@yuki.move: この時間帯の過ごしやすさ。 鎌倉の海沿いを散歩 3話 -82- #鎌倉 #kamakura #japantravel

Yuki[魅力ある景色の記録]
Yuki[魅力ある景色の記録]
Open In TikTok:
Region: JP
Sunday 31 August 2025 21:23:51 GMT
47628
4165
23
348

Music

Download

Comments

tomoaki892
ともあき / tomoaki :
どうやったらこの何とも言えない色合いで撮れるのか?🤔ゆきさんにしかできないと思います😊
2025-09-01 14:08:48
6
theangelanemoia
Нева :
本当に綺麗ですね~
2025-09-18 03:58:24
1
m.o.o.n.77
🎐マロリー🎐 :
おはよう 日本。
2025-10-25 06:51:07
1
user37749773100368
てててててん :
海のある街に住みたいな、、
2025-09-01 03:55:45
3
heartz4vampp
heartz4vampire :
Beautiful
2025-10-13 12:22:52
2
vn.hu490
🦥 :
name music
2025-09-02 05:49:33
1
studio_coconut0110
🌏スタジオ☆ココナッツ🌏 :
秋の鎌倉、夕焼け、海全ての雰囲気が素敵です☺️✨
2025-10-13 08:57:56
1
full_balloon39
フルバルーン【映像制作】full balloon@movie :
鎌倉の夕焼け素敵ですね☺️✨✨
2025-08-31 22:20:02
1
yamachan215
レンズ越しの山ちゃん :
❤️❤️❤️
2025-09-01 22:14:41
1
muajhmoob_
Muaj Hmoob :
@?
2025-08-31 21:45:56
2
To see more videos from user @yuki.move, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Sejarah Kerajaan Amantubillah dan Lahirnya Kesultanan Pontianak 🌊 1. Awal Berdirinya Mempawah Lama Sebelum berdirinya Kerajaan Islam Amantubillah, wilayah Mempawah telah dikenal sebagai pusat kerajaan tua yang disebut Kerajaan Sidiniang atau Kerajaan Mempawah Lama. Raja terakhir kerajaan ini adalah Patih Gumantar, seorang raja Dayak yang memerintah dengan kebijaksanaan dan kearifan lokal. Namun, setelah masa beliau berakhir, daerah ini mulai dipengaruhi oleh gelombang Islamisasi yang datang melalui jalur perdagangan pesisir. ⚓ 2. Datangnya Opu Daeng Menambun dan Islamisasi Mempawah Sekitar abad ke-18, datanglah Opu Daeng Menambun, bangsawan Bugis dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan. Ia adalah salah satu dari lima bersaudara keturunan bangsawan Bugis yang terkenal sebagai Opu Daeng Lima Bersaudara: Opu Daeng Parani Opu Daeng Marewah Opu Daeng Menambun Opu Daeng Chelak Opu Daeng Kamasi Opu Daeng Menambun menikah dengan Putri Kesumba, pewaris Kerajaan Mempawah Lama. Dari perkawinan ini lahirlah dinasti baru, yakni Kerajaan Amantubillah Mempawah, yang menjadi kerajaan Islam pertama dan terbesar di pesisir barat Kalimantan 🕌 3. Makna “Amantubillah” Nama “Amantubillah” berasal dari kalimat tauhid dalam bahasa Arab “Āmantu billāhi” yang berarti “Aku beriman kepada Allah.” Nama ini dipilih sebagai falsafah kerajaan dan menjadi semboyan pemerintahan: > “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” Filosofi ini mengandung makna bahwa pemerintahan harus berlandaskan hukum Allah, dengan adat sebagai wadah dan syariat sebagai isinya ⚖️ 4. Peran Abdurahman: Imam anak Habib Husein AlKadrie  Dalam masa perkembangan Amantubillah, muncul sosok penting bernama  Abdurrahman seorang ulama besar, imam, dan kadi (hakim Islam) kerajaan. Beliau bukan hanya tokoh agama, tetapi juga ahli hukum Islam yang menjadi penasehat utama istana dalam perkara hukum syariat. Di tangan beliau, Kerajaan Amantubillah berkembang sebagai pusat ilmu keislaman dan hukum Islam di Kalimantan Barat, yang kelak menjadi dasar lahirnya tradisi ulama di keluarga Al-Kadrie. 