@maksimka_228_x: #саввасердцевоина

Maksimka_228_x
Maksimka_228_x
Open In TikTok:
Region: RU
Saturday 22 January 2022 17:32:56 GMT
115523
1996
50
1550

Music

Download

Comments

geroin_topic
ois :
Deadwood really slow motion?
2025-07-17 13:36:22
1
sil_ver_999
Silver999 :
мой будильник в 5 утра
2023-12-22 06:01:46
18
user1779208758408
А.Pirs🧐 :
круто😏
2023-10-15 11:54:28
5
fedor_dostoevski__
Фёдор Достоевский :
мой друг с 100 часами в блокс фрутс, я с 100000 часами в блокс фрутс
2025-09-07 13:50:10
1
solaroil0
Solaroil :
так называется песня
2025-11-27 18:36:33
0
tokvtiktok
Sergey Yakushko :
можно видео без подписей)
2024-07-09 15:05:38
3
user34030630672631
user34030630672631 :
круто завтра нет
2024-03-22 18:42:40
1
kloun_008
uchiha obito :
название можно
2024-04-07 14:39:21
2
marklovemilana
я хз :
как называется песня в конце
2025-05-01 05:45:26
1
mishgan_33
MISHGAN33 :
че за песня?
2025-04-23 05:11:20
0
seven_kiler6
seven_kiler :
р
2024-07-03 12:30:22
0
maloi19822104
Александр maloi19822104 :
Кто исполняет???
2024-04-11 18:18:19
1
user82992398883953
тарас :
я думал это мумия Мадаре говорит
2025-11-30 02:50:51
0
konorzrgwda
Алексей :
Вот так хочу
2025-03-20 21:00:53
0
flazin735
В.В.Путин :
крутое😏😏😏😏
2023-10-15 19:12:33
2
user36110355100865645635
Вероника :
😁
2025-03-06 11:03:19
0
user2800460243261
Артём :
😢
2025-08-27 17:02:37
0
user989438308265
user989438308265 :
🥰
2025-08-22 17:43:16
0
lishiy.leshiy
Lishiy Leshiy :
😁
2026-01-11 06:06:39
0
user24262844526532
Вика❤️ :
🥰
2025-07-14 10:11:57
0
weterah0
sukuha трейды в укради браинро :
🍀
2025-06-25 19:18:40
0
kiss...7777
black_cat_666_mrr :
😏
2025-05-02 20:22:42
0
madwyrm
user3813547153172 :
😂
2025-04-19 07:20:26
0
vashakoroleva
daria_sx :
🥰🥰🥰
2025-03-24 07:01:23
0
user1987875948611
ГОР :
😂
2024-11-27 06:06:57
0
To see more videos from user @maksimka_228_x, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV ; #jeongbby [oneshot] Sore itu ruang latihan udah hampir kosong. Lampu neon masih nyala terang, tapi suasananya beda — lebih sepi, lebih tenang. Cuma suara AC yang berdengung halus sama pantulan bayangan mereka di cermin besar. Jeongwoo duduk selonjoran di lantai, punggungnya nyandar ke kaca. Kaosnya agak basah karena keringat, rambutnya sedikit jatuh ke dahi. Nafasnya masih berat habis latihan koreo yang lumayan nguras tenaga. Doyoung jalan pelan ke arahnya, bawa dua botol air. Dia duduk di sebelah Jeongwoo tanpa banyak suara, cukup dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan. “Capek?” tanyanya lembut sambil nyodorin air. Jeongwoo nerima botolnya, terus nyengir lebar. “Kalau kamu yang nanya, jadi nggak capek.” Doyoung geleng kecil. “Kamu tuh… selalu aja.” “Tapi bener.” Jeongwoo nengok, matanya berbinar meski masih ngos-ngosan. “Kalau kamu ada, rasanya latihan seberat apa pun jadi ringan.” Doyoung nggak langsung jawab. Dia cuma senyum tipis, tapi senyum itu lama. Terlalu lama sampai Jeongwoo sadar dan jadi salah tingkah sendiri. Sunyi turun pelan di antara mereka. Cermin di depan memantulkan dua sosok yang duduk berdekatan — lutut hampir bersentuhan. Jeongwoo mainin tutup botolnya, sementara Doyoung diam-diam ngeliatin profil wajahnya. Hidungnya, garis rahangnya, bibirnya yang masih agak merah karena kebiasaan digigit waktu fokus latihan. “Hyung…” suara Jeongwoo lebih pelan dari