@fanisa_fann: Atas bawah 80rban doang 👀🛒 Spill disini [link dibio sesuai nomor ] Shirt link : 569 by @asokafashionn Cln link : 219 Bag link : 113 Sepatu link :446 Pashmina link : 301 #minimalistoutfit #monochromeoutfit #ootdinspo #hijaboutfit #fanisafan

Fanisa
Fanisa
Open In TikTok:
Region: ID
Saturday 26 August 2023 11:54:21 GMT
2278
23
0
4

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @fanisa_fann, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sering kali manusia lupa bahwa apa yang dimilikinya hari ini bukanlah miliknya dalam arti yang mutlak. Harta, jabatan, kecerdasan, kesehatan, kecantikan, bahkan kesempatan yang dinikmati, semuanya adalah titipan yang suatu saat dapat diambil kembali oleh Sang Pemilik. Namun ketika titipan itu bertambah, sebagian orang justru merasa dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Ia menilai manusia berdasarkan apa yang tampak di mata, seolah-olah kelebihan yang dimilikinya adalah hasil mutlak dari kemampuannya sendiri. Padahal tidak ada alasan untuk menyombongkan sesuatu yang sejak awal hanya dipinjamkan. Merendahkan orang lain karena keadaan yang sedang mereka alami adalah bentuk kelupaan terhadap hakikat kehidupan. Hari ini seseorang mungkin hidup berkecukupan, sementara yang lain sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Hari ini seseorang berada di puncak karier, sementara yang lain masih merintis dari bawah. Namun roda kehidupan tidak pernah berhenti berputar. Allah mampu mengangkat siapa yang hari ini berada di bawah, dan mampu menguji siapa yang hari ini merasa berada di atas. Tidak ada jaminan bahwa keadaan hari ini akan tetap sama esok hari. Kelebihan yang Allah berikan bukanlah alat untuk mengukur nilai manusia, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya dengan benar. Harta seharusnya melahirkan kemurahan hati, ilmu melahirkan kerendahan hati, jabatan melahirkan keadilan, dan kekuasaan melahirkan kepedulian. Jika semua itu justru melahirkan kesombongan, berarti nikmat yang seharusnya menjadi jalan menuju kemuliaan telah berubah menjadi ujian yang gagal dilewati. Orang yang benar-benar memahami hakikat kehidupan tidak akan mudah memandang rendah siapa pun. Ia sadar bahwa setiap manusia sedang menjalani ujian yang berbeda. Ada yang diuji dengan kekurangan, ada pula yang diuji dengan kelimpahan. Yang miskin diuji dengan kesabaran, sedangkan yang kaya diuji dengan rasa syukur. Yang belum memiliki diuji dengan harapan, sedangkan yang sudah memiliki diuji dengan kerendahan hati. Di hadapan Allah, kemuliaan tidak diukur dari banyaknya titipan yang dimiliki, melainkan dari cara seseorang menjaganya. Maka sebelum merasa lebih baik daripada orang lain, ingatlah bahwa semua yang kita banggakan bisa berubah dalam sekejap atas kehendak Allah. Gunakan setiap nikmat untuk menguatkan mereka yang sedang lemah, bukan untuk membuat mereka merasa kecil. Sebab ketika titipan itu kelak dikembalikan kepada Pemiliknya, yang tersisa bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya pengaruh, melainkan akhlak yang kita tunjukkan selama diberi amanah. Dan tidak ada kemuliaan yang lebih indah daripada menjadi rendah hati di hadapan sesama karena menyadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah pinjaman dari Allah.
Sering kali manusia lupa bahwa apa yang dimilikinya hari ini bukanlah miliknya dalam arti yang mutlak. Harta, jabatan, kecerdasan, kesehatan, kecantikan, bahkan kesempatan yang dinikmati, semuanya adalah titipan yang suatu saat dapat diambil kembali oleh Sang Pemilik. Namun ketika titipan itu bertambah, sebagian orang justru merasa dirinya lebih tinggi daripada yang lain. Ia menilai manusia berdasarkan apa yang tampak di mata, seolah-olah kelebihan yang dimilikinya adalah hasil mutlak dari kemampuannya sendiri. Padahal tidak ada alasan untuk menyombongkan sesuatu yang sejak awal hanya dipinjamkan. Merendahkan orang lain karena keadaan yang sedang mereka alami adalah bentuk kelupaan terhadap hakikat kehidupan. Hari ini seseorang mungkin hidup berkecukupan, sementara yang lain sedang berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Hari ini seseorang berada di puncak karier, sementara yang lain masih merintis dari bawah. Namun roda kehidupan tidak pernah berhenti berputar. Allah mampu mengangkat siapa yang hari ini berada di bawah, dan mampu menguji siapa yang hari ini merasa berada di atas. Tidak ada jaminan bahwa keadaan hari ini akan tetap sama esok hari. Kelebihan yang Allah berikan bukanlah alat untuk mengukur nilai manusia, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin besar nikmat yang diterima, semakin besar pula tanggung jawab untuk menggunakannya dengan benar. Harta seharusnya melahirkan kemurahan hati, ilmu melahirkan kerendahan hati, jabatan melahirkan keadilan, dan kekuasaan melahirkan kepedulian. Jika semua itu justru melahirkan kesombongan, berarti nikmat yang seharusnya menjadi jalan menuju kemuliaan telah berubah menjadi ujian yang gagal dilewati. Orang yang benar-benar memahami hakikat kehidupan tidak akan mudah memandang rendah siapa pun. Ia sadar bahwa setiap manusia sedang menjalani ujian yang berbeda. Ada yang diuji dengan kekurangan, ada pula yang diuji dengan kelimpahan. Yang miskin diuji dengan kesabaran, sedangkan yang kaya diuji dengan rasa syukur. Yang belum memiliki diuji dengan harapan, sedangkan yang sudah memiliki diuji dengan kerendahan hati. Di hadapan Allah, kemuliaan tidak diukur dari banyaknya titipan yang dimiliki, melainkan dari cara seseorang menjaganya. Maka sebelum merasa lebih baik daripada orang lain, ingatlah bahwa semua yang kita banggakan bisa berubah dalam sekejap atas kehendak Allah. Gunakan setiap nikmat untuk menguatkan mereka yang sedang lemah, bukan untuk membuat mereka merasa kecil. Sebab ketika titipan itu kelak dikembalikan kepada Pemiliknya, yang tersisa bukanlah banyaknya harta, tingginya jabatan, atau luasnya pengaruh, melainkan akhlak yang kita tunjukkan selama diberi amanah. Dan tidak ada kemuliaan yang lebih indah daripada menjadi rendah hati di hadapan sesama karena menyadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah pinjaman dari Allah.

About