@p.jorgevargas: Pack básico para comenzar en la fe 😎 #qdtb #fe #preguntasyrespuestas #iglesia

Padre Jorge Vargas
Padre Jorge Vargas
Open In TikTok:
Region: PE
Thursday 04 September 2025 03:07:35 GMT
17237
2106
35
305

Music

Download

Comments

anafrancisvillaloboscorr
Francis :
muy útil lo del yucat🥺 gracias 😊
2025-09-04 04:52:44
8
makhant22
Makhant :
Ya lo extrañaba Padre su chispa, ahora a postearlo para que entiendan 😅🫰🏻😬
2025-09-04 03:35:21
3
2022_morgana
MORGANA2000 :
padre , qué Biblia me puede recomendar para leer como católica , editorial y nombre
2025-09-04 03:24:05
7
asmodeo421
Asmodeo :
yo no voy a misa, pero siempre leo y reviso la biblia, actualmente estoy en un libro que narra la vida de Jesus de Juan Pablo II :/.
2025-10-20 04:06:16
1
martha.carbajal468
marthacarbajal64 :
El catecismo de la iglesia católica....🙏❤️🙏
2025-10-22 19:52:36
0
huldi6
Huldi :
Y para perseverar?? Osea vencer la pereza??
2025-09-04 22:44:41
0
adriusan20
Adriana Uribe Sánche :
ir a misa realmente es reconfortante oara el alma, antes bonlo entendía, pero desde que empecé a orar en casa y pedirle a dios un milagro, el cual no se cumplió y más bien parecía que todo de iba a de mal en peor, y que antes abandonada y renegaba, decidí eguir, ir a misa y reencontrarme con Dios, es una experiencia que no se puede describir
2025-09-04 05:17:50
1
ruthsilviacruz
Ruth Silvia Cruz Var :
🙄Tengo un tema con un "fanático de la fe, literal porque disque sabe mucho de eso y reza miles de rosarios, bueno anda medio ilucionado conmigo, no le hago caso y lo mas tengo al margen, ya se le ha puesto las cosas en claro. Pero ahí siento que nada medio acosandome, yo dirijo el coro. No lo puedo botar pero la verdad tampoco quiero que este. Que debería hacer??? Y no me digan que solo rezar para que cambie porfaaa...
2025-09-05 05:27:54
0
angelyaccesorios
Angely Accesorios :
Es muy cierto estuve alejada un poco, pero lo que dice el padre de ir a misa te va sanando y aumenta tu Fe.
2025-09-04 12:26:35
1
beautifulcinthya
yop🕯🥯 :
gracias padre, 🤣 enseñale a orar, lo que te salga. me hizo reir esa parte, pero tiene sentido
2025-09-14 01:24:54
0
karollhf
Karo💓🌹✨ :
amen
2025-09-05 18:54:02
0
carlos.cabrera0228
Carlos :
El Catecismo Mayor de San Pío X es mejor. 😎
2025-09-04 05:33:39
0
elvisioso51
ELVISioso ❤️‍🔥 :
el youcat se vende?
2025-09-04 16:29:40
0
judicytavs
Judith Vega Jvs :
jejeje .. me encantó lo del pack básico
2025-09-04 03:12:40
5
yanetgloria
user1234567891234567 :
@Alfredo Amez
2025-09-07 12:44:13
1
dayanna_2431
illariy04 XD :
@Gustavo Paúl Castill cómprame el YOUCAT
2025-09-05 15:24:24
1
maraflores9501
🅙🅗🅢ℳ𝒶𝓇𝒾𝓁𝓊 ፕ Ⲙⲁⲅⲁⲛⲁⲧⲏⲁ :
🙏🙏🙏
2025-09-06 03:24:32
0
geraldine8728
Geraldine :
❤️❤️❤️❤
2025-09-12 13:19:58
0
mr..harrigan
Mr. Harrigan :
❤️💪
2025-09-06 05:15:27
0
monic7274
Mónic Nuñez :
👍🙏
2025-09-04 16:47:05
0
nohemimartinez555
nohemimartinez555 :
🥰🥰🥰
2025-09-05 01:31:55
0
juanmedrano054
Juan Medrano :
🥰🥰🥰
2025-09-04 09:43:12
0
ivan.am2694
Ivan AM :
@Yous Lino lo básico
2025-09-04 05:41:01
0
fragil.psycho
Psycho.Gia :
🥰❤️‍🔥✨
2025-09-04 03:15:46
0
To see more videos from user @p.jorgevargas, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

