@todayvirall: HY SINH VÌ NGHỆ THUẬT #kenh247 #247network #kenhnetwork #kenhvn

Today Viral
Today Viral
Open In TikTok:
Region: VN
Tuesday 26 August 2025 06:00:00 GMT
397394
11186
653
8811

Music

Download

Comments

cong_98
Đình anh :
Thằng nào zoom thì về vs đội của tôi 😁
2025-08-26 12:28:43
444
hi.h.nguyn504
Hải Hà Nguyễn :
Hình như co hai loại hoa phải ko các ông
2025-08-26 10:43:11
77
viethung18052009
H :
cái nút j kia
2025-08-26 10:58:05
65
di_ia_gap_ma
Đi ỉa gặp Ma :
đạo đức ở đâu ? thuần phong mỹ tục ở đâu? địa chỉ ở đâu...
2025-08-26 10:43:48
69
ngocphu112012
🤍 :
phát hiện quân địch ko mặc giáp
2025-08-26 12:44:38
28
manhng51584021933
manhng51584021933 :
Mưa là có ốc😂😂😂
2025-08-26 13:50:07
1
anh_tu_2003
Anh_Tú93 :
Ae hữu duyên bl trời mưa sét đánh không nhất đâu rồi
2025-08-27 00:35:41
2
trun11_06
Thằng đàn ông tham lamm :
Viếc chọn vợ nó quan trọng lắm
2025-08-26 10:27:12
18
hungkocote
tao tên gì :
Sao lại có 4 mắt
2025-08-26 10:31:58
6
loi.luu72
Đức lợi :
tao thấy đẹp 🥰
2025-08-26 12:23:06
1
maianhbao23294
mai anh bảo 8386 :
nắng mưa ko biết vào nhà thì hỏng rồi ko biết có đi dép trái nữa ko
2025-08-26 17:40:58
1
usercswen2w0ur
Mai Bá Thắng :
Ông camera nên thay máy hay để chúng tôi hỗ trợ mua máy.. 😂😂
2025-08-26 15:14:13
1
khongkipnuaroiiii
Không kịp nữa rồi :
Hôm nay thấy có một cây cau gặp bão và cái ngọn của nó bị tấm tôn xoẹt một cái ngọt sớt 😳
2025-08-26 16:22:24
1
dinhhuy______
dinhhuy______ :
Ko có cường lực
2025-08-26 10:48:00
7
ducthuyen209
ducthuyen :
Mưa chó còn biết chạy vào nhà:))
2025-08-26 10:58:39
4
sonthodien_
⚡𝐐𝐔𝐀̣𝐓 𝐏𝐈𝐍 𝟐𝟒𝐇 ⚡ :
Ngân hàng haichnbank trong truyền thuyết đây sao 😳
2025-08-26 11:05:09
2
rong.bin.84_k1
Rong Biển 84_K1 :
Trời mưa mọc cây nấm😁
2025-08-26 08:10:24
2
36d01
1% :
t thấy mờ mờ
2025-08-26 13:32:56
3
hoangnghia368
Nghĩa Bagác củchi🥰☘️ :
Ông quay phim nhức mắt lắm🤣
2025-08-26 10:49:07
1
.mt0028
🎱 :
hình như áo bị dính mực🤣
2025-08-26 10:58:26
1
hieunguyen05103
'h' :
cường lực hư rồi 😅
2025-08-26 10:50:07
1
anhhau379
trumcf :
chắc mấy trăm là được
2025-08-26 11:03:14
1
dothao25101978
dothao25101978 :
mưa càng nét
2025-08-27 06:45:32
0
duyenhaiamthanh
Duyên Hải âm thanh :
mưa to không nhìn thấy gì luôn 🤣
2025-08-27 05:15:32
0
jangdonghung
Jang Dong Hung :
chụp tốc cao nhé
2025-08-26 17:09:30
0
To see more videos from user @todayvirall, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Masuk surga jalur WNI Kedengarannya seperti lelucon, tetapi mungkin ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan. Kita semua tentu ingin hidup kaya, tenteram, aman, bahagia, keluarga berkecukupan, dan pada akhirnya masuk surga.  Dalam psikologi sosial ada istilah social comparison: manusia secara alamiah membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai posisi dan harga dirinya. Persoalannya muncul ketika keberhasilan orang lain mulai terasa sebagai ancaman. Dia naik, kita merasa turun. Dia dipuji, kita merasa tidak dianggap. Dia berhasil, kita mencari alasan untuk mengecilkan keberhasilannya. Bahkan ketika seseorang jatuh, kadang ada rasa lega yang sulit kita akui: “Ternyata dia tidak sehebat itu.” Dari sinilah crab mentality menjadi lebih dari sekadar perumpamaan kepiting yang saling menarik ke bawah. Kita tidak selalu benar-benar ingin menjadi lebih baik; kadang