@hn.huyn.bike: Xe đạp không yên trong truyền thuyết ☺️ ace thử đạp xe cường độ cao ko yên dư này xem đc mấy km 😅#xedapdiahinh #xedap #xedapthethao #bike #xuhuongtiktok #dtz2000

Hàn Huyền Bike
Hàn Huyền Bike
Open In TikTok:
Region: VN
Saturday 10 August 2024 10:50:47 GMT
13259
558
34
22

Music

Download

Comments

lequangliem1198
Anh :
em xin địa chỉ cụ thể shop ơi, em ở sông công
2024-08-10 16:23:15
1
anh_duy_hanh
Anh-Duy-hạnh :
Thiếu cái cọc hình trụ rồi
2024-08-11 01:46:20
1
kimphingo915
Doãnn Chí Bình :
lại phải nge bà cụ kể chuyện nhưng sợ add k dám lên tiếng vì clip ghép
2024-08-10 16:11:01
0
namhd15
Nam Lê Văn :
Có thật hả
2024-08-12 05:14:04
0
phamdungxdkhp
Phạm Dũng :
Xe này thì không lo vấn đề mà Bà Cụ nói.
2024-08-12 04:38:20
1
bacdaichotui4namnua
pé tên Na🌷👾🐡 :
giá sao ạ
2024-08-24 11:41:28
0
thuyenbeo1
Thuyên Đinh :
Có cái ống nó thụt nên không
2024-08-10 14:53:22
0
hathengu
HÀ THẾ NGỰ :
Nhỡ lúc quên cứ nghĩ có yên xe mà ngồi xuống thì sao?
2024-09-29 15:18:13
0
theanh1805
Bui Thế Anh :
🤣🤣🤣
2024-08-11 17:23:42
0
baobinh2712
Bảo Bình :
❤️
2024-10-29 04:55:52
0
lucky_boy1869
Lucky_Boy :
ối dồi ôi yên thế kia thì nó tọt vào đâu 😁
2024-08-11 02:48:48
1
tngnguyn8984
nguyễn Thanh Tùng :
tôi nói thật nhé . tôi chưa thấy ai mê đạp xe mà dáng xấu cả , toàn ng dáng đẹp và trong đó có tôi ha ha :)))
2024-09-18 01:40:01
1
nguyenanhtuan196
tuantb :
xe đẹp cong nhỉ
2024-10-30 11:41:15
1
dotrong12
Đỗ Trọng :
Mình đang ở sc đây
2024-08-11 03:01:10
1
dinhvien01
Vien Nguyen :
Này phê hơn
2024-08-12 13:53:44
0
dotrong12
Đỗ Trọng :
🥰🥰🥰
2024-08-11 03:00:46
1
truong.hip00
Trường Híp ᥬ😑ᩤ :
Quần thủng thế kia mà vẫn mặc 🥺
2024-08-12 04:52:56
0
k.dailyfitness
Ngọc Khang🚴🏻‍♂️ :
Yên đâu rồi😂
2024-08-10 15:47:08
0
tanthanh168168
Tấn Thạnh Sim Cỏ :
Rồi cái bàn là đâu rồi
2024-08-10 13:37:50
0
To see more videos from user @hn.huyn.bike, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

