@nesty.store.vn: #nesty #nestyvietnam #ngoctrinh #depmuahe #depsuc #deptreem #depdihoc #fyp #xuhuongtiktok

Nesty VN
Nesty VN
Open In TikTok:
Region: VN
Monday 18 August 2025 12:55:21 GMT
104063
1020
41
28

Music

Download

Comments

ngoc4307
ngoc :
xin giá
2025-09-30 07:11:23
0
huyenlebinhan12345
Hhuyền Lệ :
Hôm qua sǎn98k
2025-10-12 10:44:19
0
tribo4106
tribo410d :
cho chị một đôi màu trắng
2025-10-12 08:29:32
0
hihiggf0
Anh Chi914 :
C 1 đôi lâu sai 37
2025-09-28 15:08:01
0
thanhtamm099
Thanhtamm099 :
đẹp quá shop
2025-09-09 07:39:49
1
nh10339
Như :
Áo Trinh mặc mua ở đâu đc ạ
2025-10-11 17:47:09
0
lng.hu.cam
Lương Huệ Cam :
ổn quá
2025-09-30 05:22:43
0
qu.c.tui.dn.86
quý cô tuổi dần (86 ) :
jong dep bên đl nha .đi cực nhẹ cực êm
2025-08-19 15:02:24
0
user81667247514371
user81667247514371 :
giá bn 1 đôi vậy
2025-10-07 10:03:48
0
kaycee7783
Kaycee :
có size 46 kg ạ
2025-08-24 12:50:17
0
thuy.81
Thuỷ Trần :
muôn mua
2025-09-25 05:43:52
0
tribo4106
tribo410d :
cho chị sai 38
2025-10-12 08:30:21
0
tribo4106
tribo410d :
cho đôi màu kem sai 38 địa chỉ 150 thành phố vũng tàu
2025-10-12 08:31:00
0
dung.dang7237
Dung Dang :
bao nhiêu 1 đôi
2025-10-04 15:30:45
0
go61286
người miền núi 47 :
😂😂😂
2025-10-02 08:07:56
0
begao301994mail.0
begao :
🥰🥰🥰
2025-08-18 13:05:32
0
belethi524
Be Lethi524 :
bn
2025-09-30 17:01:16
1
phamhnghoa8
bông hồng đen :
z 37 xin giá màu nâu
2025-08-19 10:04:35
1
be64296
be :
1 doi mau trang s 35
2025-10-08 08:30:40
1
phan.m26
Phan Mỹ :
bao nhiêu một doi vay
2025-09-22 11:53:55
1
huyntrang6690
hitrang :
Dép săng đan giá bao nhiêu
2025-09-18 15:03:43
1
loancherry.81
Loan Cherry :
xin giá
2025-09-18 14:17:18
1
user4804562051982
Nguyễn Hảo :
mua ở đâu
2025-09-15 02:59:12
1
hon.tm5
Hoàn & Tâm :
Xin giá
2025-08-21 10:30:21
1
tribo4106
tribo410d :
mua ở đâu vay
2025-10-12 08:30:05
0
phanhoat1981
MỸ PHẨM PHAN HOẠT :
Giá sao
2025-10-13 01:19:17
0
thao.le2281
Thao Le :
xin giá
2025-10-10 13:59:46
0
ri521822
Ri Ù :
giá bán sao vậy
2025-10-10 04:57:04
0
user5436291414861
user5436291414861 :
mua 1 đôi màu trắng 40
2025-10-09 03:43:43
0
nguyn.nga922
Nguyễn Nga :
Giá sau
2025-10-14 13:33:38
0
hothiloann01
Hothiloan :
Size 37 màu kem
2025-10-08 06:28:03
0
noname134750
Anh Nguyen10077 :
Xin giá
2025-09-27 07:11:59
0
lucky.kim22
Xuân Kim :
Xin giá size 36 màu nâu
2025-09-23 15:16:50
0
thuyngaa123
Thuy Nga :
Cho màu trắng say so 38 1 doi 0916013545
2025-09-09 08:08:01
0
cuc03268
Cuc :
lam sao mua dược
2025-09-09 06:00:05
0
tnh.tm296
Tĩnh Tâm :
z36 xin giá
2025-08-27 10:45:45
0
usersrpbwgz7940379847780
Hoài Lê :
xin giá
2025-08-25 02:05:23
0
haidang1823
Quyên Trần :
size 35 màu nâu
2025-08-19 15:25:29
0
To see more videos from user @nesty.store.vn, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Takdir Yang Bertaut 2 Setahun berselang, malam merayap lambat di rumah sederhana berdinding tembok berlapis keramik dingin. Pendar lampu lima watt di ruang tamu menangkap kepulan tipis asap rokok yang membubung dari sela jemari Ayah. Pria paruh baya itu duduk bersila di atas karpet tipis, matanya menatap tajam jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh. Urat-urat di pelipisnya menegang, menahan letih seharian bekerja sebagai tukang bangunan, berpadu dengan gulana kepala yang tak pernah tenang.  Suara gerbang besi digeser kasar dari luar. Diki—kakak Hasya—melangkah masuk dengan bau alkohol yang menyengat dari jaketnya. Langkahnya terhuyung.
