@ssksoundboy: Gregory isaacs night nurse#gregoryisaacs #nightnurse#gregoryisaacs #90sdancehall #reggae #rasta #ukreggae #soundsystem #80sdancechallenge

Ssksoundboy
Ssksoundboy
Open In TikTok:
Region: US
Friday 08 September 2023 22:01:49 GMT
805
19
0
4

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @ssksoundboy, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Prestasi motor kustom Pelor Angin karya Ajies Sabara dari FR 32 Bangkalan di ajang Kustomfest menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Madura. Namun, di balik keberhasilan tersebut, tersimpan perjuangan panjang seorang builder lokal yang berharap dukungan pemerintah daerah terhadap kreativitas anak muda semakin nyata. Ajies Sabara, builder berusia 33 tahun asal Desa Gali, Bangkalan, mengaku telah berulang kali berupaya membawa nama daerah melalui karya motor kustom. Baginya, mengikuti kompetisi bukan sekadar mengejar piala, melainkan juga memperkenalkan identitas Bangkalan ke tingkat nasional hingga internasional. Ia menceritakan, pada 2002–2003, ketika berkesempatan tampil di sebuah ajang di Bali, dirinya merasakan kebanggaan sekaligus haru karena bisa membawa nama daerah ke panggung yang lebih besar. Namun, menurut Ajies, dukungan pemerintah daerah terhadap pelaku kreativitas seperti dirinya masih perlu ditingkatkan. Ia mencontohkan penyelenggaraan kompetisi di luar daerah yang memberikan dukungan berupa penginapan dan kebutuhan perjalanan bagi peserta. Sementara itu, perjuangannya membangun karya dan mengikuti kompetisi selama ini banyak bergantung pada dukungan pihak-pihak yang percaya terhadap potensinya. “Harapan saya kepada pemerintah, dukung kami. Kami mati-matian membawa nama daerah,” ungkap Ajies. Keberhasilan Pelor Angin menarik perhatian publik bukan semata karena prestasinya, tetapi juga konsep desain yang berbeda dari kebanyakan motor kustom. Ajies sengaja memilih pendekatan yang tidak biasa. Ketika tren motor kustom banyak mengandalkan material aluminium dan fiberglass, ia justru mengeksplorasi material kayu sebagai salah satu elemen utama desain. Menurutnya, kreativitas menuntut keberanian untuk keluar dari pola yang sudah umum digunakan. “Kalau kita hanya ikut-ikutan, ya terus di bawahnya. Kita harus liar, harus keluar dari ranah nyaman. Orang biasanya pakai fiber, kita harus meloncat lebih jauh,” tuturnya. Pilihan tersebut terbukti menjadi salah satu daya tarik Pelor Angin. Detail kayu yang disematkan pada motor berbasis Honda CBR 150R itu mendapat perhatian juri, sekaligus menunjukkan bahwa material yang tidak lazim dapat menghasilkan karya dengan nilai estetika tinggi apabila dikerjakan secara teliti. Bagi Ajies, keberanian mengeksplorasi ide menjadi bagian penting dalam membangun karakter sebuah motor kustom. Ia ingin Pelor Angin memiliki identitas yang kuat, bukan sekadar meniru tren yang sedang berkembang di industri modifikasi kendaraan. Dalam perjalanan mengembangkan Pelor Angin, Ajies mengakui dukungan sejumlah pihak menjadi faktor penting yang membuat proyek tersebut terus berjalan. Salah satu pihak yang memberikan dukungan adalah Bebek Sinjay melalui bantuan fasilitas dan kebutuhan selama proses persiapan mengikuti kompetisi. Dukungan itu mencakup kebutuhan perjalanan, penginapan, transportasi, hingga keperluan teknis selama proses pengerjaan. Ajies mengaku bersyukur karena masih ada pihak yang bersedia memberikan kepercayaan kepada builder lokal untuk mengembangkan karyanya. Menurutnya, dukungan tersebut tidak hanya membantu dari sisi pembiayaan, tetapi juga memberikan motivasi agar dirinya mampu menampilkan karya terbaik sekaligus membawa nama Bangkalan. Ia berharap keberhasilan Pelor Angin dapat membuka jalan bagi lebih banyak pelaku industri kreatif di Madura untuk memperoleh kesempatan serupa. Di balik tampilan Pelor Angin yang detail dan rapi, terdapat kerja sama keluarga yang menjadi bagian penting dalam proses pembuatannya. Ajies menjelaskan, pengerjaan motor tersebut melibatkan tiga orang yang masih memiliki hubungan saudara. Ia bertanggung jawab terhadap pembuatan dan perakitan motor, sementara bagian pengecatan serta airbrush dikerjakan oleh kakaknya, Nanang Khairullah. Proses pengerjaan juga melibatkan Yudia Priyanto.#madura #madurapride #bangkalan #Motor #kustom @LUKMAN HAKIM
