@samyramospiano: Way Maker - Piano Cover Cristiano #Piano #cover #adoracion #WayMaker #Iglesia #Worship #Alabanzas #MusicaCristiana #Instrumental #Dios #Cristo #viral

Samy Ramos
Samy Ramos
Open In TikTok:
Region: SV
Monday 09 January 2023 20:54:34 GMT
252043
4060
60
753

Music

Download

Comments

antoniocaruso09
user4311613343061 :
Amen hallelujah 🙏 GOD blees you 🙏
2023-03-02 18:08:29
5
atchiee03
제니 :
Tutorial please 🥺
2024-03-07 00:23:07
2
florex4009
florex4009 :
amen
2023-03-18 18:11:57
5
marindajohnson
Marinda Johnson 🇿🇦 ✝️ :
Amen 🙏
2024-02-19 06:36:53
2
adolfoalvaradocardenas
𝓐𝓭𝓸𝓵𝓯𝓸 :
mi sueño tocar el piano así 🙏🥰
2025-01-27 17:18:51
1
reflexionesdiosesbueno
chiquis :
Me DIOs se que tu estas aqui commigo siempre
2025-12-11 09:59:16
0
rousperez010
Luz :
amén 🙌 🥰
2024-07-13 00:11:59
2
cleverrm
💚CleverRuiz💚 :
hermoso tema 💕💕💕
2025-04-19 10:00:27
0
chaparrahernandez69
vegueta :
lo e intentado y no e podido por donde empezar
2023-10-02 17:50:49
4
sergioestebanmoli6
sergio :
😎😎😎
2024-05-16 02:30:57
1
yanieliflores
yanieliflores :
😇😇
2024-05-29 04:11:15
1
paulinhojazz
Paulinho Jazz :
👏👏👏
2026-02-21 23:41:30
0
ruth.usaquen.garz
Ruth Usaquen Garzon :
🥰
2025-08-30 02:12:08
0
darkim307
Max :
❤️
2025-07-12 03:36:48
0
pierre.lumbe3
Pierre Lumbe :
😂
2025-11-27 19:40:49
0
newmanchil
Casa daniela ventas :
🥰
2025-11-06 05:35:34
0
orlandolamanna
Orlando lamanna :
🥰
2025-10-21 01:26:12
0
djairrodrigues26
Djair Rodrigues :
😂
2025-10-20 11:33:01
0
dieunord5731
urse79945731 :
😁
2026-01-14 15:44:33
0
fiorellajerez11
fiore🦋🦋 :
2025-08-29 19:52:18
0
dieunord5731
urse79945731 :
😂
2026-01-14 15:44:33
0
adolfo.colcha
Adolfo Colcha :
🙏
2025-07-09 12:18:35
0
mirianteles85
Mirian Teles85 :
❤️
2025-07-02 20:21:08
0
mirianteles85
Mirian Teles85 :
🥺
2025-07-02 20:21:08
0
james.canoneo
☦️ Brother James :
👍
2024-08-01 10:53:21
0
To see more videos from user @samyramospiano, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Ayo living together.” Kamu yang sedang menyeruput es kopi ala kafe abis. langsung tersedak. “HAH?” Jake bahkan tidak terlihat bercanda. Ia duduk di hadapanmu dengan wajah lelah seperti habis menghadapi rapat penting selama tiga jam. Padahal yang sebenarnya ia hadapi adalah kamu. Pacarnya sendiri. “Jake, kamu habis nonton apa?” “Aku serius.” “Kamu demam?” “Aku sehat.” “Kena santet?” “Y/n.” “Oke, berarti santet.” Jake menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hubungan kalian sebenarnya baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Sudah hampir dua tahun berpacaran, tidak pernah putus, tidak pernah ada orang ketiga, dan hampir semua teman kalian mengira hubungan ini akan berjalan sampai pelaminan. Sayangnya ada satu masalah. Kamu. Lebih tepatnya, khayalanmu. Semuanya berawal karena terlalu banyak menonton drama. Saat orang lain bermimpi dilamar romantis, menikah di pantai, atau hidup bahagia selamanya, kamu punya mimpi yang jauh lebih aneh. Disuruh putus oleh ibu pacar. Iya. Sesederhana itu. Kamu selalu penasaran bagaimana rasanya didatangi seorang ibu elegan yang turun dari mobil mewah, membuka cek, lalu berkata, “Tinggalkan anak saya.” Dan kamu akan menjawab dengan penuh harga diri, “Saya mencintainya, Bu.” Lalu setelah drama tiga puluh menit, “Baiklah, saya terima uangnya.” Selesai. Indah. Ikonik. Menyentuh. Masalahnya, Jake sama sekali tidak mendukung impianmu. Bukan karena dia tidak sayang. Justru karena dia terlalu sayang. “Kenapa sih kamu pengen banget diputusin?” tanya Jake suatu hari. “Kamu nggak akan ngerti.” “Aku memang nggak ngerti.” “Itu pengalaman hidup.” “Itu delusi.” Kamu mengabaikannya. Sebagai seorang wanita yang punya visi, kamu tidak mudah menyerah.  