@jacquelynmengel: my best life hack for focusing in school #lemme #lemmefocus #schoolhacks #adhdtiktok #college

jacquelyn
jacquelyn
Open In TikTok:
Region: US
Wednesday 06 September 2023 17:14:44 GMT
89086
2496
25
234

Music

Download

Comments

hbainsley
hbainsley :
Is this kourtney kardashian’s brand??
2023-09-22 00:18:42
3
_ashhh2121
_ashhh2121 :
Not worth it bro. It makes me sleep
2024-12-10 09:06:46
28
kelsokrazzy
Kel ✨ :
I’ve been thinking about trying it, but does it actually work? If so, then for how long?
2023-11-09 10:53:54
48
laila.abdelmalek
L :
if i have a test how long should i take it bfr like an hour bfr or like at the time of the teat like how long does it take to work
2026-05-01 19:15:26
0
missshehab
MissShehab :
After how long did you notice the difference?
2025-01-07 23:55:21
1
yslrzl
rizel ᨳଓ :
how long do u take it for
2024-07-09 20:51:07
1
.throwbs
.throwbs :
How old do u gotta be to have it?
2024-08-05 20:12:08
0
maquisine_
maquisine_ :
✨✨✨
2025-03-10 15:58:33
0
sumaya.hassan
Sumaya :
😁😁😁
2025-10-26 23:39:55
0
bellzo0
Bella :
🥰🥰🥰
2025-03-26 04:33:18
1
freshprinceofbelsar
Sarah Grace :
knowing you have adhd and not being diagnosed is so real. my boyfriend who does have adhd said he thinks i have it and i’ve been thinking it quietly my whole life. but i’m uninsured
2024-05-04 18:52:40
20
mush.s.room
mush :
are you still enjoying them??
2024-02-29 22:04:45
14
soonergirl1011
Em&M :
Does it work like adderall? I have ADHD too
2024-09-23 19:40:06
1
To see more videos from user @jacquelynmengel, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kematian prajurit TNI AU Serda Ahmad Muzammil Farisa menyisakan duka sekaligus tanda tanya bagi keluarga setelah diduga mengalami penganiayaan oleh empat seniornya di asrama hingga meninggal dunia, Kamis 10 September 2026. Dugaan penganiayaan tersebut kini tengah diselidiki Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau). Empat personel yang diduga terlibat juga telah menjalani pemeriksaan dalam berita acara pemeriksaan (BAPK). Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo, mengungkapkan putranya diduga dianiaya oleh empat senior saat berada di asrama. Keempat personel tersebut masing-masing berinisial Serda MTSA, Serda JM, Serda MAD, dan Serda AH. Mereka masih menjalani pemeriksaan untuk mendalami dugaan penganiayaan yang berujung pada kematian Serda Ahmad. “Saya dapat laporan pelaku empat orang senior anak saya,” ujar Toni, Jumat dini hari 11 September 2026. Menurut informasi yang diterima Toni dari sejumlah pihak, persoalan tersebut diduga bermula ketika Serda Ahmad diminta seniornya membeli makanan. Namun, makanan yang dibawa disebut tidak sesuai dengan permintaan. Serda Ahmad disebut diminta membeli mi kuah, tetapi justru membawa mi goreng. “Dari informasi yang saya dapat anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mi kuah namun diberikan mi goreng,” tutur Toni dengan mata sembab. Toni juga mengatakan dugaan penganiayaan terhadap putranya terjadi dalam dua waktu berbeda. Peristiwa pertama disebut berlangsung pada Rabu 9 September 2026 sekitar pukul 23.00 WIB. Sedangkan dugaan penganiayaan kedua disebut terjadi pada Kamis dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. “Info yang saya dapat ada dua kali waktu penganiayaan yang pertama pukul 23.00 WIB dan yang kedua setelah itu dini hari nya pukul 03.00 WIB,” terang Toni yang menjabat sebagai Kabag Protokol Pemkab Magetan. Kabar kematian Serda Ahmad pertama kali diterima Toni sekitar pukul 04.00 WIB dari salah seorang rekan putranya. Saat itu, informasi awal yang diterima keluarga menyebut Serda Ahmad meninggal akibat kecelakaan. Namun, tidak lama kemudian Toni mendapat informasi lain dari rekan putranya. Informasi tersebut menyebut kematian Serda Ahmad diduga berkaitan dengan penganiayaan oleh senior. “Saya dapat info saat sudah meninggal pukul 03.00 WIB. Saya dihubungi oleh temannya almarhum pukul 04.00 WIB,” lanjutnya. “Pukul 04.00 WIB saya dihubungi bahwa anak saya meninggal dunia karena kecelakaan. Tapi ada teman lainnya menginfokan jika tidak kecelakaan tapi dianiaya senior,” imbuh Toni. Sebelum dipulangkan ke rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, jenazah Serda Ahmad menjalani proses autopsi di Jakarta. Toni mengatakan keluarga juga memperoleh informasi mengenai adanya luka pada tubuh putranya. Informasi tersebut semakin menguatkan permintaan keluarga agar penyebab kematian Serda Ahmad diusut secara menyeluruh. “Luka di wajah bagian dagu dan bagian dada infonya,” jelas Toni. Toni meminta Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), hingga pihak terkait memastikan kasus kematian putranya