@camrynciara: in love #hair #hairtransformation #hairtransition #transition

Cam
Cam
Open In TikTok:
Region: US
Monday 06 June 2022 11:08:01 GMT
797
48
2
0

Music

Download

Comments

halessss11
Haley :
Okay hi transition 🤩
2022-06-06 21:09:36
1
halessss11
Haley :
Still SO obsessed
2022-06-06 21:09:54
1
To see more videos from user @camrynciara, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Pagi itu kamu sedang sibuk merapikan dasi di leher suamimu. Haechan berdiri tegak, satu tangan di saku celana, satu lagi sibuk mengecek jam tangannya. Wajahnya tampak serius, tapi senyummu membuat ketegangannya sedikit mencair. “Diam sebentar,” ucapmu sambil merapikan simpul dasi yang sedikit miring. Jemarimu bergerak hati-hati di lehernya, jarak kalian begitu dekat hingga kamu bisa merasakan aroma parfum maskulin yang selalu ia pakai. Selesai dengan dasi, kamu mengangkat wajah, menatap mata suamimu dalam-dalam. Ada rasa gugup yang sulit dijelaskan. Bibirmu terbuka, kalimat itu akhirnya meluncur, pelan tapi jelas. “Sayang… aku hamil.” Haechan sontak terdiam. Matanya melebar, bibirnya sempat terbuka tanpa suara. Butuh beberapa detik baginya untuk benar-benar mencerna kata-katamu. “Kamu… serius?” suaranya serak, nyaris berbisik. Kamu hanya mengangguk, tersenyum kecil dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Haechan mendesah pelan, lalu tertawa singkat, lega, dan penuh haru. Dia langsung menarik tubuhmu ke dalam pelukan hangatnya. “Oh Tuhan… akhirnya.” Dia mencium keningmu berkali-kali, tangannya menepuk punggungmu dengan penuh emosi. Setelah beberapa saat, dia berjongkok, kedua telapak tangannya mengusap perutmu yang masih rata. “Terima kasih, sayang. Penantian kita akhirnya terbayar. Sekarang keluarga kita lengkap.” Bibirnya menempel di perutmu, memberi kecupan lembut seakan berbicara langsung pada janin kecil yang bahkan belum terasa. Haechan berdiri lagi, meraih wajahmu. “Tapi maaf, aku nggak bisa ikut kamu ke klinik hari ini. Ada meeting penting sama client dari Singapura.” Dia menatapmu penuh penyesalan, lalu menambahkan, “Aku bisa minta tolong Papah nemenin kamu, ya?” Jantungmu berdegup keras mendengar itu. Kamu menunduk sedikit, pura-pura tenang. “Iya, nggak apa-apa. Aku sama Papah aja.” Tak lama kemudian, kamu mengantarnya sampai depan pintu. Haechan melangkah masuk ke mobil, lalu melambaikan tangan dengan senyum lega bercampur bahagia. Kamu membalas lambaian itu, berdiri didepan pintu hingga mobil hitam itu menghilang di balik pagar mansion. Keheningan menyelimuti rumah yang luas. Kamu menarik napas panjang, lalu berjalan masuk, menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Tenggorokanmu terasa kering, entah karena kelelahan atau karena gejolak emosi yang kamu simpan rapat-rapat. Gelas kaca dingin itu baru saja kamu letakkan di meja dapur ketika tiba-tiba sebuah lengan kokoh melingkari pinggangmu dari belakang. Tubuhmu ditarik erat ke dada yang hangat, sementara bibir kasar menyentuh kulit lehermu tanpa izin. “Johnny…Stop it” desahmu pelan, tubuhmu menegang. “Masih pagi…” Suara bariton itu langsung menjawab di telingamu, rendah, serak, penuh kuasa. “Baby, kamu tahu ini saya, hm?” Kamu menutup mata sejenak, merasakan napas panasnya di kulitmu. “Tentu saja. Siapa lagi? Hanya kita bertiga yang tinggal di mansion ini.” Johnny terkekeh pelan, ciumannya bergerak naik-turun di sepanjang lehermu. “Benar sekali. Dan kamu tidak bilang pada suamimu… kalau anak yang kamu kandung… milik saya.” Jari-jarimu mencengkeram ujung meja, berusaha menahan gemetar. Dengan suara lirih, kamu menjawab, “Tidak. Mana mungkin aku bilang?Aku hamil anak papahmu chan.  Dia percaya itu anaknya… padahal…” kamu menarik napas panjang, menelan kata-kata yang berat, “…dia mandul. Dia sendiri tidak tahu, dan tidak mau tahu.” Johnny memutar tubuhmu kasar tapi penuh kendali, membuatmu terduduk di atas meja dapur yang dingin. Kedua matanya menatapmu tajam, penuh hasrat bercampur kepemilikan. Tangannya yang besar menelusuri pahamu, masuk lebih dalam, membuat tubuhmu tak bisa menolak meski otakmu menjerit. “Benar sekali.” Suaranya semakin dalam, penuh keyakinan. “Untung saja papah mertuamu ini masih subur, baby. Jadi kamu bisa hamil, Kalau hanya mengandalkan Suamimu, sampai mati pun kamu tidak akan merasakan janin ini tumbuh di rahimmu.” Kamu memejamkan mata, air liurmu tertelan susah payah. “Kita… tidak seharusnya seperti ini, Johnny.” #nct127 #johnny #masukberandafyp #povstories
