𝓵𝓪𝓪𝓪𝓪𝓪^^ :
Setulus apa pun kita mencintai seseorang, tak ada jaminan bahwa cinta itu akan kembali dengan kadar yang sama. Kadang, cinta yang kita beri tumbuh seperti hujan yang turun tanpa diminta membasahi tanah yang bahkan tak ingin disirami.
Kita memberi tanpa syarat, merawat tanpa diminta, dan bertahan tanpa alasan yang jelas. Kita memaafkan berulang kali, bahkan saat hati sendiri sudah lelah. Kita hadir dalam tiap luka, dalam tiap jatuh, dalam tiap tangis yang tak terdengar siapa-siapa. Kita menanti tanpa memastikan apakah dia sadar kita menunggu. Kita tetap di sana, meski dia tak pernah meminta untuk kita tinggal.
Namun, cinta yang paling tulus sekalipun tak bisa memaksa seseorang untuk menetap. Tulus tak menjamin balas. Cinta yang paling murni pun bisa tak dianggap. Dan pada akhirnya, kita belajar bahwa ketulusan bukan tentang memiliki, tapi tentang menerima: menerima bahwa ada hal-hal yang tak bisa kita paksa, termasuk perasaan orang lain.
Kita bisa mencintai seseorang dengan seluruh hati, tapi jika dia memilih pergi, kita hanya bisa mendoakan dari jauh. Sebab cinta sejati, meski perih, tahu kapan harus melepaskan. Ia tak mengekang, ia tidak menuntut balasan. Ia hanya ada—diam-diam mendoakan bahagia, meski bukan bersama kita.
Setulus apa pun kita mencintai seseorang, kadang semesta berkata, "Bukan dia." Dan di situlah kita belajar: bahwa cinta juga butuh logika, dan kebahagiaan kadang bukan tentang siapa yang paling kita inginkan, tapi siapa yang paling tepat untuk kita genggam
2025-08-31 02:18:03