@almachaf: شلت ريدك من قلبي

المشاف أحمد سراج الدين
المشاف أحمد سراج الدين
Open In TikTok:
Region: TD
Sunday 14 September 2025 08:21:55 GMT
27863
644
49
339

Music

Download

Comments

sharf9751
الــــــــدُرَر/ AL Dorr :
ابشركم اتزوجته حبيبتي امس😍🫂❤️
2026-02-10 10:16:52
5
user3072448531524
دعويه دودي 🤍 :
الف الف مبروك ربنا يسعدكم🥰
2026-05-03 11:28:00
0
through.the.rain
Through The Rain :
منو الفنان ؟
2026-02-10 08:24:32
1
user7732713773987
مراد :
🥰
2026-05-28 09:56:50
1
user38527943297595
مفتاح السودان 🇸🇩ود الضعين :
🥰🥰🥰
2026-05-01 19:34:28
1
user6299799544255
ودالعزتين :
😁
2026-03-03 19:57:15
1
user5012026144437
طارق عبد الحفيظ :
🥰
2026-03-25 13:26:43
1
brahim38508
brahim :
🥰
2026-03-28 19:15:34
1
user7606516620303
ممو :
🤣🤣🤣🤣🥰
2026-03-04 17:53:17
1
user87970392399078
البركان العنيد :
😂😂😂
2026-03-15 11:32:35
1
user87970392399078
البركان العنيد :
😳😳😳
2026-03-15 11:32:47
1
user7161112791161
علي بدوي :
🥰
2026-03-03 18:39:13
1
user87970392399078
البركان العنيد :
🥰🥰🥰
2026-03-15 11:32:58
1
user1573612178194
وتين :
🥰🥰🥰
2026-03-11 17:38:59
1
user6517151059885
محمد ادريس :
🥰🥰🥰🥰
2026-02-18 20:43:19
1
user6107863518756
user6107863518756 :
🥰🥰🥰
2026-04-12 09:58:39
1
radae.asaad
Radae Asaad ✋😏 :
🥰
2026-04-06 08:08:52
1
user87970392399078
البركان العنيد :
😂😂😂
2026-03-15 11:33:10
1
user57103387442040
محمد اخو الاخوان :
🥰🥰🥰
2026-03-29 18:32:48
1
hamedawadallh
☠️🫶هــنـــدســـه$#🥴 :
❤️🫶
2026-03-20 19:43:16
1
user87970392399078
البركان العنيد :
😳😳😳
2026-03-15 11:33:08
1
.9256429
ابراهيم الشفلي🇸🇩🏴‍☠️🎵925 :
🥰🥰🥰
2026-03-03 21:47:39
1
meerag.mousa
Meerag Mousa :
🥰
2026-02-13 19:10:06
1
user81566728281465
عامرحسن محمد :
🥰
2026-04-13 17:58:04
1
mohammedkrar435
حماده :
🥰🥰🥰
2026-02-12 19:49:14
1
To see more videos from user @almachaf, please go to the Tikwm homepage.

