@greatbritishmemes: Is it home time yet 😂 #greatbritishmemes #british #funny #work #fyp #CapCut

greatbritishmemes
greatbritishmemes
Open In TikTok:
Region: GB
Wednesday 28 February 2024 18:33:14 GMT
23252
1259
6
53

Music

Download

Comments

givemethefent69
givemethefent69 :
Great british meme
2024-02-28 23:03:52
3
jjlikestoskateboard89570
JJ 🇬🇧 Proud to be British 🗣 :
real
2024-03-01 21:10:08
0
mazzaratte_b
Marie 💚 :
@Maia
2024-02-29 22:41:27
1
leilapowell_
leila :
@eva ruby x 4.02….
2024-03-01 06:50:28
1
bobzterlikesgreenday22
☮︎⚛︎𝖇𝖔𝖇𝖇𝖞 𝖘𝖔𝖝🍬🥁 :
first☠️
2024-02-28 19:54:43
1
To see more videos from user @greatbritishmemes, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Mbah Slamet 'Bintaro', begitu dia biasa disapa, adalah masinis KA 225, kereta api yang berangkat dari Stasiun Sudimara kemudian bertabrakan dengan KA 220 yang datang dari arah berlawanan. Dua kereta itu 'adu banteng' hingga membuat 156 nyawa melayang dan ratusan lainnya luka-luka. Kejadian berlangsung pada Senin 19 Oktober 1987. Meski sudah terjadi sekitar 26 tahun lalu, peristiwa itu masih terus menempel dalam ingatan Slamet. Dia masih hapal kronologi kejadian menit per menit hingga akhirnya terjadi tabrakan. “Saya sempat ngerem luar biasa, namanya juga pengen hidup. Tapi karena jaraknya terlalu dekat, nggak bisa“, kata Slamet saat ditemui di kediamannya di Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo, Jateng. Kala itu, Slamet merasa sudah mendapat izin dari pihak Stasiun Sudimara untuk melajukan kereta. Kondekturnya sudah naik, lalu tak ada gerakan apa pun untuk menghentikan kereta. Selain itu, dia juga yakin tak akan ada kereta yang diberangkatkan dari arah berlawanan karena dia sudah mengantongi Pemindahan Tempat Persilangan (PTP).
Mbah Slamet 'Bintaro', begitu dia biasa disapa, adalah masinis KA 225, kereta api yang berangkat dari Stasiun Sudimara kemudian bertabrakan dengan KA 220 yang datang dari arah berlawanan. Dua kereta itu 'adu banteng' hingga membuat 156 nyawa melayang dan ratusan lainnya luka-luka. Kejadian berlangsung pada Senin 19 Oktober 1987. Meski sudah terjadi sekitar 26 tahun lalu, peristiwa itu masih terus menempel dalam ingatan Slamet. Dia masih hapal kronologi kejadian menit per menit hingga akhirnya terjadi tabrakan. “Saya sempat ngerem luar biasa, namanya juga pengen hidup. Tapi karena jaraknya terlalu dekat, nggak bisa“, kata Slamet saat ditemui di kediamannya di Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo, Jateng. Kala itu, Slamet merasa sudah mendapat izin dari pihak Stasiun Sudimara untuk melajukan kereta. Kondekturnya sudah naik, lalu tak ada gerakan apa pun untuk menghentikan kereta. Selain itu, dia juga yakin tak akan ada kereta yang diberangkatkan dari arah berlawanan karena dia sudah mengantongi Pemindahan Tempat Persilangan (PTP). "Sampai sekarang masih ada memarnya," imbuhnya. Setelah kejadian itu, Slamet ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat hakim dengan pasal 359 KUHP yakni kalalaian yang menyebabkan kematian orang lain. Dia diganjar dengan hukuman paling maksimal yakni 5 tahun. Slamet merasa hukuman itu tidak adil karena dia hanya menjalankan apa yang sudah diinstruksikan pihak stasiun. Lalu, dia juga tak mendapat uang pensiun. Berbeda dengan tersangka lain seperti kondektur KA 225 Adung Syafei yang mendapat hukuman penjara 2,5 tahun dan Umrihadi, PPKA Kebayoran Lama yang dipenjara 10 bulan. "Yang lain dapat pensiun, kenapa saya nggak?" protes pria yang masih menyimpan surat keanggotaan di Perusahaan Kereta Api ini. Setelah menjalani kehidupan penjara, Slamet pun akhirnya memilih pulang kampung ke Purworejo. Dia menggunakan sisa-sisa tenaganya untuk bertahan hidup. Salah satunya dengan berjualan rokok di rumah. "Untuk menambah-nambah makan saja, walaupun keuntungannya nggak seberapa tapi lumayan," jawabnya sambil duduk di atas kursi. #sejarah #beritaviral #kisahnyata #indonesia #ktj

About