@jonzkk: jump combo + flick + emote - sopa, bw, fps #Minecraft #wtap #stap #pvp #combo

Jonzk
Jonzk
Open In TikTok:
Region: BR
Sunday 13 April 2025 20:00:00 GMT
186475
9989
316
671

Music

Download

Comments

1s_sstir
ones :
12k fps (keep sprint?)
2025-04-13 20:08:20
73
emily13778
EMILY13 :
his ping=my FPS his FPS= my ping 😊
2025-05-26 09:59:13
10
ggjarik
Ggjarik :
у меня Пинг как его фпс, а фпс как его пинг
2025-04-19 08:46:19
94
benthesalmondog
benthesalmondog :
Reposting before heeph
2025-04-14 00:28:08
5
bylxpe
ˡᶦᵖᵉᵉ メ :
Jonnnn, vem pro meu Clan?? ( Chelsea ) !!!
2025-04-13 21:43:39
4
black_white0980
Black_White0980 :
qual nome do emote?
2025-06-09 15:17:06
0
jhonyperigoso_
jhonyperigoso :
qual resolução?
2025-04-23 23:34:18
0
minhc4885
Str4z :
your fps = my ping your ping = my fps
2025-04-15 04:50:35
6
alejandro.gamn0
•𝓐𝓵𝓮𝓳𝓪𝓷𝓭𝓻𝓸• :
7 de ping💀 yo no bajo de 100😔
2025-04-15 16:54:58
5
solargod99
Forgotten :
ceify le gana😈
2025-04-15 15:00:23
4
svatoy4337
♱svatoy♱ :
на сервере живет
2025-04-14 05:19:44
24
zhdlz1275
zhzz :
fps ảo🤣
2025-04-15 06:25:19
0
ghostcod562
Ghost :
не дай бог такой игрок в бедварсе попадется
2025-05-02 21:30:19
6
keldom13
keldom13 :
контра: лук
2025-05-17 04:04:30
1
sigma2828383
Иван калыван :
Хитбоксы спалил
2025-04-30 18:41:56
11
m1xtral
M1xtraL :
побеждает только ради фпс и интернета
2025-05-11 09:50:57
4
doki.yeban
из жалости :
у меня пинг максимум 20
2025-10-31 11:25:09
0
pubg_anime020318
xx_Anya_xx :
Так это софт по ему удары не проходят
2025-05-16 19:43:32
0
streyez
strey :
7 MS? eu jogo a 200 🙄
2025-04-14 14:09:33
3
enwkrr
𝙀𝙣𝙫𝙚𝙧 :
bro is have 3 hands
2025-04-15 15:39:54
1
thedays_01
crzy_dude :
minecraft in the big 25 💔
2025-04-14 13:06:33
0
ey1q__
ey1q :
pulei dançando
2025-06-23 15:58:23
1
cclarke223
cclarke223 :
All this to get humbled by b2tryhard
2025-05-14 08:56:35
2
user737170510
user737170510 :
7ms is crazy I’m like 55ms on Nintendo
2025-04-26 23:32:50
3
asdzmxckilzcxs_96084
asdzmxckilzsndbwbemqbrvwb :
What res??
2025-04-18 21:07:17
0
To see more videos from user @jonzkk, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Than a Red Flag. (Part 5) Beberapa hari setelah pindahan mereka ke unit apartemen yang baru, hari-hari berjalan seperti biasa. Kehidupan yang baru lambat laun mulai terbentuk. Y/N tetap menjadi mahasiswi yang teliti, sibuk dengan tumpukan jurnal keuangan dan jadwal kuliah yang padat. Sementara james, dengan segala upaya kerasnya, mencoba menepati janji-janjinya.  Cowok itu benar-benar bangun pagi, menahan kantuk di baris depan kelas pak vincent, dan menahan diri untuk tidak membalas provokasi dari anak-anak lainnya yang kerap mencarinya untuk sekadar memicu keributan. Namun, sifat dasar seorang James tidak bisa diubah dalam semalam. Jiwa berandalnya yang liar, yang terbiasa dengan kebebasan jalanan, knalpot bising, dan sebagainya, perlahan mulai merasa jenuh oleh rutinitas yang terlampau manis dan teratur. ••• Sore itu, sekitar pukul lima kurang lima belas menit, langit di atas area kampus berubah menjadi warna jingga pekat yang gerah. Angin sore bertiup malas, membawa debu-debu jalanan.  Setelah kelas praktikum yang membosankan selesai, James tidak langsung pulang ke apartemen. Ia berjalan beriringan dengan dua sahabat kentalnya, Martin dan Sean, menuju markas favorit mereka. Markas itu adalah sebuah bengkel modifikasi motor kecil yang terletak di gang sempit tepat di seberang gerbang luar fakultas tek. Bengkel itu dipenuhi dengan aroma oli pekat, bensin, ban karet yang terbakar matahari, dan puntung rokok yang berserakan. Sebuah radio tua di sudut bengkel memutar lagu rock dengan suara kresek-kresek. James langsung mengambil posisi duduk di atas tumpukan ban bekas di dekat pintu masuk.  Ia mengenakan kaos hitam polos tanpa lengan yang mengekspos otot lengan dan bahunya yang kokoh, sementara jaket kulit hitamnya digantungkan begitu saja di stang motor miliknya yang terparkir di dalam bengkel. Di depannya, Martin sedang bersandar santai pada kap sebuah mobil tua yang sedang setengah dibongkar mesinnya. Tangannya memegang sebotol air mineral yang sudah kosong, menggunakannya untuk mengetuk-ngetuk kap mesin besi itu berulang kali. Sementara itu, Sean duduk menyelonjorkan kakinya di atas sebuah kursi plastik hijau yang salah satu kakinya sudah diganjal kayu, sibuk menatap layar ponselnya yang retak di bagian sudut. Martin mengibaskan bagian depan kaos oblongnya yang basah oleh keringat, lalu menghapus bulir keringat di lehernya dengan kasar. Ia menatap ke arah Sean, lalu beralih menatap James yang sedang sibuk memutar-mutar korek api di sela-sela jarinya yang panjang.
