@spy_talk: #นักแสดงมาร์เวล #เล่นนอกบท #โทนี่สตาร์ค #โรเบิร์ตดาวนีย์จูเนียร์ #ผมคือไอรอนแมน #ไอรอนแมน

สายสืบเล่าเรื่อง
สายสืบเล่าเรื่อง
Open In TikTok:
Region: TH
Friday 01 July 2022 03:44:54 GMT
207303
8616
41
5

Music

Download

Comments

mahpaa
มงคล เองจั๊บ :
แล้วคำนี้ก็มาจบendgame
2022-07-01 06:51:52
148
beemo299
บีม รักโลก :
เขาวางแผนมาแล้วครับ ซีนนี้คือซีนสำคัญ ไม่มีทางเล่นนอกบทอยู่แล้ว แผนหนังเขาเป็น10 ปี ไม่มาเปลี่ยนเพราะการเล่นนอกบท ซีนเดียวหรอกครับ
2022-07-01 06:17:04
104
banlz14
MyName Banlz :
ก็โทนี่เล่นเป็นโรเบิร์ตไงครับ
2022-07-01 19:29:48
72
akaki_saoru
§SaKu§ :
ประโยคที่เป็นทั้งจึดเริ่มต้นและจุดจบ ของ iron man
2022-07-01 20:28:53
23
gg.xyz168
GusOrty :
ไม่ได้ไอรอนแมน 3 ภาค คงไม่ได้ดูจักรวาลมาเวลจนถึงทุกวันนี้แน่นอน ล้มละลายก่อนแน่
2022-07-18 14:26:54
0
mylittleyugi
YuGi°½🧿 :
พีคจริงเป็นคำพูดตัวตัว และคำพูดปิดด้วย
2022-07-09 01:48:16
13
neet_c4
TUM :
ตัวเปิดจักรวาลมาเวล
2022-07-26 12:05:25
3
beemo299
บีม รักโลก :
ถ้าไม่เปิดตัวว่าโทนี่คือ ไอออนแมน หนังมันจะไปต่อยังไง ภาค2 ตัวร้ายจะพุ่งเป้าไปที่ใคร ถ้าจะเล่นสดก็มีแค่นอกบทเล็กๆน้อยๆที่ช่วยเสริมอารมณ์หนังเท่านั้น
2022-07-01 06:19:43
8
nongbirdz
ผมชื่อ เบิร์ดฮ๊าฟฟู่วว :
เจ้าพ่อนอกบท
2022-07-08 13:04:11
1
user7113077304490
เตชิต :
😌😌😌
2025-03-27 13:33:50
1
vhf256
ก๊อปลิน :
😁😁😁
2025-07-20 12:42:21
0
supp2545
เขียดหัวจี๊ด :
😭
2025-10-22 22:03:29
0
thiwarit_
Paø⚡️ :
😭
2025-01-18 07:10:33
0
chaiwat134
Chaiwat Yeawram :
😳😳😳
2024-12-19 06:05:24
0
wiwieiwiwei4
M :
😂
2025-07-23 05:14:18
0
ba7nkth
Ba7nk :
แล้วนักข่าว เฮ แบบนั้น แบบ สด เลยหรอ😅 มืออาชีพ
2024-08-21 12:51:14
0
mon_rattapong
☮𝕸𝖔𝖓_𝕾.𝕽𝖆𝖙𝖙𝖆𝖕𝖔𝖓𝖌☯ :
เป็นประโยคเปิดจักรวาล และก็เป็นประโยคปิดจักรวาลเช่นกัน หลังจากจบเอนเกม ก็ไม่ค่อยมีอะไรน่าสนใจแล้ว
2025-07-17 01:11:53
0
To see more videos from user @spy_talk, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Masuk surga jalur WNI Kedengarannya seperti lelucon, tetapi mungkin ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan. Kita semua tentu ingin hidup kaya, tenteram, aman, bahagia, keluarga berkecukupan, dan pada akhirnya masuk surga.  Dalam psikologi sosial ada istilah social comparison: manusia secara alamiah membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai posisi dan harga dirinya. Persoalannya muncul ketika keberhasilan orang lain mulai terasa sebagai ancaman. Dia naik, kita merasa turun. Dia dipuji, kita merasa tidak dianggap. Dia berhasil, kita mencari alasan untuk mengecilkan keberhasilannya. Bahkan ketika seseorang jatuh, kadang ada rasa lega yang sulit kita akui: “Ternyata dia tidak sehebat itu.” Dari sinilah crab mentality menjadi lebih dari sekadar perumpamaan kepiting yang saling menarik ke bawah. Kita tidak selalu benar-benar ingin menjadi lebih baik; kadang kita hanya ingin memastikan orang lain tidak menjadi lebih baik daripada kita. Dan perilaku seperti ini sebenarnya sering kita pertontonkan sendiri dalam kehidupan sosial. Kita melihat para pemangku kebijakan saling berhadapan, antarpartai saling menjatuhkan, bahkan di dalam satu organisasi orang-orang yang seharusnya berjalan menuju tujuan yang sama