diproses secara adil dan transparan. Ia berharap apabila dugaan penganiayaan tersebut terbukti, para pelaku mendapatkan sanksi berat. Toni juga meminta agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan TNI AU. “Mohon kepada pak Presiden (Prabowo), pak KSAU, juga Kadis Psikologi yang jadi induk kantor anak saya. Mohon dengan hormat agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya,” kata Toni. “Kami terus terang menuntut keadilan. Apalagi kejadian di Mabes TNI AU, jadi istilahnya jadi percontohan nasional,” ujar Toni. “Harapan kami pada pelaku putusan sanksi yang berat kepada pelaku dan berharap tidak terulang lagi kejadian yang memakan nyawa prajurit anak tidak berdosa,” imbuhnya. Sumber: Memoindonesia.com #ahmadmuzammulfarisa #tniau #senior #mie #fyp
Kematian prajurit TNI AU Serda Ahmad Muzammil Farisa menyisakan duka sekaligus tanda tanya bagi keluarga setelah diduga mengalami penganiayaan oleh empat seniornya di asrama hingga meninggal dunia, Kamis 10 September 2026. Dugaan penganiayaan tersebut kini tengah diselidiki Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Pomau). Empat personel yang diduga terlibat juga telah menjalani pemeriksaan dalam berita acara pemeriksaan (BAPK). Ayah Serda Ahmad, Toni Eko Prasetyo, mengungkapkan putranya diduga dianiaya oleh empat senior saat berada di asrama. Keempat personel tersebut masing-masing berinisial Serda MTSA, Serda JM, Serda MAD, dan Serda AH. Mereka masih menjalani pemeriksaan untuk mendalami dugaan penganiayaan yang berujung pada kematian Serda Ahmad. “Saya dapat laporan pelaku empat orang senior anak saya,” ujar Toni, Jumat dini hari 11 September 2026. Menurut informasi yang diterima Toni dari sejumlah pihak, persoalan tersebut diduga bermula ketika Serda Ahmad diminta seniornya membeli makanan. Namun, makanan yang dibawa disebut tidak sesuai dengan permintaan. Serda Ahmad disebut diminta membeli mi kuah, tetapi justru membawa mi goreng. “Dari informasi yang saya dapat anak saya disuruh membeli makanan yang tidak sesuai permintaan senior. Mintanya mi kuah namun diberikan mi goreng,” tutur Toni dengan mata sembab. Toni juga mengatakan dugaan penganiayaan terhadap putranya terjadi dalam dua waktu berbeda. Peristiwa pertama disebut berlangsung pada Rabu 9 September 2026 sekitar pukul 23.00 WIB. Sedangkan dugaan penganiayaan kedua disebut terjadi pada Kamis dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. “Info yang saya dapat ada dua kali waktu penganiayaan yang pertama pukul 23.00 WIB dan yang kedua setelah itu dini hari nya pukul 03.00 WIB,” terang Toni yang menjabat sebagai Kabag Protokol Pemkab Magetan. Kabar kematian Serda Ahmad pertama kali diterima Toni sekitar pukul 04.00 WIB dari salah seorang rekan putranya. Saat itu, informasi awal yang diterima keluarga menyebut Serda Ahmad meninggal akibat kecelakaan. Namun, tidak lama kemudian Toni mendapat informasi lain dari rekan putranya. Informasi tersebut menyebut kematian Serda Ahmad diduga berkaitan dengan penganiayaan oleh senior. “Saya dapat info saat sudah meninggal pukul 03.00 WIB. Saya dihubungi oleh temannya almarhum pukul 04.00 WIB,” lanjutnya. “Pukul 04.00 WIB saya dihubungi bahwa anak saya meninggal dunia karena kecelakaan. Tapi ada teman lainnya menginfokan jika tidak kecelakaan tapi dianiaya senior,” imbuh Toni. Sebelum dipulangkan ke rumah duka di Desa Jonggrang, Kecamatan Barat, Magetan, jenazah Serda Ahmad menjalani proses autopsi di Jakarta. Toni mengatakan keluarga juga memperoleh informasi mengenai adanya luka pada tubuh putranya. Informasi tersebut semakin menguatkan permintaan keluarga agar penyebab kematian Serda Ahmad diusut secara menyeluruh. “Luka di wajah bagian dagu dan bagian dada infonya,” jelas Toni. Toni meminta Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU), hingga pihak terkait memastikan kasus kematian putranya diproses secara adil dan transparan. Ia berharap apabila dugaan penganiayaan tersebut terbukti, para pelaku mendapatkan sanksi berat. Toni juga meminta agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di lingkungan TNI AU. “Mohon kepada pak Presiden (Prabowo), pak KSAU, juga Kadis Psikologi yang jadi induk kantor anak saya. Mohon dengan hormat agar pelaku penganiayaan anak saya dituntut seadil-adilnya,” kata Toni. “Kami terus terang menuntut keadilan. Apalagi kejadian di Mabes TNI AU, jadi istilahnya jadi percontohan nasional,” ujar Toni. “Harapan kami pada pelaku putusan sanksi yang berat kepada pelaku dan berharap tidak terulang lagi kejadian yang memakan nyawa prajurit anak tidak berdosa,” imbuhnya. Sumber: Memoindonesia.com #ahmadmuzammulfarisa #tniau #senior #mie #fyp

About