@mw.luchi: “To settle the beef”🤓

Mwluchi
Mwluchi
Open In TikTok:
Region: US
Sunday 04 February 2024 21:23:17 GMT
234068
58301
132
500

Music

Download

Comments

kennyflam
FRANKFIGHTER :
Like just have a olied up twerk off
2024-02-04 23:20:22
7373
toadstooldev
...idkdev☆ :
I thought he said “square up”. I wish I still did.
2024-02-05 02:27:22
2714
7timxz
🪽 :
crazy bc this is an actual tweet
2024-02-04 22:56:07
940
loading.errorz
Juju👑 :
Reasonable way to settle the beef💯
2024-02-04 21:30:44
874
hitemwitdapewpew
hobby :
Its the only way
2024-02-04 21:33:16
1110
larinofrobe
Larino Frobe :
Let Him Cook.
2024-02-04 23:22:49
116
jediknightog
Lukasho :
Unhinged. Still following.
2024-02-04 21:26:49
551
olympiablack2
Hater :
That is the solution though
2024-02-04 22:11:06
129
mrbackdoor10
TyKashout :
All we want fr😭
2024-02-12 15:45:15
5
deadlivinn7
🆙 :
to settle the beef 😂😂😂
2024-02-04 21:26:53
80
d1._lp
d1._lp :
Fax like let’s just see which one of y’all can use the Temu rose toy better than the other
2024-02-05 03:29:38
30
y0ko.shi
y0ko.shi :
it is what it is🤷🏽‍♂️
2024-02-04 22:48:02
38
tiktokspam999
registered account :
what did he say I'm confused
2024-02-05 01:03:00
6
miknowsteve
Stevo :
I reposted because it was funny and i did not expect it, not because i agree ☝️
2024-02-04 23:32:19
6
sheeeesh.itachi
Idc🤷🏽‍♂️ :
i agree🙏🏽
2024-02-04 21:32:51
27
oneloveolu
oneloveolu :
Needed a warning for that 😭😭😭
2024-02-04 23:22:57
41
wellfedjosh
Josh :
Like..🤪
2024-02-05 05:13:03
5
dthnimsi
DTHNimsi :
To Settle the BEEF!!! That’s IT!!!!👀👀👀
2024-02-12 17:13:11
7
brdbtch
SummrsLvr :
valid
2024-02-05 10:14:44
1
pvonico
bco :
what blueface say
2024-02-07 00:18:52
4
mitchell_vanauken4
mitchell_vanauken4 :
The Lucki at the end😭
2024-02-05 07:30:36
4
realskreetniqqa
NORTHSIDESILHOUTTE🦇 :
Ice spice seems like a creamer fr fr 😩😩😩
2024-02-05 18:44:40
4
bootyluvrs
Ty :
This guy gets it.
2024-02-06 04:02:08
3
fma_261
Josh :
I thought he said Square up
2024-02-08 03:20:46
2
To see more videos from user @mw.luchi, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Dari perspektif humaniora, manusia selalu berusaha memberi makna pada penderitaannya melalui dialog. Ketika seorang nelayan berbicara kepada Tuhan tentang empat ekor ikan, ia sedang melakukan apa yang oleh filsuf dialogis seperti Martin Buber disebut hubungan “Aku-Engkau” (I-Thou). Tuhan bukan sekadar konsep atau objek ibadah, melainkan “Engkau” yang hadir dalam percakapan hidup sehari-hari. Dalam psikologi agama, hubungan seperti ini menunjukkan secure attachment spiritual. Seseorang begitu percaya kepada Tuhan sehingga ia berani menyampaikan keluh kesah, kekecewaan, bahkan protesnya tanpa merasa harus menyembunyikan emosi. Sebagaimana seorang anak yang dekat dengan ayahnya dapat mengadu dengan jujur, kedekatan justru memungkinkan keterusterangan. Di dalam tradisi tasawuf, terdapat gagasan yang sering diungkapkan para sufi bahwa cinta kepada Tuhan tidak selalu tampil dalam bahasa yang kaku. Kadang ia muncul dalam bentuk: * keluhan, * rayuan, * canda, * bahkan “protes” yang sebenarnya merupakan bentuk pengakuan bahwa hanya Tuhanlah tempat mengadu. Secara naratif, keluhan nelayan itu sesungguhnya mengandung pengakuan tersembunyi: “Aku marah kepada-Mu karena aku yakin Engkau mendengarkanku.” Seseorang tidak akan mengeluh kepada pihak yang dianggap tidak hadir. Keluhan justru menjadi bukti adanya hubungan. Karena itu, ironi dalam cerita tersebut adalah bahwa “gugatan” sang nelayan sebenarnya merupakan