@nerpankm: 🤣🤣#prank #funny #fypツ #chorizoball #humor #fyp

nerpankm
nerpankm
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 12 September 2024 12:31:59 GMT
2365811
165886
185
4371

Music

Download

Comments

basiccmax
Maxwell 🦈🏳️‍⚧️ :
“maybe not” 😭
2024-09-13 07:55:25
11525
._.manal._
✪⎊Manal⎊✪ :
is he single? huh🤨
2024-09-15 23:32:16
967
ch.ibtsam583
ابتسام :
Not even close😂
2024-09-13 11:21:02
137
savvannahwilson
🪱avannah :
“Oh yeah 😏, maybe not..”
2025-06-21 03:49:48
0
stoozyz
Stoozy :
2025-07-14 15:27:24
0
sanleftribs123
hansol :
That “huhhh” kill me😭
2024-09-14 06:16:01
2138
flemjen03
Jennifer Fleming565 :
oh God no
2024-09-14 09:15:01
0
cucknazi
cuck :
FYP IS WAY TOO LOCAL
2024-11-19 04:05:26
0
wrennie_or_not
Wrenn 💤 :
Bro's raising honor 💀 Hiya mister!
2024-11-18 06:31:08
0
danny__boy27
Danny__boy27 :
RIP💀
2024-09-23 11:04:21
0
_ci90
.al :
WHO , ME , NO
2024-09-13 10:36:45
261
solidluv20
Franster :
Last guy actually was lil flustered
2024-09-13 02:08:51
499
baboula15
baboula15 :
It even close 😂
2024-09-14 19:15:01
1
sunnymnoo34
sunnymnoo34 :
The excuse me broke me
2024-10-18 06:18:28
0
mr.butcher35
MR butcher :
“Ohhh god no” bros been through to much in 2024😭🙏
2024-10-25 15:06:17
0
harold.ortiz817
️ :
last one was like * thank you byee*
2025-06-06 17:34:10
0
h4ileyd4
🄷ailey🩻🩺 :
"oh yeah😏😏?" "maybe not😔"
2024-09-22 18:52:37
570
huhsh03
huhsh :
Gonna start doing this content in south Africa
2024-10-16 18:20:41
0
argomargom2
Ezrathul :
How are they NPCs 💀
2024-09-14 22:50:36
1
happyelijah3
HappyEli :
“Yeah and you’re the shortest I’ve ever-“ damn
2024-09-24 00:38:33
0
progamer5hardy
gam3godbro5 :
oh god no
2024-09-13 23:34:56
0
debruhmann
Bruh man :
nah he noded his head first before she looked at him
2024-09-14 13:17:52
0
user8730751557157
Hana :
I want to see the guy's facee
2024-09-23 12:02:26
0
To see more videos from user @nerpankm, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ini cerita tentang seseorang yang pernah jadi langitku tempatku pulang, meski aku tak pernah benar-benar menyadarinya. Namanya Yushi. Teman sekelasku sejak SMP. la bukan tipe orang yang banyak bicara, bukan pula yang suka menonjol di tengah keramaian. Tapi Yushi selalu ada. Saat aku jatuh di lapangan, dia yang pertama membantuku berdiri. Saat aku lupa membawa payung, ia muncul di gerbang sekolah dengan senyum kikuk dan satu payung kecil. Saat aku patah hati untuk pertama kali, dia duduk diam di bangku taman sebelahku, mendengarkan tangisku tanpa bertanya apa pun. la tidak banyak bicara. Tapi kehadirannya selalu menenangkan, seperti langit sore yang diam-diam menyelimuti tanpa mengganggu. Aku selalu menganggapnya sebagai teman. Hanya teman. Hingga suatu hari, ia menghilang. Bukan kabur. Bukan pula pergi tanpa jejak. Tapi sakit. Yushi ternyata mengidap kelainan jantung sejak kecil. Dan selama ini di balik semua perhatian diamnya dia sedang berjuang. Menahan rasa sakitnya sendiri, menyembunyikan lelah yang tak pernah ia tunjukkan. Beberapa minggu setelah kepergiannya, adiknya menyerahkan sebuah surat kepadaku. Tulisan tangan Yushi yang kukenal begitu baik.
