@ab__od_69: #تصعب_علي_فرقاك_لكن_ماأبيك💔😔 #أخخخخخخخ💔😭😩 عزازي لا تحاول جرني بالذكريات

يبيلك قلب مايتعب
يبيلك قلب مايتعب
Open In TikTok:
Region: SA
Monday 22 July 2024 13:43:59 GMT
2707
52
4
11

Music

Download

Comments

naee2698
NASSIR :
من روائع سيد الأوتار عزازي
2025-04-02 13:52:21
2
ur67h
cd_78 :
🥰🥰🥰
2024-08-18 02:58:23
1
yh.gu2
الموت هيبة والعز لعتيبة 511 :
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭 ليه ياعزازي تقلب المواجع والذكريات
2025-12-07 14:24:09
1
To see more videos from user @ab__od_69, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sore harinya, orang-orang dari biro travel datang dan membawakan koper seragam—warna hitam, berisi keperluan umroh. Ada juga tas selempang kecil berisi id card, paspor dan visa haji. Tetangga yang baru pulang rewang langsung terkagum-kagum melihat koper-koper yang berjejer—sebanyak sepuluh koper, termasuk milik suami mbak-mbak iparku, beserta Pakde dan Bude. Lusa, akan ada bus yang menjemput mereka bersama jama’ah lain ke bandara. Kalau tidak salah, dari kampung ini ada sekitar lima belas orang yang berangkat, termasuk keluarga suamiku.   “Iri kan kamu, lihat koper-koper itu berjejer? Itu dari biro travel umroh ternama, loh, nggak kaleng-kaleng. Udah pasti bakal berangkat no tipu-tipu,” ujar Mbak Hilda, dengan nada sombong. “Makanya jadi orang jangan manja. Mam pus sekarang kamu ditinggal umroh sekeluarga. Di rumah aja kamu jagain toddler.”   Aku hanya diam.   “Hilda sini. Ini kopermu udah ada. Coba cek dulu isinya kalau aja ada yang kurang,” ujar ibu mertua, sambil melambaikan tangannya pada Mbak Hilda. “Kalau udah dicek, kopernya masukin ke kam ar Ibu aja biar aman. Takutnya ada yang berniat jahat mau ngerusak koper kita karena nggak diajak umroh.”   Ibu mertua langsung melirikku dengan ekspresi sinis.   Apa aku serendah itu dimata mereka? Nanti kalau aku bikin mereka nggak bisa berangkat umroh beneran baru deh, tahu rasa…   “Eri kamu ngapain aja sih. Ini loh Vivi gantiin popoknya. Udah ba u banget!” Mas Yunus menghampiriku dan mendorong pundak putri kami ke arahku. “Punya a nak itu diurus, jangan manja apa-apa harus aku!”   Vivi menangis karena mendengar suara be n takan papanya—yang segera kubawa ke dalam gendonganku.   Silahkan saja sekarang kalian bersuka cita dan mengabaikanku seperti sam pah. Sekarang aku sedang menyiapkan bom yang akan aku lemparkan pada kalian saat waktunya tiba. Tunggu saja. *** “Bu Valerie, akuisisi biro umroh Grand Arafah Travel sudah berhasil. Saya sudah kirimkan lampiran dokumennya via email,” ujar Pak Bobby dari ujung telepon—asisten pribadi Papa—yang sekarang sudah resmi jadi asisten pribadiku. “Saya juga sudah mengirim lampiran daftar nama orang-orang yang dibiay a I umroh oleh Bapak Yunus.”   Aku tersenyum. “Terima kasih, Pak. Nanti saya cek emailnya.”   Setelah itu aku menutup panggilan dan membuka aplikasi emailku, lalu membuka attach email yang dikirimkan oleh Pak Bobby. Ternyata ada delapan orang yang dibi a yai Mas Yunus, dengan total 185 j u ta rupiah. Aku melihat daftarnya dan menemukan nama Mas Yunus, ibu mertua, papa mertua, Dita, Mbak Hilda, Mbak Lina dan juga… sebuah nama asing—Amanda Lestari.   Keningku berkerut. Dia itu siapa?   Aku ingat nama semua keluarga suamiku mulai dari keluarga inti hingga sepupu-sepupunya. Dan seingatku tidak ada yang namanya Amanda Lestari. Jadi kenapa Mas Yunus turut membiayai dia umroh?   Sebuah pemikiran yang tiba-tiba melintas membuat mataku terbelalak.   Apa jangan-jangan… Amanda itu… nama selingkuhan Mas Yunus?   Tidak.   Ini tidak mungkin, kan?   Dengan tangan setengah bergetar, aku menelpon Pak Bobby lagi. Tak sampai lima detik panggilan langsung terhubung. Kugi g i t bibir bawahku untuk menahan air mata yang hendak tumpah. “Pak, tolong selidiki wanita bernama Amanda Lestari. Dia masuk ke daftar nama yang dibiaya i umroh suami saya.”   “Baik, Bu.”   “Tolong secepatnya ya Pak. Kalau bisa sebelum keberangkatan umroh keluarga suami saya,” lanjutku lagi. “Oh iya, satu lagi. Siapkan juga visa umroh dan paspor saya, Pak. Mengenai tanggal keberangkatannya, nanti saya hubungi lagi.”   “Baik, Bu Vania.”   Setelah panggilan terputus, aku menggenggam ponsel bulukku erat-erat. Bahkan aku saja hanya pakai hape android jadul dengan layar retak selama bertahun-tahun, tapi suamiku malah menghabiskan seluruh tabu n gan kami untuk mengumrohkan keluarga besarnya. Siap-siap saja, Mas. Balasanku akan lebih pedih dari ini.   Terutama jika Amanda Lestari adalah wanita simp a nanmu.       BACA KISAH SELENGKAPNYA DI APLIKAS I KBM APP YAA JUDUL : PULANG MAS, PAKET UMROHMU SUDAH AKU BATALKAN AUTHOR : INDAAHNS