#pov :  ​“Truth or dare?” ​Kamu menghela napas singkat, berdecih. “Dare.” ​Sorak kecil meledak. Teman-teman satu gengmu di SMA memang selalu berisik jika sudah berkumpul di warung belakang sekolah. Dan di sanalah namanya disebut, seolah target sudah disiapkan sejak awal. ​“Pacaran sama Juhoon.” ​Juhoon. Si cowok berkacamata tebal, duduk di barisan depan kelas, selalu datang lebih pagi dari siapa pun. Tidak pernah ikutan nongkrong di kantin. Tidak pernah ikut bercanda. Bahkan ia tidak pernah tersenyum. ​“Cuma dua minggu, kan?” katamu santai, memutar-mutar kunci vesmet mu. “That's easy.” ​Hari itu, permainan dimulai. Kamu melihat Juhoon di koridor sekolah dekat loker dan mendekatinya. Berusaha sok akrab. ​Kamu menangkup kedua tanganmu di pipi, lalu melempar senyum lebar yang di mata Juhoon terlihat sangat aneh. ​“Lo kenapa?” tanyanya datar, jelas tidak nyaman. ​“Mau kenalan doang emang nggak boleh?” ujarmu seraya tersenyum semanis mungkin. ​“Gue nggak tertarik kenalan, apalagi punya temen kayak lo,” balasnya dingin. Ia menutup lokernya dengan pelan, lalu beranjak pergi. ​Oke. Kamu gagal di hari pertama. ​Hari kedua, kamu sengaja duduk di sebelah Juhoo  saat jam pelajaran Fisika. Menggeser kursi tanpa izin, lalu menyodorkan sebatang cokelat. ​Juhoon menerimanya tanpa ekspresi, memasukkannya ke dalam tas, namun tidak berbicara sepatah kata pun. ​Oke, nice try. ​Hari ketiga, semuanya terbongkar. Kamu tidak tahu dari mana ia mendengarnya. Mungkin bisik-bisik anak-anak di kelas terlalu keras, atau tawa gengmu yang mencolok saat memperhatikannya dari jauh. Yang jelas, sore itu saat sekolah sudah sepi, ia menghentikan langkahmu di lorong laboratorium yang kosong. ​“Gue tau,” ucapnya. Nada suara itu berat dan dingin. “Gue target taruhan lo, kan?” ​Kamu terdiam. Jantungmu berdegup aneh, tapi kamu segera tertawa kecil, pura-pura santai. “Ketahuan ya? Jadi lo mau dong, jadi pacar gue?” ​Ia menatapmu lurus dari balik lensa kacamatanya. Tatapan yang entah kenapa membuat senyummu terasa canggung. ​“Cuma dua minggu kan?” katanya. “Setelah itu jangan ganggu gue lagi.” ​Kamu menyeringai kecil, mencoba mengembalikan kendali. Kamu menepuk pundaknya beberapa kali. “Lagian siapa juga sih yang mau lama-lama sama cowok innocent kayak lo? Bosenin tahu nggak.” ​Juhoon tidak tersinggung. Itu yang membuatmu sedikit terkejut. ​“Terserah,” balasnya singkat. Ia membenarkan letak tas ranselnya lalu berjalan melewatimu, meninggalkanmu yang sedikit speechless dengan ketenangannya. ♡♡♡ ​Minggu pertama berpacaran dengan Juhoon. Dan di hari pertamanya, kamu berkacak pinggang di parkiran sekolah seraya memperhatikan bingkai hitam yang selalu bertengger di wajah Juhoon. ​“Lo kelihatan culun banget kalau pakai kacamata itu,” katamu sambil menyeringai kecil. ​Juhoon hanya berkedip sekali. “Oh,” jawabnya singkat. ​Kamu menggeram kesal dalam hati. Cowok satu ini ternyata sangat pandai membuat orang gemas karena sifat pasifnya. ♡♡♡ ​Hari kedua, kamu memutuskan ikut masuk ke dunianya, perpustakaan sekolah yang super sepi. ​Kamu duduk di depan Juhoon, satu meja. Mengambil buku ensiklopedia tebal yang judulnya bahkan tidak kamu pahami. Pura-pura membaca, padahal sesekali menguap keras-keras. ​“Serius lo betah baca ginian tiap hari?” ​Juhoon membalik halaman bukunya. “Kalau nggak betah gue nggak bakal duduk di sini.” ​Kamu memutar bola mata malas. “Lo kalau ngomong emang rada nyelekit gitu ya?” ​“Sama lo doang,” jawab Juhoon tanpa beralih dari bukunya. ​Kamu hanya menatapnya datar. Lalu lagi-lagi, tanganmu bertumpu di dagu seraya mengunci tatapanmu padanya. Menunggu dia menyuruhmu pergi karena terganggu. ​Tapi tidak. Juhoon membiarkanmu tinggal seolah kehadiranmu tidak mengganggu, tapi juga tidak penting. ​“Lo beneran... aneh,” gumammu pelan. ​“Hm, jangan sampai lo suka,” balas Juhoon, nadanya datar tapi entah kenapa terdengar berbahaya. ​Kamu berdecih. “Enggak akan.” ♡♡♡ ​Hari ketiga, kamu bosan setengah mati. Kamu mengetuk meja sembari menoleh kepada Juhoon. ​(comsec+++) #JUHOON #fyp #alternativeuniverse #xcyzba
