@jmesk_cutpro: We throw parades and eat our food and accuse people of Anti-Italian discrimination but most importantly we watch the Columbus Day episode of The Sopranos 🇮🇹 #thesopranos #tonysoprano #sopranos #columbusday #christophercolumbus #jamesgandolfini #pauliewalnuts #tonysirico #anthonysoprano #christophermoltisanti #michaelimperioli #badabing #davidchase #sopranosbadabing #thesopranos_badabing #themanysaintsofnewark #satriales #mobsters #johnnysack #carmelasoprano #meadowsoprano #bobbybacala #silviodante #gangsters #frankvincent #janicesoprano #juniorsoprano #dominicchianese

JMesk
JMesk
Open In TikTok:
Region: US
Monday 14 October 2024 12:47:43 GMT
258
2
0
3

Music

Download

Comments

There are no more comments for this video.
To see more videos from user @jmesk_cutpro, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

KRISIS PROFESIONALISME GURU: KETIKA GELAR BERHENTI MENJADI PROSES BERTUMBUH. Pendidikan tidak hanya terancam oleh ruang kelas yang kekurangan fasilitas, guru yang dibayar jauh dari kata layak, atau kebijakan yang berganti sebelum sempat berakar. Ada persoalan lain yang lebih sunyi, tetapi tak kalah berbahaya: ketika sebagian pendidik berhenti belajar, kehilangan keberanian untuk mengoreksi diri, dan menganggap pengalaman bertahun-tahun sebagai pengganti pertumbuhan intelektual. Mengajar adalah profesi yang menuntut kerendahan hati untuk terus belajar. Sebab dunia berubah, pengetahuan berkembang, dan anak-anak yang kita hadapi hari ini bukan salinan dari generasi sebelumnya. Namun, apa jadinya ketika senioritas dianggap sebagai kebenaran? Ketika kepatuhan kepada atasan lebih dihargai daripada keberanian berpikir? Ketika kritik dianggap pembangkangan, pertanyaan dianggap perlawanan, dan metode lama dipertahankan hanya karena “dari dulu juga begitu”? Di situlah pendidikan berisiko berubah menjadi pewarisan kebiasaan, bukan pembebasan pikiran. Tetapi mari berlaku adil: kita tidak bisa menuntut guru terus bertumbuh sambil mengabaikan kesejahteraan, beban administrasi, kesempatan pengembangan kompetensi, dan lingkungan kerja yang sering kali tidak mendukung mereka. Kritik terhadap profesionalisme harus berjalan beriringan dengan kritik terhadap sistem yang membentuknya. Sebab guru bukan manusia yang selesai setelah menerima ijazah. Ia adalah intelektual yang semestinya terus menguji pengetahuan, memperbarui cara mengajar, mengakui kekeliruan, dan berani berkata kepada muridnya: “Saya belum tahu. Mari kita pelajari bersama.” Guru yang hebat bukan guru yang selalu merasa benar, melainkan guru yang tidak berhenti memperbaiki dirinya sendiri. Kita membutuhkan pendidikan yang memanusiakan guru, sekaligus guru yang bersedia memanusiakan pengetahuan. Kesejahteraan tanpa tanggung jawab profesional tidak cukup. Tuntutan profesionalisme tanpa keadilan struktural pun sama tidak masuk akalnya. Karena masa depan anak-anak terlalu berharga untuk dipertaruhkan demi ego, senioritas, dan kebiasaan yang tak pernah diperiksa. Jangan hanya menuntut murid agar mau belajar seumur hidup. Pastikan orang yang berdiri di depan kelas juga bersedia melakukannya. — Temen 1 Meja #Temen1Meja #MenolakMenunduk #ProfesionalismeGuru #KrisisPendidikan #LiterasiKritis
KRISIS PROFESIONALISME GURU: KETIKA GELAR BERHENTI MENJADI PROSES BERTUMBUH. Pendidikan tidak hanya terancam oleh ruang kelas yang kekurangan fasilitas, guru yang dibayar jauh dari kata layak, atau kebijakan yang berganti sebelum sempat berakar. Ada persoalan lain yang lebih sunyi, tetapi tak kalah berbahaya: ketika sebagian pendidik berhenti belajar, kehilangan keberanian untuk mengoreksi diri, dan menganggap pengalaman bertahun-tahun sebagai pengganti pertumbuhan intelektual. Mengajar adalah profesi yang menuntut kerendahan hati untuk terus belajar. Sebab dunia berubah, pengetahuan berkembang, dan anak-anak yang kita hadapi hari ini bukan salinan dari generasi sebelumnya. Namun, apa jadinya ketika senioritas dianggap sebagai kebenaran? Ketika kepatuhan kepada atasan lebih dihargai daripada keberanian berpikir? Ketika kritik dianggap pembangkangan, pertanyaan dianggap perlawanan, dan metode lama dipertahankan hanya karena “dari dulu juga begitu”? Di situlah pendidikan berisiko berubah menjadi pewarisan kebiasaan, bukan pembebasan pikiran. Tetapi mari berlaku adil: kita tidak bisa menuntut guru terus bertumbuh sambil mengabaikan kesejahteraan, beban administrasi, kesempatan pengembangan kompetensi, dan lingkungan kerja yang sering kali tidak mendukung mereka. Kritik terhadap profesionalisme harus berjalan beriringan dengan kritik terhadap sistem yang membentuknya. Sebab guru bukan manusia yang selesai setelah menerima ijazah. Ia adalah intelektual yang semestinya terus menguji pengetahuan, memperbarui cara mengajar, mengakui kekeliruan, dan berani berkata kepada muridnya: “Saya belum tahu. Mari kita pelajari bersama.” Guru yang hebat bukan guru yang selalu merasa benar, melainkan guru yang tidak berhenti memperbaiki dirinya sendiri. Kita membutuhkan pendidikan yang memanusiakan guru, sekaligus guru yang bersedia memanusiakan pengetahuan. Kesejahteraan tanpa tanggung jawab profesional tidak cukup. Tuntutan profesionalisme tanpa keadilan struktural pun sama tidak masuk akalnya. Karena masa depan anak-anak terlalu berharga untuk dipertaruhkan demi ego, senioritas, dan kebiasaan yang tak pernah diperiksa. Jangan hanya menuntut murid agar mau belajar seumur hidup. Pastikan orang yang berdiri di depan kelas juga bersedia melakukannya. — Temen 1 Meja #Temen1Meja #MenolakMenunduk #ProfesionalismeGuru #KrisisPendidikan #LiterasiKritis

About