Sore harinya, orang-orang dari biro travel datang dan membawakan koper seragam—warna hitam, berisi keperluan umroh. Ada juga tas selempang kecil berisi id card, paspor dan visa haji. Tetangga yang baru pulang rewang langsung terkagum-kagum melihat koper-koper yang berjejer—sebanyak sepuluh koper, termasuk milik suami mbak-mbak iparku, beserta Pakde dan Bude. Lusa, akan ada bus yang menjemput mereka bersama jama’ah lain ke bandara. Kalau tidak salah, dari kampung ini ada sekitar lima belas orang yang berangkat, termasuk keluarga suamiku. “Iri kan kamu, lihat koper-koper itu berjejer? Itu dari biro travel umroh ternama, loh, nggak kaleng-kaleng. Udah pasti bakal berangkat no tipu-tipu,” ujar Mbak Hilda, dengan nada sombong. “Makanya jadi orang jangan manja. Mam pus sekarang kamu ditinggal umroh sekeluarga. Di rumah aja kamu jagain toddler.” Aku hanya diam. “Hilda sini. Ini kopermu udah ada. Coba cek dulu isinya kalau aja ada yang kurang,” ujar ibu mertua, sambil melambaikan tangannya pada Mbak Hilda. “Kalau udah dicek, kopernya masukin ke kam ar Ibu aja biar aman. Takutnya ada yang berniat jahat mau ngerusak koper kita karena nggak diajak umroh.” Ibu mertua langsung melirikku dengan ekspresi sinis. Apa aku serendah itu dimata mereka? Nanti kalau aku bikin mereka nggak bisa berangkat umroh beneran baru deh, tahu rasa… “Eri kamu ngapain aja sih. Ini loh Vivi gantiin popoknya. Udah ba u banget!” Mas Yunus menghampiriku dan mendorong pundak putri kami ke arahku. “Punya a nak itu diurus, jangan manja apa-apa harus aku!” Vivi menangis karena mendengar suara be n takan papanya—yang segera kubawa ke dalam gendonganku. Silahkan saja sekarang kalian bersuka cita dan mengabaikanku seperti sam pah. Sekarang aku sedang menyiapkan bom yang akan aku lemparkan pada kalian saat waktunya tiba. Tunggu saja. *** “Bu Valerie, akuisisi biro umroh Grand Arafah Travel sudah berhasil. Saya sudah kirimkan lampiran dokumennya via email,” ujar Pak Bobby dari ujung telepon—asisten pribadi Papa—yang sekarang sudah resmi jadi asisten pribadiku. “Saya juga sudah mengirim lampiran daftar nama orang-orang yang dibiay a I umroh oleh Bapak Yunus.” Aku tersenyum. “Terima kasih, Pak. Nanti saya cek emailnya.” Setelah itu aku menutup panggilan dan membuka aplikasi emailku, lalu membuka attach email yang dikirimkan oleh Pak Bobby. Ternyata ada delapan orang yang dibi a yai Mas Yunus, dengan total 185 j u ta rupiah. Aku melihat daftarnya dan menemukan nama Mas Yunus, ibu mertua, papa mertua, Dita, Mbak Hilda, Mbak Lina dan juga… sebuah nama asing—Amanda Lestari. Keningku berkerut. Dia itu siapa? Aku ingat nama semua keluarga suamiku mulai dari keluarga inti hingga sepupu-sepupunya. Dan seingatku tidak ada yang namanya Amanda Lestari. Jadi kenapa Mas Yunus turut membiayai dia umroh? Sebuah pemikiran yang tiba-tiba melintas membuat mataku terbelalak. Apa jangan-jangan… Amanda itu… nama selingkuhan Mas Yunus? Tidak. Ini tidak mungkin, kan? Dengan tangan setengah bergetar, aku menelpon Pak Bobby lagi. Tak sampai lima detik panggilan langsung terhubung. Kugi g i t bibir bawahku untuk menahan air mata yang hendak tumpah. “Pak, tolong selidiki wanita bernama Amanda Lestari. Dia masuk ke daftar nama yang dibiaya i umroh suami saya.” “Baik, Bu.” “Tolong secepatnya ya Pak. Kalau bisa sebelum keberangkatan umroh keluarga suami saya,” lanjutku lagi. “Oh iya, satu lagi. Siapkan juga visa umroh dan paspor saya, Pak. Mengenai tanggal keberangkatannya, nanti saya hubungi lagi.” “Baik, Bu Vania.” Setelah panggilan terputus, aku menggenggam ponsel bulukku erat-erat. Bahkan aku saja hanya pakai hape android jadul dengan layar retak selama bertahun-tahun, tapi suamiku malah menghabiskan seluruh tabu n gan kami untuk mengumrohkan keluarga besarnya. Siap-siap saja, Mas. Balasanku akan lebih pedih dari ini. Terutama jika Amanda Lestari adalah wanita simp a nanmu. BACA KISAH SELENGKAPNYA DI APLIKAS I KBM APP YAA JUDUL : PULANG MAS, PAKET UMROHMU SUDAH AKU BATALKAN AUTHOR : INDAAHNS

About