut jika sesuatu yang kaukira sedang mengenyangkanmu ternyata perlahan sedang membakar bagian terdalam dari dirimu. Masa depan akan menawarkan semakin banyak cara untuk memuaskan manusia dengan cepat. Sekali sentuh, sekali pesan, sekali lihat, sekali beli. Tetapi semakin mudah keinginan dipenuhi, semakin penting kemampuan untuk berkata: “Cukup.” Sebab manusia yang tidak mampu mengatakan cukup akan terus merasa miskin, sekalipun dunia berada dalam genggamannya. Dan pada akhirnya, ada satu kenyataan yang tidak bisa dinegosiasikan oleh seluruh kenikmatan dunia: maut. Ia tidak bertanya apakah kita sudah puas. Tidak menunggu seluruh keinginan terpenuhi. Tidak peduli berapa banyak dunia yang telah kita kumpulkan. Maka nikmatilah kehidupan, tetapi jangan kehilangan kesadaran. Cintailah dunia secukupnya. Gunakan akal sebelum menuruti keinginan. Dan sesekali tanyakan kepada diri sendiri: “Jika malam ini semuanya selesai, apakah yang selama ini kukejar benar-benar pantas menghabiskan hidupku?” Sebab tragedi terbesar bukanlah mati sebelum sempat menikmati seluruh dunia. Tragedi terbesar adalah menghabiskan seluruh kehidupan untuk dunia, lalu baru menyadari nilainya ketika maut membuat kita tidak lagi mempunyai waktu untuk memperbaikinya.
Kalau memang bahagia yang kau cari adalah menuruti setiap keinginan, dunia tidak akan banyak melarangmu. Pergilah. Kejar apa yang kau mau. Nikmati apa yang mampu kau beli. Puaskan apa yang selama ini membuat nafsumu merasa lapar. Manusia memang diberi ruang untuk memilih. Kau boleh menjadi pandai dengan pilihanmu sendiri, dan boleh pula menjadi bodoh karena pilihanmu sendiri. Tetapi ingatlah satu hal: setiap kebebasan selalu berjalan bersama akibatnya. Kita sering ingin bebas memilih, tetapi tidak selalu siap menerima harga dari pilihan itu. Kita ingin menikmati tanpa kehilangan. Mengikuti keinginan tanpa menanggung akibat. Mengejar dunia tanpa menjadi budaknya. Padahal kehidupan tidak bekerja demikian. Apa yang berulang kali kita lakukan perlahan membentuk siapa diri kita. Apa yang terus kita makan akan memengaruhi tubuh. Apa yang terus kita pikirkan akan membentuk pikiran. Dan apa yang terus kita turuti akan menentukan siapa yang akhirnya berkuasa di dalam diri: akal yang jernih atau nafsu yang tidak pernah kenyang. Sebab nafsu mempunyai satu sifat yang aneh. Ia menjanjikan kepuasan, tetapi setelah mendapatkannya ia meminta lebih banyak. Hari ini sedikit. Besok bertambah. Lusa menjadi kebutuhan. Sampai manusia tidak lagi menikmati keinginannya, melainkan diperbudak olehnya. Karena itu, kenikmatan tidak selalu sama dengan kebahagiaan. Ada sesuatu yang nikmat sesaat tetapi meninggalkan kehampaan bertahun-tahun. Ada sesuatu yang sulit ditahan hari ini, tetapi menyelamatkan kehidupan kita di kemudian hari. Di situlah sehatnya akal menjadi cahaya. Ia mengajarkan bahwa tidak semua yang mampu kita lakukan harus dilakukan. Tidak semua yang kita inginkan harus dimiliki. Dan tidak semua kesempatan harus diambil. Mungkin salah satu rahasia Tuhan dalam kehidupan justru tersembunyi di sana: kebahagiaan bukan ketika manusia mendapatkan seluruh keinginannya, tetapi ketika ia tidak lagi diperbudak oleh keinginannya. Kita boleh bermimpi setinggi langit, tetapi kaki tetap harus berpijak pada kenyataan. Kita boleh menikmati dunia, tetapi jangan sampai lupa bahwa kita hanya sedang melewatinya. Sebab dunia mempunyai banyak api yang terlihat seperti cahaya. Kekuasaan. Harta. Pujian. Kenikmatan. Kesenangan tanpa batas. Telanlah semuanya jika itu yang kauinginkan. Tetapi jangan terkejut jika sesuatu yang kaukira sedang mengenyangkanmu ternyata perlahan sedang membakar bagian terdalam dari dirimu. Masa depan akan menawarkan semakin banyak cara untuk memuaskan manusia dengan cepat. Sekali sentuh, sekali pesan, sekali lihat, sekali beli. Tetapi semakin mudah keinginan dipenuhi, semakin penting kemampuan untuk berkata: “Cukup.” Sebab manusia yang tidak mampu mengatakan cukup akan terus merasa miskin, sekalipun dunia berada dalam genggamannya. Dan pada akhirnya, ada satu kenyataan yang tidak bisa dinegosiasikan oleh seluruh kenikmatan dunia: maut. Ia tidak bertanya apakah kita sudah puas. Tidak menunggu seluruh keinginan terpenuhi. Tidak peduli berapa banyak dunia yang telah kita kumpulkan. Maka nikmatilah kehidupan, tetapi jangan kehilangan kesadaran. Cintailah dunia secukupnya. Gunakan akal sebelum menuruti keinginan. Dan sesekali tanyakan kepada diri sendiri: “Jika malam ini semuanya selesai, apakah yang selama ini kukejar benar-benar pantas menghabiskan hidupku?” Sebab tragedi terbesar bukanlah mati sebelum sempat menikmati seluruh dunia. Tragedi terbesar adalah menghabiskan seluruh kehidupan untuk dunia, lalu baru menyadari nilainya ketika maut membuat kita tidak lagi mempunyai waktu untuk memperbaikinya.

About