@movienews11: #jamesbond #007

movienews11
movienews11
Open In TikTok:
Region: GB
Sunday 29 June 2025 19:34:07 GMT
12637
179
23
8

Music

Download

Comments

makomoon888
rinn :
Tom Holland fits the previous bond vibe tbh, I just really don't want Jacob Elordi as bond pls 😔
2025-06-29 19:48:56
2
mark_alexa
Mark Alexander :
Agreed Tom Holland doesn't have a chance.
2025-07-26 11:17:53
0
sxcrifice_x
sxcrifice :
Under 30?😂
2025-06-29 19:59:36
1
zerojuicy
𝘼𝙙𝙖𝙢 :
Actually I can see Elordi doing it
2025-07-11 08:23:02
0
michaeltouvasa
MichaelTouvasa :
all of these actors are just rumored. It is as likely that Cavill will be Bond.
2025-06-30 09:50:14
0
mrmarkster2025
mrMarkster2025 :
Bond is ruined now. Just leave it alone
2025-07-02 20:33:30
1
toptottenham
Mangetout :
Nothing, is the easy answer, you know nothing
2025-06-29 20:03:36
1
jestsetwilly
jetsetwilly :
Aaron Taylor Johnson has signed a deal with Omega👍
2025-06-30 11:49:16
1
oldgreyhead
Old Grey Head :
After Daniel Craig, James Bond 007 there is no one good enough, menacing enough and presents to take his place. He is no longer just a number to swop out, died on the silo.
2025-07-01 11:09:43
0
user7807477285439
willow :
We need it to be Henry Cavill he is perfect for the role
2025-07-05 19:32:43
0
andrise341031
andrise341031 :
Only thing you need to know is there isn’t a next bond the character died
2025-06-30 06:20:03
2
astrobart_
astrobart :
Tom Holland please
2025-06-30 08:12:32
0
ppfftt87
Pppffttt :
Another classic heading towards Disaster
2025-06-29 20:55:50
3
andrewriner
ving rhames :
🥰🥰🥰
2025-06-30 09:51:09
0
To see more videos from user @movienews11, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

