@iixi_az: تعرفون تهزون كتف 💃😂🔥 #حفلة_تخرج #الشعب_الصيني_ماله_حل😂😂 #ردح_عراقي_جديد_معزوفة_2020_ردح_خرافي #ردح_عراقي #العراق🇮🇶 #المصممين🎭 #تصميم_فيديوهات🎶🎤🎬 #حفلة_تخرج #جامعات_العراق #جامعة_بغداد #foryoupage #fypシ #fyp #viral #foryoupage #fyppppppppppppppppppppppp #اكسبلوررررررر #دفعة2023 #رقص #هاشتاق #جامعات

أحمد العزيز - Ahmed Alazez
أحمد العزيز - Ahmed Alazez
Open In TikTok:
Region: IQ
Sunday 11 February 2024 21:17:20 GMT
243941
4628
26
640

Music

Download

Comments

a_80at
𝑨𝒚𝒖𝒕𝒂𐙚 :
اريد واحد يعرس ماكو
2026-08-18 20:25:24
0
alialraqi916
عسل كلبي♥️ :
الله يحفظكم 🥰🤲
2024-02-12 06:54:00
3
user01057877
بنت الاكابر تاج 👑 :
محد يعرف حسابه هذه الولد
2026-09-02 16:07:06
0
user3475868143881
يوُسـ❣ـہفـ❣ـہ :
اشو كلهم حلوين فدوة ءلكم
2024-11-29 16:23:31
4
abdullah10471t
Abdullah :
منور شيخ 😁
2026-04-02 06:08:06
1
aroa0933
💫Aroa :
دومكم متونسين🥰
2024-02-25 18:07:46
3
a_19.a.20
٭ﹾ A ﹾ٭ :
@اسو اني معليه انتي كليلهم شون اهز🤣🤣🤣🤣
2024-02-11 23:47:20
5
hfhjh.tuhfuu
رزان :
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2024-05-01 11:54:33
4
hfhjh.tuhfuu
رزان :
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2024-05-01 11:54:41
4
zsm_37
شيـخَـة ٵلـعــࢪب™🙂‍↔️ :
🥰
2025-05-06 21:05:44
2
user5410239844068
ابو ذيب :
😂
2024-04-19 11:17:21
2
zsm_37
شيـخَـة ٵلـعــࢪب™🙂‍↔️ :
😂
2025-05-06 21:05:47
2
user66118175498443
كريم كريم :
🥰🥰🥰
2025-04-26 05:45:25
1
user66118175498443
كريم كريم :
🥺🥺🥺
2025-04-26 05:45:26
1
user66118175498443
كريم كريم :
🤗🤗🤗
2025-04-26 05:45:26
1
dfg.gj
زهره البنفسج :
❤️❤️❤️
2025-01-15 16:31:28
1
user6194254903607
❤️ سونا ❤️ :
😁
2025-05-23 14:54:48
1
dycew5yfjaip
علي الامير :
😁
2025-07-28 18:13:18
0
gp_0m
عــلي عامـر :
😂
2025-11-11 10:00:25
0
dycew5yfjaip
علي الامير :
😂
2025-07-28 18:13:19
0
2003zs29
ابو جاسم :
🦋🦋🦋
2026-08-21 08:45:19
0
mo.89.d
20011 :
💔💔💔
2025-11-13 16:00:02
0
ho__or25
حـــوراء :
👍
2025-11-10 18:04:09
0
To see more videos from user @iixi_az, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Aku duduk dalam diam. Tidak mencari, tidak mengejar. Hanya menyaksikan apa yang sedang terjadi. Napas masuk... napas keluar... Tidak perlu kuatur. Tidak perlu kupaksa. Aku hanya mengikuti aliran napas, mengikuti aliran kehidupan. Yang datang tidak kugenggam. Yang pergi tidak kutahan. Rasa datang, kurasakan dengan jernih. Pikiran datang, kulihat tanpa kuikuti. Peristiwa datang, kujalani tanpa harus segera menilainya. Kehidupan sedang berlangsung, dan aku hanya menyaksikan. Tidak perlu memberi nama pada segala sesuatu. Tidak perlu memahami semuanya. Tidak perlu memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan. Sebab tidak semua hal harus dijelaskan agar dapat disadari. Tidak ada tujuan yang harus kukejar. Tidak ada yang harus kubuktikan. Tidak ada yang harus kumiliki. Aku hanya belajar hadir. Belajar menyaksikan. Belajar hidup bersama apa yang sedang ada. Yang datang, kuterima. Yang pergi, kulepaskan. Yang bisa kulakukan, kulakukan. Yang bukan kuasaku, kuserahkan. Perlahan-lahan aku belajar, bahwa kehidupan tidak perlu kugenggam. Semakin kuat kugenggam, semakin aku takut kehilangan. Semakin ingin kukuasai, semakin aku lelah. Maka aku belajar melonggarkan genggaman. Bukan karena menyerah. Melainkan karena menyadari batas diriku. Kehidupan tidak perlu kugenggam. Cukup