bisa terpecah hanya karena perebutan pengaruh dan posisi. Tentu tidak semua konflik adalah crab mentality—perbedaan pendapat justru sehat dalam demokrasi dan organisasi. Tetapi ketika keberhasilan kelompok lain dianggap sebagai ancaman, ketika orang lebih sibuk menggagalkan lawannya daripada memperbaiki keadaan, atau ketika kehancuran pihak sendiri dianggap lebih baik daripada kemenangan pihak yang berbeda, kita sedang melihat pola psikologis yang sama dalam skala yang lebih besar. Yang lebih rumit, mentalitas seperti ini tidak selalu lahir dari keburukan individu semata. Lingkungan sosial dan sistem yang penuh kelangkaan, kompetisi, ketimpangan akses, serta penghargaan yang terasa terbatas dapat membuat keberhasilan orang lain tampak seperti kehilangan kesempatan bagi diri sendiri. Akhirnya orang belajar berkompetisi secara horizontal: sesama pekerja saling menjatuhkan, sesama pedagang saling mematikan, tetangga saling membandingkan, sementara “ember” yang membatasi semuanya jarang dipertanyakan. Tidak perlu ada seseorang yang secara sadar merancang masyarakat agar saling membenci; sebuah sistem sudah cukup untuk memelihara perilaku tertentu ketika insentifnya terus bekerja seperti itu. Yang paling berbahaya adalah ketika kebiasaan tersebut menjadi budaya. Orang yang sukses dicurigai, orang yang mencoba naik dianggap sok, orang yang membantu dianggap naif, dan ketika seseorang terpuruk, penderitaannya justru menjadi hiburan atau pembenaran bagi orang lain. Pada titik tertentu, kebusukan mental tidak lagi terasa sebagai kebusukan karena sudah terlalu sering dipertontonkan dan akhirnya dianggap normal. Sebenarnya bukan tentang orang Indonesia punya jalur khusus menuju surga. Justru ini satire terhadap kontradiksi kita sendiri: ingin hidup sejahtera, tetapi tidak selalu senang melihat sesama sejahtera; ingin diperlakukan baik, tetapi menikmati ketika orang lain dipermalukan; ingin masyarakat tenteram, tetapi ikut memelihara kebiasaan yang membuat sesama saling menjatuhkan. Kalau begitu, mungkin pertanyaan tentang surga bukan hanya “bagaimana aku bisa sampai ke sana?”, tetapi juga “selama hidup di sini, apakah keberadaanku membuat kehidupan orang lain sedikit lebih mudah, atau justru ikut menarik mereka kembali ke dasar ember?” Sebab mungkin yang membuat kita sulit keluar bukan karena tidak ada yang mampu memanjat. Kita terlalu terbiasa menarik kaki orang yang sedang mencoba naik.
Masuk surga jalur WNI Kedengarannya seperti lelucon, tetapi mungkin ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan. Kita semua tentu ingin hidup kaya, tenteram, aman, bahagia, keluarga berkecukupan, dan pada akhirnya masuk surga. Dalam psikologi sosial ada istilah social comparison: manusia secara alamiah membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai posisi dan harga dirinya. Persoalannya muncul ketika keberhasilan orang lain mulai terasa sebagai ancaman. Dia naik, kita merasa turun. Dia dipuji, kita merasa tidak dianggap. Dia berhasil, kita mencari alasan untuk mengecilkan keberhasilannya. Bahkan