@thecarboholic: NYC Hot Chocolate Tour Stop 28: Creamline in Chelsea Market! This cup is made from a blend of milk, housemade hot fudge, and a generous amount of cocoa. It also comes topped with whipped cream, but I asked for mine without. While I don’t care for whipped cream, I’m a huge sucker for a homemade marshmallow in my hot chocolate, so when I stumbled into @chelseamarketbaskets and saw that they were selling bags of Hudson Valley Marshmallow Company’s homemade marshmallows… I couldn’t help myself. I rated this cup a 9.4 on its own, and a 9.6 with the marshmallows! The hot chocolate itself cost $5.00, and the bag of marshmallows $6.50. I’ll be rating many more hot chocolates in the weeks to come, so follow along for more, and share any recommendations in the comments below! See my link-in-bio for an up-to-date list of all ratings, and for my hot chocolate map to figure out which cups are closest to you! #hotchocolate #hotcocoa #eater #thrillist #chelsea #chelseamarket #creamline #nyc #nycbucketlist #thecarboholic #newyorkcity #holidays #seasonal #nycfood #nycdessert

Rachel
Rachel
Open In TikTok:
Region: US
Monday 11 December 2023 20:48:54 GMT
15798
720
5
14

Music

Download

Comments

turtally_jessman
Turtally Jessman :
Love all your reviews! You have to try Kerber Farms on Bleeker St, we thought it was the best so far!
2023-12-11 23:10:20
2
marina_is_a_dreamer
Marina🦋 :
Out in the city now! What is the top rated you have tried?
2023-12-20 16:10:24
0
kylieecox8
kylieecox8 :
you’ve gotta give banter a try. randomly ended up there yesterday and it’s by far the best i’ve ever had it’s perfectly balanced!!
2023-12-13 00:48:03
1
zaybloopfn.3863
Zaybloop :
Whip cream add the nice hint of sweetness to the drink 😩
2023-12-11 22:49:06
1
lobingogo
bobbin gogo :
woah, the map is so cool!
2023-12-12 06:24:34
0
To see more videos from user @thecarboholic, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