biasanya. “Hm?” Jeongwoo ragu sebentar. Lalu dia beraniin diri natap Doyoung lurus-lurus. “Kamu tau nggak sih kalau kamu itu bikin deg-degan?” Doyoung kedip pelan, kaget tapi berusaha tenang. “Jeongwoo…” “Serius.” Kali ini nadanya nggak bercanda. “Kalau kamu deket gini… rasanya aneh. Kayak… jantungku nggak ngerti harus santai atau lari maraton.” Doyoung ketawa kecil, tapi tawanya tipis. Ada sesuatu yang berubah di tatapannya — jadi lebih dalam. Dia angkat tangan, ragu sesaat sebelum menyibakkan sedikit rambut Jeongwoo yang nempel di dahi karena keringat. Sentuhannya pelan banget, hampir nggak kerasa. Jeongwoo langsung diem. Biasanya dia bakal komentar, bakal bercanda. Tapi sekarang nggak. Dia cuma ngeliatin Doyoung, napasnya pelan tapi terasa berat. Jarak mereka makin dekat tanpa sadar. Bahu bersentuhan. Napas mulai terasa hangat di wajah masing-masing. “Kalau kamu nggak mau, bilang ya,” bisik Doyoung, suaranya rendah dan hati-hati. Jeongwoo nggak jawab pakai kata-kata. Dia cuma senyum kecil. Senyum yang beda dari biasanya — nggak berisik, nggak lebay. Tulus. Dan itu cukup. Doyoung condong sedikit. Tangannya naik, pelan nahan pipi Jeongwoo. Hangat. Lembut. Seolah dia takut kalau terlalu cepat, momen ini bakal pecah. Jeongwoo merem setengah, jantungnya kayak mau lompat. Dan bibir mereka ketemu. Bukan yang tergesa. Bukan yang dalam. Cuma kecupan ringan yang terasa lebih lama dari hitungan detik sebenarnya. Seolah waktu di ruang latihan itu berhenti cuma buat mereka berdua. Begitu menjauh, Jeongwoo langsung buka mata lebar-lebar. Pipinya merah banget. Dia nutup muka pakai kedua tangan. “YA AMPUN HYUNG!” Doyoung ketawa kecil, kali ini lebih jelas. “Tadi katanya nggak capek?” “Itu sebelum kamu bikin jantungku mau copot!” Jeongwoo protes, suaranya campur malu dan panik. “Aku latihan dance aja nggak segini deg-degannya!” Doyoung cuma senyum, terus dengan pelan narik pergelangan tangan Jeongwoo biar nggak nutup muka lagi. Wajah Jeongwoo masih merah. Matanya nggak berani lama-lama ketemu tatapan Doyoung. “Lucu banget,” gumam Doyoung. “Hyung!” Jeongwoo makin salting. Tapi waktu Doyoung narik dia lebih dekat dan meluknya pelan, Jeongwoo nggak nolak. Pelukan itu hangat. Nggak ketat, cuma cukup buat bikin rasa deg-degan tadi berubah jadi nyaman. “Kalau deg-degan, sini aja,” bisik Doyoung di dekat telinganya. Jeongwoo diam beberapa detik. Lalu pelan-pelan dia nyender lebih dalam ke dada Doyoung, tangannya narik sedikit ujung baju hyungnya. “Kalau kamu terus kayak gini…” gumamnya pelan. “Kenapa?” “Aku bisa kecanduan.” #alternativeuniverse #parkjeongwoo #kimdoyoung #treasure
POV ; #jeongbby [oneshot] Sore itu ruang latihan udah hampir kosong. Lampu neon masih nyala terang, tapi suasananya beda — lebih sepi, lebih tenang. Cuma suara AC yang berdengung halus sama pantulan bayangan mereka di cermin besar. Jeongwoo duduk selonjoran di lantai, punggungnya nyandar ke kaca. Kaosnya agak basah karena keringat, rambutnya sedikit jatuh ke dahi. Nafasnya masih berat habis latihan koreo yang lumayan nguras tenaga. Doyoung jalan pelan ke arahnya, bawa dua botol air. Dia duduk di sebelah Jeongwoo tanpa banyak suara, cukup dekat sampai bahu mereka hampir bersentuhan. “Capek?” tanyanya lembut sambil nyodorin air. Jeongwoo nerima botolnya, terus nyengir lebar. “Kalau kamu yang nanya, jadi