@shoepointkenyaa: Newbalance 9060 ladies. Size 37/38/39/40/41/42/ Price 3999 0727776837 #ladies #newbalance #fyp #foryoupage #viral

shoepointkenyaa
shoepointkenyaa
Open In TikTok:
Region: KE
Friday 12 September 2025 07:26:44 GMT
1674294
53749
1081
12161

Music

Download

Comments

roshellgraham125
roshellgraham125 :
how do I ordered
2025-09-14 17:29:11
14
smileydesigns_
Smiley 😄 Designs :
How can I order? Need a size 9.5
2025-11-23 15:03:34
1
veronicavideira3
Veronica🇬🇧🇵🇹🇦🇴❤️ :
Do you ship to UK 😍
2025-09-14 21:33:50
7
lailaxelsiex
lailaxelsiex :
How much for 5.5 pls ship to uk x
2025-10-03 16:02:57
1
madamepdg001
madamepdg001 :
Hello, which country are you in?
2025-09-13 06:08:26
5
nayyyy_2025
Nayyyy😍😍😍 :
how do I order
2025-10-06 21:23:37
1
trinawashington79
JuicyT75 :
I need theses
2025-10-05 23:12:05
1
l1501163
Lisa :
How do you order
2026-01-15 22:12:54
1
shaniguaabbott
shaniguaabbott :
how much?
2025-10-18 16:49:22
1
46adwoa
Nana Adwoa Adepa Amoakowaa :
I need one pls
2026-02-05 16:18:51
1
beautieeful
MISS SASHA :
Are these still available
2025-12-28 05:39:35
1
anitadaniels25
anitadaniels25 :
how much sending to kabwe
2025-09-12 19:03:06
7
jn_043
Joanna :
Do you ship to uk?
2025-09-13 17:54:39
5
user6693319556185
Silvi10 :
How much please?
2025-12-17 23:11:31
1
sheribooss
Sherifa Khalia Forsy :
I need size 40
2025-12-21 14:31:55
2
dkhines2
DK Hines :
how do i order
2025-10-11 01:29:34
1
carmen.cortes2408
morenita Cortes🎀 :
hola haces envio a españa.?
2025-09-14 01:49:43
5
pric907boss1
Snack boss🇯🇲🇧🇷 :
What is the price
2025-09-13 07:23:19
5
colagirl79
CapricornGirly😋 :
Do you still have a womens 9.5?
2026-02-05 12:13:10
1
lorrainetyson91
Lorraine💋 :
how do you order ?
2025-10-24 14:23:29
1
rachelmoran1980
Rachel Moran :
how do inorder
2025-11-21 16:39:21
1
msshontae07
MsShontaeIsaidwhatIsaid :
How do you order
2025-10-12 02:31:10
1
ownbywho1
Mercedes :
How can I order
2025-10-28 20:39:50
1
stacey8191
Stacey :
How do you order n how much
2025-12-09 11:54:38
1
To see more videos from user @shoepointkenyaa, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Manusia: Satu‑satunya Mata bagi Seluruh Alam Semesta   Ibnu ‘Arabi, seorang pemikir agung yang paham hakikat hidup, menyampaikan kiasan yang sangat indah namun jarang dipahami makna sesungguhnya:   “Seluruh jagat raya ini bagaikan sebuah cincin yang dibuat dengan sangat indah dan sempurna  namun kosong bagian tengahnya. Dan manusialah yang menjadi permata berharga yang diletakkan tepat di pusatnya; tanpa permata itu, cincin itu hanyalah sepotong logam biasa yang tak bernilai istimewa.”   Maknanya jauh melampaui sekadar “manusia makhluk terhebat”.  Inilah rahasianya: Bintang berkelap‑kelip jutaan tahun lamanya, gunung menjulang tinggi menembus awan, samudra bergulung luas tak bertepi, bunga mekar dengan warna menakjubkan  semua keagungan itu sama sekali tak berarti apa‑apa, jika tak ada makhluk yang mampu menyaksikan, merasakan, dan memahaminya.   Tanpa manusia, alam semesta ini persis seperti lukisan indah yang digantung di ruang gelap selamanya atau nyanyian terindah yang dinyanyikan saat tak ada pendengarnya.  