@dxn.sbl: فرصة عمل بدون تعقيدات ولا راسمال لمن يريد العمل معي في فريقي، مرحبا فلن تندم وأعدك، لان الشركة dxn عملاقة و سخية وعالمية للمزيد من التفاصيل اتصل 0672951363 #dxnMaroc #morocco #kenitra #صحة #IBS #مكملات #marketing #DXN #حياة #health #dxnproducts #malaysia #life #fypシ #complementalimentaire #casablanca #women #job #money #ganoderma #Ganoderma_Lucidum #lionsmane #cordycepsmushroom #كورديسيبس #Mycovita #hair #haircare #hairstyle

DaXeN_with_Sofyan🇲🇦🍉🇵🇸
DaXeN_with_Sofyan🇲🇦🍉🇵🇸
Open In TikTok:
Region: MA
Monday 15 January 2024 03:13:00 GMT
4441
137
3
100

Music

Download

Comments

mohamedbelghaly13
محمد غالي :
اللهم بارك يارب
2026-06-15 15:20:48
0
dxn759
الإدريسي عزيزة :
الله يجزيك كل خير
2024-02-07 15:43:30
1
jalilaelkhachai
jalilaelkhachai :
عفاك تمن اسبيرولينا عندي هشاشه العضام
2024-02-11 23:06:06
1
To see more videos from user @dxn.sbl, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Penelitian bagus bgt sih, baca dikit aja biasanya kita ngebayangin prosesnya kayak: kita liat sesuatu --> otak memproses informasi --> kita berpikir --> trus ada bagian tertentu di otak yg “memutuskan” --> tubuh bertindak. tapi menurut perspektif baru dari neuroscientist Indiana University, Thomas W. James, gambaran itu mungkin agak terlalu sederhana cuy. James membahasnya dalam artikel “Sensorimotor Mechanisms of Decisions and Actions” yg diterbitkan di Journal of Cognitive Neuroscience pada 2026. Ini bukan eksperimen yg menemukan “pusat keputusan baru”, tapi sebuah perspektif teoritis yg menantang cara kita selama ini memahami proses pengambilan keputusan. selama ini banyak teori menggunakan apa yg disebut “sandwich model”. Gampangnya --> otak dianggap bekerja secara berurutan: pertama dia menerima informasi dari lingkungan, kemudian ada proses kognitif yg “mengambil keputusan”, trus sistem motorik menjalankan keputusan tersebut. nasalahnya, menurut James, kita emang bisa menemukan mekanisme saraf yg berhubungan dgn persepsi dan mekanisme yg berhubungan dgn gerakan. Tapi gak ada satupun proses saraf yg bisa ditunjuk sebagai semacam “orang kecil di dalam kepala” (pengendali) yg tugasnya duduk di tengah gitu, dia ngeliat semua informasi, trus bilang, “oke, sekarang pilih A.”  James kemudian mengusulkan istilah yg namanya action selection, bukan decision-making sebagai sebuah tahap terpisah. artinya, tindakan kita bisa muncul dari interaksi yg terus berjalan antara sistem sensorik, sensorimotor, sistem motorik, tubuh, dan lingkungan cuy. Jadi prosesnya gak harus kayak: ngeliat --> berpikir --> keputusan --> bergerak, tapi bisa terjadi secara bersamaan dan saling mempengaruhi dalam sebuah loop.  Contohnya gini. Bayangin nih ya lu lagi jalan dan tiba² ada benda ngalangin jalan. Mata lu nangkep benda yg ngalagin lu, trus tubuh lu membaca posisi dan jaraknya, sistem sensorimotor menyesuaikan gerakan trus lu belok buat lewatin benda yg ngalangin lu. kita bisa bilang, “lu memutuskan buat belok.” Dan bahasa itu emang berguna. Tapi secara biologis, belum tentu ada satu momen tertentu dimana sebuah “pusat keputusan” di otak mengambil keputusan lalu mengirim perintah ke tubuh. James bahkan menggunakan contoh robot sederhana. Robot tersebut cuma punya sistem sensorik dan motorik sederhana. Robot ini bisa mengikuti dinding dan perilakunya di buat seperti punya tujuan atau strategi, padahal gak ada sistem khusus di dalamnya yg “duduk” untuk mengambil keputusan. Perilaku tersebut muncul dari interaksi robot dgn lingkungannya. nah, dari sini muncul pertanyaan yg menarik: kalo sistem sederhana aja bisa menghasilkan perilaku yg terlihat seperti keputusan tanpa adanya “decider”, apakah perilaku manusia juga bisa muncul melalui mekanisme yg terdistribusi seperti itu? tapi ini bukan berarti manusia gak punya keputusan, gak punya kehendak, ataupun semua pilihan kita cuma ilusi. James sendiri gak mengatakan keputusan itu gak ada. Dia justru membedakan antara keputusan sebagai cara kita mendeskripsikan perilaku dan keputusan sebagai sebuah proses fisik khusus di otak yg secara langsung menyebabkan tindakan. jadi yg ditantang di penelitian ini bukan kalimat “manusia bisa mengambil keputusan”, tapi asumsi bahwa harus ada satu mekanisme pusat di otak yg bertugas mengambil keputusan tersebut. Dan ini masih merupakan kerangka teoritis yg perlu diuji lebih lanjut, bukan bukti final bahwa kesadaran atau kehendak bebas manusia hanyalah ilusi. James sendiri menyebut perlunya metode eksperimen yg lebih naturalistik untuk mempelajari interaksi otak, tubuh, dan lingkungan secara terus-menerus.  jadi mungkin pertanyaannya bukan cuman “bagian otak mana yg mengambil keputusan?” tapi bisa jadi pertanyaannya harus diubah menjadi: “Gimana interaksi antara otak, tubuh, dan lingkungan akhirnya menghasilkan sesuatu yg kita sebut sebagai keputusan?” Itu jauh lebih rumit. #psikologi #neuroscience #decisionmaking #consciousness #brain