‎“Kau baca sholawat… tapi hatimu masih gelap? ‎Mungkin ini sebabnya.” ‎ ‎“Dengarkan sampai akhir. ‎Ini bukan soal jumlah… tapi adab.” ‎ ‎Sholawat Al-Fatih bukan untuk mengubah takdir. ‎Ia mengubah dirimu agar layak menerima takdir. ‎ ‎Murid (menunduk, suaranya parau): ‎Guru… aku sudah lama membaca sholawat. Tapi hatiku tetap gelap. Tenang datang sebentar, lalu pergi lagi. Apakah aku salah mengamalkannya? ‎ ‎Guru (tersenyum tipis, menatap tanpa menghakimi): ‎Bukan sholawatmu yang salah. Tapi caramu mendekat yang masih ingin hasil, bukan hadir. ‎ ‎Murid: ‎Aku membaca Sholawat Al-Fatih, Guru. Katanya pembuka segala yang tertutup. Tapi mengapa dadaku tetap sempit? ‎ ‎Guru (menghela napas, suaranya berat): ‎Kau tahu apa yang tertutup itu, wahai anakku? Bukan rezekimu. Bukan urusan duniamu. Yang tertutup adalah hatimu oleh dirimu sendiri. ‎ ‎Murid (terdiam, air mata jatuh): ‎Jadi Al-Fatih bukan untuk membuka nasib? ‎ ‎Guru: ‎Al-Fatih adalah pembuka kesadaran. Ia membuka hijab ego, bukan pintu pasar. Jika kau datang membawa ambisi, ia akan menutup diri darimu. ‎ ‎Murid: ‎Lalu mengapa para salik menyebutnya kunci makrifat? ‎ ‎Guru (menatap langit): ‎Karena Sholawat Al-Fatih adalah adab. Ia mengajarimu mengetuk pintu Allah lewat kekasih-Nya. Tanpa adab, kau berteriak. Dengan sholawat, kau mengetuk. ‎ ‎Murid: ‎Apa makna “pembuka yang tertutup” itu dalam hakikatnya, Guru? ‎ ‎Guru: ‎Ia membuka hati yang keras. Menyingkap ruh yang tertidur. Menutup masa lalu yang melukai. Dan menunjukkan jalan lurus—bukan jalan cepat. ‎ ‎Murid (suara bergetar): ‎Lalu bagaimana seharusnya aku membacanya? Berapa kali? ‎ ‎Guru (tersenyum lembut): ‎Jangan tanyakan jumlah sebelum kau paham arah. Satu kali dengan hadir lebih tajam daripada seribu kali dengan lalai. ‎ ‎Murid: ‎Tapi… para orang bertanya jumlah, Guru. ‎ ‎Guru: ‎Maka dengarkan. Sebelas kali untuk membuka niat. Tiga puluh tiga kali untuk menguatkan rasa. Seratus kali untuk membersihkan hati. Tapi ingat… bukan angka yang membuka, melainkan kerendahan. ‎ ‎Murid: ‎Kapan waktu terbaiknya? ‎ ‎Guru: ‎Saat dunia paling sunyi. Setelah Subuh, ketika cahaya belum tercemar. Di sepertiga malam, ketika hijab menipis. Atau kapan pun hatimu runtuh—karena Allah dekat pada yang hancur. ‎ ‎Murid (menarik napas panjang): ‎Guru… apa yang sebenarnya terjadi jika Sholawat Al-Fatih diamalkan dengan benar? ‎ ‎Guru (suara lirih namun tegas): ‎Lidahmu akan tenang. Hatimu hidup. Egomu melemah. Ruhmu mengenali asalnya. Dan kau tak lagi sibuk meminta—karena kau sedang pulang. ‎ ‎Murid (tersungkur): ‎Jadi sholawat ini bukan untuk mengubah takdir? ‎ ‎Guru (menutup mata): ‎Ia mengubah dirimu agar sanggup menerima takdir. ‎ ‎Murid (menangis pelan): ‎Aku paham sekarang, Guru… aku selama ini membaca untuk diberi, bukan untuk berserah. ‎ ‎Guru (meletakkan tangan di dada murid): ‎Mulailah malam ini. Bacalah perlahan. Jangan bayangkan wajah Nabi. Hadirkan adab dan cinta. Jika hatimu bergetar, diamlah… itu bukan emosimu. Itu ruhmu mengetuk balik. ‎ ‎Murid (berbisik): ‎Apakah itu tandanya pintu mulai terbuka? ‎ ‎Guru (tersenyum): ‎Bukan pintu yang terbuka. Tapi kau yang akhirnya berhenti menutup. Salam Kasih ..🤲🙏🌹 Ki Lanang Wetan.. #sholawat #ilmu #tasawuf #nasehatdiri🙏🙏🥰💐
