@amindarkan:

Darkan Darkan
Darkan Darkan
Open In TikTok:
Region: MA
Saturday 30 August 2025 12:32:25 GMT
1642
140
1
2

Music

Download

Comments

usu.az26
ربي كبير :
🥰🥰🥰
2025-08-30 13:55:17
0
To see more videos from user @amindarkan, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Cerita Leluhur Dayak Ngaju Saat Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia # Di tepian Sungai Kahayan yang airnya berkilau diterpa cahaya pagi, berdiri megah sebuah Betang panjang, tempat berkumpulnya masyarakat Dayak Ngaju pada tanggal 17 Agustus. Burung enggang bersahut-sahutan di atas rimba, seolah ikut menyambut hari besar bangsa. Damang, tetua adat yang rambutnya telah memutih namun suaranya tetap lantang, berdiri di hadapan warga. Ia menatap satu persatu wajah kaumnya, lalu berkata dengan penuh wibawa: > “Hari ini bukan sekadar mengibarkan Sang Merah Putih. Hari ini adalah hari untuk mengenang roh para leluhur yang telah berkorban demi tanah air. Seperti nenek moyang kita yang berani melawan penjajahan, kini kita menghormati mereka dengan doa, tarian, dan persatuan.” Anak-anak muda Dayak Ngaju berdiri gagah dengan lawung di kepala dan saput bermotif adat yang membalut pinggang. Mandau mereka genggam erat, bukan lagi senjata perang, melainkan lambang semangat menjaga kehormatan bangsa. Perempuan Dayak menghias diri dengan bulang etek dan bulu enggang, menyiapkan beras kuning, ayam panggang, dan tuak manis sebagai persembahan adat. Saat Sang Saka Merah Putih perlahan naik di depan betang, suasana hening. Semua menundukkan kepala. Hanya suara gendang adat yang berdentum lembut, mengiringi doa kepada Ranying Hatalla Langit agar bangsa ini selalu diberkahi dalam persatuan. Damang kembali bersuara: > “Kemerdekaan adalah warisan. Dahulu leluhur kita menjaga hutan, sungai, dan tanah ini dengan darah dan keringat. Kini tugas kita menjaga Indonesia dengan kerja, persaudaraan, dan kebijaksanaan.” Selepas upacara, tarian Manasai digelar. Lingkaran manusia terbentuk: tua dan muda, laki-laki dan perempuan, semuanya bergandengan tangan, bergerak seirama. Tidak ada sekat, semua menyatu dalam satu lingkaran: lingkaran persaudaraan, lingkaran Merdeka. Malam pun tiba. Obor menyala di tepi Kahayan, memantulkan cahaya di air yang beriak tenang. Para tetua menuturkan kembali kisah perjuangan: tentang Dayak yang ikut mengangkat senjata melawan penjajahan, tentang hutan dan tanah yang dipertahankan, tentang doa-doa leluhur yang terus dipanjatkan demi kebebasan. Hari itu, 17 Agustus tidak hanya diperingati dengan bendera dan lagu kebangsaan, tetapi dengan adat, tarian, doa, dan syukur. Leluhur Dayak Ngaju percaya, selama rakyat Indonesia hidup dalam persaudaraan seperti lingkaran Manasai, maka api kemerdekaan akan tetap menyala di hati setiap generasi. --- #pesanmoral  #jangkauanluas  #fyp  #Cerita  #reels
Cerita Leluhur Dayak Ngaju Saat Memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia # Di tepian Sungai Kahayan yang airnya berkilau diterpa cahaya pagi, berdiri megah sebuah Betang panjang, tempat berkumpulnya masyarakat Dayak Ngaju pada tanggal 17 Agustus. Burung enggang bersahut-sahutan di atas rimba, seolah ikut menyambut hari besar bangsa. Damang, tetua adat yang rambutnya telah memutih namun suaranya tetap lantang, berdiri di hadapan warga. Ia menatap satu persatu wajah kaumnya, lalu berkata dengan penuh wibawa: > “Hari ini bukan sekadar mengibarkan Sang Merah Putih. Hari ini adalah hari untuk mengenang roh para leluhur yang telah berkorban demi tanah air. Seperti nenek moyang kita yang berani melawan penjajahan, kini kita menghormati mereka dengan doa, tarian, dan persatuan.” Anak-anak muda Dayak Ngaju berdiri gagah dengan lawung di kepala dan saput bermotif adat yang membalut pinggang. Mandau mereka genggam erat, bukan lagi senjata perang, melainkan lambang semangat menjaga kehormatan bangsa. Perempuan Dayak menghias diri dengan bulang etek dan bulu enggang, menyiapkan beras kuning, ayam panggang, dan tuak manis sebagai persembahan adat. Saat Sang Saka Merah Putih perlahan naik di depan betang, suasana hening. Semua menundukkan kepala. Hanya suara gendang adat yang berdentum lembut, mengiringi doa kepada Ranying Hatalla Langit agar bangsa ini selalu diberkahi dalam persatuan. Damang kembali bersuara: > “Kemerdekaan adalah warisan. Dahulu leluhur kita menjaga hutan, sungai, dan tanah ini dengan darah dan keringat. Kini tugas kita menjaga Indonesia dengan kerja, persaudaraan, dan kebijaksanaan.” Selepas upacara, tarian Manasai digelar. Lingkaran manusia terbentuk: tua dan muda, laki-laki dan perempuan, semuanya bergandengan tangan, bergerak seirama. Tidak ada sekat, semua menyatu dalam satu lingkaran: lingkaran persaudaraan, lingkaran Merdeka. Malam pun tiba. Obor menyala di tepi Kahayan, memantulkan cahaya di air yang beriak tenang. Para tetua menuturkan kembali kisah perjuangan: tentang Dayak yang ikut mengangkat senjata melawan penjajahan, tentang hutan dan tanah yang dipertahankan, tentang doa-doa leluhur yang terus dipanjatkan demi kebebasan. Hari itu, 17 Agustus tidak hanya diperingati dengan bendera dan lagu kebangsaan, tetapi dengan adat, tarian, doa, dan syukur. Leluhur Dayak Ngaju percaya, selama rakyat Indonesia hidup dalam persaudaraan seperti lingkaran Manasai, maka api kemerdekaan akan tetap menyala di hati setiap generasi. --- #pesanmoral #jangkauanluas #fyp #Cerita #reels

About