@itstegan4:

Tegan woobey
Tegan woobey
Open In TikTok:
Region: GB
Thursday 17 August 2023 17:10:28 GMT
348
39
2
1

Music

Download

Comments

nikolabekus
nikola 💗 :
gorgeous
2023-08-17 17:14:43
0
roxie_scarlett
Roxie :
omg I have that dress youre so pretty
2023-08-17 17:15:22
0
To see more videos from user @itstegan4, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV : James, atau yang kini lebih dikenal sebagai Senior Zhao, telah berubah sepenuhnya.  Tidak ada lagi jejak pemuda berkacamata kotak dan berpakaian kuno yang dulu mengejarmu dengan menggebu-gebu saat SMA. Sosok yang kini berdiri di hadapanmu adalah pria yang asing—dingin, tajam, dan sama sekali berbeda dari James yang dulu kau kenal. Kini, di tengah lapangan yang gerah, suara bariton Senior Zhao menggema lewat pengeras suara, memberikan instruksi tentang tata tertib kampus dengan nada bicara yang sangat terstruktur. Kamu berdiri di barisan tengah, namun pandanganmu justru mengabur. Pikiranmu terseret kembali ke masa SMA. Di ingatanmu, Zhao Yufan itu adalah James—si kutu buku yang selalu duduk di pojok perpustakaan, memakai kacamata kotak yang sering merosot ke ujung hidung, dan selalu gugup setiap kali kamu lewat di depannya.  Tapi pria yang berdiri di depan sana seolah menghapus semua memori itu. Bahunya tegap, kemeja panitianya disetrika sangat rapi, dan sorot matanya tajam seolah bisa menguliti siapa saja yang membangkang. Bagaimana mungkin seseorang berubah sedrastis itu? Kamu terlalu asyik membandingkan dua sosok itu dalam kepalamu, sampai-sampai kamu tidak menyadari bahwa suara di pengeras suara telah berhenti. Keheningan tiba-tiba itu barulah membuatmu tersadar.
POV : James, atau yang kini lebih dikenal sebagai Senior Zhao, telah berubah sepenuhnya. Tidak ada lagi jejak pemuda berkacamata kotak dan berpakaian kuno yang dulu mengejarmu dengan menggebu-gebu saat SMA. Sosok yang kini berdiri di hadapanmu adalah pria yang asing—dingin, tajam, dan sama sekali berbeda dari James yang dulu kau kenal. Kini, di tengah lapangan yang gerah, suara bariton Senior Zhao menggema lewat pengeras suara, memberikan instruksi tentang tata tertib kampus dengan nada bicara yang sangat terstruktur. Kamu berdiri di barisan tengah, namun pandanganmu justru mengabur. Pikiranmu terseret kembali ke masa SMA. Di ingatanmu, Zhao Yufan itu adalah James—si kutu buku yang selalu duduk di pojok perpustakaan, memakai kacamata kotak yang sering merosot ke ujung hidung, dan selalu gugup setiap kali kamu lewat di depannya. Tapi pria yang berdiri di depan sana seolah menghapus semua memori itu. Bahunya tegap, kemeja panitianya disetrika sangat rapi, dan sorot matanya tajam seolah bisa menguliti siapa saja yang membangkang. Bagaimana mungkin seseorang berubah sedrastis itu? Kamu terlalu asyik membandingkan dua sosok itu dalam kepalamu, sampai-sampai kamu tidak menyadari bahwa suara di pengeras suara telah berhenti. Keheningan tiba-tiba itu barulah membuatmu tersadar. "Kamu yang di barisan ketiga, maju." Suaranya yang berat membelah kebisingan lapangan, seketika membuat suasana menjadi senyap. Kamu tersentak saat menyadari telunjuk James mengarah tepat ke arahmu. Dengan langkah ragu, kamu berjalan ke depan, berdiri tepat di hadapannya di bawah terik matahari yang menyengat. "Jelaskan ke depan tentang kedisiplinan. Sepertinya kamu punya kebiasaan buruk mengabaikan orang lain yang sedang menjelaskan, sepertinya itu memang sifatmu." ucapnya datar, namun matanya menatapmu dengan kilatan yang sulit diartikan. Sebelum kamu sempat membuka mulut, dia mendekat, merunduk sedikit agar suaranya hanya terdengar di telingamu. "Atau lo emang kayak gitu? Cuma peduli sama apa yang pengen lo liat, dan biarin apa yang lo pikir nggak berharga?" Dia kembali menegakkan tubuh, mundur ke posisi semula dan menatapmu dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata. "Silakan bicara. Kami semua mendengarkan." Kamu membuka mulut, namun kerongkonganmu terasa kering. Bayangan James yang culun dan Senior Zhao yang mengintimidasi terus beradu di kepalamu, membuat kata-kata yang sudah kamu susun hilang seketika. Kamu hanya bisa berdiri mematung di bawah terik matahari, meremas ujung bajumu dengan telapak tangan yang berkeringat. Keheningan di lapangan itu terasa mencekik sebelum akhirnya James melangkah maju lagi. Dia berhenti tepat di depanmu—begitu dekat hingga aroma parfumnya yang dingin dan mahal menyerbu indramu. Ia tidak menatap matamu, melainkan fokus pada nametag yang tergantung di lehermu. Dengan gerakan lambat yang sengaja, ia menjepit nametag itu dengan dua jarinya, menariknya sedikit hingga tali nametag itu menegang di tengkukmu. Kamu terpaksa sedikit mendongak, terpaku pada rahangnya yang tegas dan sorot mata di balik lensa kacamata yang kini tampak elegan, bukan lagi kaku. "Dasi miring, rambut berantakan, dan otak kosong," bisiknya sangat rendah, nyaris seperti desisan yang hanya bisa kamu dengar. Ia kemudian menyentakkan nametag itu sedikit kasar saat melepaskannya, lalu merapikan kerah bajumu dengan gerakan yang terlihat perhatian namun sebenarnya penuh tekanan. "Ke mana perginya sifat sombong lo itu pas SMA dulu?" lanjutnya dengan nada yang lebih tajam. “Lucu juga liat orang yang dulu banyak gaya, sekarang keliatan sekecil ini.” Dia kembali berdiri tegak, menjauhkan diri seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. Ia menatap asisten panitia di sampingnya tanpa menoleh lagi padamu. "Catat nomor induknya. Karena dia tidak bisa menjelaskan di sini, dia akan mengerjakannya secara tertulis di ruang panitia sore ini. Secara pribadi." (comment) +🗨 #james #cortis #fyppage #au #pov

About