bentuk keimanan yang sangat personal. Ia tidak meninggalkan Tuhan ketika kecewa. Justru ia membawa kekecewaannya kepada Tuhan. Dari sudut humaniora, ini menggambarkan salah satu kebutuhan terdalam manusia: kebutuhan untuk tetap memiliki lawan bicara yang bermakna ketika berhadapan dengan ketidakpastian hidup. Laut yang kosong, perut yang lapar, dan tanggung jawab terhadap keluarga membuat nelayan berada dalam situasi rapuh. Dalam kerapuhan itu, ia tidak berbicara kepada angin atau nasib, melainkan kepada Tuhan. Mungkin esensi terdalam cerita tersebut dapat dirangkum begini: Kedekatan seorang hamba kepada Tuhan tidak selalu tampak dari bahasa yang paling sopan, melainkan dari keyakinannya bahwa dalam keadaan paling susah sekalipun masih ada “Engkau” yang bisa diajak bicara. Karena itu cerita tersebut terasa lucu sekaligus menyentuh. Yang ditampilkan bukan kesombongan manusia di hadapan Tuhan, melainkan keakraban seorang hamba yang menganggap Tuhan cukup dekat untuk mendengar keluhannya, candanya, dan seluruh isi hatinya.
Dari perspektif humaniora, manusia selalu berusaha memberi makna pada penderitaannya melalui dialog. Ketika seorang nelayan berbicara kepada Tuhan tentang empat ekor ikan, ia sedang melakukan apa yang oleh filsuf dialogis seperti Martin Buber disebut hubungan “Aku-Engkau” (I-Thou). Tuhan bukan sekadar konsep atau objek ibadah, melainkan “Engkau” yang hadir dalam percakapan hidup sehari-hari. Dalam psikologi agama, hubungan seperti ini menunjukkan secure attachment spiritual. Seseorang begitu percaya kepada Tuhan sehingga ia berani menyampaikan keluh kesah, kekecewaan, bahkan protesnya tanpa merasa harus menyembunyikan emosi. Sebagaimana seorang anak yang dekat dengan ayahnya dapat mengadu dengan jujur, kedekatan justru memungkinkan keterusterangan. Di dalam tradisi tasawuf, terdapat gagasan yang sering diungkapkan para sufi bahwa cinta kepada Tuhan tidak selalu tampil dalam bahasa yang kaku. Kadang ia muncul dalam bentuk: * keluhan, * rayuan, * canda, * bahkan “protes” yang sebenarnya merupakan bentuk pengakuan bahwa hanya Tuhanlah tempat mengadu. Secara naratif, keluhan nelayan itu sesungguhnya mengandung pengakuan tersembunyi: “Aku marah kepada-Mu karena aku yakin Engkau mendengarkanku.” Seseorang tidak akan mengeluh kepada pihak yang dianggap tidak hadir. Keluhan justru menjadi bukti adanya hubungan. Karena itu, ironi dalam cerita tersebut adalah bahwa “gugatan” sang nelayan sebenarnya merupakan bentuk keimanan yang sangat personal. Ia tidak meninggalkan Tuhan ketika kecewa. Justru ia membawa kekecewaannya kepada Tuhan. Dari sudut humaniora, ini menggambarkan salah satu kebutuhan terdalam manusia: kebutuhan untuk tetap memiliki lawan bicara yang bermakna ketika berhadapan dengan ketidakpastian hidup. Laut yang kosong, perut yang lapar, dan tanggung jawab terhadap keluarga membuat nelayan berada dalam situasi rapuh. Dalam kerapuhan itu, ia tidak berbicara kepada angin atau nasib, melainkan kepada Tuhan. Mungkin esensi terdalam cerita tersebut dapat dirangkum begini: Kedekatan seorang hamba kepada Tuhan tidak selalu tampak dari bahasa yang paling sopan, melainkan dari keyakinannya bahwa dalam keadaan paling susah sekalipun masih ada “Engkau” yang bisa diajak bicara. Karena itu cerita tersebut terasa lucu sekaligus menyentuh. Yang ditampilkan bukan kesombongan manusia di hadapan Tuhan, melainkan keakraban seorang hamba yang menganggap Tuhan cukup dekat untuk mendengar keluhannya, candanya, dan seluruh isi hatinya.

About