@stm.info: je te dis tous les secrets de mon réseau jusqu’à temps que mon boss s’en rende compte #metro #514 #fyp #tiktokquebec #montreal

stm.info
stm.info
Open In TikTok:
Region: CA
Wednesday 12 March 2025 15:52:50 GMT
15693
551
16
14

Music

Download

Comments

frnakly_speaking
frnakly_speaking :
Combien ça coûterait ajouter un système pour empêcher les gens de tomber sur les voies de métro?
2025-03-12 22:31:09
9
mister_jacki
Jacki boy 🏒 :
Il se passe quoi si je reste au terminus au dernier arrêt quand le métro va se ranger ?!
2025-03-18 01:45:47
0
jeynewman
Jey.Newman :
@stm.info le CCM
2025-03-14 09:12:30
0
abccdefghi2
abc :
🥰🥰🥰
2026-05-06 00:30:01
0
anqldowmlowie18389948kdk
. :
je peux avoir 1 mois opus gratuit please 🙏
2025-03-17 04:53:47
0
iris.nepthys
Iris Nepthys 🇨🇦 :
Qu'est ce qui se passe si quelqu'un reste dans un métro si c'est la fin de la ligne ?
2025-03-12 17:28:24
5
charles_lequebecois
Charles :
Comment est-ce qu’un nouveau train fini sous terre?
2025-03-12 22:01:28
4
scotwithone.t
Scot with one T :
Jdois trop aller dans les coulisses un jour omg
2025-03-13 16:28:59
1
To see more videos from user @stm.info, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Hari-hari setelah acara fakultas berjalan lebih tenang. Kehidupan kampus kembali seperti biasa, dan bagi Lena, kesederhanaan itu justru menyenangkan. Ia bisa menikmati waktu bersama Faye tanpa terburu-buru. Mereka bertemu di kelas, makan bersama, dan sesekali berjalan pulang setelah kuliah. Pagi itu, Lena berdiri di depan mesin minuman ketika Faye datang. “Kamu mau yang biasa?” Lena mengangguk. Faye mengambil minuman kesukaannya lalu membayar. “Aku bisa bayar sendiri.” “Aku tahu.” “Lalu kenapa kamu bayar?” “Karena aku mau.” Lena tersenyum. “Kamu semakin sering membuatku tidak bisa membantah.” “Berarti berhasil.” Mereka berjalan menuju kelas. Kali ini Lena yang lebih dulu meraih tangan Faye. Faye menoleh. “Jangan lihat aku begitu,” kata Lena. “Aku tidak melakukan apa-apa.” “Wajahmu sudah mengatakan banyak.” Faye tertawa kecil. Mereka masuk kelas dengan tangan masih saling menggenggam. Orm langsung menyadarinya. “Kalian semakin sering pegangan tangan.” Lena buru-buru melepaskan tangannya. “Orm!” “Aku cuma mengamati.” Lingling menatapnya. “Kenapa kamu memperhatikan tangan orang?” “Karena menarik.” “Urus tanganmu sendiri.” Orm melihat Lingling. “Kalau begitu pegang tanganmu sendiri.” Lingling langsung diam. P’Charlotte tersenyum. “Kalian memang tidak pernah berubah.” “P’Charlotte!” Lena ikut tertawa. Miu yang baru masuk hanya tersenyum melihat keributan itu. Saat pelajaran berlangsung, Faye diam-diam mendorong sebuah permen ke arah Lena. “Untuk apa?” “Kamu suka.” “Terima kasih.” Perhatian sederhana itu membuat Lena tersenyum. Miu yang melihatnya kembali memusatkan perhatian pada buku. Ada sedikit rasa sakit, tetapi ia tidak ingin melawannya. Ia mulai memahami bahwa perhatian yang dulu ingin ia berikan kepada Lena sekarang sudah memiliki tempat lain. --- Saat makan siang, mereka berkumpul di kantin. Orm sibuk memilih makanan, Lingling mengomentari pilihannya, dan P’Charlotte beberapa