@koncerte_ne_itali: Orkestrale, dasma Turke - Shaban Cela, Sajmo #genciEvent#orkestrale🎶🎶🎶👌👌👌👏👏👏

koncerte_ne_itali
koncerte_ne_itali
Open In TikTok:
Region: IT
Sunday 08 December 2024 08:03:57 GMT
103268
2638
45
474

Music

Download

Comments

fundixrsj3q
user12341234 :
duhet Liri ketit respekte
2024-12-10 13:36:53
4
grecigreci1
grecigreci1 :
Bravo 👌👌👌👌
2024-12-10 09:55:57
4
user9673837749175
Ajlin :
Bravo shabe te rujt zoti
2024-12-25 21:29:42
2
geraldilapallari
Geraldi Lapallari :
po bledit i shpetoj shurra ika humb banjo
2025-02-24 22:06:22
2
leo_marigona
❤ :
super
2024-12-22 04:22:39
2
enxhiberatse
E♥️F🕌engjellê,beratse♥️F🇮🇹 :
super bravissimo complimenti jasha shqipe respekte per te gjithe shqipet kudo qendollen 💃💃💃💃💃 💃💃💃👏👏💯💯💯👑🦅🔥🔥🔥🔥🇦🇱🇮🇹
2024-12-16 17:14:59
2
blerina927
🌟🌟🌟🌟 :
bravo Shqipe..Jasha cake cak.👌✌️
2025-05-22 06:45:54
2
thewolferlupo
nip dukagjinas :
kalle shqipe ju rujt zoti
2024-12-11 20:16:10
2
alijabeharovic
alijabeharovic :
bravooooooooo 👍👍👍👍👍👍
2024-12-26 21:38:30
2
altinkoni
Gjepali 93 :
bravo turi i man gjall popullin
2024-12-25 13:34:18
2
gonialbanese
GoniAlbanese :
bravo 🥰🥰🥰
2024-12-10 17:03:49
2
giasmin01
Maria 1 :
bravo
2024-12-11 14:23:22
2
leonard.balla4
Leonard Balla :
zjarrrrrrrrr shaban cela 😏😏😏😏
2024-12-09 18:48:12
3
hazbikulla
Hazbi Kulla :
😁
2025-05-10 10:05:38
2
seg_i0
S|Xh :
@D|F @IS14
2025-02-05 10:41:20
2
madriti8
El_padrino🙏✝️💒 :
👍🏻👍🏻👍🏻
2025-02-13 05:26:26
2
gessianqoshja
gessianqoshja :
😂😂😂
2025-01-25 18:46:52
2
user1234546305
user12345 :
👏👏👏👏👏👏
2025-01-25 12:10:47
2
antono.krista
Antono Krista :
✌️✌️✌️✌️✌️✌️🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2025-07-21 19:43:05
1
_arti11
user4647912409586 :
🥰
2025-09-10 20:43:00
1
user299317447
Katerina :
❤️❤️❤️❤️❤️
2025-07-10 19:34:40
1
re.avni
Avni Curri Hereq 🇦🇱 :
🕺💃🕺💃🕺💃
2024-12-12 09:15:11
2
user66082818
maria :
❤❤❤❤❤🥰🥰🥰🥰
2025-01-12 20:18:07
2
alijabeharovic
alijabeharovic :
🥰
2024-12-26 21:38:12
2
alijabeharovic
alijabeharovic :
😁
2024-12-26 21:38:13
2
To see more videos from user @koncerte_ne_itali, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV| Kamu pernah berpikir pernikahan hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada masa depan, hanya tiga tahun kontrak, lalu kebebasan. Begitu rencananya. Dan semuanya berjalan sesuai kesepakatan. sampai Park Sunghoon mulai nyaman memiliki dirimu. Rumah mewah itu selalu terasa asing bagimu. terlalu sunyi, terlalu besar, dan terlalu terencana. Tapi Sunghoon? Ia seperti tidak pernah goyah. Elegan, dingin, dan selalu menginginkan segalanya berada di tempat yang ia mau. Termasuk kamu. “Kita cuma menikah kontrak, kan? Jadi, jangan terlalu dekat,” ucapmu dulu. Ia hanya menatapmu seperti melihat lelucon. Kini, dua tahun berlalu. Dan malam ini, sesuatu berbeda. Kamu menemukan dokumen baru tergeletak di meja kerjanya. Tanda tangan Sunghoon sudah tertera di bagian akhir. “Kontrak Pernikahan: Berlaku Seumur Hidup.” Darahmu terasa berhenti mengalir. “Kau mengubah kontraknya tanpa persetujuan aku?” tanyamu, gemetar antara marah dan takut. Sunghoon berjalan mendekat, langkahnya tenang, wajahnya tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. Ia berdiri cukup dekat hingga kamu dapat merasakan napasnya. “Kenapa? Kau mau pergi? Setelah dua tahun tidur di sebelahku?” Matanya merendah, suaranya menurun pelan, tapi tajam. “Sekarang aku terbiasa.” Kamu mencoba mundur, tapi jemarinya menahan pergelangan tanganmu