@altairejets: Private Jet Vacation Packages & Tours | Four Seasons Four Seasons offers customised private jet journeys around the world with access to secluded islands, vibrant wildlife, historic city sites and much more Kona, USA – Bora Bora, French Polynesia – Sydney, Australia – Bali, Indonesia – Chiang Mai or Chiang Rai, Thailand – Taj Mahal, India (day trip) – Dubai, UAE – Prague, Czech Republic – London, England The longest-running Private Jet journey, this 24-day voyage offers inspiring urban experiences, astonishing natural beauty and a stop at one of the world’s iconic wonders. Explore Sydney Harbour on a privately chartered yacht before jetting off to Bali, home to idyllic beaches, rolling rice fields and lush jungles. In Northern Thailand, discover enduring traditions. On the way to Dubai, stop in Agra for a special day trip to the fabled Taj Mahal. A final stop in London offers a chance to explore eclectic neighbourhoods, historic sites and an exciting culinary scene. #privateflights #LuxuryTravel #Aviation #BusinessAviation #CorporateTravel #LUXURYTRAVELLTD #ExecutiveJet #privatejet @Luxury Travel LTD

Altaire
Altaire
Open In TikTok:
Region: RO
Saturday 29 April 2023 21:54:53 GMT
2617
44
1
18

