@umkendallspamzz:

kendall 🌞
kendall 🌞
Open In TikTok:
Region: US
Wednesday 23 April 2025 17:30:18 GMT
1233
96
4
1

Music

Download

Comments

mariano1495
al3xis :
very beautiful princess 🥰🥰🥰
2025-04-27 17:09:45
0
mel.costello
mel :
🍅
2025-04-24 02:32:47
0
adrianna_taylor12
Adrianna :
kendi girl
2025-04-23 18:53:47
1
To see more videos from user @umkendallspamzz, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Hari itu kepalamu terasa seperti mau pecah. Bukan karena rumus atau teori di skripsi yang membuat otakmu seperti diaduk-aduk, tapi karena satu alasan klasik yaitu dosen pembimbing satu—alias dosbing 1 lagi-lagi menghilang entah ke mana. Hilang seperti mantan toxic yang tiba-tiba pergi tanpa penjelasan. Chat nggak dibalas, email nggak dibaca, bahkan muncul di kampus pun tidak. Sementara dosbing 2? Oh, beliau ada... tapi pergi ke luar negeri. Katanya sedang ada urusan kerja sama antaruniversitas. Jadi ya, mau tidak mau, kamu seperti anak hilang di tengah samudra literatur, terapung sendirian di antara tumpukan revisi dan bab yang masih bolong-bolong. Sore itu, kamu duduk di tangga gedung F, tempat yang biasanya dipakai mahasiswa untuk sekedar nongkrong atau menunggu jam kuliah. Matahari mulai turun, memberi warna oranye lembut di langit kampus. Laptop ada di pangkuanmu, layarnya masih menampilkan draft skripsi yang penuh coretan merah. Kelopak matamu berat, sisa-sisa air mata tadi siang masih terasa mengganjal di ujung mata. Kamu sudah menangis lagi, karena rasanya semua usaha yang kamu lakukan berakhir di jalan buntu. Semua bab sudah kamu perbaiki sesuai instruksi terakhir, tapi kalau dosbing nggak bisa dihubungi, mau bagaimana? Angin sore meniup rambutmu pelan. Kamu menghela napas panjang, menatap halaman pembuka skripsi yang sudah kamu hapal luar kepala. Di sudut, kursor berkedip-kedip seperti sedang mengejek.
POV: Hari itu kepalamu terasa seperti mau pecah. Bukan karena rumus atau teori di skripsi yang membuat otakmu seperti diaduk-aduk, tapi karena satu alasan klasik yaitu dosen pembimbing satu—alias dosbing 1 lagi-lagi menghilang entah ke mana. Hilang seperti mantan toxic yang tiba-tiba pergi tanpa penjelasan. Chat nggak dibalas, email nggak dibaca, bahkan muncul di kampus pun tidak. Sementara dosbing 2? Oh, beliau ada... tapi pergi ke luar negeri. Katanya sedang ada urusan kerja sama antaruniversitas. Jadi ya, mau tidak mau, kamu seperti anak hilang di tengah samudra literatur, terapung sendirian di antara tumpukan revisi dan bab yang masih bolong-bolong. Sore itu, kamu duduk di tangga gedung F, tempat yang biasanya dipakai mahasiswa untuk sekedar nongkrong atau menunggu jam kuliah. Matahari mulai turun, memberi warna oranye lembut di langit kampus. Laptop ada di pangkuanmu, layarnya masih menampilkan draft skripsi yang penuh coretan merah. Kelopak matamu berat, sisa-sisa air mata tadi siang masih terasa mengganjal di ujung mata. Kamu sudah menangis lagi, karena rasanya semua usaha yang kamu lakukan berakhir di jalan buntu. Semua bab sudah kamu perbaiki sesuai instruksi terakhir, tapi kalau dosbing nggak bisa dihubungi, mau bagaimana? Angin sore meniup rambutmu pelan. Kamu menghela napas panjang, menatap halaman pembuka skripsi yang sudah kamu hapal luar kepala. Di sudut, kursor berkedip-kedip seperti sedang mengejek. "Kenapa sih nasib gue begini banget..." gumammu pelan, suaramu nyaris kalah oleh suara motor mahasiswa yang sedang lalu-lalang di parkiran. Kamu bersandar ke tembok dingin, membiarkan kepala terhantuk pelan. Rasanya ingin menghilang saja dari semua ini, atau setidaknya, ada yang datang dan bilang, “Tenang, sini aku bantu.” Tapi ya, harapan itu hanya berakhir di kepalamu. Dunia nyata tetap berjalan, dan kamu masih di sini, di tangga gedung F, bersama skripsi yang belum tahu nasibnya akan seperti apa. Besok paginya, kamu memutuskan untuk nekat. Tujuan haya satu, mencari dosbing 1 di ruang dosen. Kemungkinan berhasil? Lebih kecil daripada kemungkinan menemukan kucing yang bisa berbicara bahasa manusia. Tapi, seperti kata pepatah mahasiswa semester akhir, “Kalau nggak dicoba, nggak akan lulus-lulus.” Jadi, dengan napas ditarik panjang, kamu melangkah menuju ruangan itu. Bau khas pendingin ruangan bercampur aroma kopi menyambut begitu pintu kayu itu kamu ketuk pelan. “Permisi, Pak... Bu... ada—” Kalimatmu mendadak terhenti. Bukan karena ada yang menyuruh diam, tapi karena pandanganmu tertarik pada satu sosok di meja paling pojok. Kemeja putihnya rapi, lengan tergulung sampai siku, memperlihatkan pergelangan tangan dengan jam hitam simpel. Rambut hitamnya sedikit berantakan, seolah baru disibak dengan tangan. Tapi entah kenapa, itu justru membuat dia seperti, astaga pangeran dari kerajaan mana ini? Pak Wonwoo. Dosen pembimbing keduamu, sekaligus Kaprodi yang selalu terlihat tenang dan ramah. Begitu tatapan kalian bertemu, dia menutup laptop perlahan lalu berdiri. Langkahnya tenang, suara sepatunya nyaris tak terdengar di lantai. “Oh... kamu mahasiswa saya, kan? Yang bimbingannya sama saya dan Pak Arif?” tanyanya dengan sedikit menunduk untuk memastikan. Suara rendahnya cukup membuat kamu lupa harus menjawab apa. “I-iya, Pak,” ucapmu gugup. Bahkan rasanya telingamu panas sendiri. “Lho, saya baru balik semalam, loh. Kok nggak kirim email? Kalau perlu bimbingan, ya ayo sekarang,” katanya santai, bibirnya melengkung tipis. Astaga. Satu senyum itu saja sudah cukup membangkitkan semangat skripsimu yang selama ini koma. Rasanya seperti ada dokter tampan yang bilang, “Tenang, pasien, kamu masih bisa sembuh.” Kamu hanya bisa mengangguk cepat. “Iya, Pak... siap, Pak.” Dan tanpa sadar, kamu mulai melangkah mengikutinya ke meja, dengan berusaha keras mengendalikan jantung yang degupnya sudah seperti lagu EDM. (lanjutannya di komen sengku) #pov #seventeen #wonwoo #alternativeuniverse #seventeenaurecommendation

About