ketika seseorang jatuh, kadang ada rasa lega yang sulit kita akui: “Ternyata dia tidak sehebat itu.” Dari sinilah crab mentality menjadi lebih dari sekadar perumpamaan kepiting yang saling menarik ke bawah. Kita tidak selalu benar-benar ingin menjadi lebih baik; kadang kita hanya ingin memastikan orang lain tidak menjadi lebih baik daripada kita. Dan perilaku seperti ini sebenarnya sering kita pertontonkan sendiri dalam kehidupan sosial. Kita melihat para pemangku kebijakan saling berhadapan, antarpartai saling menjatuhkan, bahkan di dalam satu organisasi orang-orang yang seharusnya berjalan menuju tujuan yang sama bisa terpecah hanya karena perebutan pengaruh dan posisi. Tentu tidak semua konflik adalah crab mentality—perbedaan pendapat justru sehat dalam demokrasi dan organisasi. Tetapi ketika keberhasilan kelompok lain dianggap sebagai ancaman, ketika orang lebih sibuk menggagalkan lawannya daripada memperbaiki keadaan, atau ketika kehancuran pihak sendiri dianggap lebih baik daripada kemenangan pihak yang berbeda, kita sedang melihat pola psikologis yang sama dalam skala yang lebih besar. Yang lebih rumit, mentalitas seperti ini tidak selalu lahir dari keburukan individu semata. Lingkungan sosial dan sistem yang penuh kelangkaan, kompetisi, ketimpangan akses, serta penghargaan yang terasa terbatas dapat membuat keberhasilan orang lain tampak seperti kehilangan kesempatan bagi diri sendiri. Akhirnya orang belajar berkompetisi secara horizontal: sesama pekerja saling menjatuhkan, sesama pedagang saling mematikan, tetangga saling membandingkan, sementara “ember” yang membatasi semuanya jarang dipertanyakan. Tidak perlu ada seseorang yang secara sadar merancang masyarakat agar saling membenci; sebuah sistem sudah cukup untuk memelihara perilaku tertentu ketika insentifnya terus bekerja seperti itu. Yang paling berbahaya adalah ketika kebiasaan tersebut menjadi budaya. Orang yang sukses dicurigai, orang yang mencoba naik dianggap sok, orang yang membantu dianggap naif, dan ketika seseorang terpuruk, penderitaannya justru menjadi hiburan atau pembenaran bagi orang lain. Pada titik tertentu, kebusukan mental tidak lagi terasa sebagai kebusukan karena sudah terlalu sering dipertontonkan dan akhirnya dianggap normal. Sebenarnya bukan tentang orang Indonesia punya jalur khusus menuju surga. Justru ini satire terhadap kontradiksi kita sendiri: ingin hidup sejahtera, tetapi tidak selalu senang melihat sesama sejahtera; ingin diperlakukan baik, tetapi menikmati ketika orang lain dipermalukan; ingin masyarakat tenteram, tetapi ikut memelihara kebiasaan yang membuat sesama saling menjatuhkan. Kalau begitu, mungkin pertanyaan tentang surga bukan hanya “bagaimana aku bisa sampai ke sana?”, tetapi juga “selama hidup di sini, apakah keberadaanku membuat kehidupan orang lain sedikit lebih mudah, atau justru ikut menarik mereka kembali ke dasar ember?” Sebab mungkin yang membuat kita sulit keluar bukan karena tidak ada yang mampu memanjat. Kita terlalu terbiasa menarik kaki orang yang sedang mencoba naik.

About