mi :
Menunggumu itu bukan cuma soal detak jam yang berputar, tapi soal bagaimana aku perlahan-lahan menghabiskan sisa diriku di ambang pintu penantian yang tak kunjung terbuka, sebuah proses panjang yang entah bagaimana caranya perlahan mengikis bahagia dalam diriku dan menyisakan kekosongan yang hanya bisa diisi oleh bayanganmu. Aku mencintaimu dengan cara yang paling melelahkan namun paling tulus; aku pernah berdoa dengan air mata yang jatuh diam-diam di keheningan malam, menyebut namamu dalam setiap sujud sampai suaraku parau, berharap setiap harinya hanya tentang kamu, padahal semesta seolah sedang bermain-main dengan sabarku dan membiarkan aku berdiri di sini sendirian tanpa kepastian yang nyata. Di dalam kepalaku, namamu masih sangat berisik, suaramu masih terngiang-ngiang seolah kamu baru saja berbisik di sampingku, dan senyummu adalah satu-satunya hal yang masih kuingat dengan detail paling tajam, membuatku tetap bertahan walau jiwaku seringkali ingin menyerah pada sepi yang mencekik ini.
Aku sudah mencoba berkali-kali untuk mencari pengalih atau menghapus kenangan-kenangan kecil yang kita punya, tapi kenangan itu seperti akar yang sudah merambat terlalu dalam ke seluruh nadiku, sehingga semakin aku mencoba membuangnya, semakin sesak pula dadaku dibuatnya karena tak ada satu pun orang yang mampu menggantikan tempatmu. Aku tetap memilih untuk mencintai dalam diam, dalam jarak yang menyiksa, dan dalam rindu yang hanya bisa kusimpan sendiri sampai dadaku terasa mau pecah, belajar setia tanpa harus kamu minta dan bertahan tanpa harus kamu tahu meski arahnya tidak pernah benar-benar jelas. Mungkin inilah bentuk paling suci sekaligus paling menyakitkan dari sebuah perasaan; ketika aku menolak untuk melepaskan meski aku tahu menunggu bisa saja menghancurkanku lebih dalam lagi, namun aku tetap di sini, menjaga doa-doa yang selalu kusebut namamu di dalamnya, karena bagiku kamu adalah satu-satunya yang ingin kugenggam selamanya, tak peduli seberapa lama semesta memintaku untuk bersabar.
2026-03-23 10:31:26