Berkali-kali kamu datang ke rumah Jake dengan harapan besar. Mungkin hari ini. Mungkin hari ini ibunya akhirnya akan memanggilmu ke ruang tamu. Mungkin hari ini cek itu muncul. Namun kenyataannya selalu menyakitkan. “Y/n, mau nambah ayam goreng?” “Y/n, mau dibawakan mangga?” “Y/n, kapan main lagi?” Tidak ada ancaman. Tidak ada penghinaan. Tidak ada cek. Tidak ada uang. Ibunya Jake terlalu baik. Sampai-sampai minggu lalu beliau mengirimkan makanan ke rumahmu karena tahu kamu sedang sibuk. Sungguh gagal total. Hari ini pun sama. Kamu baru saja mengeluh selama hampir satu jam penuh tentang bagaimana impianmu hancur karena ibunya Jake ternyata manusia normal. Dan hasilnya? Jake tiba-tiba mengajakmu tinggal bersama. “Aku masih nggak ngerti hubungan masalahku sama living together.” “Karena aku capek.” “Kamu capek kenapa?” Jake menatapmu datar. “Setiap kali ke rumahku, yang kamu tunggu ibuku.” “Ya kan—” “Setiap ada mobil hitam lewat, yang kamu lihat juga ibuku.” “Itu kemungkinan besar calon ibu mertua antagonis.” “Bahkan kemarin pas ibuku nelpon aku, kamu yang lebih semangat ngangkat.” Kamu terdiam. Jake menunjukmu. “Nah. Diam kan.” “Aku pacarmu, Y/n.” “Iya.” “Tapi kadang aku merasa seperti karakter pendukung dalam cerita hubunganmu dan ibuku.” Kamu langsung tertawa. Jake tidak. “Itu bukan hal lucu.” “Kamu cemburu sama ibumu sendiri?” “Aku cemburu sama khayalanmu dan kecintaanmu pada uang.” Kali ini kamu benar-benar tidak bisa menahan tawa. Jake memandangmu dengan ekspresi orang yang sudah menyerah pada hidup. Lalu tanpa peringatan, ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kunci. Dan meletakkannya di atas meja. Kamu langsung berhenti tertawa. “Jake.” “Iya?” “Kenapa kamu bawa kunci apartemenmu?” “Karena aku serius.” Dadamu mendadak berdebar. Sedangkan Jake terlihat sangat tenang. Terlalu tenang. “Ayo living together.” “Jake.” “Aku nggak mau putus sama kamu.” “Kita juga nggak mau putus.” “Kamu nggak tahu seberapa jauh delusimu bisa berkembang.” “HEY!” “Aku berjaga-jaga.” Kamu hendak membalas, namun ponsel Jake tiba-tiba bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar membuat matamu membulat. Mom Calling. Kamu langsung menegakkan badan. Jake memejamkan mata. Tidak. Jangan lagi. Tapi semuanya sudah terlambat. Dengan mata berbinar, kamu menunjuk layar ponselnya seperti menemukan harta karun. “JAKE.” “Jangan.” “JAKE.” “Jangan, Y/n.” “ANGKAT.” “Kenapa?” #jake #enhypen #4u
“Ayo living together.” Kamu yang sedang menyeruput es kopi ala kafe abis. langsung tersedak. “HAH?” Jake bahkan tidak terlihat bercanda. Ia duduk di hadapanmu dengan wajah lelah seperti habis menghadapi rapat penting selama tiga jam. Padahal yang sebenarnya ia hadapi adalah kamu. Pacarnya sendiri. “Jake, kamu habis nonton apa?” “Aku serius.” “Kamu demam?” “Aku sehat.” “Kena santet?” “Y/n.” “Oke, berarti santet.” Jake menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hubungan kalian sebenarnya baik-baik saja. Bahkan sangat baik. Sudah hampir dua tahun berpacaran, tidak pernah putus, tidak pernah ada orang ketiga, dan hampir semua teman kalian mengira hubungan ini akan berjalan sampai pelaminan. Sayangnya ada