@rabiu.idris.227maradi: #arewa__tiktok #voiceofislam #alhamdulillah❤️ #allahsamudaceameen🤲 #allahuakbar #inshallah #allahsamudaceameen🤲 #islamic_video_الله🤲🌹🕋🕌🌹tiktoktiktok💖

Rabiu Idris+227🇳🇪 na annabi
Rabiu Idris+227🇳🇪 na annabi
Open In TikTok:
Region: LY
Saturday 22 February 2025 20:50:38 GMT
1287
167
7
12

Music

Download

Comments

iliyasu384
iliyasu384 :
👍👍👍
2025-02-23 09:14:11
1
wizi.samaila
Labaranismailmika :
💜
2025-02-26 21:05:19
1
wizi.samaila
Labaranismailmika :
❤️
2025-02-26 21:05:20
1
mahamane.saley
Mahamane Saley :
alla kasamo iya amin
2025-02-22 21:59:46
0
oumarda00
oumarda00 :
🥰🥰🥰
2025-02-23 06:42:39
0
dambelemaster
M.K DRIVER bro :
👍👍👍
2025-02-23 09:55:14
0
wizi.samaila
Labaranismailmika :
🌹
2025-02-26 21:05:19
0
To see more videos from user @rabiu.idris.227maradi, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV | Sudah hampir setahun, Hari Valentine menjadi hari yang paling kamu benci. Bukan karena bunga yang memenuhi setiap sudut sekolah. Bukan pula karena cokelat yang saling berpindah tangan di antara pasangan-pasangan yang sedang jatuh cinta. Melainkan karena setiap kali tanggal itu kembali datang, seseorang selalu kembali bersamanya. Keonho. Anak laki-laki yang hampir setiap hari memilih duduk di bangku paling belakang. Dulu, ia adalah sosok yang paling mudah dikenali di sekolah. Tawanya selalu terdengar paling keras, senyumnya seolah tak pernah benar-benar menghilang dari wajahnya. Namun kini, semua itu lenyap begitu saja. Hoodie hitam selalu menutupi tubuhnya, bahkan ketika matahari sedang berada tepat di atas kepala. Kepalanya lebih sering tertunduk, sementara sepasang mata itu... entah sejak kapan, tak pernah benar-benar berhenti mengawasimu. Ke mana pun kamu melangkah, tatapan itu selalu mengikutimu. ••• Suara bel telah menggema sejak lima menit yang lalu. Satu per satu murid mulai memenuhi kelas, disusul riuh obrolan yang saling bersahutan. Kamu ikut melangkah masuk, meletakkan tas di atas meja sebelum menarik kursimu perlahan. Namun sebelum sempat duduk, pandanganmu lebih dulu terpaku pada sesuatu yang telah tergeletak rapi di atas meja. Setangkai mawar putih, dan sekotak cokelat kecil yang masih dibungkus pita merah. Napasmu tertahan sesaat. Tak perlu kartu ucapan, tak perlu nama pengirim. Kamu sudah tahu siapa yang meletakkannya. Sudah hampir setahun terakhir, bunga itu selalu muncul dengan cara yang sama. Diam-diam, seolah seseorang sengaja datang lebih awal hanya untuk meninggalkannya di atas mejamu. Lengkap, dengan cokelat favoritmu yang tak pernah berubah. Perlahan, kepalamu menoleh ke arah bangku paling belakang. Benar saja, bangku paling belakang itu masih ditempatinya. Tubuhnya bersandar tenang di kursi, hoodie hitam masih menutupi kepalanya meski udara pagi terasa cukup hangat. Saat tatapan kalian tanpa sengaja bertemu, Keonho hanya menghadiahkan seulas senyum tipis. Nyaris tak terlihat. Namun senyum itu selalu terasa cukup untuk membuat dadamu dipenuhi perasaan yang tak mampu kamu jelaskan. Kamu segera memutus kontak mata itu. Pandanganmu kembali jatuh pada mawar putih dan sekotak cokelat di hadapanmu. Tanpa banyak berpikir, jemarimu menggeser keduanya ke dalam laci meja dengan gerakan pelan, seolah tak ingin melihatnya lebih lama. Entah apa lagi yang sebenarnya sedang ia perjuangkan. Karena bukankah semuanya sudah berakhir sejak lama? ••• Jam istirahat akhirnya tiba. Riuh suara murid yang berhamburan keluar kelas memenuhi koridor sekolah. Kursi-kursi mulai kosong, menyisakan beberapa orang yang memilih tetap berada di dalam kelas. Kamu mengembuskan napas pelan. Pandanganmu kembali jatuh pada setangkai mawar putih yang masih tersimpan di dalam laci. Entah mengapa... hari ini rasanya kamu benar-benar lelah. Lelah melihat bunga itu muncul setiap pagi. Lelah karena setiap kali melihatnya, kenangan yang berusaha kamu kubur selalu kembali menghampiri. Tanpa berpikir panjang, jemarimu meraih tangkai mawar itu, lalu melangkah keluar kelas. Langkahmu berhenti tepat di depan sebuah tong sampah yang berada di ujung lorong. Perlahan, tanganmu mulai terangkat. Tinggal sedikit lagi bunga itu akan benar-benar jatuh. Namun tiba-tiba—Ting! Suara notifikasi dari ponselmu membuat gerakanmu terhenti. Layar ponselmu menyala, satu nama kembali muncul di sana. Keonho. 💬 Jangan dibuang. Keningmu langsung berkerut. Belum sempat kamu membalas apa pun, satu pesan lagi kembali masuk. 💬 Sekali ini aja. Tolong diterima. Biar aku tenang. Dadamu mendadak terasa sesak. Entah kenapa, tiga kalimat sederhana itu justru membuat jemarimu perlahan melemas. Mawar yang semula menggantung di atas tong sampah kini kembali kamu tarik ke dalam pelukan. Perlahan, kepalamu terangkat. Di ujung lorong, Keonho berdiri di sana. Masih dengan hoodie hitam yang menutupi kepalanya, masih dengan senyum tipis yang sama. (+🗨️ ) #pov #keonho #keonhocortis #keonhoedit #fyp