cukup kuat untuk menghentikanmu, tapi tetap lembut seolah ia takut menyakitimu. “Sunghoon, ini tidak adil,” gumammu. “Tidak adil?” Ia terkekeh pelan, lirih, lebih mirip ancaman daripada tawa. “Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi setelah aku merasakanmu tidur di sebelahku setiap malam?” Tatapannya tidak marah, justru terlalu tenang. Terlalu yakin kamu miliknya. “Aku sudah memberimu hidup yang nyaman, keamanan, nama keluargaku,” Ia mengangkat dagumu dengan ujung jarinya. “Yang harus kau lakukan hanyalah tetap di sisiku.” “Dan jika aku menolak?” tanyamu berani. Ia menatapmu lama, sorot matanya berubah lebih gelap, lebih posesif. “Kalau kau mencoba pergi,” Telapak tangannya menyentuh pipimu, lembut kontras dengan ancaman dalam suaranya. “aku akan menjemputmu kembali. Sebagai suami atau, jika terpaksa, sebagai penculik.” Kamu merasakan jantungmu berdebar, bukan hanya karena takut, tapi karena sesuatu yang tidak ingin kamu akui, kamu mulai terbiasa padanya juga. Sunghoon menunduk sedikit, menyentuhkan keningnya pada milikmu. “Jadi, jadilah pintar, y/n. Jangan buat aku mencarimu.” Ibu jarinya menyapu sudut bibirmu pelan. “Kau sudah menjadi istriku. Bukan untuk tiga tahun. Tapi Untuk seumur hidup.” Pertanyaan Sunghoon malam itu hanya satu “Kau tinggal karena takut, atau karena kau mulai menyukaiku?” Dan kamu tidak punya jawaban. Belum. Sejak malam kamu mengetahui kontrak itu, Sunghoon berubah. Tidak lagi menjaga jarak seperti sebelumnya. Tidak lagi pulang sekadar makan dan tidur. Sekarang, ia selalu ingin tahu di mana kamu berada. Setiap kamu akan pergi, pertanyaan itu selalu muncul. “Kemana?” “Dengan siapa?” “Berapa lama?” Suara Sunghoon selalu tenang, tapi matanya tidak pernah santai. Seolah ia menghitung setiap detik yang kamu habiskan tanpa dirinya. Suatu sore, kamu hendak menemui teman lamamu. Baru saja mengenakan sepatu, tangan Sunghoon menahan pintu. Tubuhnya berdiri setengah menutupi jalan keluar. “Lepaskan, aku cuma ingin bertemu teman,” ucapmu, menghela napas. Sunghoon menatapmu, ekspresinya kosong tetapi tajam. “Teman pria?” Kamu tidak menghiraukan, hanya menunduk mengikat tali sepatu. Ketika kamu hendak melewatinya, Sunghoon menarik tanganmu, tubuhmu jatuh ke dadanya. “Jawab aku.” Nada suaranya rendah, seperti menahan sesuatu yang berbahaya. “Ya. Teman pria. Dan itu tidak masalah.” Kamu berusaha menjauh, tapi genggamannya justru mengencang. Mata Sunghoon merendah ke bibirmu, rahangnya menegang. “Masalahnya, aku tidak mau ada pria lain dekat denganmu.” Kamu mendengus. “Kau tidak punya hak mengatur..” Ucapanmu terhenti. Sunghoon mencondongkan wajah, mencium bibirmu tiba-tiba. Bukan lembut. Bukan permintaan. Tapi klaim. {+com} #sunghoon#fyppppppppppppppppppppppp#trending
POV| Kamu pernah berpikir pernikahan hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada masa depan, hanya tiga tahun kontrak, lalu kebebasan. Begitu rencananya. Dan semuanya berjalan sesuai kesepakatan. sampai Park Sunghoon mulai nyaman memiliki dirimu. Rumah mewah itu selalu terasa asing bagimu. terlalu sunyi, terlalu besar, dan terlalu terencana. Tapi Sunghoon? Ia seperti tidak pernah goyah. Elegan, dingin, dan selalu menginginkan segalanya berada di tempat yang ia mau. Termasuk kamu. “Kita cuma menikah kontrak, kan? Jadi, jangan terlalu dekat,” ucapmu dulu. Ia hanya menatapmu seperti melihat lelucon. Kini, dua tahun berlalu. Dan malam ini, sesuatu