kali membuat mereka tertawa. Miu juga ikut berbicara. Lena memperhatikannya. Dulu, percakapan dengan Miu selalu membuatnya berpikir terlalu banyak. Sekarang ia belajar membiarkan semuanya berjalan tanpa mencari arti tersembunyi. Setelah makan, Faye mengajak Lena duduk di taman kecil belakang fakultas. “Kamu capek?” “Sedikit.” “Jangan terlalu banyak berpikir.” Lena menatapnya. “Kamu tahu aku banyak berpikir?” “Kadang-kadang kelihatan.” Faye tersenyum. “Kamu hanya sering menyimpan sesuatu sendiri.” “Aku sedang belajar untuk tidak begitu.” “Pelan-pelan saja.” Lena menyandarkan kepala ke bahu Faye. “Aku suka kalau kamu bilang begitu.” “Kenapa?” “Karena kamu tidak pernah membuatku merasa harus punya semua jawaban sekarang.” Faye menggenggam tangannya. “Kamu memang tidak perlu.” Lena tersenyum. “Aku senang bersamamu.” “Aku juga.” --- Sore hari, hujan turun. Orm mengeluh karena lupa membawa payung. Lingling membuka payungnya. “Kamu bisa ikut.” Orm tersenyum. “Kamu sebenarnya perhatian.” “Kalau kamu tidak ikut, kamu akan mengeluh sampai hujan berhenti.” “Berarti kamu peduli.” “Jangan membuatku berubah pikiran.” P’Charlotte tertawa. Lena berjalan bersama Faye. Di bawah payung, mereka berjalan rapat. Tiba-tiba Faye berhenti. “Ada daun di rambutmu.” Ia mengambil daun kecil dari rambut Lena. Jarak mereka menjadi dekat. Lena langsung gugup. “Masih malu?” tanya Faye. “Sedikit.” “Padahal kita sudah pacaran.” “Itu tidak berarti aku tidak boleh malu.” Faye tertawa. Lena kemudian menggenggam lengan Faye. “Jangan menjauh.” Faye terdiam sesaat. “Aku tidak akan.” Mereka kembali berjalan. Malamnya, pesan dari Miu masuk. Terima kasih untuk hari ini. Rasanya menyenangkan bisa berbicara seperti dulu. Lena membalas. Kamu tetap temanku, Miu. Balasan datang. Aku tahu. Tak lama kemudian, pesan Faye masuk. Sudah sampai rumah? Lena tersenyum. Sudah. Kamu? Sudah. Istirahat, Lena. Iya. Selamat malam. Lena meletakkan ponselnya. Untuk pertama kalinya, dua hubungan yang berbeda itu tidak terasa seperti dua jalan yang saling bertabrakan. Faye adalah seseorang yang sedang ia pilih untuk berjalan bersamanya. #wlw #au #miunatsha #storytime #lenamiu
Hari-hari setelah acara fakultas berjalan lebih tenang. Kehidupan kampus kembali seperti biasa, dan bagi Lena, kesederhanaan itu justru menyenangkan. Ia bisa menikmati waktu bersama Faye tanpa terburu-buru. Mereka bertemu di kelas, makan bersama, dan sesekali berjalan pulang setelah kuliah. Pagi itu, Lena berdiri di depan mesin minuman ketika Faye datang. “Kamu mau yang biasa?” Lena mengangguk. Faye mengambil minuman kesukaannya lalu membayar. “Aku bisa bayar sendiri.” “Aku tahu.” “Lalu kenapa kamu bayar?” “Karena aku mau.” Lena tersenyum. “Kamu semakin sering membuatku tidak bisa membantah.” “Berarti berhasil.” Mereka berjalan menuju kelas. Kali ini Lena yang lebih dulu meraih tangan Faye. Faye menoleh. “Jangan lihat aku begitu,” kata Lena. “Aku tidak melakukan apa-apa.” “Wajahmu sudah mengatakan banyak.” Faye tertawa kecil. Mereka masuk kelas dengan tangan masih saling menggenggam. Orm langsung menyadarinya. “Kalian semakin sering pegangan