kurasakan. Cukup kusadari. Cukup kujalani. Aku tidak mencari apa-apa. Aku tidak menunggu apa-apa. Hanya ada napas. Ada kesadaran. Ada kehidupan yang terus berlangsung. Ada pagi yang datang dan berlalu. Ada siang yang berubah menjadi senja. Ada suka yang datang dan pergi. Ada duka yang datang dan pergi. Ada pertemuan. Ada perpisahan. Ada keberhasilan. Ada kegagalan. Dan semuanya bergerak menurut waktunya masing-masing. Sementara aku belajar duduk di tengah semua itu. Tidak menolak. Tidak mengejar. Tidak melawan. Hanya menyadari. Sedikit demi sedikit aku mulai rela untuk tidak harus memahami semuanya. Karena ternyata kehidupan lebih luas daripada apa yang mampu kupahami. Lebih dalam daripada apa yang mampu kupikirkan. Lebih besar daripada apa yang mampu kuatur. Napas masuk... napas keluar... Diam... sadar... Dan semakin lama aku menyaksikan, semakin aku memahami bahwa kehidupan tidak harus ditemukan, karena kehidupan sedang dijalani saat ini juga. Ia hadir dalam setiap napas. Hadir dalam setiap langkah. Hadir dalam setiap rasa. Hadir dalam setiap peristiwa yang sedang berlangsung. Aku tidak perlu mengejar ketenangan, karena ketenangan muncul ketika aku berhenti memaksa. Aku tidak perlu menguasai kehidupan, karena kehidupan telah berjalan jauh sebelum aku berusaha mengaturnya. Aku tidak perlu menjadi pusat dari segala sesuatu, karena aku hanyalah bagian dari kehidupan yang sedang berlangsung. Aku hanya belajar hadir. Belajar menyadari. Belajar menerima. Belajar melepaskan. Belajar menjalani bagian yang dipercayakan kepadaku. Lalu menyerahkan apa yang bukan menjadi bagianku. Ketika rasa senang datang, aku menikmatinya tanpa menggenggamnya. Ketika rasa sedih datang, aku merasakannya tanpa tenggelam di dalamnya. Ketika keberhasilan datang, aku bersyukur tanpa mengakuinya sebagai milikku semata. Ketika kegagalan datang, aku belajar tanpa menjadikannya beban identitasku. Sedikit demi sedikit aku memahami, bahwa hidup bukan tentang menguasai apa yang terjadi. Melainkan tentang menyadari apa yang sedang terjadi. Dan dari kesadaran itu, lahirlah penerimaan. Dari penerimaan, lahirlah kelonggaran. Dari kelonggaran, lahirlah sumarah. Karena pada akhirnya, aku bukan pemilik napas ini. Aku hanya sedang diberi kesempatan untuk bernapas. Aku bukan pemilik kehidupan ini. Aku hanya sedang diberi kesempatan untuk menjalaninya. Aku hadir karena dihadirkan. Aku hidup karena dihidupkan. Aku sadar karena diberi kesadaran. Dan selama kesempatan itu masih ada, aku hanya ingin menjalaninya dengan jernih. Tanpa banyak pengakuan. Tanpa banyak tuntutan. Tanpa banyak perlawanan.
Aku duduk dalam diam. Tidak mencari, tidak mengejar. Hanya menyaksikan apa yang sedang terjadi. Napas masuk... napas keluar... Tidak perlu kuatur. Tidak perlu kupaksa. Aku hanya mengikuti aliran napas, mengikuti aliran kehidupan. Yang datang tidak kugenggam. Yang pergi tidak kutahan. Rasa datang, kurasakan dengan jernih. Pikiran datang, kulihat tanpa kuikuti. Peristiwa datang, kujalani tanpa harus segera menilainya. Kehidupan sedang berlangsung, dan aku hanya menyaksikan. Tidak perlu memberi nama pada segala sesuatu. Tidak perlu memahami semuanya. Tidak perlu memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan. Sebab tidak semua hal harus