@itslashmoney: #holden #fyp #cars #aussiecars #commodore #hsv #maloo #xr8 #lstheworld #gts #vfgts

Teve
Teve
Open In TikTok:
Region: AU
Friday 24 January 2025 02:13:16 GMT
4593
342
11
7

Music

Download

Comments

lucasmc147
Lucas mc :
dream car
2025-01-24 03:00:13
0
babypanda305
babypanda305 :
both😂
2025-01-24 03:36:21
0
dodger3470
dodger :
I want both but your not my dream girl the cars ok but not my dream car ❤️
2025-01-24 06:33:47
0
finn_fitzy
Fitzy :
Dream car ofc
2025-01-24 07:27:52
0
aussie489
Brock Byrne :
that aussie ass 😍 🥵 1000% car all day any day
2025-01-24 10:04:51
0
thezohan47
thezohan47 :
car
2025-01-24 11:50:57
0
lovedby_julz
Jules :
dream car
2025-01-24 22:30:10
0
turbo2927
Turbo💋 :
Both
2025-01-25 22:13:51
0
bloodthickerthenwater
amo haraket :
both
2025-01-26 14:20:57
0
1hoodlum
1hoodlum :
Girl. i already have my dream cars
2025-01-30 13:41:05
0
To see more videos from user @itslashmoney, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

simpan buat besok | Mengenang Tragedi Kelam G30S/PKI dan Menjaga Kesaktian Pancasila  September selalu membawa kita kembali pada ingatan kolektif yang memilukan. Sebuah catatan sejarah kelam berkubang darah yang pernah mengguncang fondasi Ibu Pertiwi. Tragedi Gerakan 30 September (G30S/PKI) tahun 1965 bukan sekadar barisan kalimat di dalam buku sejarah sekolah, melainkan sebuah ujian terberat bagi persatuan, kedaulatan, dan ideologi bangsa Indonesia.  Malam itu, di bawah kegelapan langit ibu kota, badai pengkhianatan merenggut nyawa para putra terbaik bangsa. Enam jenderal dan satu perwira militer gugur dalam tugasnya menjaga kehormatan negara. Kita mengenang dengan rasa hormat yang mendalam: Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto, Mayor Jenderal M.T. Haryono, Mayor Jenderal S. Parman, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan, dan Letnan Satu Pierre Tendean. Jasad mereka mungkin dimasukkan ke dalam sumur sempit di Lubang Buaya, namun semangat, dedikasi, dan kesetiaan mereka kepada Pancasila tetap tegak berdiri tak pernah runtuh.  Setiap tetes darah yang tumpah di tanah pusaka adalah alarm bagi kita, generasi penerus bangsa. Peristiwa ini membawa pesan yang begitu mahal: bahwa persatuan tidak boleh ditawar, dan Pancasila adalah harga mati sebagai benteng pertahanan ideologi negara kita. Radikalisme, intoleransi, dan upaya-upaya pemecah belah bangsa harus dilawan dengan komitmen merawat kebinekaan. Jangan biarkan adu domba kembali meretakkan fondasi rumah besar bernama Indonesia yang telah dibangun dengan air mata dan darah para pahlawan.  Bung Karno pernah berpesan,
simpan buat besok | Mengenang Tragedi Kelam G30S/PKI dan Menjaga Kesaktian Pancasila September selalu membawa kita kembali pada ingatan kolektif yang memilukan. Sebuah catatan sejarah kelam berkubang darah yang pernah mengguncang fondasi Ibu Pertiwi. Tragedi Gerakan 30 September (G30S/PKI) tahun 1965 bukan sekadar barisan kalimat di dalam buku sejarah sekolah, melainkan sebuah ujian terberat bagi persatuan, kedaulatan, dan ideologi bangsa Indonesia. Malam itu, di bawah kegelapan langit ibu kota, badai pengkhianatan merenggut nyawa para putra terbaik bangsa. Enam jenderal dan satu perwira militer gugur dalam tugasnya menjaga kehormatan negara. Kita mengenang dengan rasa hormat yang mendalam: Letnan Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal R. Soeprapto, Mayor Jenderal M.T. Haryono, Mayor Jenderal S. Parman, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan, dan Letnan Satu Pierre Tendean. Jasad mereka mungkin dimasukkan ke dalam sumur sempit di Lubang Buaya, namun semangat, dedikasi, dan kesetiaan mereka kepada Pancasila tetap tegak berdiri tak pernah runtuh. Setiap tetes darah yang tumpah di tanah pusaka adalah alarm bagi kita, generasi penerus bangsa. Peristiwa ini membawa pesan yang begitu mahal: bahwa persatuan tidak boleh ditawar, dan Pancasila adalah harga mati sebagai benteng pertahanan ideologi negara kita. Radikalisme, intoleransi, dan upaya-upaya pemecah belah bangsa harus dilawan dengan komitmen merawat kebinekaan. Jangan biarkan adu domba kembali meretakkan fondasi rumah besar bernama Indonesia yang telah dibangun dengan air mata dan darah para pahlawan. Bung Karno pernah berpesan, "Jasmerah: Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah." Memperingati momen ini bukanlah untuk memelihara dendam masa lalu, melainkan sebagai cermin besar untuk merawat kewaspadaan nasional, memperkuat integrasi bangsa, serta memperkokoh nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Mari kita kibarkan bendera setengah tiang dengan khidmat. Mari kita tundukkan kepala sejenak, mengirimkan doa terbaik bagi para Pahlawan Revolusi dan seluruh korban konflik masa lalu agar mendapatkan tempat termulia di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Tugas kita hari ini adalah melanjutkan perjuangan mereka, bukan lagi dengan mengangkat senjata, melainkan dengan menjaga keutuhan NKRI, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menolak segala bentuk ideologi yang bertentangan dengan Pancasila. Merdeka! Abadi Pancasila kita! #G30SPKI #G30S #PahlawanRevolusi #MenolakLupa #fypシ

About