kita hanya ingin memastikan orang lain tidak menjadi lebih baik daripada kita. Dan perilaku seperti ini sebenarnya sering kita pertontonkan sendiri dalam kehidupan sosial. Kita melihat para pemangku kebijakan saling berhadapan, antarpartai saling menjatuhkan, bahkan di dalam satu organisasi orang-orang yang seharusnya berjalan menuju tujuan yang sama bisa terpecah hanya karena perebutan pengaruh dan posisi. Tentu tidak semua konflik adalah crab mentality—perbedaan pendapat justru sehat dalam demokrasi dan organisasi. Tetapi ketika keberhasilan kelompok lain dianggap sebagai ancaman, ketika orang lebih sibuk menggagalkan lawannya daripada memperbaiki keadaan, atau ketika kehancuran pihak sendiri dianggap lebih baik daripada kemenangan pihak yang berbeda, kita sedang melihat pola psikologis yang sama dalam skala yang lebih besar. Yang lebih rumit, mentalitas seperti ini tidak selalu lahir dari keburukan individu semata. Lingkungan sosial dan sistem yang penuh kelangkaan, kompetisi, ketimpangan akses, serta penghargaan yang terasa terbatas dapat membuat keberhasilan orang lain tampak seperti kehilangan kesempatan bagi diri sendiri. Akhirnya orang belajar berkompetisi secara horizontal: sesama pekerja saling menjatuhkan, sesama pedagang saling mematikan, tetangga saling membandingkan, sementara “ember” yang membatasi semuanya jarang dipertanyakan. Tidak perlu ada seseorang yang secara sadar merancang masyarakat agar saling membenci; sebuah sistem sudah cukup untuk memelihara perilaku tertentu ketika insentifnya terus bekerja seperti itu. Yang paling berbahaya adalah ketika kebiasaan tersebut menjadi budaya. Orang yang sukses dicurigai, orang yang mencoba naik dianggap sok, orang yang membantu dianggap naif, dan ketika seseorang terpuruk, penderitaannya justru menjadi hiburan atau pembenaran bagi orang lain. Pada titik tertentu, kebusukan mental tidak lagi terasa sebagai kebusukan karena sudah terlalu sering dipertontonkan dan akhirnya dianggap normal. Sebenarnya bukan tentang orang Indonesia punya jalur khusus menuju surga. Justru ini satire terhadap kontradiksi kita sendiri: ingin hidup sejahtera, tetapi tidak selalu senang melihat sesama sejahtera; ingin diperlakukan baik, tetapi menikmati ketika orang lain dipermalukan; ingin masyarakat tenteram, tetapi ikut memelihara kebiasaan yang membuat sesama saling menjatuhkan. Kalau begitu, mungkin pertanyaan tentang surga bukan hanya “bagaimana aku bisa sampai ke sana?”, tetapi juga “selama hidup di sini, apakah keberadaanku membuat kehidupan orang lain sedikit lebih mudah, atau justru ikut menarik mereka kembali ke dasar ember?” Sebab mungkin yang membuat kita sulit keluar bukan karena tidak ada yang mampu memanjat. Kita terlalu terbiasa menarik kaki orang yang sedang mencoba naik. #maiyah #maiyahnusantara #caknun #caknun #quotes