°°°° Wasiat Diam - Diam Abah Guru Sekumpul: Pelajaran Adab Dari Seorang Wali °°°° Awal tahun 2005, suasana di Komplek Ar Raudhah Sekumpul tampak sunyi. Pengajian rutin diliburkan karena kondisi kesehatan 𝗔𝗯𝗮𝗵 𝗚𝘂𝗿𝘂 𝗦𝗲𝗸𝘂𝗺𝗽𝘂𝗹, Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, yang saat itu mulai sering menjalani cuci darah. Meski begitu, beliau tetap membuka pintu untuk tamu. Malam itu, penulis bersama seorang warga diantar oleh keponakan beliau, H Ahmad, masuk lewat pintu belakang rumah. Di dalam kamar yang hening, Abah Guru sudah duduk bersila di ranjang sambil memeluk bantal. “𝗠𝗮𝘀𝘂𝗸… 𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸, 𝗽𝗶𝗮𝗻 𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸𝗹𝗮𝗵. 𝗨𝗹𝘂𝗻 𝗺𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗿𝗶𝗱𝗵𝗼, 𝗸𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗮𝘄𝗮 𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸 𝗱𝗶 𝗯𝗮𝘄𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗮𝗮𝗻 𝘂𝗹𝘂𝗻,” ucap beliau, tetap menyambut dengan penuh adab walau sedang sakit. Tak lama kemudian, beliau meminta makanan laksa khas Martapura. Namun, sebelum menyantapnya, Abah Guru lebih dulu menelepon dokter pribadi: “𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿, 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗸𝗮𝗵 𝗔𝗯𝗮𝗵 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗸𝘀𝗮?” Dokter menjawab boleh, asal tidak terlalu banyak kuah santan. Mendengar itu, beliau berkata: “𝗖𝘂𝗸𝘂𝗽𝗸𝗮𝗻 𝘀𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮. 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗱𝘂𝗹𝘂 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗮𝗵𝗹𝗶𝗻𝘆𝗮, 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝘂𝗹𝘂𝗻 𝗶𝗻𝗶 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗴𝗮𝗿𝗶𝗻𝗴 (𝘀𝗮𝗸𝗶𝘁).” Sikap ini menunjukkan betapa Abah Guru sangat berhati-hati dalam menjaga kesehatan, dan selalu mengedepankan ilmu, bahkan dalam urusan sepele seperti makanan. Ketika kami sedang berbincang, dua anak beliau yang masih kecil, 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱 𝗔𝗺𝗶𝗻 𝗕𝗮𝗱𝗮𝗹𝗶 dan 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱 𝗛𝗮𝗳𝗶 𝗕𝗮𝗱𝗮𝗹𝗶, masuk dan mencium tangan ayah mereka sebelum tidur. Abah Guru berkata pelan, “𝗦𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝗺𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗮𝗻𝗮𝗸-𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝘂𝗺 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝘂𝗹𝘂 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗴𝘂𝗿𝗶𝗻𝗴 (𝘁𝗶𝗱𝘂𝗿).” Beliau pun merendah: “𝗨𝗹𝘂𝗻 𝗶𝗻𝗶 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗻𝘂𝗺𝗽𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗿𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗶𝗻𝗶. 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗽𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗿𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗶𝗻𝗶 𝗔𝗺𝗶𝗻 𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗳𝗶. 𝗨𝗹𝘂𝗻 𝗸𝗮𝗱𝗮 𝗽𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗽𝗮-𝗮𝗽𝗮.” Sebelum kami pamit, Abah Guru menyebut bahwa seorang tukang urut akan datang. Beliau bahkan sudah menyiapkan uang dari lemari kecil di samping ranjang. “𝗨𝗹𝘂𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂 𝘀𝗶𝗱𝗶𝗻 (𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻𝗴 𝘂𝗿𝘂𝘁),” ujarnya lembut. Dari dua jam singkat bersama beliau, tersingkap pelajaran adab yang mendalam: •Menyambut tamu dengan hormat walau sedang sakit. •Mengajarkan adab anak terhadap orang tua. •Merendahkan hati meski seorang ulama besar. •Menghargai tukang urut sebagaimana menghargai tamu penting. •Menjaga syariat dalam urusan sehari-hari. Inilah “wasiat diam-diam” dari seorang wali Allah yang tak tertulis, tapi ditunjukkan lewat laku. Semoga kisah ini menambah rasa cinta kita kepada Abah Guru Sekumpul dan menjadi pelajaran hidup untuk kita semua. Aamiin. ————— #Waliqutub#Waliyullah#abahgurusekumpul#wasiatdiamdiam#pedomanhidupduniakahirat