Other Videos

Pov:  Langit seakan memahami bahwa hari ini adalah hari paling menyakitkan dalam hidupmu.  Orang-orang sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Karangan bunga mulai basah diterpa hujan, sementara tanah merah yang baru ditimbun masih terlihat jelas di hadapanmu.  Pandanganmu tidak pernah lepas dari nama yang terukir pada batu nisan itu. Yang Jihoon. Pria yang seharusnya menjadi suamimu. Pria yang dua bulan lagi seharusnya berdiri di hadapan altar, menunggumu datang dengan gaun putih yang selama ini kalian pilih bersama. Semua persiapan telah selesai. Undangan sudah dicetak. Gedung sudah dipesan Dan kerabat dari luar negeri sudah membeli tiket untuk menghadiri pernikahan kalian. Semuanya sudah siap. Kecuali takdir. Karena takdir memilih mengambil Jihoon lebih dulu. Sebuah penyakit yang awalnya dianggap biasa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Dalam hitungan bulan, tubuh pria yang selama ini selalu terlihat kuat itu perlahan melemah.  Dan pada akhirnya, setelah perjuangan panjang yang terasa tidak adil, Jihoon pergi meninggalkan dunia ini tanpa sempat mengucapkan janji pernikahan yang telah lama ia nantikan.
Pov: Langit seakan memahami bahwa hari ini adalah hari paling menyakitkan dalam hidupmu. Orang-orang sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Karangan bunga mulai basah diterpa hujan, sementara tanah merah yang baru ditimbun masih terlihat jelas di hadapanmu. Pandanganmu tidak pernah lepas dari nama yang terukir pada batu nisan itu. Yang Jihoon. Pria yang seharusnya menjadi suamimu. Pria yang dua bulan lagi seharusnya berdiri di hadapan altar, menunggumu datang dengan gaun putih yang selama ini kalian pilih bersama. Semua persiapan telah selesai. Undangan sudah dicetak. Gedung sudah dipesan Dan kerabat dari luar negeri sudah membeli tiket untuk menghadiri pernikahan kalian. Semuanya sudah siap. Kecuali takdir. Karena takdir memilih mengambil Jihoon lebih dulu. Sebuah penyakit yang awalnya dianggap biasa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Dalam hitungan bulan, tubuh pria yang selama ini selalu terlihat kuat itu perlahan melemah. Dan pada akhirnya, setelah perjuangan panjang yang terasa tidak adil, Jihoon pergi meninggalkan dunia ini tanpa sempat mengucapkan janji pernikahan yang telah lama ia nantikan. "Kamu harus hidup bahagia tanpa aku, jangan sampai kehilangan senyum manis kamu." Kalimat itu terus terngiang di kepalamu sampai sekarang. Karena tidak ada yang bahagia dari kehilangan seseorang yang telah menjadi rumah selama bertahun-tahun. ———- Satu minggu setelah pemakaman Jihoon, rumahmu kembali kedatangan tamu. Namun kali ini suasananya jauh berbeda. Yang datang sore itu adalah keluarga Jihoon. Dan di antara mereka, ada seseorang yang sejak pertama kali melangkahkan kaki ke ruang tamu membuat dadamu kembali terasa sesak. Yang Jungwon. Adik laki-laki satu-satunya Jihoon. Pria yang selama ini selalu berdiri beberapa langkah di belakang kakaknya, namun kini justru menjadi sosok yang paling mengingatkanmu pada kepergian pria yang kamu cintai. Wajah mereka terlalu mirip. Mata mereka sama. Bahkan terkadang ekspresi kecil yang muncul di wajah Jungwon mampu membuatmu kehilangan napas selama beberapa detik. Satu-satunya hal yang membedakan mereka hanyalah kacamata yang selalu dikenakan Jihoon. Perbincangan kedua keluarga berlangsung cukup lama. Kamu lebih banyak diam dan mendengarkan. Sampai akhirnya sebuah keputusan diambil. Pernikahan itu tetap akan dilaksanakan. Bukan lagi antara dirimu dan Jihoon. Melainkan antara dirimu dan Jungwon. Permintaan terakhir Jihoon akan dipenuhi. Ia menitipkanmu kepada orang yang paling ia percaya sepanjang hidupnya. Adiknya sendiri. Tidak ada penolakan karena sejak awal kamu juga sudah tahu mengenai keputusan ini. Beberapa saat kemudian, Jungwon berdiri dari tempat duduknya dan meminta izin untuk mengajakmu berbicara sebentar. Jauh dari pembahasan yang terasa semakin menyesakkan. Kalian berakhir duduk berdampingan di ayunan besi yang berada di taman rumah. Sampai akhirnya Jungwon berbicara lebih dulu. "Dia meminta aku menjaga kamu, Kak." Suara itu terdengar begitu pelan. Kamu menundukkan kepala, menatap kedua tanganmu sendiri. "Jangan panggil aku kakak." Jungwon menoleh. "Aku bukan kakak ipar kamu lagi mas" Sudah sejak pertama kali mengenalnya beberapa tahun lalu, Jungwon selalu memanggilmu seperti itu. Usiamu dua tahun lebih muda dari Jungwon dan terpaut empat tahun dari Jihoon. Namun sejak hubunganmu dengan Jihoon semakin serius, Jungwon ikut terbiasa memanggilmu "Kak", sebagaimana seorang adik laki-laki memanggil calon kakak iparnya. Kalimat itu membuat keheningan kembali hadir di antara kalian. Sejak tadi kamu menahan semuanya. Menahan tangis di depan kedua orang tua. Menahan sesak yang terus memenuhi dada. Namun kali ini, entah mengapa, kamu tidak mampu lagi berpura-pura kuat di depan Jungwon. Air mata mulai jatuh satu per satu tanpa suara. Jungwon yang menyadarinya langsung menoleh. Tatapannya melembut. "Gapapa, (Y/n)." Suara itu terdengar begitu tenang. "Kalau mau nangis, nggak usah ditahan." Dan kalimat sederhana itu menjadi akhir dari pertahananmu. + di sl/komen #pov #jungwonenhypen #enhypen #fyp #foryoupage

About