@iamgoogoo: You asked about my skin regimen and here it is… it’s worth it to take care of your temple beginning with your skin! Tip: always try to use products that are non-GMO and organic Anywhere on your body! ##ImNoBeautyExpert#But#ButIGotGoodSkinoGoo #N#NoCappingG#GoodSkinRegimenI#IKnowWhatImTalkingAboutThough

GooGoo Atkins
GooGoo Atkins
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 13 June 2024 05:34:29 GMT
4101
121
4
13

Music

Download

Comments

naturally131
Naturally_131 :
I’ve looking for this…thank you 🥰🥰 your skin is beautiful too
2024-06-14 03:59:02
0
flynini27
Flynini :
Beautiful. What are the measurements for the larger size container
2024-06-13 14:47:32
0
kimcalls
💸COUPONING🛒KIM :
loooooove😍
2024-06-13 05:50:13
0
To see more videos from user @iamgoogoo, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sebelum manusia memberi nama pada jalan, sebelum kebenaran dibungkus menjadi identitas, sebelum Tuhan disebut dengan berbagai nama— leluhur telah menundukkan kepala di hadapan gunung, di tepi sungai, di bawah langit yang luas, dan di dalam sunyi. Mereka tidak bertanya, “Apa agamaku?” Mereka bertanya, “Sudahkah batinku selaras dengan kehidupan?” Mereka membaca tanda pada alam. Mendengar suara angin. Menghormati tanah yang memberi kehidupan. Menjaga air yang menghidupi. Menepi dari keramaian untuk mendengar suara yang lebih dalam daripada suara manusia. Bagi mereka, mengenal Tuhan bukan sekadar mengucapkan nama-Nya. 𝗜𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗹𝗮𝗸𝘂. Tirakat untuk membersihkan keinginan. Semedi untuk menenangkan pikiran. Menjaga ucapan agar tidak melukai. Menjaga perbuatan agar tidak merusak. Menjaga rasa agar tidak dikuasai keserakahan. Mereka mungkin tidak menyebutnya 𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮. Namun jangan karena sebuah nama tidak mereka gunakan, lalu kita menganggap mereka tidak mengenal Yang Ilahi. Nama adalah milik manusia. Yang Mahatinggi tidak membutuhkan nama manusia untuk menjadi Yang Mahatinggi. Mungkin leluhur tidak mewariskan kepada kita sekadar kumpulan kata. Mereka mewariskan 𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻. Bahwa bumi bukan sekadar tempat berpijak. Air bukan sekadar untuk diminum. Hutan bukan sekadar untuk dimiliki. Dan kehidupan bukan sekadar untuk dikuasai. Ada yang harus dihormati. Ada yang harus dijaga. Ada yang harus dirasakan. Maka jangan hanya mencari warisan leluhur di benda-benda tua, di bangunan, di pakaian, atau di upacara. Carilah warisan itu di dalam batinmu sendiri. Sebab mungkin pesan paling tua itu tidak pernah hilang. Ia hanya tertutup oleh kebisingan zaman: “Eling marang asalmu. Hormati urip. Resiki atimu. Lan aja nganti lali marang Sing Nguripi.” Artinya: Ingat asalmu. Hormati kehidupan. Bersihkan batinmu. Dan jangan pernah lupa kepada Yang Menghidupkan. Karena sebelum manusia sibuk mempertanyakan 𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿, leluhur telah lebih dahulu belajar untuk hidup benar di hadapan kehidupan. 𝗜𝘁𝘂𝗹𝗮𝗵 𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝘁𝘂𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗯𝗶𝗰𝗮𝗿𝗮— 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝘀𝗮𝗱𝗮𝗿𝗮𝗻.
Sebelum manusia memberi nama pada jalan, sebelum kebenaran dibungkus menjadi identitas, sebelum Tuhan disebut dengan berbagai nama— leluhur telah menundukkan kepala di hadapan gunung, di tepi sungai, di bawah langit yang luas, dan di dalam sunyi. Mereka tidak bertanya, “Apa agamaku?” Mereka bertanya, “Sudahkah batinku selaras dengan kehidupan?” Mereka membaca tanda pada alam. Mendengar suara angin. Menghormati tanah yang memberi kehidupan. Menjaga air yang menghidupi. Menepi dari keramaian untuk mendengar suara yang lebih dalam daripada suara manusia. Bagi mereka, mengenal Tuhan bukan sekadar mengucapkan nama-Nya. 𝗜𝗮 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗹𝗮𝗸𝘂. Tirakat untuk membersihkan keinginan. Semedi untuk menenangkan pikiran. Menjaga ucapan agar tidak melukai. Menjaga perbuatan agar tidak merusak. Menjaga rasa agar tidak dikuasai keserakahan. Mereka mungkin tidak menyebutnya 𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮. Namun jangan karena sebuah nama tidak mereka gunakan, lalu kita menganggap mereka tidak mengenal Yang Ilahi. Nama adalah milik manusia. Yang Mahatinggi tidak membutuhkan nama manusia untuk menjadi Yang Mahatinggi. Mungkin leluhur tidak mewariskan kepada kita sekadar kumpulan kata. Mereka mewariskan 𝗰𝗮𝗿𝗮 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗸𝗲𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗮𝗻. Bahwa bumi bukan sekadar tempat berpijak. Air bukan sekadar untuk diminum. Hutan bukan sekadar untuk dimiliki. Dan kehidupan bukan sekadar untuk dikuasai. Ada yang harus dihormati. Ada yang harus dijaga. Ada yang harus dirasakan. Maka jangan hanya mencari warisan leluhur di benda-benda tua, di bangunan, di pakaian, atau di upacara. Carilah warisan itu di dalam batinmu sendiri. Sebab mungkin pesan paling tua itu tidak pernah hilang. Ia hanya tertutup oleh kebisingan zaman: “Eling marang asalmu. Hormati urip. Resiki atimu. Lan aja nganti lali marang Sing Nguripi.” Artinya: Ingat asalmu. Hormati kehidupan. Bersihkan batinmu. Dan jangan pernah lupa kepada Yang Menghidupkan. Karena sebelum manusia sibuk mempertanyakan 𝗮𝗴𝗮𝗺𝗮 𝘀𝗶𝗮𝗽𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗹𝗶𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗻𝗮𝗿, leluhur telah lebih dahulu belajar untuk hidup benar di hadapan kehidupan. 𝗜𝘁𝘂𝗹𝗮𝗵 𝗷𝗮𝗹𝗮𝗻 𝘁𝘂𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗯𝗮𝗻𝘆𝗮𝗸 𝗯𝗶𝗰𝗮𝗿𝗮— 𝘁𝗲𝘁𝗮𝗽𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿𝗸𝗮𝗻 𝗺𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗸𝗲𝗺𝗯𝗮𝗹𝗶 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗲𝘀𝗮𝗱𝗮𝗿𝗮𝗻.

About