@aeriuyyus: youtube/Audit the Audit Part 3

Fishing
Fishing
Open In TikTok:
Region: US
Thursday 19 June 2025 15:15:00 GMT
12019
55
5
2

Music

Download

Comments

redfish394
redfish :
👌
2025-06-20 17:15:54
0
redfish394
redfish :
🥰
2025-06-20 17:15:52
0
redfish394
redfish :
👍
2025-06-20 17:15:50
0
txfireman88
Brett Galbreath :
🥰🥰🥰
2025-06-19 22:42:43
0
aleshahodge
Alesha Hodge :
💕💕💕
2025-08-19 05:10:13
0
To see more videos from user @aeriuyyus, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

⬇️⬇️⬇️BACA CAPTION⬇️⬇️⬇️ Ola, Kronimates! Kronimates, pasti sudah tidak asing lagi kan dengan istilah “babu” dan “jongos”? Istilah ini memiliki akar historis yang erat kaitannya dengan praktik perbudakan pada masa kolonial. Bagi masyarakat Eropa, memiliki dua, tiga, bahkan lima orang pekerja rumah tangga merupakan hal yang biasa. Mereka membutuhkan tenaga masyarakat pribumi untuk mengurusi segala tetek bengek rumah tangga, mempermudah hidup mereka di tanah koloni dengan upah yang sangat murah. Tak hanya itu, bagi mereka, memiliki pekerja rumah tangga adalah semacam prestise dan harga diri, sebagai bukti atas kesejahteraan serta supremasi orang Eropa. Dikutip dari skripsi milik Ridha Hamidah Budiana (2022), pada masa VOC, tidak ada profesi khusus untuk pekerja rumah tangga. Biasanya mereka hanya dikenal sebagai slaven atau budak. Namun, memasuki abad-19 Pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan penghapusan praktik perbudakan dalam Regeringsreglement 1818 (Staatsblad 1818 No. 18, Pasal 113, 234). Karena itu, pekerja rumah tangga tidak lagi disebut budak, melainkan sebutan yang lebih formal, yaitu “bediende” (pelayan). Bediende mencakup berbagai jenis profesi, yakni babu (pekerja perempuan), jongos (pekerja laki-laki), opas (penjaga keamanan), kokki, dan masih banyak lagi. Namun, perubahan istilah tidak serta-merta menghapus relasi kuasa yang timpang. Ironisnya, hal ini seperti diwariskan begitu saja. Sampai sekarang, meski kolonialisme Eropa sudah berakhir, masih banyak pekerja rumah tangga yang dibayar dengan upah murah dan tidak dipenuhi hak-haknya sebagai pekerja. Referensi: - Baay, Reggie. (2017). Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda. Depok: Komunitas Bambu. - Budiana, R. H. (2022). Kedudukan Pekerja Rumah Tangga Perempuan (Babu) dalam Kehidupan Orang Eropa di Hindia Belanda 1860-1942. Skripsi. Universitas Padjadjaran. #sejarah #sejarahindonesia #memesejarah #History #curhat
⬇️⬇️⬇️BACA CAPTION⬇️⬇️⬇️ Ola, Kronimates! Kronimates, pasti sudah tidak asing lagi kan dengan istilah “babu” dan “jongos”? Istilah ini memiliki akar historis yang erat kaitannya dengan praktik perbudakan pada masa kolonial. Bagi masyarakat Eropa, memiliki dua, tiga, bahkan lima orang pekerja rumah tangga merupakan hal yang biasa. Mereka membutuhkan tenaga masyarakat pribumi untuk mengurusi segala tetek bengek rumah tangga, mempermudah hidup mereka di tanah koloni dengan upah yang sangat murah. Tak hanya itu, bagi mereka, memiliki pekerja rumah tangga adalah semacam prestise dan harga diri, sebagai bukti atas kesejahteraan serta supremasi orang Eropa. Dikutip dari skripsi milik Ridha Hamidah Budiana (2022), pada masa VOC, tidak ada profesi khusus untuk pekerja rumah tangga. Biasanya mereka hanya dikenal sebagai slaven atau budak. Namun, memasuki abad-19 Pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan penghapusan praktik perbudakan dalam Regeringsreglement 1818 (Staatsblad 1818 No. 18, Pasal 113, 234). Karena itu, pekerja rumah tangga tidak lagi disebut budak, melainkan sebutan yang lebih formal, yaitu “bediende” (pelayan). Bediende mencakup berbagai jenis profesi, yakni babu (pekerja perempuan), jongos (pekerja laki-laki), opas (penjaga keamanan), kokki, dan masih banyak lagi. Namun, perubahan istilah tidak serta-merta menghapus relasi kuasa yang timpang. Ironisnya, hal ini seperti diwariskan begitu saja. Sampai sekarang, meski kolonialisme Eropa sudah berakhir, masih banyak pekerja rumah tangga yang dibayar dengan upah murah dan tidak dipenuhi hak-haknya sebagai pekerja. Referensi: - Baay, Reggie. (2017). Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda. Depok: Komunitas Bambu. - Budiana, R. H. (2022). Kedudukan Pekerja Rumah Tangga Perempuan (Babu) dalam Kehidupan Orang Eropa di Hindia Belanda 1860-1942. Skripsi. Universitas Padjadjaran. #sejarah #sejarahindonesia #memesejarah #History #curhat

About