Music

Download

Comments

valentin_bm
valentin_bm :
If I would have it, I would pay it, of course 🥰
2023-04-30 05:42:21
0
To see more videos from user @altairejets, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kontemplasi musim panas di satu hari Sabtu yang cerah. Kondisi gue itu single mom, sebarang kara karena keluarga gue toxic dan disfungsional. Ketipu sama bapaknya anak gue yang covert narcissist. Dan sekarang sendirian urus anak gen alpha yang pinter nan cerdas tapi jago nipu.  Jadi makanya gue gak rekomen motherhood sama sekali.  Ketika lo gak punya support system mumpuni, nggak banget sih jadi ibu itu.  Gue heran sama orang2 yang bilang “anak gue memberikan gue arti dan makna kehidupan”. “Karena anak, gue jadi punya tujuan hidup”. Ya gue gak paham aja sih. Mungkin gue belum paham itu. Karena buat gue, sebelum gue punya anak, gue udah tahu makna dan tujuan hidup gue. Contoh aja, sebelum punya anak gue udah pernah ke 37 negara. Dan makanya gue dulu semangat mau punya anak. Malah gue tadinya terinspirasi mau bawa anak gue jadi mini traveler selama 5 tahun awal hidupnya untuk belajar kehidupan dan merasakan culture dan negara beda2. Tapi jadinya batal, karena di tengah jalan gue jatuh sakit.  FYI, anak gue belum 1 tahun aja dia udah pergi ke 11 negara. Tapi ya itu, gue tumbang. Karena gak punya support system bagus dan memang ditipu bapaknya si anak, ya gue bertahun2 ini bener2 jatuh bangun. Dan sekarang lagi recovery dan berusaha bangkit untuk “build up my awesome life”. Hidup gue sangat enak dan seru banget sebelum punya anak. Makanya gue kira gue mau bagi keseruan itu dengan seorang anak manusia. Waktu itu kebetulan gue juga cinta anak kecil. Dulunya gue professional nanny. Ada hal2 yang mau gue lakukan ke anak2 asuhan, tapi selalu terhambat karena para orangtuanya anak. Dan juga temen2 gue yang punya anak selalu bilang ke gue, gak mungkin, gak bisa.  Jadi dulu gue punya teori dan praktek gue kan soal parenting. Tiap gue lakukan ke anak2 asuhan, selalu berhasil. Tapi orangtuanya anak selalu bilang ya karena anak diasuh sama orang lain tuh emang lebih gampang. Temen2 gue juga selalu bilang begitu. Gue yang dulunya suka tantangan, makanya jadi berpikir gue harus punya anak sendiri. Tapi nyatanya semua ilmu2, teori, praktek yang dulunya gue lakukan ke anak2 orang; berhasil kok gue lakukan ke anak gue sendiri. Tapi MEMANG SUSAH. Tapi gue sih ngeliatnya karena anak gue itu emang karakter menantang. Pertama, dia gen alpha. Kedua ya memang gue bikin anak sama manusia yang “salah”. Asesmen gue keliru. Emang salah gue itu. Gue gak dengerin intuisi gue dulu tuh. Tapi ya memang ini udah jalan hidup gue. Makanya gue jadi merasakan paitnya motherhood. Karena realitanya banyak juga perempuan2 yang ngerasain apa yang gue alami. CUMA MEREKA GAK BERANI TERBUKA BILANG. Makanya banyak perempuan lain akhirnya terjebak juga. Ya gue udah sering bilang di VT2 gue. Perempuan mandiri dari keluarga disfungsional yang gak menemukan laki2 dan keluarganya yang berkualitas, jauh2 dari motherhood. Save your soul! Selamatkan jiwa lo aja! Nikmati hidup lo aja. Pesan ini tapi gak berlaku buat elo yang bahkan makan di restoran sendirian aja nggak berani. Ya lo nggak akan ngerti petuah gue. Atau perempuan yang temennya cuma suaminya. Atau anaknya yang masih kecil tapi udah dianggep bestie. Ya lo gak akan sejalan pemikirannya sama gue. Jadi menurut gue sih lo gak usah komen dan gak usah jualan motherhood disini. Di 2026 ini gak guna banget untuk perempuan jadi ibu. Manusia juga udah kebanyakan. Kalo lo gak harus menghasilkan keturunan karena misalnya keluarga lo khaya raya dan keluarga penting; mendingan gak usah aja beranak-pinak. Lo nikmati hidup aja. Coba belajar menerima diri lo sendiri dulu. Sembuhin segala luka yang lo punya. Nanti lo akan mengerti apa yang gue maksud. Visi misi gue sekarang cuma mendidik anak gue dengan baik dan benar. Dia juga perempuan. Ada ketakutan lah dalam diri gue. Tapi gue usahakan untuk fokus pada hal2 yang gue mau aja. Gue mau dia bisa hidup lebih tentram dan bahagia. Gue mau dia bisa lebih menikmati hidup. Makanya gue pilih fokus pada peran gue menjadi mentor hidupnya dia aja. Sebaik2nya menjadi coach,, guru, pembimbing, pembina si anak.
Kontemplasi musim panas di satu hari Sabtu yang cerah. Kondisi gue itu single mom, sebarang kara karena keluarga gue toxic dan disfungsional. Ketipu sama bapaknya anak gue yang covert narcissist. Dan sekarang sendirian urus anak gen alpha yang pinter nan cerdas tapi jago nipu. Jadi makanya gue gak rekomen motherhood sama sekali. Ketika lo gak punya support system mumpuni, nggak banget sih jadi ibu itu. Gue heran sama orang2 yang bilang “anak gue memberikan gue arti dan makna kehidupan”. “Karena anak, gue jadi punya tujuan hidup”. Ya gue gak paham aja sih. Mungkin gue belum paham itu. Karena buat gue, sebelum gue punya anak, gue udah tahu makna dan tujuan hidup gue. Contoh aja, sebelum punya anak gue udah pernah ke 37 negara. Dan makanya gue dulu semangat mau punya anak. Malah gue tadinya terinspirasi mau bawa anak gue jadi mini traveler selama 5 tahun awal hidupnya untuk belajar kehidupan dan merasakan culture dan negara beda2. Tapi jadinya batal, karena di tengah jalan gue jatuh sakit. FYI, anak gue belum 1 tahun aja dia udah pergi ke 11 negara. Tapi ya itu, gue tumbang. Karena gak punya support system bagus dan memang ditipu bapaknya si anak, ya gue bertahun2 ini bener2 jatuh bangun. Dan sekarang lagi recovery dan berusaha bangkit untuk “build up my awesome life”. Hidup gue sangat enak dan seru banget sebelum punya anak. Makanya gue kira gue mau bagi keseruan itu dengan seorang anak manusia. Waktu itu kebetulan gue juga cinta anak kecil. Dulunya gue professional nanny. Ada hal2 yang mau gue lakukan ke anak2 asuhan, tapi selalu terhambat karena para orangtuanya anak. Dan juga temen2 gue yang punya anak selalu bilang ke gue, gak mungkin, gak bisa. Jadi dulu gue punya teori dan praktek gue kan soal parenting. Tiap gue lakukan ke anak2 asuhan, selalu berhasil. Tapi orangtuanya anak selalu bilang ya karena anak diasuh sama orang lain tuh emang lebih gampang. Temen2 gue juga selalu bilang begitu. Gue yang dulunya suka tantangan, makanya jadi berpikir gue harus punya anak sendiri. Tapi nyatanya semua ilmu2, teori, praktek yang dulunya gue lakukan ke anak2 orang; berhasil kok gue lakukan ke anak gue sendiri. Tapi MEMANG SUSAH. Tapi gue sih ngeliatnya karena anak gue itu emang karakter menantang. Pertama, dia gen alpha. Kedua ya memang gue bikin anak sama manusia yang “salah”. Asesmen gue keliru. Emang salah gue itu. Gue gak dengerin intuisi gue dulu tuh. Tapi ya memang ini udah jalan hidup gue. Makanya gue jadi merasakan paitnya motherhood. Karena realitanya banyak juga perempuan2 yang ngerasain apa yang gue alami. CUMA MEREKA GAK BERANI TERBUKA BILANG. Makanya banyak perempuan lain akhirnya terjebak juga. Ya gue udah sering bilang di VT2 gue. Perempuan mandiri dari keluarga disfungsional yang gak menemukan laki2 dan keluarganya yang berkualitas, jauh2 dari motherhood. Save your soul! Selamatkan jiwa lo aja! Nikmati hidup lo aja. Pesan ini tapi gak berlaku buat elo yang bahkan makan di restoran sendirian aja nggak berani. Ya lo nggak akan ngerti petuah gue. Atau perempuan yang temennya cuma suaminya. Atau anaknya yang masih kecil tapi udah dianggep bestie. Ya lo gak akan sejalan pemikirannya sama gue. Jadi menurut gue sih lo gak usah komen dan gak usah jualan motherhood disini. Di 2026 ini gak guna banget untuk perempuan jadi ibu. Manusia juga udah kebanyakan. Kalo lo gak harus menghasilkan keturunan karena misalnya keluarga lo khaya raya dan keluarga penting; mendingan gak usah aja beranak-pinak. Lo nikmati hidup aja. Coba belajar menerima diri lo sendiri dulu. Sembuhin segala luka yang lo punya. Nanti lo akan mengerti apa yang gue maksud. Visi misi gue sekarang cuma mendidik anak gue dengan baik dan benar. Dia juga perempuan. Ada ketakutan lah dalam diri gue. Tapi gue usahakan untuk fokus pada hal2 yang gue mau aja. Gue mau dia bisa hidup lebih tentram dan bahagia. Gue mau dia bisa lebih menikmati hidup. Makanya gue pilih fokus pada peran gue menjadi mentor hidupnya dia aja. Sebaik2nya menjadi coach,, guru, pembimbing, pembina si anak.

About