nggak capek.” Doyoung geleng kecil. “Kamu tuh… selalu aja.” “Tapi bener.” Jeongwoo nengok, matanya berbinar meski masih ngos-ngosan. “Kalau kamu ada, rasanya latihan seberat apa pun jadi ringan.” Doyoung nggak langsung jawab. Dia cuma senyum tipis, tapi senyum itu lama. Terlalu lama sampai Jeongwoo sadar dan jadi salah tingkah sendiri. Sunyi turun pelan di antara mereka. Cermin di depan memantulkan dua sosok yang duduk berdekatan — lutut hampir bersentuhan. Jeongwoo mainin tutup botolnya, sementara Doyoung diam-diam ngeliatin profil wajahnya. Hidungnya, garis rahangnya, bibirnya yang masih agak merah karena kebiasaan digigit waktu fokus latihan. “Hyung…” suara Jeongwoo lebih pelan dari biasanya. “Hm?” Jeongwoo ragu sebentar. Lalu dia beraniin diri natap Doyoung lurus-lurus. “Kamu tau nggak sih kalau kamu itu bikin deg-degan?” Doyoung kedip pelan, kaget tapi berusaha tenang. “Jeongwoo…” “Serius.” Kali ini nadanya nggak bercanda. “Kalau kamu deket gini… rasanya aneh. Kayak… jantungku nggak ngerti harus santai atau lari maraton.” Doyoung ketawa kecil, tapi tawanya tipis. Ada sesuatu yang berubah di tatapannya — jadi lebih dalam. Dia angkat tangan, ragu sesaat sebelum menyibakkan sedikit rambut Jeongwoo yang nempel di dahi karena keringat. Sentuhannya pelan banget, hampir nggak kerasa. Jeongwoo langsung diem. Biasanya dia bakal komentar, bakal bercanda. Tapi sekarang nggak. Dia cuma ngeliatin Doyoung, napasnya pelan tapi terasa berat. Jarak mereka makin dekat tanpa sadar. Bahu bersentuhan. Napas mulai terasa hangat di wajah masing-masing. “Kalau kamu nggak mau, bilang ya,” bisik Doyoung, suaranya rendah dan hati-hati. Jeongwoo nggak jawab pakai kata-kata. Dia cuma senyum kecil. Senyum yang beda dari biasanya — nggak berisik, nggak lebay. Tulus. Dan itu cukup. Doyoung condong sedikit. Tangannya naik, pelan nahan pipi Jeongwoo. Hangat. Lembut. Seolah dia takut kalau terlalu cepat, momen ini bakal pecah. Jeongwoo merem setengah, jantungnya kayak mau lompat. Dan bibir mereka ketemu. Bukan yang tergesa. Bukan yang dalam. Cuma kecupan ringan yang terasa lebih lama dari hitungan detik sebenarnya. Seolah waktu di ruang latihan itu berhenti cuma buat mereka berdua. Begitu menjauh, Jeongwoo langsung buka mata lebar-lebar. Pipinya merah banget. Dia nutup muka pakai kedua tangan. “YA AMPUN HYUNG!” Doyoung ketawa kecil, kali ini lebih jelas. “Tadi katanya nggak capek?” “Itu sebelum kamu bikin jantungku mau copot!” Jeongwoo protes, suaranya campur malu dan panik. “Aku latihan dance aja nggak segini deg-degannya!” Doyoung cuma senyum, terus dengan pelan narik pergelangan tangan Jeongwoo biar nggak nutup muka lagi. Wajah Jeongwoo masih merah. Matanya nggak berani lama-lama ketemu tatapan Doyoung. “Lucu banget,” gumam Doyoung. “Hyung!” Jeongwoo makin salting. Tapi waktu Doyoung narik dia lebih dekat dan meluknya pelan, Jeongwoo nggak nolak. Pelukan itu hangat. Nggak ketat, cuma cukup buat bikin rasa deg-degan tadi berubah jadi nyaman. “Kalau deg-degan, sini aja,” bisik Doyoung di dekat telinganya. Jeongwoo diam beberapa detik. Lalu pelan-pelan dia nyender lebih dalam ke dada Doyoung, tangannya narik sedikit ujung baju hyungnya. “Kalau kamu terus kayak gini…” gumamnya pelan. “Kenapa?” “Aku bisa kecanduan.” #alternativeuniverse #parkjeongwoo #kimdoyoung #treasure

About