‎“Kau baca sholawat… tapi hatimu masih gelap? ‎Mungkin ini sebabnya.” ‎ ‎“Dengarkan sampai akhir. ‎Ini bukan soal jumlah… tapi adab.” ‎ ‎Sholawat Al-Fatih bukan untuk mengubah takdir. ‎Ia mengubah dirimu agar layak menerima takdir. ‎ ‎Murid (menunduk, suaranya parau): ‎Guru… aku sudah lama membaca sholawat. Tapi hatiku tetap gelap. Tenang datang sebentar, lalu pergi lagi. Apakah aku salah mengamalkannya? ‎ ‎Guru (tersenyum tipis, menatap tanpa menghakimi): ‎Bukan sholawatmu yang salah. Tapi caramu mendekat yang masih ingin hasil, bukan hadir. ‎ ‎Murid: ‎Aku membaca Sholawat Al-Fatih, Guru. Katanya pembuka segala yang tertutup. Tapi mengapa dadaku tetap sempit? ‎ ‎Guru (menghela napas, suaranya berat): ‎Kau tahu apa yang tertutup itu, wahai anakku? Bukan rezekimu. Bukan urusan duniamu. Yang tertutup adalah hatimu oleh dirimu sendiri. ‎ ‎Murid (terdiam, air mata jatuh): ‎Jadi Al-Fatih bukan untuk membuka nasib? ‎ ‎Guru: ‎Al-Fatih adalah pembuka kesadaran. Ia membuka hijab ego, bukan pintu pasar. Jika kau datang membawa ambisi, ia akan menutup diri darimu. ‎ ‎Murid: ‎Lalu mengapa para salik menyebutnya kunci makrifat? ‎ ‎Guru (menatap langit): ‎Karena Sholawat Al-Fatih adalah adab. Ia mengajarimu mengetuk pintu Allah lewat kekasih-Nya. Tanpa adab, kau berteriak. Dengan sholawat, kau mengetuk. ‎ ‎Murid: ‎Apa makna “pembuka yang tertutup” itu dalam hakikatnya, Guru? ‎ ‎Guru: ‎Ia membuka hati yang keras. Menyingkap ruh yang tertidur. Menutup masa lalu yang melukai. Dan menunjukkan jalan lurus—bukan jalan cepat. ‎ ‎Murid (suara bergetar): ‎Lalu bagaimana seharusnya aku membacanya? Berapa kali? ‎ ‎Guru (tersenyum lembut): ‎Jangan tanyakan jumlah sebelum kau paham arah. Satu kali dengan hadir lebih tajam daripada seribu kali dengan lalai. ‎ ‎Murid: ‎Tapi… para orang bertanya jumlah, Guru. ‎ ‎Guru: ‎Maka dengarkan. Sebelas kali untuk membuka niat. Tiga puluh tiga kali untuk menguatkan rasa. Seratus kali untuk membersihkan hati. Tapi ingat… bukan angka yang membuka, melainkan kerendahan. ‎ ‎Murid: ‎Kapan waktu terbaiknya? ‎ ‎Guru: ‎Saat dunia paling sunyi. Setelah Subuh, ketika cahaya belum tercemar. Di sepertiga malam, ketika hijab menipis. Atau kapan pun hatimu runtuh—karena Allah dekat pada yang hancur. ‎ ‎Murid (menarik napas panjang): ‎Guru… apa yang sebenarnya terjadi jika Sholawat Al-Fatih diamalkan dengan benar? ‎ ‎Guru (suara lirih namun tegas): ‎Lidahmu akan tenang. Hatimu hidup. Egomu melemah. Ruhmu mengenali asalnya. Dan kau tak lagi sibuk meminta—karena kau sedang pulang. ‎ ‎Murid (tersungkur): ‎Jadi sholawat ini bukan untuk mengubah takdir? ‎ ‎Guru (menutup mata): ‎Ia mengubah dirimu agar sanggup menerima takdir. ‎ ‎Murid (menangis pelan): ‎Aku paham sekarang, Guru… aku selama ini membaca untuk diberi, bukan untuk berserah. ‎ ‎Guru (meletakkan tangan di dada murid): ‎Mulailah malam ini. Bacalah perlahan. Jangan bayangkan wajah Nabi. Hadirkan adab dan cinta. Jika hatimu bergetar, diamlah… itu bukan emosimu. Itu ruhmu mengetuk balik. ‎ ‎Murid (berbisik): ‎Apakah itu tandanya pintu mulai terbuka? ‎ ‎Guru (tersenyum): ‎Bukan pintu yang terbuka. Tapi kau yang akhirnya berhenti menutup. Salam Kasih ..🤲🙏🌹 Ki Lanang Wetan.. #sholawat #ilmu #tasawuf #nasehatdiri🙏🙏🥰💐

About