@condoble_ene: “Trabajo mejor bajo presión” es un pretexto muy barato, mejor aprende a priorizar y cumplir tus objetivos de manera estratégica ⚡️ #productividad #organizacion #planificacionestrategica #matrizdeeisenhower #prioridades #priorizar #organizacion #productividadpersonal #trabajarbajopresion

Anna Con Doble Ene
Anna Con Doble Ene
Open In TikTok:
Region: MX
Friday 29 March 2024 20:33:00 GMT
5598
270
4
15

Music

Download

Comments

yeyacastelomua
Andrea Yeyita Castelo :
Esto ya es crónico…. En serio, lo intento y. Nada y bajo presión es como algo adictivo .. me salen hasta mejor las cosas, pero el estrés es terrible y a la vez satisfactorio… creo q estoy loca
2024-07-28 18:02:44
1
user6210230132539
user6210230132539 :
❤️
2024-05-11 20:19:51
0
.patoheno
Cesar Rico :
like
2024-04-13 13:13:23
1
To see more videos from user @condoble_ene, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kalau kita tarik garis sejak tanggal dua puluh lima Agustus dua ribu dua puluh lima, pola yang muncul agak berbeda dari demo klasik di Indonesia. Aksi sudah berlangsung berhari-hari, meluas di beberapa kota besar, tapi anehnya belum jelas isu sentral maupun aktor penggerak utama. Situasi seperti ini punya beberapa konsekuensi strategis: Pertama, sifat gerakan. Gerakan tanpa pusat komando dan isu tunggal cenderung disebut leaderless movement. Ia bisa muncul dari akumulasi frustrasi sosial, ekonomi, atau politik yang lama dipendam. Justru karena tanpa figur atau organisasi tunggal, ia lebih sulit dipatahkan lewat negosiasi elit. Aparat tidak bisa mengundang satu tokoh untuk “mendinginkan” massa. Kedua, peluang dan risiko. Di satu sisi, spontanitas memberi energi dan daya sebar cepat—seperti api di ladang kering. Namun di sisi lain, ketiadaan isu utama membuat tuntutan kabur. Publik yang awalnya simpati bisa bingung: sebenarnya apa yang diperjuangkan? Di celah kabur inilah operasi bendera palsu, provokasi kekerasan, atau infiltrasi kelompok oportunis bisa dengan mudah masuk. Ketiga, respons negara. Penguasa biasanya akan memainkan dua taktik: kriminalisasi “aktor bayangan” untuk menciptakan narasi musuh imajiner, sekaligus menawarkan kanal dialog untuk meredam tekanan. Namun karena gerakan ini cair, represi berlebihan berpotensi melahirkan martir—yang justru memperluas aksi. Keempat, skenario bila meluas. Jika aksi terus menjalar, risiko utama adalah fragmentasi sosial: kampus, serikat buruh, komunitas agama, hingga pedagang pasar ikut bergabung dengan agenda masing-masing. Ini bisa mengubah gerakan yang tadinya spontan menjadi lebih terstruktur. Saat itu, pemerintah terdesak memilih antara konsesi politik atau represi lebih keras. Keduanya sama-sama berbiaya tinggi bagi legitimasi. Singkatnya, aksi tanpa isu tunggal ini ibarat arus bawah tanah: tidak terlihat arah pasti, tapi bisa tiba-tiba memunculkan retakan besar di permukaan. Pertanyaannya tinggal satu: apakah energi spontan ini menemukan simpul politik yang jelas, atau justru padam karena kelelahan dan kebingungan internal.#operasibenderapalsu #rantisbrimob #ojoldilindas #operasiinteljen #demonstrasi
Kalau kita tarik garis sejak tanggal dua puluh lima Agustus dua ribu dua puluh lima, pola yang muncul agak berbeda dari demo klasik di Indonesia. Aksi sudah berlangsung berhari-hari, meluas di beberapa kota besar, tapi anehnya belum jelas isu sentral maupun aktor penggerak utama. Situasi seperti ini punya beberapa konsekuensi strategis: Pertama, sifat gerakan. Gerakan tanpa pusat komando dan isu tunggal cenderung disebut leaderless movement. Ia bisa muncul dari akumulasi frustrasi sosial, ekonomi, atau politik yang lama dipendam. Justru karena tanpa figur atau organisasi tunggal, ia lebih sulit dipatahkan lewat negosiasi elit. Aparat tidak bisa mengundang satu tokoh untuk “mendinginkan” massa. Kedua, peluang dan risiko. Di satu sisi, spontanitas memberi energi dan daya sebar cepat—seperti api di ladang kering. Namun di sisi lain, ketiadaan isu utama membuat tuntutan kabur. Publik yang awalnya simpati bisa bingung: sebenarnya apa yang diperjuangkan? Di celah kabur inilah operasi bendera palsu, provokasi kekerasan, atau infiltrasi kelompok oportunis bisa dengan mudah masuk. Ketiga, respons negara. Penguasa biasanya akan memainkan dua taktik: kriminalisasi “aktor bayangan” untuk menciptakan narasi musuh imajiner, sekaligus menawarkan kanal dialog untuk meredam tekanan. Namun karena gerakan ini cair, represi berlebihan berpotensi melahirkan martir—yang justru memperluas aksi. Keempat, skenario bila meluas. Jika aksi terus menjalar, risiko utama adalah fragmentasi sosial: kampus, serikat buruh, komunitas agama, hingga pedagang pasar ikut bergabung dengan agenda masing-masing. Ini bisa mengubah gerakan yang tadinya spontan menjadi lebih terstruktur. Saat itu, pemerintah terdesak memilih antara konsesi politik atau represi lebih keras. Keduanya sama-sama berbiaya tinggi bagi legitimasi. Singkatnya, aksi tanpa isu tunggal ini ibarat arus bawah tanah: tidak terlihat arah pasti, tapi bisa tiba-tiba memunculkan retakan besar di permukaan. Pertanyaannya tinggal satu: apakah energi spontan ini menemukan simpul politik yang jelas, atau justru padam karena kelelahan dan kebingungan internal.#operasibenderapalsu #rantisbrimob #ojoldilindas #operasiinteljen #demonstrasi

About