Ia ada secara fisik, tapi seolah‑olah tak pernah ada sama sekali  karena tak ada yang tahu akan keberadaannya.   Itulah sebabnya manusia disebut sebagai “Jagat Kecil”.  Bukan karena ukurannya kecil dibandingkan langit dan bumi, melainkan karena di dalam dirinya terangkum seluruh isi semesta,  dan karenalah semesta yang luas itu akhirnya menyadari keberadaannya sendiri.  Manusia diberi akal budi, hati nurani, dan kemampuan merenung bukan sekadar untuk bertahan hidup atau menurut perintah  melainkan untuk menjadi mata pengamat sekaligus suara bagi seluruh alam semesta.   Lewat pandangan matamu, keindahan alam akhirnya dilihat lewat perasaan hatimu, keadilan semesta akhirnya dirasakan, lewat ucapan dan tindakanmu, kebenaran kehidupan akhirnya terwujud di muka bumi ini.  Seluruh pepohonan, sungai, hewan, tanah, dan udara  semuanya tak bisa berbicara, tak bisa membela diri, tak bisa memahami makna hidup… semuanya bergantung kepadamu untuk menjadi “nyata” dan bermakna.   Lalu muncul pertanyaan yang sangat menyakitkan sekaligus penting Jika kedudukanmu begitu mulia dan sentral  mengapa engkau malah rela membiarkan matamu ini dibutakan orang lain?   Mengapa engkau membiarkan akal budimu dikunci rapat oleh tafsiran sempit buatan sesama manusia? Mengapa engkau diajarkan membagi‑bagi aliran kehidupan menjadi kelompok “suci” dan “najis”, “kita” dan “mereka”, “benar” dan “salah” menurut ukuran kepentingan agama atau golongan tertentu saja?  Padahal mata ini diciptakan untuk melihat kesatuan, bukan perpecahan.   Jika semesta ini satu kesatuan tak terpisahkan, dan manusialah yang menjadi permata pengikat sekaligus pelengkapnya  lantas siapa manusia kecil yang berani berhak menentukan permata mana yang berharga dan mana yang boleh dibuang?  Siapa yang berhak mengatur agar matamu hanya boleh melihat apa yang mereka izinkan saja?   Ingatlah pesan terpenting ini, Tugas utamamu bukan sekadar beribadah menurut aturan yang disuruh‑suruhkan orang lain.  Tugas sejati matamu ini adalah membuka lebar‑lebar, menelusuri keterkaitan segala sesuatu, dan menyadari bahwa apa yang terjadi pada makhluk lain, pada akhirnya terjadi juga kepadamu.   Saat engkau membiarkan matamu tertutup, bukan hanya kamulah yang hidup dalam kegelapan. Lebih dari itu seluruh kebesaran alam semesta ikut lenyap maknanya, karena tak ada lagi yang melihat dan memahaminya.   Jangan biarkan permata berharga ini menjadi kusam hanya karena engkau rela diperbudak oleh pemikiran orang lain. Gunakanlah matamu sesuai tujuan aslinya: melihat kebenaran sejati yang tak terikat  aturan buatan tangan manusia.
Manusia: Satu‑satunya Mata bagi Seluruh Alam Semesta Ibnu ‘Arabi, seorang pemikir agung yang paham hakikat hidup, menyampaikan kiasan yang sangat indah namun jarang dipahami makna sesungguhnya: “Seluruh jagat raya ini bagaikan sebuah cincin yang dibuat dengan sangat indah dan sempurna namun kosong bagian tengahnya. Dan manusialah yang menjadi permata berharga yang diletakkan tepat di pusatnya; tanpa permata itu, cincin itu hanyalah sepotong logam biasa yang tak bernilai