berbeda. Kamu menemukan dokumen baru tergeletak di meja kerjanya. Tanda tangan Sunghoon sudah tertera di bagian akhir. “Kontrak Pernikahan: Berlaku Seumur Hidup.” Darahmu terasa berhenti mengalir. “Kau mengubah kontraknya tanpa persetujuan aku?” tanyamu, gemetar antara marah dan takut. Sunghoon berjalan mendekat, langkahnya tenang, wajahnya tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun. Ia berdiri cukup dekat hingga kamu dapat merasakan napasnya. “Kenapa? Kau mau pergi? Setelah dua tahun tidur di sebelahku?” Matanya merendah, suaranya menurun pelan, tapi tajam. “Sekarang aku terbiasa.” Kamu mencoba mundur, tapi jemarinya menahan pergelangan tanganmu cukup kuat untuk menghentikanmu, tapi tetap lembut seolah ia takut menyakitimu. “Sunghoon, ini tidak adil,” gumammu. “Tidak adil?” Ia terkekeh pelan, lirih, lebih mirip ancaman daripada tawa. “Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi setelah aku merasakanmu tidur di sebelahku setiap malam?” Tatapannya tidak marah, justru terlalu tenang. Terlalu yakin kamu miliknya. “Aku sudah memberimu hidup yang nyaman, keamanan, nama keluargaku,” Ia mengangkat dagumu dengan ujung jarinya. “Yang harus kau lakukan hanyalah tetap di sisiku.” “Dan jika aku menolak?” tanyamu berani. Ia menatapmu lama, sorot matanya berubah lebih gelap, lebih posesif. “Kalau kau mencoba pergi,” Telapak tangannya menyentuh pipimu, lembut kontras dengan ancaman dalam suaranya. “aku akan menjemputmu kembali. Sebagai suami atau, jika terpaksa, sebagai penculik.” Kamu merasakan jantungmu berdebar, bukan hanya karena takut, tapi karena sesuatu yang tidak ingin kamu akui, kamu mulai terbiasa padanya juga. Sunghoon menunduk sedikit, menyentuhkan keningnya pada milikmu. “Jadi, jadilah pintar, y/n. Jangan buat aku mencarimu.” Ibu jarinya menyapu sudut bibirmu pelan. “Kau sudah menjadi istriku. Bukan untuk tiga tahun. Tapi Untuk seumur hidup.” Pertanyaan Sunghoon malam itu hanya satu “Kau tinggal karena takut, atau karena kau mulai menyukaiku?” Dan kamu tidak punya jawaban. Belum. Sejak malam kamu mengetahui kontrak itu, Sunghoon berubah. Tidak lagi menjaga jarak seperti sebelumnya. Tidak lagi pulang sekadar makan dan tidur. Sekarang, ia selalu ingin tahu di mana kamu berada. Setiap kamu akan pergi, pertanyaan itu selalu muncul. “Kemana?” “Dengan siapa?” “Berapa lama?” Suara Sunghoon selalu tenang, tapi matanya tidak pernah santai. Seolah ia menghitung setiap detik yang kamu habiskan tanpa dirinya. Suatu sore, kamu hendak menemui teman lamamu. Baru saja mengenakan sepatu, tangan Sunghoon menahan pintu. Tubuhnya berdiri setengah menutupi jalan keluar. “Lepaskan, aku cuma ingin bertemu teman,” ucapmu, menghela napas. Sunghoon menatapmu, ekspresinya kosong tetapi tajam. “Teman pria?” Kamu tidak menghiraukan, hanya menunduk mengikat tali sepatu. Ketika kamu hendak melewatinya, Sunghoon menarik tanganmu, tubuhmu jatuh ke dadanya. “Jawab aku.” Nada suaranya rendah, seperti menahan sesuatu yang berbahaya. “Ya. Teman pria. Dan itu tidak masalah.” Kamu berusaha menjauh, tapi genggamannya justru mengencang. Mata Sunghoon merendah ke bibirmu, rahangnya menegang. “Masalahnya, aku tidak mau ada pria lain dekat denganmu.” Kamu mendengus. “Kau tidak punya hak mengatur..” Ucapanmu terhenti. Sunghoon mencondongkan wajah, mencium bibirmu tiba-tiba. Bukan lembut. Bukan permintaan. Tapi klaim. {+com} #sunghoon#fyppppppppppppppppppppppp#trending

About