@jaqui.hdz4: Y por qué no? 😩😩 #paratii #alfredoolivas #slp #fenapo #sanluispotosi #alfreditoolivas #foryou #yporqueno #fyppppppppppppppppppppppp #palenqueslp #viralvideos

Jaquelin Hernández
Jaquelin Hernández
Open In TikTok:
Region: MX
Thursday 28 August 2025 12:49:06 GMT
23667
1154
5
74

Music

Download

Comments

jaz.leija
Jaz leija :
Grabaste el malo de culiacan? Esque cuando la canto yo estaba en el baño 😩😭
2025-08-29 18:20:14
1
cra01138
Roxx :
no pude ir a verlo!!!🥺
2025-08-29 16:13:20
0
elyvs11
ElyVs💜 :
esa nooooooo 😫
2025-08-29 05:44:18
0
yadixmasalascastillo
YadixmaSC :
Tan precioso🥰😍
2025-09-12 05:30:24
0
luisnava3008
❄️Luis Ángel Nava❄️ :
😭😭😭
2025-08-28 17:19:27
1
To see more videos from user @jaqui.hdz4, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Kami berboncengan motor bertiga; aku di depan, mama di belakang, dan papa mengemudi. Perjalanan kami singkat saja—Kepahiang-Bengkulu, PP 4 jam. 100 kelok pegunungan terasa mengasyikkan, sejuk, penuh dengan rindang pepohonan. Kalau hujan, kami menepi di warung tepi jurang.  Begitu terus, sampai papa bisa membeli mobil pick up. Lalu ada aku dan om kecilku yang menumpang di belakang. Berdiri, menikmati angin. Jok mobil adalah playground kami waktu itu. Mungkin itu memori indah terakhir yang kuingat sebelum aku meninggalkan rumah di usia 9 tahun, naik kelas 5 SD, demi pendidikan dan kehidupan yang lebih baik. Papa dan mama tau, aku tidak akan jadi apa-apa jika menetap di kampung.  Begitu terus, sampai aku lulus S2. Perjalanan kali ini panjang—tidak sesingkat PP Kepahiang-Bengkulu. Di dalamnya penuh doa, drama, dan rahasia. Namun beginilah cara kami.  Kami bukan orang yang beruntung terlahir di kota besar. Yang dengan mudahnya satu zona dengan ‘sekolah favorit’. Yang dengan gampangnya punya akses ke berbagai kesempatan. Kami bukan keturunan kaum cendekia. Yang kuliah karena ‘kakek sama nenek doktor semua’. Di keluarga besar kami bahkan, yang kuliah hanya hitungan jari.  Kami bukan saudagar kaya raya. Yang dengan gampangnya bisa memilih destinasi kampus dan negara, tanpa perjuangan luar biasa.  Bagi sebagian orang, perjalalan sepertiku mungkin hanya membutuhkan 10 langkah. Bagiku, rasanya seperti 10 ribu. Banyak sekali kenekatan yang harus kudobrak hingga semesta memercayaiku untuk satu kursi, di antara banyak sekali kandidat, di sini. Kenekatan yang tak jarang gagal, namun aku bersyukur, selalu ada benang merah yang Tuhan ridhoi untuk membawaku ke sini. Terima kasih untuk penjual kue apam dan cucur di pasar, abang-abang kue putu keliling, penjual sate kacang dan mie pangsit favoritku, penjual pempek anak-anak di jalanan, tukang becak, guru-guru di SD-SMP-SMA-S1-S2, sahabat-sahabatku, #daffamigos !! Terima kasih semuanya. Terima kasih mama papa. Terima kasih Chevening. Terima kasih FCDO UK Government. Terima kasih UK Embassy in Indonesia. One thing leads to another, and I’m glad your love led me here.  - #DaffaAlFalah B.HSc (Hons.), MA 📸 shot by my incredibly handy mate @Senapati
Kami berboncengan motor bertiga; aku di depan, mama di belakang, dan papa mengemudi. Perjalanan kami singkat saja—Kepahiang-Bengkulu, PP 4 jam. 100 kelok pegunungan terasa mengasyikkan, sejuk, penuh dengan rindang pepohonan. Kalau hujan, kami menepi di warung tepi jurang. Begitu terus, sampai papa bisa membeli mobil pick up. Lalu ada aku dan om kecilku yang menumpang di belakang. Berdiri, menikmati angin. Jok mobil adalah playground kami waktu itu. Mungkin itu memori indah terakhir yang kuingat sebelum aku meninggalkan rumah di usia 9 tahun, naik kelas 5 SD, demi pendidikan dan kehidupan yang lebih baik. Papa dan mama tau, aku tidak akan jadi apa-apa jika menetap di kampung. Begitu terus, sampai aku lulus S2. Perjalanan kali ini panjang—tidak sesingkat PP Kepahiang-Bengkulu. Di dalamnya penuh doa, drama, dan rahasia. Namun beginilah cara kami. Kami bukan orang yang beruntung terlahir di kota besar. Yang dengan mudahnya satu zona dengan ‘sekolah favorit’. Yang dengan gampangnya punya akses ke berbagai kesempatan. Kami bukan keturunan kaum cendekia. Yang kuliah karena ‘kakek sama nenek doktor semua’. Di keluarga besar kami bahkan, yang kuliah hanya hitungan jari. Kami bukan saudagar kaya raya. Yang dengan gampangnya bisa memilih destinasi kampus dan negara, tanpa perjuangan luar biasa. Bagi sebagian orang, perjalalan sepertiku mungkin hanya membutuhkan 10 langkah. Bagiku, rasanya seperti 10 ribu. Banyak sekali kenekatan yang harus kudobrak hingga semesta memercayaiku untuk satu kursi, di antara banyak sekali kandidat, di sini. Kenekatan yang tak jarang gagal, namun aku bersyukur, selalu ada benang merah yang Tuhan ridhoi untuk membawaku ke sini. Terima kasih untuk penjual kue apam dan cucur di pasar, abang-abang kue putu keliling, penjual sate kacang dan mie pangsit favoritku, penjual pempek anak-anak di jalanan, tukang becak, guru-guru di SD-SMP-SMA-S1-S2, sahabat-sahabatku, #daffamigos !! Terima kasih semuanya. Terima kasih mama papa. Terima kasih Chevening. Terima kasih FCDO UK Government. Terima kasih UK Embassy in Indonesia. One thing leads to another, and I’m glad your love led me here. - #DaffaAlFalah B.HSc (Hons.), MA 📸 shot by my incredibly handy mate @Senapati

About