istimewa.” Maknanya jauh melampaui sekadar “manusia makhluk terhebat”. Inilah rahasianya: Bintang berkelap‑kelip jutaan tahun lamanya, gunung menjulang tinggi menembus awan, samudra bergulung luas tak bertepi, bunga mekar dengan warna menakjubkan semua keagungan itu sama sekali tak berarti apa‑apa, jika tak ada makhluk yang mampu menyaksikan, merasakan, dan memahaminya. Tanpa manusia, alam semesta ini persis seperti lukisan indah yang digantung di ruang gelap selamanya atau nyanyian terindah yang dinyanyikan saat tak ada pendengarnya. Ia ada secara fisik, tapi seolah‑olah tak pernah ada sama sekali karena tak ada yang tahu akan keberadaannya. Itulah sebabnya manusia disebut sebagai “Jagat Kecil”. Bukan karena ukurannya kecil dibandingkan langit dan bumi, melainkan karena di dalam dirinya terangkum seluruh isi semesta, dan karenalah semesta yang luas itu akhirnya menyadari keberadaannya sendiri. Manusia diberi akal budi, hati nurani, dan kemampuan merenung bukan sekadar untuk bertahan hidup atau menurut perintah melainkan untuk menjadi mata pengamat sekaligus suara bagi seluruh alam semesta. Lewat pandangan matamu, keindahan alam akhirnya dilihat lewat perasaan hatimu, keadilan semesta akhirnya dirasakan, lewat ucapan dan tindakanmu, kebenaran kehidupan akhirnya terwujud di muka bumi ini. Seluruh pepohonan, sungai, hewan, tanah, dan udara semuanya tak bisa berbicara, tak bisa membela diri, tak bisa memahami makna hidup… semuanya bergantung kepadamu untuk menjadi “nyata” dan bermakna. Lalu muncul pertanyaan yang sangat menyakitkan sekaligus penting Jika kedudukanmu begitu mulia dan sentral mengapa engkau malah rela membiarkan matamu ini dibutakan orang lain? Mengapa engkau membiarkan akal budimu dikunci rapat oleh tafsiran sempit buatan sesama manusia? Mengapa engkau diajarkan membagi‑bagi aliran kehidupan menjadi kelompok “suci” dan “najis”, “kita” dan “mereka”, “benar” dan “salah” menurut ukuran kepentingan agama atau golongan tertentu saja? Padahal mata ini diciptakan untuk melihat kesatuan, bukan perpecahan. Jika semesta ini satu kesatuan tak terpisahkan, dan manusialah yang menjadi permata pengikat sekaligus pelengkapnya lantas siapa manusia kecil yang berani berhak menentukan permata mana yang berharga dan mana yang boleh dibuang? Siapa yang berhak mengatur agar matamu hanya boleh melihat apa yang mereka izinkan saja? Ingatlah pesan terpenting ini, Tugas utamamu bukan sekadar beribadah menurut aturan yang disuruh‑suruhkan orang lain. Tugas sejati matamu ini adalah membuka lebar‑lebar, menelusuri keterkaitan segala sesuatu, dan menyadari bahwa apa yang terjadi pada makhluk lain, pada akhirnya terjadi juga kepadamu. Saat engkau membiarkan matamu tertutup, bukan hanya kamulah yang hidup dalam kegelapan. Lebih dari itu seluruh kebesaran alam semesta ikut lenyap maknanya, karena tak ada lagi yang melihat dan memahaminya. Jangan biarkan permata berharga ini menjadi kusam hanya karena engkau rela diperbudak oleh pemikiran orang lain. Gunakanlah matamu sesuai tujuan aslinya: melihat kebenaran sejati yang tak terikat aturan buatan tangan manusia.

About