@l71_music: La La La | PART 2 - Sam Smith trend cover #viral #fyp #singing #sing #cover #30secondscover #musica #music #lalalachallenge #samsmith #covertrend

L71
L71
Open In TikTok:
Region: FR
Monday 11 December 2023 14:02:41 GMT
2372
78
4
3

Music

Download

Comments

infinityrepeatiing
infinityrepeating :
Ce falsetto 🤌
2023-12-11 14:05:59
1
theevmoss
EVMOSS 🖤 :
I need to hear more of this!! Let’s gooo ❤️🔥😱
2023-12-11 14:18:03
1
To see more videos from user @l71_music, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ada satu kebenaran pahit yang jarang diakui: banyak orang bukan stres karena masalah, tetapi karena reaksi emosional yang dipicu oleh orang lain. Yang lebih mengejutkan, sering kali pemicunya sangat kecil. Satu komentar sinis, satu ekspresi wajah, satu pesan pendek, dan seketika itu pula emosimu terseret ke arah yang bukan kamu pilih. Ini bukan karena kamu lemah, tetapi karena otakmu terbiasa meminjam emosi orang lain tanpa disadari. Berikut pembahasannya secara mendalam, lugas, dan bernas. 1. Emosi orang lain bukan tanggung jawabmu Memahami batas ini membuatmu lebih stabil. Kamu belajar berkata dalam hati bahwa reaksi orang lain adalah miliknya, bukan milikmu. Kamu tidak harus ikut larut. 2. Jeda beberapa detik bisa memutus kendali orang lain atas emosimu Memberi jeda dua sampai tiga detik memberi otak waktu untuk menilai apakah kata itu layak direspons. Dengan jeda, kamu tidak lagi bereaksi dari sisi emosional tetapi dari sisi kesadaran. Jeda kecil ini membuatmu tetap memegang kemudi emosimu sendiri. 3. Tidak semua komentar layak diberi perhatian Menyadari bahwa tidak semua komentar relevan membuatmu lebih ringan. Kamu memilih fokus pada hal yang berguna dan membiarkan sisanya lewat begitu saja. Dengan memilih apa yang layak masuk ke pikiranmu, kamu otomatis memperkecil peluang orang lain mengacak emosimu. 4. Belajar membedakan fakta dan interpretasi Ketika kamu membiasakan diri menanyakan mana fakta dan mana tafsir, emosimu menjadi lebih netral. Kamu tidak lagi terburu-buru menyusun cerita dramatis di kepalamu. Pendekatan ini membuatmu lebih tahan terhadap manipulasi halus atau pemicu tak penting dari luar. 5. Ketenanganmu membuat orang lain kehilangan kendali Ada orang yang memancing emosimu untuk mendapatkan kekuasaan kecil atas dirimu. Semakin kamu bereaksi, semakin mudah mereka memprediksi langkahmu. Contohnya, seseorang yang tahu kamu mudah tersinggung akan mencoba menyentilmu untuk memicu reaksi tertentu. Namun ketika kamu tetap tenang, permainan mereka gagal total. Ketika nada bicaramu stabil dan ekspresimu datar, mereka kehilangan arah. Ketenangan adalah bentuk kekuatan yang tidak perlu diumumkan. Kamu hanya perlu konsisten menjaga ruang batinmu. 6. Kamu berhak memilih siapa yang energinya kamu izinkan masuk Energi emosional menular. Jika kamu sering berada di sekitar orang yang suka mengeluh, marah, atau mengontrol, wajar jika emosimu ikut kacau. Namun kamu selalu punya pilihan mengenai siapa yang boleh mempengaruhi ruang mentalmu. Bahkan batas sederhana seperti mengurangi interaksi atau menjawab seperlunya sudah cukup kuat. Dengan memilih lingkungan emosionalmu, kamu melindungi dirimu dari tarikan luar yang tidak perlu. Ini bukan egois, ini bentuk perawatan diri yang dewasa. Kamu menjaga agar batinmu tetap jernih, stabil, dan fokus pada hal yang penting. 7. Mengenali pemicu internal jauh lebih penting daripada menghindari pemicu eksternal Kamu bisa menghindari orang beracun, tetapi jika pemicumu ada di dalam, kamu tetap akan mudah digoyahkan. Misalnya, jika kamu sensitif terhadap penolakan, komentar kecil pun bisa membuatmu tersinggung. Jika kamu sensitif terhadap kritik, saran lembut pun terasa menyakitkan. Dengan mengenali pemicu internal, kamu memahami sisi mana yang perlu diperbaiki. Kamu bisa memetakan kelemahan emosimu, lalu memperkuatnya sedikit demi sedikit. Semakin dalam kamu mengenal dirimu, semakin kecil peluang orang lain memainkan emosimu. ________ Mengendalikan emosi bukan tentang menjadi dingin atau tak peduli, melainkan tentang memegang kemudi batinmu sendiri. Ketika kamu bisa memilah mana emosi yang pantas ditampung dan mana yang harus dibiarkan lewat, kamu membangun kekuatan mental yang tidak mudah digoyahkan. Emosimu menjadi milikmu sepenuhnya, bukan cerminan dari suasana orang lain. Di situlah letak kebebasan batin yang sesungguhnya. #cintadiri
