@giabao_005310: 𝗧𝗙 𝗢𝗨𝗗 𝗪𝗢𝗢𝗗 - Ước lúc nào thời tiết cũng mát mẻ như này này để tôi được xịt Oud wood chân ái của lòng tôii 🖤 💉 Chiết 10ml 📦 Full box 100ml Xuất hiện trong bộ sưu tập đầu tiên cũng như tâm đắc nhất của nhà Tom Ford từ lúc khởi đầu cho tới nay, Oud Wood được xem là một trong những hương thơm riêng biệt được chính bàn tay của Richard Herpin chế tác vào năm 2007. Thứ mùi gỗ cứng cáp, rắn rỏi, tinh tế, sâu lắng nhiều tự sự, kết hợp cùng với sự dịu ngọt từ Bạch đậu khấu và Vanilla, Tom Ford Oud Wood đã khiến bao người phải quyến luyến, say đắm nó mỗi khi đến gần😎🪵#xuhuong

Cậu Hai Trương
Cậu Hai Trương
Open In TikTok:
Region: VN
Thursday 28 August 2025 00:29:32 GMT
272
6
1
5

Music

Download

Comments

giabao_005310
Cậu Hai Trương :
Sản phẩm chất lượng
2025-09-14 12:40:46
0
To see more videos from user @giabao_005310, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Ada satu doa yang selalu aku ucapkan diam-diam setiap kali hendak melangkah ke tempat baru: semoga kita tidak pernah dipertemukan lagi oleh kebetulan apa pun. Semoga kota ini cukup luas untuk memisahkan dua orang yang pernah saling mengenal sedalam itu. Semoga waktu benar-benar mampu menghapus kemungkinan tentang kita. Tapi lucunya, setiap kali doa itu selesai kupanjatkan, aku justru melakukan hal yang bertolak belakang. Di setiap jalan yang kulewati, mataku tanpa sadar menyisir setiap wajah yang berpapasan. Di setiap tempat yang kusinggahi, aku selalu mencuri harapan yang tak pernah berani ku ucapkan. Mungkin kamu ada di sudut ruangan itu. Mungkin kamu baru saja lewat beberapa menit yang lalu. Mungkin, untuk sekali saja, semesta cukup iba mempertemukan kita walau hanya dalam diam. Aku selalu bilang aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Padahal yang sebenarnya kutakuti bukan pertemuannya, melainkan diriku sendiri. Aku takut semua yang sudah susah payah kubangun runtuh hanya karena melihatmu berdiri beberapa langkah di depanku. Aku takut semua kepura-puraan bahwa aku sudah baik-baik saja hancur hanya karena senyummu yang masih kuingat dengan begitu jelas. Dan kalau hari itu benar-benar datang, aku tahu aku tidak akan memanggil namamu. Aku mungkin hanya akan menundukkan kepala, berpura-pura sibuk, atau mengalihkan pandangan seolah kita hanyalah dua orang asing yang tidak pernah saling menyimpan dunia di dalam dada. Bukan karena aku membencimu. Justru karena aku masih terlalu mengenalmu. Aku tahu, satu tatapan saja mungkin cukup untuk menghidupkan kembali semua yang selama ini kupaksa mati. Lucu, ya? Seseorang bisa begitu merindukan, sekaligus begitu takut untuk bertemu. Aku rindu. Rindu yang tidak lagi mencari balasan, tidak lagi meminta untuk kembali. Rindu yang hanya ingin memastikan bahwa kamu benar-benar ada di dunia yang sama, menghirup udara yang sama, meski tak lagi berjalan di sisiku. Barangkali itu terdengar menyedihkan. Memang. Sebab beginilah rasanya mencintai seseorang yang sudah tidak lagi menjadi tempat pulang. Ada banyak kalimat yang tidak pernah sempat kusampaikan. Banyak cerita yang kubayangkan akan kita tertawakan bersama, tetapi akhirnya hanya menjadi percakapan panjang di dalam kepalaku sendiri. Waktu memang mengajarkan cara melanjutkan hidup, tetapi ia tidak pernah benar-benar mengajarkan bagaimana cara berhenti merindukan seseorang yang pernah menjadi rumah. Jadi jika suatu hari, tanpa sengaja, kita benar-benar bertemu di antara keramaian, biarkan aku menjadi orang yang berpura-pura tidak melihatmu. Jangan salah paham. Itu bukan karena aku sudah melupakanmu. Itu karena aku tahu, jika aku berhenti barang satu detik saja untuk menatapmu, semua keberanian yang kukumpulkan selama ini akan luruh menjadi air mata yang tidak akan sanggup kutahan. Dan setelah kita saling melewati tanpa sepatah kata, aku akan pulang dengan langkah yang tetap tenang. Lalu malamnya, diam-diam aku akan menangisi pertemuan yang sepanjang hidup selalu kuingkari dalam doa, tetapi diam-diam paling ingin terjadi. Sebab pada akhirnya, yang paling menyakitkan bukanlah kita yang tidak lagi bersama. Melainkan kenyataan bahwa aku masih mampu menemukanmu di setiap tempat yang kudatangi, bahkan ketika kamu tidak pernah benar-benar ada di sana. #aksarapena #sebuahtulisan #fyp #poetry🥀