Prestasi motor kustom Pelor Angin karya Ajies Sabara dari FR 32 Bangkalan di ajang Kustomfest menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Madura. Namun, di balik keberhasilan tersebut, tersimpan perjuangan panjang seorang builder lokal yang berharap dukungan pemerintah daerah terhadap kreativitas anak muda semakin nyata. Ajies Sabara, builder berusia 33 tahun asal Desa Gali, Bangkalan, mengaku telah berulang kali berupaya membawa nama daerah melalui karya motor kustom. Baginya, mengikuti kompetisi bukan sekadar mengejar piala, melainkan juga memperkenalkan identitas Bangkalan ke tingkat nasional hingga internasional. Ia menceritakan, pada 2002–2003, ketika berkesempatan tampil di sebuah ajang di Bali, dirinya merasakan kebanggaan sekaligus haru karena bisa membawa nama daerah ke panggung yang lebih besar. Namun, menurut Ajies, dukungan pemerintah daerah terhadap pelaku kreativitas seperti dirinya masih perlu ditingkatkan. Ia mencontohkan penyelenggaraan kompetisi di luar daerah yang memberikan dukungan berupa penginapan dan kebutuhan perjalanan bagi peserta. Sementara itu, perjuangannya membangun karya dan mengikuti kompetisi selama ini banyak bergantung pada dukungan pihak-pihak yang percaya terhadap potensinya. “Harapan saya kepada pemerintah, dukung kami. Kami mati-matian membawa nama daerah,” ungkap Ajies. Keberhasilan Pelor Angin menarik perhatian publik bukan semata karena prestasinya, tetapi juga konsep desain yang berbeda dari kebanyakan motor kustom. Ajies sengaja memilih pendekatan yang tidak biasa. Ketika tren motor kustom banyak mengandalkan material aluminium dan fiberglass, ia justru mengeksplorasi material kayu sebagai salah satu elemen utama desain. Menurutnya, kreativitas menuntut keberanian untuk keluar dari pola yang sudah umum digunakan. “Kalau kita hanya ikut-ikutan, ya terus di bawahnya. Kita harus liar, harus keluar dari ranah nyaman. Orang biasanya pakai fiber, kita harus meloncat lebih jauh,” tuturnya. Pilihan tersebut terbukti menjadi salah satu daya tarik Pelor Angin. Detail kayu yang disematkan pada motor berbasis Honda CBR 150R itu mendapat perhatian juri, sekaligus menunjukkan bahwa material yang tidak lazim dapat menghasilkan karya dengan nilai estetika tinggi apabila dikerjakan secara teliti. Bagi Ajies, keberanian mengeksplorasi ide menjadi bagian penting dalam membangun karakter sebuah motor kustom. Ia ingin Pelor Angin memiliki identitas yang kuat, bukan sekadar meniru tren yang sedang berkembang di industri modifikasi kendaraan. Dalam perjalanan mengembangkan Pelor Angin, Ajies mengakui dukungan sejumlah pihak menjadi faktor penting yang membuat proyek tersebut terus berjalan. Salah satu pihak yang memberikan dukungan adalah Bebek Sinjay melalui bantuan fasilitas dan kebutuhan selama proses persiapan mengikuti kompetisi. Dukungan itu mencakup kebutuhan perjalanan, penginapan, transportasi, hingga keperluan teknis selama proses pengerjaan. Ajies mengaku bersyukur karena masih ada pihak yang bersedia memberikan kepercayaan kepada builder lokal untuk mengembangkan karyanya. Menurutnya, dukungan tersebut tidak hanya membantu dari sisi pembiayaan, tetapi juga memberikan motivasi agar dirinya mampu menampilkan karya terbaik sekaligus membawa nama Bangkalan. Ia berharap keberhasilan Pelor Angin dapat membuka jalan bagi lebih banyak pelaku industri kreatif di Madura untuk memperoleh kesempatan serupa. Di balik tampilan Pelor Angin yang detail dan rapi, terdapat kerja sama keluarga yang menjadi bagian penting dalam proses pembuatannya. Ajies menjelaskan, pengerjaan motor tersebut melibatkan tiga orang yang masih memiliki hubungan saudara. Ia bertanggung jawab terhadap pembuatan dan perakitan motor, sementara bagian pengecatan serta airbrush dikerjakan oleh kakaknya, Nanang Khairullah. Proses pengerjaan juga melibatkan Yudia Priyanto.#madura #madurapride #bangkalan #Motor #kustom @LUKMAN HAKIM

About