Ada satu kebenaran pahit yang jarang diakui: banyak orang bukan stres karena masalah, tetapi karena reaksi emosional yang dipicu oleh orang lain. Yang lebih mengejutkan, sering kali pemicunya sangat kecil. Satu komentar sinis, satu ekspresi wajah, satu pesan pendek, dan seketika itu pula emosimu terseret ke arah yang bukan kamu pilih. Ini bukan karena kamu lemah, tetapi karena otakmu terbiasa meminjam emosi orang lain tanpa disadari. Berikut pembahasannya secara mendalam, lugas, dan bernas. 1. Emosi orang lain bukan tanggung jawabmu Memahami batas ini membuatmu lebih stabil. Kamu belajar berkata dalam hati bahwa reaksi orang lain adalah miliknya, bukan milikmu. Kamu tidak harus ikut larut. 2. Jeda beberapa detik bisa memutus kendali orang lain atas emosimu Memberi jeda dua sampai tiga detik memberi otak waktu untuk menilai apakah kata itu layak direspons. Dengan jeda, kamu tidak lagi bereaksi dari sisi emosional tetapi dari sisi kesadaran. Jeda kecil ini membuatmu tetap memegang kemudi emosimu sendiri. 3. Tidak semua komentar layak diberi perhatian Menyadari bahwa tidak semua komentar relevan membuatmu lebih ringan. Kamu memilih fokus pada hal yang berguna dan membiarkan sisanya lewat begitu saja. Dengan memilih apa yang layak masuk ke pikiranmu, kamu otomatis memperkecil peluang orang lain mengacak emosimu. 4. Belajar membedakan fakta dan interpretasi Ketika kamu membiasakan diri menanyakan mana fakta dan mana tafsir, emosimu menjadi lebih netral. Kamu tidak lagi terburu-buru menyusun cerita dramatis di kepalamu. Pendekatan ini membuatmu lebih tahan terhadap manipulasi halus atau pemicu tak penting dari luar. 5. Ketenanganmu membuat orang lain kehilangan kendali Ada orang yang memancing emosimu untuk mendapatkan kekuasaan kecil atas dirimu. Semakin kamu bereaksi, semakin mudah mereka memprediksi langkahmu. Contohnya, seseorang yang tahu kamu mudah tersinggung akan mencoba menyentilmu untuk memicu reaksi tertentu. Namun ketika kamu tetap tenang, permainan mereka gagal total. Ketika nada bicaramu stabil dan ekspresimu datar, mereka kehilangan arah. Ketenangan adalah bentuk kekuatan yang tidak perlu diumumkan. Kamu hanya perlu konsisten menjaga ruang batinmu. 6. Kamu berhak memilih siapa yang energinya kamu izinkan masuk Energi emosional menular. Jika kamu sering berada di sekitar orang yang suka mengeluh, marah, atau mengontrol, wajar jika emosimu ikut kacau. Namun kamu selalu punya pilihan mengenai siapa yang boleh mempengaruhi ruang mentalmu. Bahkan batas sederhana seperti mengurangi interaksi atau menjawab seperlunya sudah cukup kuat. Dengan memilih lingkungan emosionalmu, kamu melindungi dirimu dari tarikan luar yang tidak perlu. Ini bukan egois, ini bentuk perawatan diri yang dewasa. Kamu menjaga agar batinmu tetap jernih, stabil, dan fokus pada hal yang penting. 7. Mengenali pemicu internal jauh lebih penting daripada menghindari pemicu eksternal Kamu bisa menghindari orang beracun, tetapi jika pemicumu ada di dalam, kamu tetap akan mudah digoyahkan. Misalnya, jika kamu sensitif terhadap penolakan, komentar kecil pun bisa membuatmu tersinggung. Jika kamu sensitif terhadap kritik, saran lembut pun terasa menyakitkan. Dengan mengenali pemicu internal, kamu memahami sisi mana yang perlu diperbaiki. Kamu bisa memetakan kelemahan emosimu, lalu memperkuatnya sedikit demi sedikit. Semakin dalam kamu mengenal dirimu, semakin kecil peluang orang lain memainkan emosimu. ________ Mengendalikan emosi bukan tentang menjadi dingin atau tak peduli, melainkan tentang memegang kemudi batinmu sendiri. Ketika kamu bisa memilah mana emosi yang pantas ditampung dan mana yang harus dibiarkan lewat, kamu membangun kekuatan mental yang tidak mudah digoyahkan. Emosimu menjadi milikmu sepenuhnya, bukan cerminan dari suasana orang lain. Di situlah letak kebebasan batin yang sesungguhnya. #cintadiri

About