“Tak usah datang, Dek. Ongkosnya mahal. Abang nggak ada u a n g.” Kalimat itu terdengar enteng. Empat tahun aku bekerja dari subuh sampai malam. Panas, hujan, debu jalanan. Tanganku kasar, wajahku penuh jerawat, kulitku menggelap karena setiap hari terpapar matahari saat mengantar pesanan. Semua kulakukan agar suamiku, Bang Danu, bisa kuliah S2 di Medan. Tak pernah sekalipun aku mengeluh. Tak pernah kube l i baju bagus, tak pernah ke salon. Bahkan sabun muka pun kupilih yang paling m u r a h. Karena setiap r u p i a h lebih berarti untuknya.  Dan hari ini, di hari wisudanya, dia melarangku datang. “Hemat saja u a ngnya. Nanti kalau Abang sudah kerja, kau bisa datang ke Medan,” katanya tadi di telepon. Sambungan terputus. Ponsel usang di tanganku terasa dingin, berbanding terbalik dengan da- daku yang memanas.  Naluriku berter i ak, ada yang tidak beres.  Mengapa suamiku begitu gigih melarangku meng i n jakkan kaki di kota itu? Tanpa berpikir panjang, kubongkar cel e ngan plastik di bawah r a n j a n g. U a n g  r e c eh dan beberapa lembar puluhan ribu yang sedianya untuk menambal atap bocor, kumasukkan ke dalam tas kain. Aku tak peduli. Malam itu juga, aku menumpang bus ekonomi lintas malam menuju Medan. Berjam-jam menahan pegal dan dinginnya angin malam, aku akhirnya tiba di pelataran kampus m e g a h itu saat matahari mulai meninggi. Suasananya begitu riuh. Orang tua dengan kebaya dan jas me w ah berseliweran membawa bunga. Aku menepi, spontan menarik ujung kerudungku yang sudah pudar warnanya, menyembunyikan wajahku yang kusam di antara kilau kemew a han ini. Mataku menyapu lautan manusia, mencari satu wajah yang menjadi alasanku bertahan hidup. Dan aku menemukannya. Bang Danu berdiri di dekat air mancur. Dia tampak begitu g a g a h dengan toga dan jubah hitamnya. Wajahnya bersih, tub u hnya lebih berisi.  Dia bukan lagi pria kampung yang empat tahun lalu kulepas di terminal. Senyumnya mengembang lebar—senyum yang sudah berbulan-bulan tidak kulihat lewat telepon. Kakiku baru saja hendak melangkah, bi b irku baru saja terbuka untuk memanggil namanya dengan bangga, ketika sebuah pemandangan mengha n tam  u l u  hatiku. Seorang wanita berkulit putih mulus dengan riasan elegan dan gaun brokat me w ah, berjalan anggun menghampirinya. Wanita itu membawa buket mawar merah yang sangat besar. Namun, bukan bunga itu yang membuat napasku berhenti. Melainkan apa yang terjadi selanjutnya. Wanita itu meraih tangan suamiku, menc i um punggung tangannya dengan takzim layaknya seorang istri, lalu tangan sebelahnya mengel u s per u tnya sendiri yang tampak membuncit.
“Tak usah datang, Dek. Ongkosnya mahal. Abang nggak ada u a n g.” Kalimat itu terdengar enteng. Empat tahun aku bekerja dari subuh sampai malam. Panas, hujan, debu jalanan. Tanganku kasar, wajahku penuh jerawat, kulitku menggelap karena setiap hari terpapar matahari saat mengantar pesanan. Semua kulakukan agar suamiku, Bang Danu, bisa kuliah S2 di Medan. Tak pernah sekalipun aku mengeluh. Tak pernah kube l i baju bagus, tak pernah ke salon. Bahkan sabun muka pun kupilih yang paling m u r a h. Karena setiap r u p i a h lebih berarti untuknya. Dan hari ini, di hari wisudanya, dia melarangku datang. “Hemat saja u a ngnya. Nanti kalau Abang sudah kerja, kau bisa datang ke Medan,” katanya tadi di telepon. Sambungan terputus. Ponsel usang di tanganku terasa dingin, berbanding terbalik dengan da- daku yang memanas. Naluriku berter i ak, ada yang tidak beres. Mengapa suamiku begitu gigih melarangku meng i n jakkan kaki di kota itu? Tanpa berpikir panjang, kubongkar cel e ngan plastik di bawah r a n j a n g. U a n g r e c eh dan beberapa lembar puluhan ribu yang sedianya untuk menambal atap bocor, kumasukkan ke dalam tas kain. Aku tak peduli. Malam itu juga, aku menumpang bus ekonomi lintas malam menuju Medan. Berjam-jam menahan pegal dan dinginnya angin malam, aku akhirnya tiba di pelataran kampus m e g a h itu saat matahari mulai meninggi. Suasananya begitu riuh. Orang tua dengan kebaya dan jas me w ah berseliweran membawa bunga. Aku menepi, spontan menarik ujung kerudungku yang sudah pudar warnanya, menyembunyikan wajahku yang kusam di antara kilau kemew a han ini. Mataku menyapu lautan manusia, mencari satu wajah yang menjadi alasanku bertahan hidup. Dan aku menemukannya. Bang Danu berdiri di dekat air mancur. Dia tampak begitu g a g a h dengan toga dan jubah hitamnya. Wajahnya bersih, tub u hnya lebih berisi. Dia bukan lagi pria kampung yang empat tahun lalu kulepas di terminal. Senyumnya mengembang lebar—senyum yang sudah berbulan-bulan tidak kulihat lewat telepon. Kakiku baru saja hendak melangkah, bi b irku baru saja terbuka untuk memanggil namanya dengan bangga, ketika sebuah pemandangan mengha n tam u l u hatiku. Seorang wanita berkulit putih mulus dengan riasan elegan dan gaun brokat me w ah, berjalan anggun menghampirinya. Wanita itu membawa buket mawar merah yang sangat besar. Namun, bukan bunga itu yang membuat napasku berhenti. Melainkan apa yang terjadi selanjutnya. Wanita itu meraih tangan suamiku, menc i um punggung tangannya dengan takzim layaknya seorang istri, lalu tangan sebelahnya mengel u s per u tnya sendiri yang tampak membuncit. "Selamat ya, Papa." Sayup-sayup suara ma n ja itu tertiup angin ke telingaku, diiringi kec u pan mesra di pipi Bang Danu. Suamiku yang selama empat tahun ini ku b i a y a i dengan keringat dan d a r a h. Duniaku ru n tuh detik itu juga. Air mataku luruh tanpa permisi. Tiba-tiba, tawa Bang Danu terhenti. Tatapannya tak sengaja bergeser dan langsung bertubrvkan dengan mataku. Wajah suamiku pucat pasi, senyumnya l e n ya p seketika, tub u hnya kaku menatapku yang berdiri gemetar hanya berjarak beberapa meter dari mereka. Baca keseruannya di KBM Judul : Berubah Cantik Setelah Dikhianati Penulis : CilokBilu

About