POV: Pagi itu kamu sedang sibuk merapikan dasi di leher suamimu. Haechan berdiri tegak, satu tangan di saku celana, satu lagi sibuk mengecek jam tangannya. Wajahnya tampak serius, tapi senyummu membuat ketegangannya sedikit mencair. “Diam sebentar,” ucapmu sambil merapikan simpul dasi yang sedikit miring. Jemarimu bergerak hati-hati di lehernya, jarak kalian begitu dekat hingga kamu bisa merasakan aroma parfum maskulin yang selalu ia pakai. Selesai dengan dasi, kamu mengangkat wajah, menatap mata suamimu dalam-dalam. Ada rasa gugup yang sulit dijelaskan. Bibirmu terbuka, kalimat itu akhirnya meluncur, pelan tapi jelas. “Sayang… aku hamil.” Haechan sontak terdiam. Matanya melebar, bibirnya sempat terbuka tanpa suara. Butuh beberapa detik baginya untuk benar-benar mencerna kata-katamu. “Kamu… serius?” suaranya serak, nyaris berbisik. Kamu hanya mengangguk, tersenyum kecil dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Haechan mendesah pelan, lalu tertawa singkat, lega, dan penuh haru. Dia langsung menarik tubuhmu ke dalam pelukan hangatnya. “Oh Tuhan… akhirnya.” Dia mencium keningmu berkali-kali, tangannya menepuk punggungmu dengan penuh emosi. Setelah beberapa saat, dia berjongkok, kedua telapak tangannya mengusap perutmu yang masih rata. “Terima kasih, sayang. Penantian kita akhirnya terbayar. Sekarang keluarga kita lengkap.” Bibirnya menempel di perutmu, memberi kecupan lembut seakan berbicara langsung pada janin kecil yang bahkan belum terasa. Haechan berdiri lagi, meraih wajahmu. “Tapi maaf, aku nggak bisa ikut kamu ke klinik hari ini. Ada meeting penting sama client dari Singapura.” Dia menatapmu penuh penyesalan, lalu menambahkan, “Aku bisa minta tolong Papah nemenin kamu, ya?” Jantungmu berdegup keras mendengar itu. Kamu menunduk sedikit, pura-pura tenang. “Iya, nggak apa-apa. Aku sama Papah aja.” Tak lama kemudian, kamu mengantarnya sampai depan pintu. Haechan melangkah masuk ke mobil, lalu melambaikan tangan dengan senyum lega bercampur bahagia. Kamu membalas lambaian itu, berdiri didepan pintu hingga mobil hitam itu menghilang di balik pagar mansion. Keheningan menyelimuti rumah yang luas. Kamu menarik napas panjang, lalu berjalan masuk, menuju dapur untuk mengambil segelas air putih. Tenggorokanmu terasa kering, entah karena kelelahan atau karena gejolak emosi yang kamu simpan rapat-rapat. Gelas kaca dingin itu baru saja kamu letakkan di meja dapur ketika tiba-tiba sebuah lengan kokoh melingkari pinggangmu dari belakang. Tubuhmu ditarik erat ke dada yang hangat, sementara bibir kasar menyentuh kulit lehermu tanpa izin. “Johnny…Stop it” desahmu pelan, tubuhmu menegang. “Masih pagi…” Suara bariton itu langsung menjawab di telingamu, rendah, serak, penuh kuasa. “Baby, kamu tahu ini saya, hm?” Kamu menutup mata sejenak, merasakan napas panasnya di kulitmu. “Tentu saja. Siapa lagi? Hanya kita bertiga yang tinggal di mansion ini.” Johnny terkekeh pelan, ciumannya bergerak naik-turun di sepanjang lehermu. “Benar sekali. Dan kamu tidak bilang pada suamimu… kalau anak yang kamu kandung… milik saya.” Jari-jarimu mencengkeram ujung meja, berusaha menahan gemetar. Dengan suara lirih, kamu menjawab, “Tidak. Mana mungkin aku bilang?Aku hamil anak papahmu chan. Dia percaya itu anaknya… padahal…” kamu menarik napas panjang, menelan kata-kata yang berat, “…dia mandul. Dia sendiri tidak tahu, dan tidak mau tahu.” Johnny memutar tubuhmu kasar tapi penuh kendali, membuatmu terduduk di atas meja dapur yang dingin. Kedua matanya menatapmu tajam, penuh hasrat bercampur kepemilikan. Tangannya yang besar menelusuri pahamu, masuk lebih dalam, membuat tubuhmu tak bisa menolak meski otakmu menjerit. “Benar sekali.” Suaranya semakin dalam, penuh keyakinan. “Untung saja papah mertuamu ini masih subur, baby. Jadi kamu bisa hamil, Kalau hanya mengandalkan Suamimu, sampai mati pun kamu tidak akan merasakan janin ini tumbuh di rahimmu.” Kamu memejamkan mata, air liurmu tertelan susah payah. “Kita… tidak seharusnya seperti ini, Johnny.” #nct127 #johnny #masukberandafyp #povstories

About