°°°° Wasiat Diam - Diam Abah Guru Sekumpul: Pelajaran Adab Dari Seorang Wali °°°° Awal tahun 2005, suasana di Komplek Ar Raudhah Sekumpul tampak sunyi. Pengajian rutin diliburkan karena kondisi kesehatan 𝗔𝗯𝗮𝗵 𝗚𝘂𝗿𝘂 𝗦𝗲𝗸𝘂𝗺𝗽𝘂𝗹, Syekh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, yang saat itu mulai sering menjalani cuci darah. Meski begitu, beliau tetap membuka pintu untuk tamu. Malam itu, penulis bersama seorang warga diantar oleh keponakan beliau, H Ahmad, masuk lewat pintu belakang rumah. Di dalam kamar yang hening, Abah Guru sudah duduk bersila di ranjang sambil memeluk bantal. “𝗠𝗮𝘀𝘂𝗸… 𝗺𝗮𝘀𝘂𝗸, 𝗽𝗶𝗮𝗻 𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸𝗹𝗮𝗵. 𝗨𝗹𝘂𝗻 𝗺𝗶𝗻𝘁𝗮 𝗮𝗺𝗽𝘂𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗿𝗶𝗱𝗵𝗼, 𝗸𝗮𝗱𝗮 𝗸𝗮𝘄𝗮 𝗱𝘂𝗱𝘂𝗸 𝗱𝗶 𝗯𝗮𝘄𝗮𝗵 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝗸𝗲𝗮𝗱𝗮𝗮𝗻 𝘂𝗹𝘂𝗻,” ucap beliau, tetap menyambut dengan penuh adab walau sedang sakit. Tak lama kemudian, beliau meminta makanan laksa khas Martapura. Namun, sebelum menyantapnya, Abah Guru lebih dulu menelepon dokter pribadi: “𝗗𝗼𝗸𝘁𝗲𝗿, 𝗯𝗼𝗹𝗲𝗵 𝗸𝗮𝗵 𝗔𝗯𝗮𝗵 𝗺𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗹𝗮𝗸𝘀𝗮?” Dokter menjawab boleh, asal tidak terlalu banyak kuah santan. Mendengar itu, beliau berkata: “𝗖𝘂𝗸𝘂𝗽𝗸𝗮𝗻 𝘀𝘆𝗮𝗿𝗶𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮. 𝗕𝗲𝗿𝘁𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗱𝘂𝗹𝘂 𝗸𝗲𝗽𝗮𝗱𝗮 𝗮𝗵𝗹𝗶𝗻𝘆𝗮, 𝗸𝗮𝗿𝗲𝗻𝗮 𝘂𝗹𝘂𝗻 𝗶𝗻𝗶 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗴𝗮𝗿𝗶𝗻𝗴 (𝘀𝗮𝗸𝗶𝘁).” Sikap ini menunjukkan betapa Abah Guru sangat berhati-hati dalam menjaga kesehatan, dan selalu mengedepankan ilmu, bahkan dalam urusan sepele seperti makanan. Ketika kami sedang berbincang, dua anak beliau yang masih kecil, 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱 𝗔𝗺𝗶𝗻 𝗕𝗮𝗱𝗮𝗹𝗶 dan 𝗠𝘂𝗵𝗮𝗺𝗺𝗮𝗱 𝗛𝗮𝗳𝗶 𝗕𝗮𝗱𝗮𝗹𝗶, masuk dan mencium tangan ayah mereka sebelum tidur. Abah Guru berkata pelan, “𝗦𝗲𝘁𝗶𝗮𝗽 𝗺𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗮𝗻𝗮𝗸-𝗮𝗻𝗮𝗸 𝗺𝗲𝗻𝗰𝗶𝘂𝗺 𝘁𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝘂𝗹𝘂 𝘀𝗲𝗯𝗲𝗹𝘂𝗺 𝗴𝘂𝗿𝗶𝗻𝗴 (𝘁𝗶𝗱𝘂𝗿).” Beliau pun merendah: “𝗨𝗹𝘂𝗻 𝗶𝗻𝗶 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗻𝘂𝗺𝗽𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗶 𝗿𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗶𝗻𝗶. 𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗽𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗿𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗶𝗻𝗶 𝗔𝗺𝗶𝗻 𝗹𝗮𝘄𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗳𝗶. 𝗨𝗹𝘂𝗻 𝗸𝗮𝗱𝗮 𝗽𝘂𝗻𝘆𝗮 𝗮𝗽𝗮-𝗮𝗽𝗮.” Sebelum kami pamit, Abah Guru menyebut bahwa seorang tukang urut akan datang. Beliau bahkan sudah menyiapkan uang dari lemari kecil di samping ranjang. “𝗨𝗹𝘂𝗻 𝗺𝗲𝗻𝘂𝗻𝗴𝗴𝘂 𝘀𝗶𝗱𝗶𝗻 (𝘁𝘂𝗸𝗮𝗻𝗴 𝘂𝗿𝘂𝘁),” ujarnya lembut. Dari dua jam singkat bersama beliau, tersingkap pelajaran adab yang mendalam: •Menyambut tamu dengan hormat walau sedang sakit. •Mengajarkan adab anak terhadap orang tua. •Merendahkan hati meski seorang ulama besar. •Menghargai tukang urut sebagaimana menghargai tamu penting. •Menjaga syariat dalam urusan sehari-hari. Inilah “wasiat diam-diam” dari seorang wali Allah yang tak tertulis, tapi ditunjukkan lewat laku. Semoga kisah ini menambah rasa cinta kita kepada Abah Guru Sekumpul dan menjadi pelajaran hidup untuk kita semua. Aamiin. ————— #Waliqutub#Waliyullah#abahgurusekumpul#wasiatdiamdiam#pedomanhidupduniakahirat

About