POV: Than a Red Flag. (Part 5) Beberapa hari setelah pindahan mereka ke unit apartemen yang baru, hari-hari berjalan seperti biasa. Kehidupan yang baru lambat laun mulai terbentuk. Y/N tetap menjadi mahasiswi yang teliti, sibuk dengan tumpukan jurnal keuangan dan jadwal kuliah yang padat. Sementara james, dengan segala upaya kerasnya, mencoba menepati janji-janjinya. Cowok itu benar-benar bangun pagi, menahan kantuk di baris depan kelas pak vincent, dan menahan diri untuk tidak membalas provokasi dari anak-anak lainnya yang kerap mencarinya untuk sekadar memicu keributan. Namun, sifat dasar seorang James tidak bisa diubah dalam semalam. Jiwa berandalnya yang liar, yang terbiasa dengan kebebasan jalanan, knalpot bising, dan sebagainya, perlahan mulai merasa jenuh oleh rutinitas yang terlampau manis dan teratur. ••• Sore itu, sekitar pukul lima kurang lima belas menit, langit di atas area kampus berubah menjadi warna jingga pekat yang gerah. Angin sore bertiup malas, membawa debu-debu jalanan. Setelah kelas praktikum yang membosankan selesai, James tidak langsung pulang ke apartemen. Ia berjalan beriringan dengan dua sahabat kentalnya, Martin dan Sean, menuju markas favorit mereka. Markas itu adalah sebuah bengkel modifikasi motor kecil yang terletak di gang sempit tepat di seberang gerbang luar fakultas tek. Bengkel itu dipenuhi dengan aroma oli pekat, bensin, ban karet yang terbakar matahari, dan puntung rokok yang berserakan. Sebuah radio tua di sudut bengkel memutar lagu rock dengan suara kresek-kresek. James langsung mengambil posisi duduk di atas tumpukan ban bekas di dekat pintu masuk. Ia mengenakan kaos hitam polos tanpa lengan yang mengekspos otot lengan dan bahunya yang kokoh, sementara jaket kulit hitamnya digantungkan begitu saja di stang motor miliknya yang terparkir di dalam bengkel. Di depannya, Martin sedang bersandar santai pada kap sebuah mobil tua yang sedang setengah dibongkar mesinnya. Tangannya memegang sebotol air mineral yang sudah kosong, menggunakannya untuk mengetuk-ngetuk kap mesin besi itu berulang kali. Sementara itu, Sean duduk menyelonjorkan kakinya di atas sebuah kursi plastik hijau yang salah satu kakinya sudah diganjal kayu, sibuk menatap layar ponselnya yang retak di bagian sudut. Martin mengibaskan bagian depan kaos oblongnya yang basah oleh keringat, lalu menghapus bulir keringat di lehernya dengan kasar. Ia menatap ke arah Sean, lalu beralih menatap James yang sedang sibuk memutar-mutar korek api di sela-sela jarinya yang panjang. "Bro, ayo ntar malem kita nongkrong di bar aja," ucap Martin memecah keheningan, suaranya sedikit serak karena hawa gerah sore itu. Sean tidak langsung menjawab. Ia hanya menurunkan ponselnya beberapa sentimeter, mengintip dari balik layar dengan dahi berkerut dalam. "Hah? Tiba-tiba amat lo, Tin? Angin dari mana nih? Gak ada hujan gak ada badai, ngajak ke bar." "Sekali-kali lah, udah lama juga nggak minum-minum," ajak Martin kepada James dan Sean. Martin memukul kap mobil di belakangnya hingga menimbulkan suara dentang yang cukup keras. "Gue butuh refreshing, Otak gue rasanya mau meledak gara-gara tugas kalkulus si botak tadi siang. Asli, mumet banget gue. Gimana? Gas gak?" Sean menghela napas panjang, menaruh ponselnya di atas paha lalu menyandarkan punggungnya ke kursi plastik yang langsung berderit ngeri. "Ayo aja sih gue mah, tapi gue nggak bisa minum anjir, lu kaga inget apa? gue terakhir minum muntah-muntah gitu." Sean bergidik ngeri, wajahnya mendadak pucat mengingat kejadian tiga bulan lalu di mana ia berakhir pingsan sambil memeluk kloset toilet bar hingga subuh dan harus digotong oleh James. Martin terbahak-bahak mendengar pengakuan jujur Sean. Ia mengambil kotak rokok kosong dari atas meja kerja bengkel lalu melemparkannya tepat ke arah dada Sean. "Hahaha! Itu mah lunya aja yang lemah, Sean! Makanya latihan!" Martin kemudian memutar tubuhnya, menatap penuh ke arah cowok bertubuh bongsor yang duduk di atas ban bekas sejak tadi. (lanjut dikomen) ⚠JUST POV⚠ #POV #JAMES

About