Ini cerita tentang seseorang yang pernah jadi langitku tempatku pulang, meski aku tak pernah benar-benar menyadarinya. Namanya Yushi. Teman sekelasku sejak SMP. la bukan tipe orang yang banyak bicara, bukan pula yang suka menonjol di tengah keramaian. Tapi Yushi selalu ada. Saat aku jatuh di lapangan, dia yang pertama membantuku berdiri. Saat aku lupa membawa payung, ia muncul di gerbang sekolah dengan senyum kikuk dan satu payung kecil. Saat aku patah hati untuk pertama kali, dia duduk diam di bangku taman sebelahku, mendengarkan tangisku tanpa bertanya apa pun. la tidak banyak bicara. Tapi kehadirannya selalu menenangkan, seperti langit sore yang diam-diam menyelimuti tanpa mengganggu. Aku selalu menganggapnya sebagai teman. Hanya teman. Hingga suatu hari, ia menghilang. Bukan kabur. Bukan pula pergi tanpa jejak. Tapi sakit. Yushi ternyata mengidap kelainan jantung sejak kecil. Dan selama ini di balik semua perhatian diamnya dia sedang berjuang. Menahan rasa sakitnya sendiri, menyembunyikan lelah yang tak pernah ia tunjukkan. Beberapa minggu setelah kepergiannya, adiknya menyerahkan sebuah surat kepadaku. Tulisan tangan Yushi yang kukenal begitu baik. "Aku ingin tetap bisa jagain kamu," tulisnya. "Kalau aku nggak bisa ada di sampingmu, aku harap kamu tetap merasa ada seseorang yang melindungimu, dari jauh." Aku menangis lama saat membaca surat itu. Tangisan karena kehilangan. Tapi lebih dari itu karena penyesalan. Selama ini, aku tak pernah benar-benar melihatnya. Aku hanya berjalan di bawah langit yang sama, tapi tak pernah menengadah dan menyadari betapa ia begitu dekat denganku. Hari-hari setelah itu sunyi. Tapi perlahan, aku belajar menata ulang diriku. Aku mulai menulis pesan untuk Yushi, walau tak pernah kukirim. Di catatan ponsel, di balik tiket kereta, di sudut-sudut halaman buku. "Aku akhirnya bisa presentasi tanpa gemetar." "Tadi pagi aku lihat pelangi, warnanya mirip banget sama warna favoritmu." Pernah suatu malam, aku memimpikan Yushi. la duduk di taman sekolah, di bangku yang sama tempat kami dulu sering duduk diam berdampingan. Wajahnya tenang, matanya hangat seperti biasa. Tapi ada cahaya lembut menyelimutinya, seolah ia bagian dari langit itu sendiri. "Yushi, kamu bahagia di sana?" tanyaku pelan. la hanya tersenyum. "Aku tenang karena kamu masih berjalan." Sejak malam itu, aku mulai bisa menerima. Rindu tak lagi menggerogoti, meski tetap ada. Tangis tak lagi deras, meski sesekali jatuh juga. Kehilangan tak pernah bisa disembuhkan, tapi bisa dipeluk. Seperti memeluk bayangan yang dulu hangat. Aku juga mulai memperhatikan orang-orang di sekitarku yang diam-diam hadir, seperti dulu Yushi. Ia mengajarkanku satu hal penting: bahwa cinta tidak selalu tentang kata-kata, atau pelukan, atau janji manis. Kadang, cinta paling tulus justru datang dari diam yang penuh makna. Dari seseorang yang hanya ingin melihatmu bahagia, meski ia sendiri diam-diam menahan rasa sakit. Hari ini, aku berdiri di depan gerbang sekolah lama kami. Di tanganku, setangkai bunga kamboja bunga favorit Yushi. Aku letakkan di bawah pohon besar tempat kami biasa berteduh bersama saat hujan. Lalu aku tersenyum. "Terima kasih, Yushi. Karena pernah jadi langitku. Kini, aku belajar menjadi langit juga untuk diriku sendiri, dan untuk orang-orang yang mungkin sedang melihatku dari jauh." Langit sore ini hangat. Angin menyapa rambutku pelan. Dan aku tahu, Yushi masih di sana. Menjagaku. Dengan cara yang tak bisa kulihat. Tapi bisa kurasa. Selalu. #yushi #pov #au #foryou

About