Takdir Yang Bertaut 2 Setahun berselang, malam merayap lambat di rumah sederhana berdinding tembok berlapis keramik dingin. Pendar lampu lima watt di ruang tamu menangkap kepulan tipis asap rokok yang membubung dari sela jemari Ayah. Pria paruh baya itu duduk bersila di atas karpet tipis, matanya menatap tajam jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh. Urat-urat di pelipisnya menegang, menahan letih seharian bekerja sebagai tukang bangunan, berpadu dengan gulana kepala yang tak pernah tenang. Suara gerbang besi digeser kasar dari luar. Diki—kakak Hasya—melangkah masuk dengan bau alkohol yang menyengat dari jaketnya. Langkahnya terhuyung. "Baru pulang jam segini?!" bentak Ayah, suaranya menghantam ruang tamu. "Diki dari rumah teman, Yah. Main sebentar." "Main?! Kamu habis minum, ya?! Bau mulutmu busuk begitu!" Ayah berdiri, menuding dengan jari kasar. "Nggak usah nuduh yang nggak-nggak, Yah!" Diki mengelak dengan suara serak, mencoba melangkah melewati ayahnya. "Mau jadi apa kamu, hah?!" Ayah mencengkeram kuat bahu Diki, memaksanya berbalik menghadap. "Bukannya cari kerja, bantu ekonomi keluarga, malah keluyuran nggak jelas bergaul sama preman jalanan! Mau jadi anak yang nggak punya masa depan?! Tujuan hidup mu mau Jadi sampah masyarakat hah?!" "Lepas, Yah!" Diki menghempas kasar tangan ayahnya. "Emang peduli apa Ayah sama aku?! Dari dulu yang Ayah tahu cuma nuntut! Harus jadi ini, harus jadi itu! Ayah nggak pernah ngeliat aku berusaha, yang Ayah tahu cuma mencaci maki kalau aku salah!" "Ayah begini karena Ayah sayang sama kamu!" Ayah kembali membentak Isak Mamah pecah dari dapur. Ia berlari, wajah pias. "Udah, Yah! Diki, Malu sama tetangga!" Tepat saat itu, derit pagar depan terdengar. Tiga kali ketukan di pintu utama. "Assalamualaikum..." suara lembut Hasya dari balik pintu. Suasana hening beberapa detik. Ayah menurunkan tangan. Diki membuang muka. Mamah buru-buru mengusap air mata dan membuka pintu. Hasya berdiri dengan senyum lebar, ransel di bahu dan brosur Pesantren Al-Basir di tangan. "Mamah... tadi kata Rani kalau daftar sekarang bisa—" Kalimatnya tercekat. Senyumnya hilang saat mencium aroma alkohol dan rokok yang pekat. Brosur di tangannya terasa berat. Ayah menoleh. Amarahnya melunak melihat anak bungsunya. "Dari mana, Dek?" Hasya meremas ujung brosur. "Aku... baru pulang perpisahan, Yah. Tadi Ayah nyuruh pulang cepat..." Ayah menghela napas, memijat kening. Diki melewatinya dan membanting pintu kamar. Hasya mengangkat brosur dengan tangan bergetar. "Yah... ini brosur Pesantren Al-Basir. Besok terakhir pendaftaran. Kalau ada rezeki... aku pengin mondok..." Ayah menatap lama. Ia mengusap wajahnya. "Dedek... Bukannya Ayah nggak mau nurutin keinginan kamu buat mondok... tapi coba kamu lihat sendiri kondisi ekonomi kita. Ayah capek, Dek. Tiap hari kerja banting tulang buat nutupin kebutuhan, tapi rasanya nggak pernah cukup." Mamah mengelus punggung Hasya pelan, meredam getar ketakutan gadis itu. "Biaya masuk pesantren itu jutaan, Dek. Kalau Ayah paksain, uang dari mana? Mau ngutang ke siapa lagi? Ayah pusing, Dek." Hasya menelan ludah mentah-mentah. Tenggorokannya tercekat, air matanya menggenang. Di balik sifat keras Ayah, ia tahu lelaki itu sedang berdarah-darah memikul beban keluarga. "Maafin Ayah, Dek," ucap Ayah pelan. "Untuk sekarang... urungkan dulu niat mondokmu. Lanjut SMA di kampung aja ya. Ayah juga khawatir kalau kamu mondok jauh jauh ." Hasya hanya bisa mengangguk pelan. Brosur di genggamannya ia lipat erat-erat, impiannya yang harus mati sebelum sempat tumbuh. #konflikkeluarga #takdiryangbertaut

About