@a.dd339:

Ahmed
Ahmed
Open In TikTok:
Region: SA
Wednesday 18 June 2025 23:32:22 GMT
92872
1033
17
913

Music

Download

Comments

saud_alzahrani07
Saud :
سيفٍ بريقه باللعب بين الصفوف وسيفٍ صليله بالوغي يدوي دوي 👌
2025-06-21 14:37:32
5
_ebrahim__6
EBRAHIM-AHMED :
وما كل سيف يابعد عيني يقطع
2025-06-19 19:28:17
3
a.y_47
يہاسہميہن :
انا اشهد 👍👍ذؤؤؤؤؤؤؤق وابداااااااااااع اهنيك على الذوق الفخم إكسبلورر إكسبلورر إكسبلورر إكسبلورر إكسبلورر إكسبلورر
2025-06-19 07:43:40
2
amasialbader
N♎️ :
وان تجردت تلك السيوف ووجهت رؤوسها إلى صدري هنا اقم العزاء لنفسك اولاً ثم إلى صدرك الذي لم يقوى على صدها لانه كان يحتويهم 😔💔😔
2025-06-22 00:32:28
1
user9262133191282
ي :
الله الله
2025-06-21 15:25:54
1
hassan.8897
hassan 88 :
التيك خطير قاعد اشرب شاي بنفس هالكوب الان 😂😂😂
2025-06-23 14:41:35
1
xes2xzs2
غزل العتيبي :
انشهد مهو كل صديق سيف وقت الشده 🌹🌹🌹🌹
2025-06-19 14:00:29
3
fatmaal942
مبسم الغيم 🤍 :
اي والله صحيح
2025-06-20 10:39:18
1
noufe712
noufe712 :
😌😌😌
2025-08-27 00:54:01
1
al_hashemi14
راقي بأخلاقي ❤️T🫧H :
👍👍👍👍👍👍
2025-06-19 12:42:00
2
hasaon1994
Hassan :
👏👏👏
2025-06-18 23:39:02
2
fofo09222
٠ :
ولا ننسى قد تجد سيفا أو سيوفاً خلقت للزينه والمظهر فقط
2025-06-20 07:38:49
1
To see more videos from user @a.dd339, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