🌅 5. Sultan Abdurrahman bin Habib Husein Al-Kadrie: Hijrah ke Pontianak Dari garis keturunannya, lahirlah seorang tokoh besar bernama Sultan Hamid Al-Kadrie lalu di Gelar' Sultan Hamid II, seorang negarawan sekaligus bangsawan berdarah Arab dan Bugis-Melayu. Sekitar tahun 1771 M, Habib Husein melakukan hijrah dari Mempawah menuju muara Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di tempat pertemuan dua sungai besar itulah beliau mendirikan Kesultanan Kadriah Pontianak, sekaligus membangun Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman (kini Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak) 🕌 6. Berdirinya Kesultanan Kadriah Pontianak (1771 M) Pada tanggal 23 Oktober 1771 M, Habib Husein Al-Kadrie bersama para pengikutnya membangun istana pertama di Pontianak dan mengangkat dirinya sebagai Sultan pertama Kesultanan Kadriah Pontianak dengan gelar Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadrie. Kesultanan ini menjadi pusat pemerintahan Islam, perdagangan, dan ilmu pengetahuan di Kalimantan Barat. Letaknya yang strategis di muara Sungai Kapuas menjadikan Pontianak pelabuhan penting yang ramai dikunjungi pedagang dari Arab, Tiongkok, Bugis, dan Melayu 🦅 7. Dari Garis Mempawah ke Sultan Hamid II Beberapa generasi kemudian, dari garis keturunan Habib Husein Al-Kadrie, Melalui  jalur Sultan Muhammad AlKadrie, lahirlah Sultan Hamid II — Sultan Pontianak ke-7. Beliau dididik dengan nilai Islam, ilmu hukum, dan semangat kebangsaan. Sebagai penerus tradisi ulama dan pemimpin, Sultan Hamid II mengabdikan dirinya kepada Republik Indonesia dengan merancang Lambang Negara Garuda Pancasila, simbol pemersatu bangsa yang menegaskan nilai > “Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai fondasi keadilan, kemanusiaan, dan persatuan bangsa. 🌺 8. Warisan dari Amantubillah ke Pontianak Rantai sejarah ini menunjukkan kesinambungan antara Kerajaan Amantubillah Mempawah dan Kesultanan Kadriah Pontianak.#TurimanCorner #fypシ゚viral🖤tiktok #fypシ゚ #SultanHamidII #melvin
Sejarah Kerajaan Amantubillah dan Lahirnya Kesultanan Pontianak 🌊 1. Awal Berdirinya Mempawah Lama Sebelum berdirinya Kerajaan Islam Amantubillah, wilayah Mempawah telah dikenal sebagai pusat kerajaan tua yang disebut Kerajaan Sidiniang atau Kerajaan Mempawah Lama. Raja terakhir kerajaan ini adalah Patih Gumantar, seorang raja Dayak yang memerintah dengan kebijaksanaan dan kearifan lokal. Namun, setelah masa beliau berakhir, daerah ini mulai dipengaruhi oleh gelombang Islamisasi yang datang melalui jalur perdagangan pesisir. ⚓ 2. Datangnya Opu Daeng Menambun dan Islamisasi Mempawah Sekitar abad ke-18, datanglah Opu Daeng Menambun, bangsawan Bugis dari Kerajaan Luwu, Sulawesi Selatan. Ia adalah salah satu dari lima bersaudara keturunan bangsawan Bugis yang terkenal sebagai Opu Daeng Lima Bersaudara: Opu Daeng Parani Opu Daeng Marewah Opu Daeng Menambun Opu Daeng Chelak Opu Daeng Kamasi Opu Daeng Menambun menikah dengan Putri Kesumba, pewaris Kerajaan Mempawah Lama. Dari perkawinan ini lahirlah dinasti baru, yakni Kerajaan