Ada satu doa yang selalu aku ucapkan diam-diam setiap kali hendak melangkah ke tempat baru: semoga kita tidak pernah dipertemukan lagi oleh kebetulan apa pun. Semoga kota ini cukup luas untuk memisahkan dua orang yang pernah saling mengenal sedalam itu. Semoga waktu benar-benar mampu menghapus kemungkinan tentang kita. Tapi lucunya, setiap kali doa itu selesai kupanjatkan, aku justru melakukan hal yang bertolak belakang. Di setiap jalan yang kulewati, mataku tanpa sadar menyisir setiap wajah yang berpapasan. Di setiap tempat yang kusinggahi, aku selalu mencuri harapan yang tak pernah berani ku ucapkan. Mungkin kamu ada di sudut ruangan itu. Mungkin kamu baru saja lewat beberapa menit yang lalu. Mungkin, untuk sekali saja, semesta cukup iba mempertemukan kita walau hanya dalam diam. Aku selalu bilang aku tidak ingin bertemu denganmu lagi. Padahal yang sebenarnya kutakuti bukan pertemuannya, melainkan diriku sendiri. Aku takut semua yang sudah susah payah kubangun runtuh hanya karena melihatmu berdiri beberapa langkah di depanku. Aku takut semua kepura-puraan bahwa aku sudah baik-baik saja hancur hanya karena senyummu yang masih kuingat dengan begitu jelas. Dan kalau hari itu benar-benar datang, aku tahu aku tidak akan memanggil namamu. Aku mungkin hanya akan menundukkan kepala, berpura-pura sibuk, atau mengalihkan pandangan seolah kita hanyalah dua orang asing yang tidak pernah saling menyimpan dunia di dalam dada. Bukan karena aku membencimu. Justru karena aku masih terlalu mengenalmu. Aku tahu, satu tatapan saja mungkin cukup untuk menghidupkan kembali semua yang selama ini kupaksa mati. Lucu, ya? Seseorang bisa begitu merindukan, sekaligus begitu takut untuk bertemu. Aku rindu. Rindu yang tidak lagi mencari balasan, tidak lagi meminta untuk kembali. Rindu yang hanya ingin memastikan bahwa kamu benar-benar ada di dunia yang sama, menghirup udara yang sama, meski tak lagi berjalan di sisiku. Barangkali itu terdengar menyedihkan. Memang. Sebab beginilah rasanya mencintai seseorang yang sudah tidak lagi menjadi tempat pulang. Ada banyak kalimat yang tidak pernah sempat kusampaikan. Banyak cerita yang kubayangkan akan kita tertawakan bersama, tetapi akhirnya hanya menjadi percakapan panjang di dalam kepalaku sendiri. Waktu memang mengajarkan cara melanjutkan hidup, tetapi ia tidak pernah benar-benar mengajarkan bagaimana cara berhenti merindukan seseorang yang pernah menjadi rumah. Jadi jika suatu hari, tanpa sengaja, kita benar-benar bertemu di antara keramaian, biarkan aku menjadi orang yang berpura-pura tidak melihatmu. Jangan salah paham. Itu bukan karena aku sudah melupakanmu. Itu karena aku tahu, jika aku berhenti barang satu detik saja untuk menatapmu, semua keberanian yang kukumpulkan selama ini akan luruh menjadi air mata yang tidak akan sanggup kutahan. Dan setelah kita saling melewati tanpa sepatah kata, aku akan pulang dengan langkah yang tetap tenang. Lalu malamnya, diam-diam aku akan menangisi pertemuan yang sepanjang hidup selalu kuingkari dalam doa, tetapi diam-diam paling ingin terjadi. Sebab pada akhirnya, yang paling menyakitkan bukanlah kita yang tidak lagi bersama. Melainkan kenyataan bahwa aku masih mampu menemukanmu di setiap tempat yang kudatangi, bahkan ketika kamu tidak pernah benar-benar ada di sana. #aksarapena #sebuahtulisan #fyp #poetry🥀

About