POV: Malam itu, hujan sudah reda. Udara terasa dingin, dan aroma tanah basah merayap lewat jendela kamar. Lampu tidur berwarna kuning temaram, memberikan cahaya hangat di sudut ruangan. Kamu berbaring di tempat tidur, memeluk Ryan yang meringkuk di pelukanmu. Tangannya masih memegang dinosaurus hijau kesayangannya, seperti tak mau lepas. “Bunda…” suaranya pelan. “Iya, Sayang?” “Kalau Papah beneran sayang sama Ryan… kenapa nggak dari dulu?” Kamu menarik napas dalam, berusaha mencari kata-kata yang bisa dimengerti anak seusia Ryan. “Kadang, orang dewasa itu bikin keputusan yang salah, Nak. Papah juga manusia… dia bisa salah. Tapi yang penting, sekarang dia mau memperbaiki semuanya.” Ryan diam. Matanya menatap kosong ke arah dinding. Kamu mengusap rambutnya. “Harusnya anak sekecil kamu belum perlu tahu hal seperti ini… tapi Bunda mau kamu ngerti, kalau Papah nggak pernah benci atau ninggalin kamu karena nggak mau. Dia nggak tahu… kalau kamu udah ada di perut Bunda waktu itu.” Butuh beberapa menit sebelum Ryan mengangguk pelan. “Ryan ngerti… tapi di sini…” Ia menunjuk dadanya. “…masih sakit.” Kamu tersenyum lembut dan memeluknya lebih erat. “Nggak apa-apa. Rasa sakit itu akan pelan-pelan hilang. Bunda sama Papah bakal ada di sini, nemenin kamu sampai rasa itu nggak ada lagi.” Malam itu, kalian tertidur sambil berpelukan, ditemani suara hujan yang tersisa di kejauhan. Hari-hari berikutnya berjalan berbeda. Ryan mulai mau duduk di dekat Mingyu saat makan, meski wajahnya tetap datar. Kadang dia pura-pura nggak dengar saat Mingyu memanggil, tapi diam-diam memperhatikan kalau Mingyu sedang bercerita. Pagi-pagi, Mingyu kadang mengantar Ryan ke sekolah. Ryan cuma berkata singkat, “Thanks,” tanpa menatap, tapi di balik sikap juteknya, ada sedikit senyum yang cepat-cepat ia sembunyikan. Kamu melihat semua perubahan itu. Mingyu juga melihatnya. Ia tak pernah memaksa, tapi selalu ada. Membawa mainan kecil, makanan kesukaan Ryan, atau sekadar duduk di sofa menonton acara yang sama. Sore itu, setelah Ryan tidur siang, Mingyu mendekat padamu di dapur. “Terima kasih… udah kasih aku kesempatan lagi,” ucapnya pelan. Kamu tersenyum, menatapnya sambil mengaduk teh. “Aku maafin kamu… bukan karena lupa masa lalu. Tapi karena aku mau kita punya masa depan yang lebih baik.” Mingyu memegang tanganmu, genggamannya hangat. “Aku janji… aku nggak akan pernah pergi lagi. Sekarang aku mau ada di sini, bukan cuma jadi tamu… tapi jadi bagian keluarga ini.” Kalian berdiri di dapur yang sederhana itu, saling menatap dalam diam. Tidak ada janji manis berlebihan, hanya kesungguhan yang terasa di hati. Di ruang tengah, Ryan mulai terbangun dan memanggil pelan. Mingyu tersenyum dan langsung berjalan menghampirinya. Dan untuk pertama kalinya, Ryan membalas dengan senyum kecil… walau hanya sebentar. Itu sudah cukup. Awal dari keluarga yang pelan-pelan kembali utuh. Pagi itu, udara Sabtu terasa segar sekali. Matahari baru saja muncul dari balik pepohonan, sinarnya lembut memantul di dedaunan basah oleh embun. Mingyu sudah datang sejak pagi dengan mobilnya, bagasi penuh dengan keranjang piknik, tikar besar, dan aneka makanan yang ia siapkan sendiri. Ia tersenyum lebar saat melihat kamu dan Ryan keluar dari rumah. Ryan berjalan di sebelahmu, kaos biru muda dan celana jeans pendeknya sambil memegang boneka dinosaurus kecil membuatnya terlihat menggemaskan. Tapi wajahnya tetap datar, sesekali melirik Mingyu lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan, pura-pura fokus melihat tanah. “Ayo naik, sayang,” ucap Mingyu sambil membukakan pintu mobil untuk Ryan. “Jangan panggil aku sayang,” gumam Ryan lirih, meski akhirnya tetap masuk ke mobil. Kamu yang melihat tingkah itu hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Perjalanan menuju taman kota terasa hangat. Mingyu mengajak ngobrol kamu sesekali, tangannya terkadang menyentuh tanganmu secara refleks.  #povstories #mingyu #masukberandafyp #fypシ゚viral🖤tiktok #fypdongggggggg