satu masalah. Kamu. Lebih tepatnya, khayalanmu. Semuanya berawal karena terlalu banyak menonton drama. Saat orang lain bermimpi dilamar romantis, menikah di pantai, atau hidup bahagia selamanya, kamu punya mimpi yang jauh lebih aneh. Disuruh putus oleh ibu pacar. Iya. Sesederhana itu. Kamu selalu penasaran bagaimana rasanya didatangi seorang ibu elegan yang turun dari mobil mewah, membuka cek, lalu berkata, “Tinggalkan anak saya.” Dan kamu akan menjawab dengan penuh harga diri, “Saya mencintainya, Bu.” Lalu setelah drama tiga puluh menit, “Baiklah, saya terima uangnya.” Selesai. Indah. Ikonik. Menyentuh. Masalahnya, Jake sama sekali tidak mendukung impianmu. Bukan karena dia tidak sayang. Justru karena dia terlalu sayang. “Kenapa sih kamu pengen banget diputusin?” tanya Jake suatu hari. “Kamu nggak akan ngerti.” “Aku memang nggak ngerti.” “Itu pengalaman hidup.” “Itu delusi.” Kamu mengabaikannya. Sebagai seorang wanita yang punya visi, kamu tidak mudah menyerah. Berkali-kali kamu datang ke rumah Jake dengan harapan besar. Mungkin hari ini. Mungkin hari ini ibunya akhirnya akan memanggilmu ke ruang tamu. Mungkin hari ini cek itu muncul. Namun kenyataannya selalu menyakitkan. “Y/n, mau nambah ayam goreng?” “Y/n, mau dibawakan mangga?” “Y/n, kapan main lagi?” Tidak ada ancaman. Tidak ada penghinaan. Tidak ada cek. Tidak ada uang. Ibunya Jake terlalu baik. Sampai-sampai minggu lalu beliau mengirimkan makanan ke rumahmu karena tahu kamu sedang sibuk. Sungguh gagal total. Hari ini pun sama. Kamu baru saja mengeluh selama hampir satu jam penuh tentang bagaimana impianmu hancur karena ibunya Jake ternyata manusia normal. Dan hasilnya? Jake tiba-tiba mengajakmu tinggal bersama. “Aku masih nggak ngerti hubungan masalahku sama living together.” “Karena aku capek.” “Kamu capek kenapa?” Jake menatapmu datar. “Setiap kali ke rumahku, yang kamu tunggu ibuku.” “Ya kan—” “Setiap ada mobil hitam lewat, yang kamu lihat juga ibuku.” “Itu kemungkinan besar calon ibu mertua antagonis.” “Bahkan kemarin pas ibuku nelpon aku, kamu yang lebih semangat ngangkat.” Kamu terdiam. Jake menunjukmu. “Nah. Diam kan.” “Aku pacarmu, Y/n.” “Iya.” “Tapi kadang aku merasa seperti karakter pendukung dalam cerita hubunganmu dan ibuku.” Kamu langsung tertawa. Jake tidak. “Itu bukan hal lucu.” “Kamu cemburu sama ibumu sendiri?” “Aku cemburu sama khayalanmu dan kecintaanmu pada uang.” Kali ini kamu benar-benar tidak bisa menahan tawa. Jake memandangmu dengan ekspresi orang yang sudah menyerah pada hidup. Lalu tanpa peringatan, ia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kunci. Dan meletakkannya di atas meja. Kamu langsung berhenti tertawa. “Jake.” “Iya?” “Kenapa kamu bawa kunci apartemenmu?” “Karena aku serius.” Dadamu mendadak berdebar. Sedangkan Jake terlihat sangat tenang. Terlalu tenang. “Ayo living together.” “Jake.” “Aku nggak mau putus sama kamu.” “Kita juga nggak mau putus.” “Kamu nggak tahu seberapa jauh delusimu bisa berkembang.” “HEY!” “Aku berjaga-jaga.” Kamu hendak membalas, namun ponsel Jake tiba-tiba bergetar di atas meja. Nama yang muncul di layar membuat matamu membulat. Mom Calling. Kamu langsung menegakkan badan. Jake memejamkan mata. Tidak. Jangan lagi. Tapi semuanya sudah terlambat. Dengan mata berbinar, kamu menunjuk layar ponselnya seperti menemukan harta karun. “JAKE.” “Jangan.” “JAKE.” “Jangan, Y/n.” “ANGKAT.” “Kenapa?” #jake #enhypen #4u

About