Masuk surga jalur WNI Kedengarannya seperti lelucon, tetapi mungkin ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan. Kita semua tentu ingin hidup kaya, tenteram, aman, bahagia, keluarga berkecukupan, dan pada akhirnya masuk surga. Dalam psikologi sosial ada istilah social comparison: manusia secara alamiah membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai posisi dan harga dirinya. Persoalannya muncul ketika keberhasilan orang lain mulai terasa sebagai ancaman. Dia naik, kita merasa turun. Dia dipuji, kita merasa tidak dianggap. Dia berhasil, kita mencari alasan untuk mengecilkan keberhasilannya. Bahkan ketika seseorang jatuh, kadang ada rasa lega yang sulit kita akui: “Ternyata dia tidak sehebat itu.” Dari sinilah crab mentality menjadi lebih dari sekadar perumpamaan kepiting yang saling menarik ke bawah. Kita tidak selalu benar-benar ingin menjadi lebih baik; kadang kita hanya ingin memastikan orang lain tidak menjadi lebih baik daripada kita. Dan perilaku seperti ini sebenarnya sering kita pertontonkan sendiri dalam kehidupan sosial. Kita melihat para pemangku kebijakan saling berhadapan, antarpartai saling menjatuhkan, bahkan di dalam satu organisasi orang-orang yang seharusnya berjalan menuju tujuan yang sama bisa terpecah hanya karena perebutan pengaruh dan posisi. Tentu tidak semua konflik adalah crab mentality—perbedaan pendapat justru sehat dalam demokrasi dan organisasi. Tetapi ketika keberhasilan kelompok lain dianggap sebagai ancaman, ketika orang lebih sibuk menggagalkan lawannya daripada memperbaiki keadaan, atau ketika kehancuran pihak sendiri dianggap lebih baik daripada kemenangan pihak yang berbeda, kita sedang melihat pola psikologis yang sama dalam skala yang lebih besar. Yang lebih rumit, mentalitas seperti ini tidak selalu lahir dari keburukan individu semata. Lingkungan sosial dan sistem yang penuh kelangkaan, kompetisi, ketimpangan akses, serta penghargaan yang terasa terbatas dapat membuat keberhasilan orang lain tampak seperti kehilangan kesempatan bagi diri sendiri. Akhirnya orang belajar berkompetisi secara horizontal: sesama pekerja saling menjatuhkan, sesama pedagang saling mematikan, tetangga saling membandingkan, sementara “ember” yang membatasi semuanya jarang dipertanyakan. Tidak perlu ada seseorang yang secara sadar merancang masyarakat agar saling membenci; sebuah sistem sudah cukup untuk memelihara perilaku tertentu ketika insentifnya terus bekerja seperti itu. Yang paling berbahaya adalah ketika kebiasaan tersebut menjadi budaya. Orang yang sukses dicurigai, orang yang mencoba naik dianggap sok, orang yang membantu dianggap naif, dan ketika seseorang terpuruk, penderitaannya justru menjadi hiburan atau pembenaran bagi orang lain. Pada titik tertentu, kebusukan mental tidak lagi terasa sebagai kebusukan karena sudah terlalu sering dipertontonkan dan akhirnya dianggap normal. Sebenarnya bukan tentang orang Indonesia punya jalur khusus menuju surga. Justru ini satire terhadap kontradiksi kita sendiri: ingin hidup sejahtera, tetapi tidak selalu senang melihat sesama sejahtera; ingin diperlakukan baik, tetapi menikmati ketika orang lain dipermalukan; ingin masyarakat tenteram, tetapi ikut memelihara kebiasaan yang membuat sesama saling menjatuhkan. Kalau begitu, mungkin pertanyaan tentang surga bukan hanya “bagaimana aku bisa sampai ke sana?”, tetapi juga “selama hidup di sini, apakah keberadaanku membuat kehidupan orang lain sedikit lebih mudah, atau justru ikut menarik mereka kembali ke dasar ember?” Sebab mungkin yang membuat kita sulit keluar bukan karena tidak ada yang mampu memanjat. Kita terlalu terbiasa menarik kaki orang yang sedang mencoba naik. #maiyah #maiyahnusantara #caknun #caknun #quotes

About