Amantubillah Mempawah, yang menjadi kerajaan Islam pertama dan terbesar di pesisir barat Kalimantan 🕌 3. Makna “Amantubillah” Nama “Amantubillah” berasal dari kalimat tauhid dalam bahasa Arab “Āmantu billāhi” yang berarti “Aku beriman kepada Allah.” Nama ini dipilih sebagai falsafah kerajaan dan menjadi semboyan pemerintahan: > “Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah.” Filosofi ini mengandung makna bahwa pemerintahan harus berlandaskan hukum Allah, dengan adat sebagai wadah dan syariat sebagai isinya ⚖️ 4. Peran Abdurahman: Imam anak Habib Husein AlKadrie Dalam masa perkembangan Amantubillah, muncul sosok penting bernama Abdurrahman seorang ulama besar, imam, dan kadi (hakim Islam) kerajaan. Beliau bukan hanya tokoh agama, tetapi juga ahli hukum Islam yang menjadi penasehat utama istana dalam perkara hukum syariat. Di tangan beliau, Kerajaan Amantubillah berkembang sebagai pusat ilmu keislaman dan hukum Islam di Kalimantan Barat, yang kelak menjadi dasar lahirnya tradisi ulama di keluarga Al-Kadrie. 🌅 5. Sultan Abdurrahman bin Habib Husein Al-Kadrie: Hijrah ke Pontianak Dari garis keturunannya, lahirlah seorang tokoh besar bernama Sultan Hamid Al-Kadrie lalu di Gelar' Sultan Hamid II, seorang negarawan sekaligus bangsawan berdarah Arab dan Bugis-Melayu. Sekitar tahun 1771 M, Habib Husein melakukan hijrah dari Mempawah menuju muara Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Di tempat pertemuan dua sungai besar itulah beliau mendirikan Kesultanan Kadriah Pontianak, sekaligus membangun Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman (kini Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak) 🕌 6. Berdirinya Kesultanan Kadriah Pontianak (1771 M) Pada tanggal 23 Oktober 1771 M, Habib Husein Al-Kadrie bersama para pengikutnya membangun istana pertama di Pontianak dan mengangkat dirinya sebagai Sultan pertama Kesultanan Kadriah Pontianak dengan gelar Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadrie. Kesultanan ini menjadi pusat pemerintahan Islam, perdagangan, dan ilmu pengetahuan di Kalimantan Barat. Letaknya yang strategis di muara Sungai Kapuas menjadikan Pontianak pelabuhan penting yang ramai dikunjungi pedagang dari Arab, Tiongkok, Bugis, dan Melayu 🦅 7. Dari Garis Mempawah ke Sultan Hamid II Beberapa generasi kemudian, dari garis keturunan Habib Husein Al-Kadrie, Melalui jalur Sultan Muhammad AlKadrie, lahirlah Sultan Hamid II — Sultan Pontianak ke-7. Beliau dididik dengan nilai Islam, ilmu hukum, dan semangat kebangsaan. Sebagai penerus tradisi ulama dan pemimpin, Sultan Hamid II mengabdikan dirinya kepada Republik Indonesia dengan merancang Lambang Negara Garuda Pancasila, simbol pemersatu bangsa yang menegaskan nilai > “Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai fondasi keadilan, kemanusiaan, dan persatuan bangsa. 🌺 8. Warisan dari Amantubillah ke Pontianak Rantai sejarah ini menunjukkan kesinambungan antara Kerajaan Amantubillah Mempawah dan Kesultanan Kadriah Pontianak.#TurimanCorner #fypシ゚viral🖤tiktok #fypシ゚ #SultanHamidII #melvin

About