POV | Sudah hampir setahun, Hari Valentine menjadi hari yang paling kamu benci. Bukan karena bunga yang memenuhi setiap sudut sekolah. Bukan pula karena cokelat yang saling berpindah tangan di antara pasangan-pasangan yang sedang jatuh cinta. Melainkan karena setiap kali tanggal itu kembali datang, seseorang selalu kembali bersamanya. Keonho. Anak laki-laki yang hampir setiap hari memilih duduk di bangku paling belakang. Dulu, ia adalah sosok yang paling mudah dikenali di sekolah. Tawanya selalu terdengar paling keras, senyumnya seolah tak pernah benar-benar menghilang dari wajahnya. Namun kini, semua itu lenyap begitu saja. Hoodie hitam selalu menutupi tubuhnya, bahkan ketika matahari sedang berada tepat di atas kepala. Kepalanya lebih sering tertunduk, sementara sepasang mata itu... entah sejak kapan, tak pernah benar-benar berhenti mengawasimu. Ke mana pun kamu melangkah, tatapan itu selalu mengikutimu. ••• Suara bel telah menggema sejak lima menit yang lalu. Satu per satu murid mulai memenuhi kelas, disusul riuh obrolan yang saling bersahutan. Kamu ikut melangkah masuk, meletakkan tas di atas meja sebelum menarik kursimu perlahan. Namun sebelum sempat duduk, pandanganmu lebih dulu terpaku pada sesuatu yang telah tergeletak rapi di atas meja. Setangkai mawar putih, dan sekotak cokelat kecil yang masih dibungkus pita merah. Napasmu tertahan sesaat. Tak perlu kartu ucapan, tak perlu nama pengirim. Kamu sudah tahu siapa yang meletakkannya. Sudah hampir setahun terakhir, bunga itu selalu muncul dengan cara yang sama. Diam-diam, seolah seseorang sengaja datang lebih awal hanya untuk meninggalkannya di atas mejamu. Lengkap, dengan cokelat favoritmu yang tak pernah berubah. Perlahan, kepalamu menoleh ke arah bangku paling belakang. Benar saja, bangku paling belakang itu masih ditempatinya. Tubuhnya bersandar tenang di kursi, hoodie hitam masih menutupi kepalanya meski udara pagi terasa cukup hangat. Saat tatapan kalian tanpa sengaja bertemu, Keonho hanya menghadiahkan seulas senyum tipis. Nyaris tak terlihat. Namun senyum itu selalu terasa cukup untuk membuat dadamu dipenuhi perasaan yang tak mampu kamu jelaskan. Kamu segera memutus kontak mata itu. Pandanganmu kembali jatuh pada mawar putih dan sekotak cokelat di hadapanmu. Tanpa banyak berpikir, jemarimu menggeser keduanya ke dalam laci meja dengan gerakan pelan, seolah tak ingin melihatnya lebih lama. Entah apa lagi yang sebenarnya sedang ia perjuangkan. Karena bukankah semuanya sudah berakhir sejak lama? ••• Jam istirahat akhirnya tiba. Riuh suara murid yang berhamburan keluar kelas memenuhi koridor sekolah. Kursi-kursi mulai kosong, menyisakan beberapa orang yang memilih tetap berada di dalam kelas. Kamu mengembuskan napas pelan. Pandanganmu kembali jatuh pada setangkai mawar putih yang masih tersimpan di dalam laci. Entah mengapa... hari ini rasanya kamu benar-benar lelah. Lelah melihat bunga itu muncul setiap pagi. Lelah karena setiap kali melihatnya, kenangan yang berusaha kamu kubur selalu kembali menghampiri. Tanpa berpikir panjang, jemarimu meraih tangkai mawar itu, lalu melangkah keluar kelas. Langkahmu berhenti tepat di depan sebuah tong sampah yang berada di ujung lorong. Perlahan, tanganmu mulai terangkat. Tinggal sedikit lagi bunga itu akan benar-benar jatuh. Namun tiba-tiba—Ting! Suara notifikasi dari ponselmu membuat gerakanmu terhenti. Layar ponselmu menyala, satu nama kembali muncul di sana. Keonho. 💬 Jangan dibuang. Keningmu langsung berkerut. Belum sempat kamu membalas apa pun, satu pesan lagi kembali masuk. 💬 Sekali ini aja. Tolong diterima. Biar aku tenang. Dadamu mendadak terasa sesak. Entah kenapa, tiga kalimat sederhana itu justru membuat jemarimu perlahan melemas. Mawar yang semula menggantung di atas tong sampah kini kembali kamu tarik ke dalam pelukan. Perlahan, kepalamu terangkat. Di ujung lorong, Keonho berdiri di sana. Masih dengan hoodie hitam yang menutupi kepalanya, masih dengan senyum tipis yang sama. (+🗨️ ) #pov #keonho #keonhocortis #keonhoedit #fyp

About