Penelitian bagus bgt sih, baca dikit aja biasanya kita ngebayangin prosesnya kayak: kita liat sesuatu --> otak memproses informasi --> kita berpikir --> trus ada bagian tertentu di otak yg “memutuskan” --> tubuh bertindak. tapi menurut perspektif baru dari neuroscientist Indiana University, Thomas W. James, gambaran itu mungkin agak terlalu sederhana cuy. James membahasnya dalam artikel “Sensorimotor Mechanisms of Decisions and Actions” yg diterbitkan di Journal of Cognitive Neuroscience pada 2026. Ini bukan eksperimen yg menemukan “pusat keputusan baru”, tapi sebuah perspektif teoritis yg menantang cara kita selama ini memahami proses pengambilan keputusan. selama ini banyak teori menggunakan apa yg disebut “sandwich model”. Gampangnya --> otak dianggap bekerja secara berurutan: pertama dia menerima informasi dari lingkungan, kemudian ada proses kognitif yg “mengambil keputusan”, trus sistem motorik menjalankan keputusan tersebut. nasalahnya, menurut James, kita emang bisa menemukan mekanisme saraf yg berhubungan dgn persepsi dan mekanisme yg berhubungan dgn gerakan. Tapi gak ada satupun proses saraf yg bisa ditunjuk sebagai semacam “orang kecil di dalam kepala” (pengendali) yg tugasnya duduk di tengah gitu, dia ngeliat semua informasi, trus bilang, “oke, sekarang pilih A.” James kemudian mengusulkan istilah yg namanya action selection, bukan decision-making sebagai sebuah tahap terpisah. artinya, tindakan kita bisa muncul dari interaksi yg terus berjalan antara sistem sensorik, sensorimotor, sistem motorik, tubuh, dan lingkungan cuy. Jadi prosesnya gak harus kayak: ngeliat --> berpikir --> keputusan --> bergerak, tapi bisa terjadi secara bersamaan dan saling mempengaruhi dalam sebuah loop. Contohnya gini. Bayangin nih ya lu lagi jalan dan tiba² ada benda ngalangin jalan. Mata lu nangkep benda yg ngalagin lu, trus tubuh lu membaca posisi dan jaraknya, sistem sensorimotor menyesuaikan gerakan trus lu belok buat lewatin benda yg ngalangin lu. kita bisa bilang, “lu memutuskan buat belok.” Dan bahasa itu emang berguna. Tapi secara biologis, belum tentu ada satu momen tertentu dimana sebuah “pusat keputusan” di otak mengambil keputusan lalu mengirim perintah ke tubuh. James bahkan menggunakan contoh robot sederhana. Robot tersebut cuma punya sistem sensorik dan motorik sederhana. Robot ini bisa mengikuti dinding dan perilakunya di buat seperti punya tujuan atau strategi, padahal gak ada sistem khusus di dalamnya yg “duduk” untuk mengambil keputusan. Perilaku tersebut muncul dari interaksi robot dgn lingkungannya. nah, dari sini muncul pertanyaan yg menarik: kalo sistem sederhana aja bisa menghasilkan perilaku yg terlihat seperti keputusan tanpa adanya “decider”, apakah perilaku manusia juga bisa muncul melalui mekanisme yg terdistribusi seperti itu? tapi ini bukan berarti manusia gak punya keputusan, gak punya kehendak, ataupun semua pilihan kita cuma ilusi. James sendiri gak mengatakan keputusan itu gak ada. Dia justru membedakan antara keputusan sebagai cara kita mendeskripsikan perilaku dan keputusan sebagai sebuah proses fisik khusus di otak yg secara langsung menyebabkan tindakan. jadi yg ditantang di penelitian ini bukan kalimat “manusia bisa mengambil keputusan”, tapi asumsi bahwa harus ada satu mekanisme pusat di otak yg bertugas mengambil keputusan tersebut. Dan ini masih merupakan kerangka teoritis yg perlu diuji lebih lanjut, bukan bukti final bahwa kesadaran atau kehendak bebas manusia hanyalah ilusi. James sendiri menyebut perlunya metode eksperimen yg lebih naturalistik untuk mempelajari interaksi otak, tubuh, dan lingkungan secara terus-menerus. jadi mungkin pertanyaannya bukan cuman “bagian otak mana yg mengambil keputusan?” tapi bisa jadi pertanyaannya harus diubah menjadi: “Gimana interaksi antara otak, tubuh, dan lingkungan akhirnya menghasilkan sesuatu yg kita sebut sebagai keputusan?” Itu jauh lebih rumit. #psikologi #neuroscience #decisionmaking #consciousness #brain

About