#pov : ​“Truth or dare?” ​Kamu menghela napas singkat, berdecih. “Dare.” ​Sorak kecil meledak. Teman-teman satu gengmu di SMA memang selalu berisik jika sudah berkumpul di warung belakang sekolah. Dan di sanalah namanya disebut, seolah target sudah disiapkan sejak awal. ​“Pacaran sama Juhoon.” ​Juhoon. Si cowok berkacamata tebal, duduk di barisan depan kelas, selalu datang lebih pagi dari siapa pun. Tidak pernah ikutan nongkrong di kantin. Tidak pernah ikut bercanda. Bahkan ia tidak pernah tersenyum. ​“Cuma dua minggu, kan?” katamu santai, memutar-mutar kunci vesmet mu. “That's easy.” ​Hari itu, permainan dimulai. Kamu melihat Juhoon di koridor sekolah dekat loker dan mendekatinya. Berusaha sok akrab. ​Kamu menangkup kedua tanganmu di pipi, lalu melempar senyum lebar yang di mata Juhoon terlihat sangat aneh. ​“Lo kenapa?” tanyanya datar, jelas tidak nyaman. ​“Mau kenalan doang emang nggak boleh?” ujarmu seraya tersenyum semanis mungkin. ​“Gue nggak tertarik kenalan, apalagi punya temen kayak lo,” balasnya dingin. Ia menutup lokernya dengan pelan, lalu beranjak pergi. ​Oke. Kamu gagal di hari pertama. ​Hari kedua, kamu sengaja duduk di sebelah Juhoo saat jam pelajaran Fisika. Menggeser kursi tanpa izin, lalu menyodorkan sebatang cokelat. ​Juhoon menerimanya tanpa ekspresi, memasukkannya ke dalam tas, namun tidak berbicara sepatah kata pun. ​Oke, nice try. ​Hari ketiga, semuanya terbongkar. Kamu tidak tahu dari mana ia mendengarnya. Mungkin bisik-bisik anak-anak di kelas terlalu keras, atau tawa gengmu yang mencolok saat memperhatikannya dari jauh. Yang jelas, sore itu saat sekolah sudah sepi, ia menghentikan langkahmu di lorong laboratorium yang kosong. ​“Gue tau,” ucapnya. Nada suara itu berat dan dingin. “Gue target taruhan lo, kan?” ​Kamu terdiam. Jantungmu berdegup aneh, tapi kamu segera tertawa kecil, pura-pura santai. “Ketahuan ya? Jadi lo mau dong, jadi pacar gue?” ​Ia menatapmu lurus dari balik lensa kacamatanya. Tatapan yang entah kenapa membuat senyummu terasa canggung. ​“Cuma dua minggu kan?” katanya. “Setelah itu jangan ganggu gue lagi.” ​Kamu menyeringai kecil, mencoba mengembalikan kendali. Kamu menepuk pundaknya beberapa kali. “Lagian siapa juga sih yang mau lama-lama sama cowok innocent kayak lo? Bosenin tahu nggak.” ​Juhoon tidak tersinggung. Itu yang membuatmu sedikit terkejut. ​“Terserah,” balasnya singkat. Ia membenarkan letak tas ranselnya lalu berjalan melewatimu, meninggalkanmu yang sedikit speechless dengan ketenangannya. ♡♡♡ ​Minggu pertama berpacaran dengan Juhoon. Dan di hari pertamanya, kamu berkacak pinggang di parkiran sekolah seraya memperhatikan bingkai hitam yang selalu bertengger di wajah Juhoon. ​“Lo kelihatan culun banget kalau pakai kacamata itu,” katamu sambil menyeringai kecil. ​Juhoon hanya berkedip sekali. “Oh,” jawabnya singkat. ​Kamu menggeram kesal dalam hati. Cowok satu ini ternyata sangat pandai membuat orang gemas karena sifat pasifnya. ♡♡♡ ​Hari kedua, kamu memutuskan ikut masuk ke dunianya, perpustakaan sekolah yang super sepi. ​Kamu duduk di depan Juhoon, satu meja. Mengambil buku ensiklopedia tebal yang judulnya bahkan tidak kamu pahami. Pura-pura membaca, padahal sesekali menguap keras-keras. ​“Serius lo betah baca ginian tiap hari?” ​Juhoon membalik halaman bukunya. “Kalau nggak betah gue nggak bakal duduk di sini.” ​Kamu memutar bola mata malas. “Lo kalau ngomong emang rada nyelekit gitu ya?” ​“Sama lo doang,” jawab Juhoon tanpa beralih dari bukunya. ​Kamu hanya menatapnya datar. Lalu lagi-lagi, tanganmu bertumpu di dagu seraya mengunci tatapanmu padanya. Menunggu dia menyuruhmu pergi karena terganggu. ​Tapi tidak. Juhoon membiarkanmu tinggal seolah kehadiranmu tidak mengganggu, tapi juga tidak penting. ​“Lo beneran... aneh,” gumammu pelan. ​“Hm, jangan sampai lo suka,” balas Juhoon, nadanya datar tapi entah kenapa terdengar berbahaya. ​Kamu berdecih. “Enggak akan.” ♡♡♡ ​Hari ketiga, kamu bosan setengah mati. Kamu mengetuk meja sembari menoleh kepada Juhoon. ​(comsec+++) #JUHOON #fyp #alternativeuniverse #xcyzba

About