POV: Malam itu, hujan sudah reda. Udara terasa dingin, dan aroma tanah basah merayap lewat jendela kamar. Lampu tidur berwarna kuning temaram, memberikan cahaya hangat di sudut ruangan. Kamu berbaring di tempat tidur, memeluk Ryan yang meringkuk di pelukanmu. Tangannya masih memegang dinosaurus hijau kesayangannya, seperti tak mau lepas. “Bunda…” suaranya pelan. “Iya, Sayang?” “Kalau Papah beneran sayang sama Ryan… kenapa nggak dari dulu?” Kamu menarik napas dalam, berusaha mencari kata-kata yang bisa dimengerti anak seusia Ryan. “Kadang, orang dewasa itu bikin keputusan yang salah, Nak. Papah juga manusia… dia bisa salah. Tapi yang penting, sekarang dia mau memperbaiki semuanya.” Ryan diam. Matanya menatap kosong ke arah dinding. Kamu mengusap rambutnya. “Harusnya anak sekecil kamu belum perlu tahu hal seperti ini… tapi Bunda mau kamu ngerti, kalau Papah nggak pernah benci atau ninggalin kamu karena nggak mau. Dia nggak tahu… kalau kamu udah ada di perut Bunda waktu itu.” Butuh beberapa menit sebelum Ryan mengangguk pelan. “Ryan ngerti… tapi di sini…” Ia menunjuk dadanya. “…masih sakit.” Kamu tersenyum lembut dan memeluknya lebih erat. “Nggak apa-apa. Rasa sakit itu akan pelan-pelan hilang. Bunda sama Papah bakal ada di sini, nemenin kamu sampai rasa itu nggak ada lagi.” Malam itu, kalian tertidur sambil berpelukan, ditemani suara hujan yang tersisa di kejauhan. Hari-hari berikutnya berjalan berbeda. Ryan mulai mau duduk di dekat Mingyu saat makan, meski wajahnya tetap datar. Kadang dia pura-pura nggak dengar saat Mingyu memanggil, tapi diam-diam memperhatikan kalau Mingyu sedang bercerita. Pagi-pagi, Mingyu kadang mengantar Ryan ke sekolah. Ryan cuma berkata singkat, “Thanks,” tanpa menatap, tapi di balik sikap juteknya, ada sedikit senyum yang cepat-cepat ia sembunyikan. Kamu melihat semua perubahan itu. Mingyu juga melihatnya. Ia tak pernah memaksa, tapi selalu ada. Membawa mainan kecil, makanan kesukaan Ryan, atau sekadar duduk di sofa menonton acara yang sama. Sore itu, setelah Ryan tidur siang, Mingyu mendekat padamu di dapur. “Terima kasih… udah kasih aku kesempatan lagi,” ucapnya pelan. Kamu tersenyum, menatapnya sambil mengaduk teh. “Aku maafin kamu… bukan karena lupa masa lalu. Tapi karena aku mau kita punya masa depan yang lebih baik.” Mingyu memegang tanganmu, genggamannya hangat. “Aku janji… aku nggak akan pernah pergi lagi. Sekarang aku mau ada di sini, bukan cuma jadi tamu… tapi jadi bagian keluarga ini.” Kalian berdiri di dapur yang sederhana itu, saling menatap dalam diam. Tidak ada janji manis berlebihan, hanya kesungguhan yang terasa di hati. Di ruang tengah, Ryan mulai terbangun dan memanggil pelan. Mingyu tersenyum dan langsung berjalan menghampirinya. Dan untuk pertama kalinya, Ryan membalas dengan senyum kecil… walau hanya sebentar. Itu sudah cukup. Awal dari keluarga yang pelan-pelan kembali utuh. Pagi itu, udara Sabtu terasa segar sekali. Matahari baru saja muncul dari balik pepohonan, sinarnya lembut memantul di dedaunan basah oleh embun. Mingyu sudah datang sejak pagi dengan mobilnya, bagasi penuh dengan keranjang piknik, tikar besar, dan aneka makanan yang ia siapkan sendiri. Ia tersenyum lebar saat melihat kamu dan Ryan keluar dari rumah. Ryan berjalan di sebelahmu, kaos biru muda dan celana jeans pendeknya sambil memegang boneka dinosaurus kecil membuatnya terlihat menggemaskan. Tapi wajahnya tetap datar, sesekali melirik Mingyu lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan, pura-pura fokus melihat tanah. “Ayo naik, sayang,” ucap Mingyu sambil membukakan pintu mobil untuk Ryan. “Jangan panggil aku sayang,” gumam Ryan lirih, meski akhirnya tetap masuk ke mobil. Kamu yang melihat tingkah itu hanya menggeleng sambil tersenyum tipis. Perjalanan menuju taman kota terasa hangat. Mingyu mengajak ngobrol kamu sesekali, tangannya terkadang menyentuh tanganmu secara refleks. #povstories #mingyu #masukberandafyp #fypシ゚viral🖤tiktok #fypdongggggggg

About