@stormz1m: Punida suprema de Pio XI 🗣️ #capcut #capcut_edit #edit #santotomasdeaquino #saintthomasaquinas #sumateologica #patristica #teologia #igrejacatolica #catolicoapostolicoromano #cristianismo #catecismo #catolicismo #catolico #bible #biblia #teologiabiblica

SToRM 𔕛🇻🇦
SToRM 𔕛🇻🇦
Open In TikTok:
Region: BR
Friday 21 February 2025 17:44:05 GMT
13949
1345
10
78

Music

Download

Comments

k4dosh
Kadosh. :
Ide a Tomás e pedi-lhes que vos dê, de sua abundância, o alimento da Doutrina Substancial. Com o qual podeis nutrir vossas almas para a vida eterna
2025-05-22 14:35:40
9
fbio.pantoja.filh
☩Σ☧🇻🇦FábioPantoja🇻🇦☧☨🏹 :
Só uma correção, a primeira imagem é de V.S o papa Pio XI, mas a edit é based do mesmo jeito
2025-02-21 17:56:06
1
wendel.kaique5
Oliveira🇲🇽 :
🥰
2025-02-22 10:17:09
2
lucas.eduardo.cav
Lucas Eduardo Cavalcanti Xavie :
Mano naquela barrinha de "pesquisa" que fica em cima dos comentários do tik tok de tom azul,está escrito "Calvino refutou tomas de aquino",eu "nem aqui,nem se Calvino nascer de novo kkkkkkklkkkkk"
2025-09-15 21:15:42
1
To see more videos from user @stormz1m, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

BUYA HAMKA Lahir pada 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, Hamka kecil tumbuh sebagai anak yang gelisah dan menyukai kebebasan. Waktu luangnya dihabiskan dengan mendengarkan tukang kaba (pendongeng tradisional Minang) dan membaca buku-buku roman sastra di toko buku lokal. Perjalanan Mencari Ilmu di Mekkah (1927) Pada usia 19 tahun, Hamka nekat berangkat ke Mekkah tanpa bekal melimpah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menimba ilmu. Pengalaman di Mekkah menyadarkannya bahwa dakwah Islam tidak boleh terisolasi dari pergerakan sosial. Ia kembali ke Nusantara dengan tekad bulat untuk memajukan umat lewat organisasi Muhammadiyah. Jalur Ulama, Sastrawan, dan Pahlawan Nasional Ia membesarkan Muhammadiyah di Medan dan Jakarta, lalu terpilih menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama pada 1975. Karya puncaknya adalah Tafsir Al-Azhar (30 Juz), sebuah karya monumental yang ia tulis saat dipenjara tanpa proses peradilan oleh rezim Orde Lama (1964–1966). Hamka aktif bergerilya secara politik dan diplomasi semasa Perang Kemerdekaan (1945–1949), menggelorakan semangat jihad melawan Belanda lewat pidato dan tulisan di koran. Atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan dan kebudayaan, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2011. Hubungan Hamka dengan ayahnya, Dr. H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)—seorang tokoh pembaru Islam yang sangat kaku, tegas, dan berpengaruh—penuh dengan dinamika emosional dan perbedaan pandangan. Haji Rasul menginginkan Malik muda menjadi ulama murni yang disiplin dan menguasai kitab-kitab fikih berat. Ayahnya sempat memandang sebelah mata kegemaran Hamka membaca dan menulis novel yang dianggap
BUYA HAMKA Lahir pada 17 Februari 1908 di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat, Hamka kecil tumbuh sebagai anak yang gelisah dan menyukai kebebasan. Waktu luangnya dihabiskan dengan mendengarkan tukang kaba (pendongeng tradisional Minang) dan membaca buku-buku roman sastra di toko buku lokal. Perjalanan Mencari Ilmu di Mekkah (1927) Pada usia 19 tahun, Hamka nekat berangkat ke Mekkah tanpa bekal melimpah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus menimba ilmu. Pengalaman di Mekkah menyadarkannya bahwa dakwah Islam tidak boleh terisolasi dari pergerakan sosial. Ia kembali ke Nusantara dengan tekad bulat untuk memajukan umat lewat organisasi Muhammadiyah. Jalur Ulama, Sastrawan, dan Pahlawan Nasional Ia membesarkan Muhammadiyah di Medan dan Jakarta, lalu terpilih menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama pada 1975. Karya puncaknya adalah Tafsir Al-Azhar (30 Juz), sebuah karya monumental yang ia tulis saat dipenjara tanpa proses peradilan oleh rezim Orde Lama (1964–1966). Hamka aktif bergerilya secara politik dan diplomasi semasa Perang Kemerdekaan (1945–1949), menggelorakan semangat jihad melawan Belanda lewat pidato dan tulisan di koran. Atas jasa-jasanya dalam perjuangan kemerdekaan dan kebudayaan, pemerintah menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 2011. Hubungan Hamka dengan ayahnya, Dr. H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul)—seorang tokoh pembaru Islam yang sangat kaku, tegas, dan berpengaruh—penuh dengan dinamika emosional dan perbedaan pandangan. Haji Rasul menginginkan Malik muda menjadi ulama murni yang disiplin dan menguasai kitab-kitab fikih berat. Ayahnya sempat memandang sebelah mata kegemaran Hamka membaca dan menulis novel yang dianggap "kurang bermanfaat". Haji Rasul berdakwah dengan gaya konfrontatif dan keras melawan penjajah Belanda serta hukum adat yang dianggap menyimpang. Sebaliknya, Hamka memilih jalur diplomatis, terbuka pada seni/sastra, dan merangkul masyarakat secara inklusif. Ketegangan mencair saat Haji Rasul melihat putranya berhasil memikat masyarakat luas lewat kedalaman dakwah dan keindahan bahasanya. Di akhir hayat sang ayah, Haji Rasul menyampaikan rasa bangganya terhadap Hamka yang terbukti mampu membawa panji Islam dengan caranya sendiri. #awalmulahamka #buyahamka #kontenfchamka

About