Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
API
Home
How To Use
Language
English
عربي
Tiếng Việt
русский
français
español
日本語
한글
Deutsch
हिन्दी
简体中文
繁體中文
Home
Detail
@pondsph: POV you look so radiant you're distracting yourself 🤭 Who else can relate? 🙋🏻♀️#PondsPh #MiraclesHappen #HexylRetinol #GlowUp #skincare #mirror
Pond’s PH
Open In TikTok:
Region: PH
Sunday 08 June 2025 09:02:50 GMT
295407
92
4
13
Music
Download
No Watermark .mp4 (
0.94MB
)
No Watermark(HD) .mp4 (
0.89MB
)
Watermark .mp4 (
0.94MB
)
Music .mp3
Comments
A pria acak :
hello
2025-06-23 07:36:17
0
Justine Lao🍒 :
❤
2025-06-23 12:57:30
0
Maf Maf is ALWAYS hungry :
🙂
2025-06-23 06:30:27
0
AndrsGodZ :
🥰🥰🥰
2025-08-08 02:04:47
0
To see more videos from user @pondsph, please go to the Tikwm homepage.
Other Videos
#рекомендации #CapCut #🔥❤️🥰
“Kok nggak masak sayur atau lauk? Cuma nasi aja?” tanya Mas Bagus. Kutarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tiga hari ini dia tak memberiku uang belanja, dan aku memang sengaja diam. Mulut ini hanya akan bicara kalau ditanya. “Uangnya habis,” jawabku singkat. Kening Mas Bagus langsung berkerut. “Uang habis? Kenapa kamu nggak minta? Kamu diam saja, aku pikir uangmu masih,” ujarnya. Selama ini aku memang selalu minta uang belanja, rasanya seperti ngemis. Padahal setahuku, tanpa diminta pun, memberi nafkah adalah kewajiban suami. “Percuma juga kan aku minta?” jawabku datar. “Kamu kenapa, sih, Dek? Semakin hari kok semakin cuek dan diam?” tanyanya lagi. Aku hanya mencibir. “Nggak ada,” sahutku sambil merapikan rambut Halwa yang tertiup angin. “Dek, kamu berubah sekarang. Bukan Indah yang aku kenal dulu, yang ceria dan banyak bicara,” kata Mas Bagus. “Perasaan Mas aja,” jawabku enteng. “Dek, kamu kenapa? Kenapa nggak minta uang kalau uangmu habis? Bukankah aku selalu ngasih kalau kamu minta?” Kuciumi pipi Halwa. Aku pasang wajah cuek, karena percuma kalau aku terlalu emosional, hanya buang-buang tenaga. “Dek! Aku ini lagi ngomong sama kamu!” sentaknya. Kutoleh dan menatapnya. “Harusnya tanpa aku minta, kamu sudah kasih uang belanja. Itu tanggung jawabmu! Rezeki yang kamu punya juga ada hakku!” ucapku tegas, lalu beranjak pergi menggandeng Halwa. “Apa maksudmu ngomong kayak gitu? Kamu itu kenapa?” sergah Mas Bagus, mengejarku. “Nggak usah teriak! Telingaku masih normal!” bentakku. Dia makin bingung. Aku terus melangkah ke teras belakang. Halwa masih kugandeng. Aku tahu, dalam situasi seperti ini, Halwa harus dijauhkan. “Nak, main sendiri dulu, ya! Ambil bonekamu di kamar,” pintaku lembut. “Ya, Ma!” jawab Halwa lugu, lalu berlari kecil ke dalam rumah. Mas Bagus masih mengikutiku. “Dek, jelaskan padaku. Kamu kenapa?” “Aku kenapa? Menurutmu kenapa?” tanyaku santai, padahal dadaku sudah seperti gunung meletus. “Dek, aku capek kerja! Pulang malah diajak ribut. Nggak ada makanan pula! Kamu ngapain aja di rumah?” “Terus kamu pikir aku nggak capek?” “Kamu capek ngapain? Cuma urus rumah yang kecil. Nggak mikir cari duit, tinggal minta aja, apa capeknya?” “Kalau gitu, yuk kita tukar posisi! Aku ke toko material, kamu di rumah, bersih-bersih dan ngurus Halwa. Gimana?” tantangku. Mas Bagus tampak tak percaya. Ya Allah, aku menyesal dulu keluar kerja. Masuk bank swasta itu tidak mudah, tapi demi suami, demi ingin jadi istri sholihah, aku lepas semuanya. Dulu, aku tak pernah kekurangan. Rekeningku tak pernah kosong. Sekarang? Nafkah dari Mas Bagus tak sebanding dengan gaji bank dulu. Dan rekeningku? Nol. Padahal gaji Mas Bagus cukup, tapi dia terlalu menggenggam. Pelit untuk anak-istri, tapi royal buat saudara atau orang luar. Demi pujian. Kalau aku yang memuji? Nggak ngaruh. “Kamu ini kenapa sih? Habis mimpi buruk?” ejeknya. “Aku sadar sesadar-sadarnya dengan apa yang kuucapkan!” sahutku. “Sudahlah! Aku nggak mau debat! Nih uang, masak! Aku lapar!” Dia lempar selembar uang biru ke meja. Kutatap sinis uang itu. Belum kuambil. “Kok diam? Ambil uangnya!” bentaknya lagi. “Tiga hari kamu nggak ngasih uang. Sekarang cuma lima puluh ribu? Sana belanja sendiri! Aku tinggal masak!” ucapku, lalu pergi. “Dek, kok kamu makin perhitungan?” tanya Mas Bagus, menyusulku. Kebetulan dia ikut, aku bawa ke dapur. Kompor kuhidupkan. Mati. “Lihat! Gas habis. Minyak habis. Cabe tinggal beberapa biji. Bawang merah habis. Gula habis. Belanjakan lima puluh ribumu itu buat semua kebutuhan dapur. Aku tinggal masak!” ucapku lalu keluar. Tadi aku dan Halwa makan telur ceplok satu butir berdua. Masaknya pun numpang di rumah tetangga, karena gas habis dan motor dibawa Mas Bagus. Meski kesal, aku tetap jaga aib suamiku di depan orang. Cukup aku saja yang tahu. Kuusap wajah. Kembali ke dapur. Mas Bagus masih di sana, memeriksa dapur. “Gimana, Mas? Mau tukar posisi?” ⸻2 Tamat di KBM app dan telegram berbayar 35k. Minat hub Mimin 0821 7974 1045 Judul: Diamnya Aku Penulis: Naimatun_Niqmah
Đi chơi vào những ngày không khí cuối năm làm mình nôn nao thiệc á chứ #Toibanh #outfit #outfitideas #phoido #phoidoxinh
#creatorsearchinsights تحميل لعبة الحرب في شوارع البراويل تلعبها مع اصحابك #fyp #games #العاب #gaming
#kerusicamping #kerusilipat #kerusihealing #fyp #natikakongsi
About
Robot
API
Legal
Privacy Policy