tangan.” Lena buru-buru melepaskan tangannya. “Orm!” “Aku cuma mengamati.” Lingling menatapnya. “Kenapa kamu memperhatikan tangan orang?” “Karena menarik.” “Urus tanganmu sendiri.” Orm melihat Lingling. “Kalau begitu pegang tanganmu sendiri.” Lingling langsung diam. P’Charlotte tersenyum. “Kalian memang tidak pernah berubah.” “P’Charlotte!” Lena ikut tertawa. Miu yang baru masuk hanya tersenyum melihat keributan itu. Saat pelajaran berlangsung, Faye diam-diam mendorong sebuah permen ke arah Lena. “Untuk apa?” “Kamu suka.” “Terima kasih.” Perhatian sederhana itu membuat Lena tersenyum. Miu yang melihatnya kembali memusatkan perhatian pada buku. Ada sedikit rasa sakit, tetapi ia tidak ingin melawannya. Ia mulai memahami bahwa perhatian yang dulu ingin ia berikan kepada Lena sekarang sudah memiliki tempat lain. --- Saat makan siang, mereka berkumpul di kantin. Orm sibuk memilih makanan, Lingling mengomentari pilihannya, dan P’Charlotte beberapa kali membuat mereka tertawa. Miu juga ikut berbicara. Lena memperhatikannya. Dulu, percakapan dengan Miu selalu membuatnya berpikir terlalu banyak. Sekarang ia belajar membiarkan semuanya berjalan tanpa mencari arti tersembunyi. Setelah makan, Faye mengajak Lena duduk di taman kecil belakang fakultas. “Kamu capek?” “Sedikit.” “Jangan terlalu banyak berpikir.” Lena menatapnya. “Kamu tahu aku banyak berpikir?” “Kadang-kadang kelihatan.” Faye tersenyum. “Kamu hanya sering menyimpan sesuatu sendiri.” “Aku sedang belajar untuk tidak begitu.” “Pelan-pelan saja.” Lena menyandarkan kepala ke bahu Faye. “Aku suka kalau kamu bilang begitu.” “Kenapa?” “Karena kamu tidak pernah membuatku merasa harus punya semua jawaban sekarang.” Faye menggenggam tangannya. “Kamu memang tidak perlu.” Lena tersenyum. “Aku senang bersamamu.” “Aku juga.” --- Sore hari, hujan turun. Orm mengeluh karena lupa membawa payung. Lingling membuka payungnya. “Kamu bisa ikut.” Orm tersenyum. “Kamu sebenarnya perhatian.” “Kalau kamu tidak ikut, kamu akan mengeluh sampai hujan berhenti.” “Berarti kamu peduli.” “Jangan membuatku berubah pikiran.” P’Charlotte tertawa. Lena berjalan bersama Faye. Di bawah payung, mereka berjalan rapat. Tiba-tiba Faye berhenti. “Ada daun di rambutmu.” Ia mengambil daun kecil dari rambut Lena. Jarak mereka menjadi dekat. Lena langsung gugup. “Masih malu?” tanya Faye. “Sedikit.” “Padahal kita sudah pacaran.” “Itu tidak berarti aku tidak boleh malu.” Faye tertawa. Lena kemudian menggenggam lengan Faye. “Jangan menjauh.” Faye terdiam sesaat. “Aku tidak akan.” Mereka kembali berjalan. Malamnya, pesan dari Miu masuk. Terima kasih untuk hari ini. Rasanya menyenangkan bisa berbicara seperti dulu. Lena membalas. Kamu tetap temanku, Miu. Balasan datang. Aku tahu. Tak lama kemudian, pesan Faye masuk. Sudah sampai rumah? Lena tersenyum. Sudah. Kamu? Sudah. Istirahat, Lena. Iya. Selamat malam. Lena meletakkan ponselnya. Untuk pertama kalinya, dua hubungan yang berbeda itu tidak terasa seperti dua jalan yang saling bertabrakan. Faye adalah seseorang yang sedang ia pilih untuk berjalan bersamanya. #wlw #au #miunatsha #storytime #lenamiu

About