@josebamba88: #couplegoals # #pourtoi #vancouver #tik_tok #togolais228🇹🇬 #africa

JSB
JSB
Open In TikTok:
Region: TG
Friday 21 March 2025 20:25:13 GMT
18795
1653
3
8

Music

Download

Comments

user70693421100817
user +256769022191 :
hi salut
2025-10-28 21:25:15
0
jean.diouf32
Jean Diouf :
🥰🥰🥰
2025-12-07 13:33:46
0
jean.diouf32
Jean Diouf :
❤️❤️❤️
2025-12-07 13:33:47
0
To see more videos from user @josebamba88, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Jika piringan hitam master buatan pria Tionghoa ini gagal diselundupkan dari kejaran intelijen musuh, kita mungkin tidak akan pernah mendengar suara asli lagu Indonesia Raya hari ini. Tidak banyak yang tahu, siapa sosok nekat dibalik aksi ini. Beliau bukan pejuang di medan fisik, melainkan seorang pengusaha rekaman piringan hitam yang mendedikasikan hidupnya demi menyelamatkan lagu kebangsaan kita. Namanya Yo Kim Tjan yang juga dikenal dengan nama Johan Kertayasa. Di era pergerakan nasional, ketika otoritas masa itu berupaya keras membatasi peredaran simbol kemerdekaan, sosok inilah yang berdiri di garda terdepan untuk menjaga aset paling berharga milik Republik Indonesia. Lahir pada tahun 1899 di Garut, Jawa Barat, Yo Kim Tjan tumbuh dalam keluarga Peranakan Tionghoa Sunda yang mapan dari pasangan Yo Sin Seng dan Sim Pipi Nio. Sejak muda, ia menempuh pendidikan modern yang membuatnya sangat lihai dalam mengelola bisnis kebudayaan. Memasuki era 1920-an di Batavia, ia sukses mendirikan studio rekaman piringan hitam. Berkat bisnis seni inilah, ia menjalin persahabatan yang sangat erat dengan musisi idealis, Wage Rudolf Soepratman. Pada tahun 1927, setahun sebelum fajar Sumpah Pemuda menyingsing, W.R. Soepratman dilanda kecemasan karena lagu ciptaannya,
Jika piringan hitam master buatan pria Tionghoa ini gagal diselundupkan dari kejaran intelijen musuh, kita mungkin tidak akan pernah mendengar suara asli lagu Indonesia Raya hari ini. Tidak banyak yang tahu, siapa sosok nekat dibalik aksi ini. Beliau bukan pejuang di medan fisik, melainkan seorang pengusaha rekaman piringan hitam yang mendedikasikan hidupnya demi menyelamatkan lagu kebangsaan kita. Namanya Yo Kim Tjan yang juga dikenal dengan nama Johan Kertayasa. Di era pergerakan nasional, ketika otoritas masa itu berupaya keras membatasi peredaran simbol kemerdekaan, sosok inilah yang berdiri di garda terdepan untuk menjaga aset paling berharga milik Republik Indonesia. Lahir pada tahun 1899 di Garut, Jawa Barat, Yo Kim Tjan tumbuh dalam keluarga Peranakan Tionghoa Sunda yang mapan dari pasangan Yo Sin Seng dan Sim Pipi Nio. Sejak muda, ia menempuh pendidikan modern yang membuatnya sangat lihai dalam mengelola bisnis kebudayaan. Memasuki era 1920-an di Batavia, ia sukses mendirikan studio rekaman piringan hitam. Berkat bisnis seni inilah, ia menjalin persahabatan yang sangat erat dengan musisi idealis, Wage Rudolf Soepratman. Pada tahun 1927, setahun sebelum fajar Sumpah Pemuda menyingsing, W.R. Soepratman dilanda kecemasan karena lagu ciptaannya, "Indonesia Raya," berisiko dilenyapkan. Banyak pihak menolak mendokumentasikan lagu tersebut karena khawatir akan konsekuensinya. Di titik krusial inilah, Yo Kim Tjan menunjukkan dedikasi besarnya. Ia secara rahasia merekam lagu kebangsaan tersebut langsung di kediamannya di Gunung Sahari menggunakan teknologi piringan hitam. Yo Kim Tjan membagi rekaman itu menjadi dua versi legendaris: versi instrumental biola asli yang digesek langsung oleh W.R. Soepratman, dan versi vokal aransemen keroncong yang dikirim ke luar negeri untuk digandakan. Ketika salinan yang beredar mulai dibatasi secara ketat, master piringan hitam paling orisinal diselamatkan dengan sangat rapi di tempat tersembunyi di bawah rumahnya. Ketegangan mencapai puncaknya pada tahun 1942 saat situasi darurat melanda Nusantara. Yo Kim Tjan mengambil keputusan besar dengan memercayakan tugas sakral ini kepada putri sulungnya yang masih sangat muda, Kartika. Yo Kim Tjan memberikan amanah tegas agar Kartika menjaga rahasia besar tersebut dengan segenap jiwa demi masa depan Indonesia Merdeka. Gadis muda bernama Kartika itu memeluk map berisi piringan hitam master negara tersebut erat-erat. Ia membawanya ikut mengungsi, berjalan kaki menembus rute-rute yang sulit, naik-turun gunung dari Karawang hingga kembali ke Garut demi mengelabui pengawasan ketat di jalan raya. Berkat keberanian ayah dan anak ini, lagu kebangsaan kita selamat melewati era transisi besar dunia. Pada tahun 1957, setelah Indonesia berdiri tegak, Yo Kim Tjan memenuhi janjinya dengan menyerahkan salinan berharga itu kepada Djawatan Kebudayaan Republik Indonesia agar bisa dirawat selamanya oleh negara. Sang tokoh pemberani akhirnya menghembuskan napas terakhirnya pada tahun 1968 di Jakarta karena faktor usia dan dimakamkan dengan damai di tanah Jawa Barat. Sementara putrinya, Ibu Kartika, menuntaskan seluruh amanah ayahnya hingga akhir hayatnya pada tahun 2014. Pada Juli 2025, ahli waris keluarga Yo Kim Tjan secara resmi menghibahkan alat pemutar piringan hitam (gramofon) asli milik Yo Kim Tjan kepada Museum Sumpah Pemuda di Jakarta. Yo Kim Tjan dan Kartika telah lama beristirahat, namun setiap kali lagu "Indonesia Raya" berkumandang membakar semangat kita di hari kemerdekaan, ketahuilah bahwa di dalam setiap nadanya mengalir darah, keberanian, dan kesetiaan tanpa batas dari sebuah keluarga Peranakan untuk ibu pertiwi. . #YoKimTjan #sejarahindonesia #IndonesiaRaya #SejarahPeranakan #kangkuchel

About