dijelaskan agar dapat disadari. Tidak ada tujuan yang harus kukejar. Tidak ada yang harus kubuktikan. Tidak ada yang harus kumiliki. Aku hanya belajar hadir. Belajar menyaksikan. Belajar hidup bersama apa yang sedang ada. Yang datang, kuterima. Yang pergi, kulepaskan. Yang bisa kulakukan, kulakukan. Yang bukan kuasaku, kuserahkan. Perlahan-lahan aku belajar, bahwa kehidupan tidak perlu kugenggam. Semakin kuat kugenggam, semakin aku takut kehilangan. Semakin ingin kukuasai, semakin aku lelah. Maka aku belajar melonggarkan genggaman. Bukan karena menyerah. Melainkan karena menyadari batas diriku. Kehidupan tidak perlu kugenggam. Cukup kurasakan. Cukup kusadari. Cukup kujalani. Aku tidak mencari apa-apa. Aku tidak menunggu apa-apa. Hanya ada napas. Ada kesadaran. Ada kehidupan yang terus berlangsung. Ada pagi yang datang dan berlalu. Ada siang yang berubah menjadi senja. Ada suka yang datang dan pergi. Ada duka yang datang dan pergi. Ada pertemuan. Ada perpisahan. Ada keberhasilan. Ada kegagalan. Dan semuanya bergerak menurut waktunya masing-masing. Sementara aku belajar duduk di tengah semua itu. Tidak menolak. Tidak mengejar. Tidak melawan. Hanya menyadari. Sedikit demi sedikit aku mulai rela untuk tidak harus memahami semuanya. Karena ternyata kehidupan lebih luas daripada apa yang mampu kupahami. Lebih dalam daripada apa yang mampu kupikirkan. Lebih besar daripada apa yang mampu kuatur. Napas masuk... napas keluar... Diam... sadar... Dan semakin lama aku menyaksikan, semakin aku memahami bahwa kehidupan tidak harus ditemukan, karena kehidupan sedang dijalani saat ini juga. Ia hadir dalam setiap napas. Hadir dalam setiap langkah. Hadir dalam setiap rasa. Hadir dalam setiap peristiwa yang sedang berlangsung. Aku tidak perlu mengejar ketenangan, karena ketenangan muncul ketika aku berhenti memaksa. Aku tidak perlu menguasai kehidupan, karena kehidupan telah berjalan jauh sebelum aku berusaha mengaturnya. Aku tidak perlu menjadi pusat dari segala sesuatu, karena aku hanyalah bagian dari kehidupan yang sedang berlangsung. Aku hanya belajar hadir. Belajar menyadari. Belajar menerima. Belajar melepaskan. Belajar menjalani bagian yang dipercayakan kepadaku. Lalu menyerahkan apa yang bukan menjadi bagianku. Ketika rasa senang datang, aku menikmatinya tanpa menggenggamnya. Ketika rasa sedih datang, aku merasakannya tanpa tenggelam di dalamnya. Ketika keberhasilan datang, aku bersyukur tanpa mengakuinya sebagai milikku semata. Ketika kegagalan datang, aku belajar tanpa menjadikannya beban identitasku. Sedikit demi sedikit aku memahami, bahwa hidup bukan tentang menguasai apa yang terjadi. Melainkan tentang menyadari apa yang sedang terjadi. Dan dari kesadaran itu, lahirlah penerimaan. Dari penerimaan, lahirlah kelonggaran. Dari kelonggaran, lahirlah sumarah. Karena pada akhirnya, aku bukan pemilik napas ini. Aku hanya sedang diberi kesempatan untuk bernapas. Aku bukan pemilik kehidupan ini. Aku hanya sedang diberi kesempatan untuk menjalaninya. Aku hadir karena dihadirkan. Aku hidup karena dihidupkan. Aku sadar karena diberi kesadaran. Dan selama kesempatan itu masih ada, aku hanya ingin menjalaninya dengan jernih. Tanpa banyak pengakuan. Tanpa banyak tuntutan. Tanpa banyak perlawanan.

About